APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Shadow Under The Light

Shadow Under The Light

Bagi diriku, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan. Takdir ironis dimulai saat aku berjumpa Axel, pembunuh berwajah tampan yang mengancam nyawaku. Alih-alih takut, aku malah terpikat olehnya. Axel menyukai mataku yang tenang menghadapi ajal, lalu memberiku kasih sayang tulus di balik kekejamannya. Namun kini, kecemasan mulai membayangi. Aku terus bertanya-tanya, kapankah ajalku akan tiba jika suatu saat nanti mataku ini tidak lagi terlihat memikat di hadapannya?
Bab
Bagikan

Bab 1

Mati. Kata itu mungkin akan membuat sebagian besar umat manusia ketakutan, tetapi tidak untukku.

Aku berdiri di atas gedung tujuh lantai. Merentangkan kedua tangan untuk merasakan angin yang menerpa tubuh.

Cuaca hari ini cerah, senja menerpa dan membiaskan cahaya jingga indah. Mungkin … ini akan menjadi kali terakhirku menatap cakrawala.

Aku menerka, apa rasanya saat tubuh ini menghantam trotoar di bawah gedung. Apa tubuhku akan terburai? Darah memercik estetik, melengkapi senja dengan rona merahnya?

Aku tersedak tangis, lebih dari itu, adakah yang bersedih untuk kematianku?

Aku rasa tidak ada. Menyedihkan bukan?

Embusan napas terdengar keras, beban menyesakkan dada membuatku kesulitan meraup udara.

Kurasa inilah saatnya.

Menatap dengan hampa ke bawah bangunan lantai tujuh ini.

Bersiap melangkahkan kakiku ke bawah, kupejamkan mata ini.

Bersiap untuk mati.

Saat sebelah kakiku sudah terayun di udara, siap melangkahkan kaki satunya lagi, aku dikejutkan oleh suara isak tangis, antara ada dan tiada, suara yang terbekap.

Aku memutar tubuh dan mendapati seorang wanita terikat di sudut atap gedung.

Sejak kapan dia ada di sana? Aku sama sekali tidak menyadari kehadirannya sedari tadi.

Gadis itu menangis, air mata melunturkan maskara hitamnya, membentuk jalur menakutkan layaknya badut dalam film horor. Mataku mengedip bingung, betapa lambannya otakku bekerja sewaktu menyadari gadis ini adalah Lyra.

Si cantik berambut pirang yang menghancurkan karirku dan membuatku dipecat setelah bertahun-tahun bekerja keras.

Bola mata besarnya menatapku penuh permohonan, kedua tangan dan kaki gadis itu terikat kuat oleh tali dan bibir si jalang ditutup dengan lakban.

Jika kau mengira aku akan terkejut melihat kondisi Lyra, kau salah besar ... hatiku hampa dan pikiranku kosong. Semua menjadi tak bermakna, dunia berputar dalam warna monokrom. Monoton.

Tatapanku tertuju padanya tanpa asa, air mata Lyra semakin deras mengalir bak anak sungai, tetapi hatiku sama sekali tidak tersentuh dan tanganku tak mau bergerak untuk menolongnya.

Dia memang pantas menerima semua ini ... dia pantas diperlakukan buruk. Tawa gadis itu, pandangan meremehkannya dulu, juga kalimat fitnah yang ia lontarkan mengeraskan hatiku.

Namun, siapa yang melakukan semua ini?

Jawabannya datang secepat kedipan mata, pintu atap gedung terbuka. Seorang pria melangkah ke arah Lyra. Memasuki bidang pandang kami.

Dia belum menyadari kehadiranku karena aku berdiri di samping belakangnya, sudut mati pandangan pria itu.

Pria bersetelan kasual dengan kemeja dan celana jeans itu menarik Lyra berdiri diiringi oleh pemberontakan si gadis.

Lyra menoleh ke arahku, saat itulah sang pria sadar. Ia lalu berbalik ....

Seraut wajah tampan menatapku dengan ekspresi terkejut. Mungkin bisa kukatakan, pertama kali berjumpa dengannya adalah saat paling sial dan paling beruntung dalam hidupku.

Karena dialah ... hidupku benar-benar berubah.

Ia menatapku, kemudian tersenyum culas. Senyum yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup, menawan. Menarikku ke dalam dimensi lain penuh pesona memabukkan.

Aku tahu, dan instingku mengatakan bahwa dia bukanlah orang baik-baik. Tapi kadang-kadang, iblis pun bisa terlihat seperti malaikat.

"Matamu cantik." Adalah kalimat pertama yang diucapkannya saat kami bertemu.

Mungkin ia melihatnya, ketakutan memudar bersama sembilu pilu mencengkeram jiwa rapuh.

Ya! Dia benar ... untuk saat ini ... semua rasa telah diambil dari ragaku, menyisakan kepingan jiwa retak yang akan hancur kapan saja.

"Ikutlah denganku," ajaknya.

Pria itu menarik tanganku, kemudian menyeret Lyra menggunakan troli laundri. Dan aku membiarkan saja semua itu terjadi, seolah kehendak bebas dalam diriku sudah dicabut.

Aku bagaikan boneka tanpa kemauan yang bisa dibawa ke mana saja.

Aku tahu, otakku sedang sakit dan aku ingin mengakhiri semuanya. Hati kecilku berharap, pria asing ini akan mengakhirinya untukku.

Semua menjadi bayang-bayang semu, dunia terdistorsi sementara anganku melayang bebas, ketika ragaku dijamah tangan asing, aku terpejam pasrah.

Tidak apa-apa, semua akan berakhir, batinku membisikkan kegelapan.

Suara mesin menjadi alunan musik, pepohonan berkejar-kejaran, memintaku berhenti sejenak untuk bernapas, langit berubah gelap sementara mobil sang lelaki membawa kami menuju antah berantah.

Waktu menjadi misteri alam, ketika kesadaranku terkumpul, kami telah tiba di sebuah ruang bawah tanah.

Ruang bawah tanah itu pengap dan bau. Kedua alisku bertaut mengenali bau besi bercampur amis. Bau likuid merah kental yang mengalir dalam pembuluh darah manusia, ya … darah.

Darah? Bagus ... akhiri saja semuanya.

Pria itu melemparkan Lyra begitu saja, si gadis pirang menubruk dinding bagai sekarung sampah. Ia kemudian menarik sebuah kursi dan mendudukkanku dengan lembut.

"Aku suka sekali dengan tatapanmu," ucapnya lagi sambil membelai wajahku. Mata cokelat menawan itu berpendar oleh euforia.

"Tapi kau harus kuikat agar tidak pergi."

Dia mengambil seutas tali di meja satu-satunya dalam ruangan ini, lalu mengikatku ke kursi dengan erat. Dan seperti tadi, kubiarkan ia melakukannya begitu saja, tanpa perlawanan sama sekali.

Mati, mati, mati, otakku memutar kata tunggal itu.

"Lihat baik-baik, Manis! Karena kita punya tatapan yang sama." Pria itu memutar kursiku menghadap ke arah Lyra.

Dengan tangan terikat, Lyra berusaha menyeret tubuhnya menjauh sewaktu pria itu mendatanginya. Si pria berpakaian kasual itu melepas lakban yang membekap mulut Lyra, membuat si gadis langsung menjerit nyaring.

Pria itu bereaksi dengan cepat, menampar Lyra keras hingga gadis itu terdiam. Bisa kulihat dari sudut bibir Lyra mengalir darah segar karena bibirnya pecah akibat tamparan kuat.

Lyra menangis sambil memohon-mohon, belum pernah aku melihat gadis jahat itu selemah ini.

“Dia menjual rahasia perusahaan pada mereka.”  Ingatan suara Lyra kembali menjamah benakku. Aku tertawa sinis. Biasanya gadis ini selalu membuat orang memohon-mohon padanya, tetapi lihat sekarang, keadaan berbalik drastis. Ingin sekali aku menyoraki si pria atas perbuatannya.

Si pria mengeluarkan pisaunya."Showtime!" ucapnya sambil menoleh ke arahku.

Aku membalas tatapannya dengan hampa, sekali sabetan cepat ia melukai wajah cantik Lyra.

"Ini untuk wajah cantik," ujarnya.

Lyra melolong kesakitan, darah segar membanjiri pipinya, lalu turun menghampiri leher.

Jika kau mengira aku akan syok melihat darah sebanyak itu, kau salah lagi. Otakku masih sakit, dengan respon yang sangat lambat. Aku sama sekali tidak terpengaruh oleh pemandangan mengerikan di hadapanku.

Pria itu lalu melanjutkan aksinya. Ia merobek kemeja yang dipakai Lyra, kancing-kancing putih berhamburan, mengelinding tanpa daya dan berhenti tepat di dekat kakiku. Lyra menggeleng kuat, ketakutan mengambil alih kehendak tubuh, membuat Lyra mengalami tonic immobility. Ia membeku, pria itu berhasil melepas sisa kain di tubuh Lyra, menampilkan bra hitam bermotif renda dan mutiara.

Mungkin saja … ia akan melakukan hal yang keji dengan memperkosa gadis ini.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bias: Dari Uncle, Jadi Daddy
9.0
Demi pekerjaan baru, Alexandria Serenata Atmadya pindah ke kota megapolitan. Sifatnya yang sungkanan justru dimanfaatkan Ragnala Firaz Himawan untuk menjebaknya dalam pernikahan kontrak yang manipulatif. Di tengah adu siasat antara keduanya, sebuah rahasia besar terungkap mengenai keberadaan anak berumur empat tahun. Alexandria kini harus bertahan menghadapi rayuan manis Ragnala, sembari berjuang demi cinta di tengah bayang-bayang masa lalu yang kelam.
Sampul Novel Dibuang suami kere dinikahi Dokter Tajir
8.0
Silvia hancur akibat perselingkuhan suaminya. Di tengah kepedihan, insiden kecil mempertemukannya dengan Dokter Dana hingga mereka saling jatuh cinta. Namun, konflik baru muncul saat ayah Silvia yang hilang sepuluh tahun kembali sebagai konglomerat. Sang ayah menjodohkannya dengan pria lain demi membalas budi. Kini Silvia bimbang antara cinta pada Dana atau takdir ayahnya, sementara sang mantan suami mulai menyesal melihatnya jadi wanita terhormat.
Sampul Novel Istriku Kuyang
9.6
Yusuf, pemuda perantau asal Jawa, jatuh cinta pada gadis jelita di Kalimantan. Namun, kisah cinta manis ini berubah menjadi malapetaka mengerikan setelah rahasia besar sang kekasih terbongkar. Perempuan yang sangat dicintainya itu ternyata adalah kuyang, siluman berkepala terbang dengan organ dalam yang bergelantungan. Yusuf kini terjebak dalam dilema batin yang hebat antara rasa cinta dan ketakutan mendalam. Bagaimana ia akan menghadapi kenyataan pahit ini?
Sampul Novel Pesanan Henna Calon Pengantin Suamiku
9.0
Dunia Rury runtuh saat melayani pelanggan jasa lukis henna miliknya. Wanita yang menjadi calon pengantin itu ternyata adalah selingkuhan suaminya sendiri. Menghadapi pengkhianatan kejam ini, Rury menolak terpuruk dalam kesedihan. Ia memilih bangkit dan merancang strategi matang untuk mengacaukan hari pernikahan mereka. Ikuti perjuangan berani Rury dalam menuntut keadilan dan membalas rasa sakit hatinya secara elegan.
Sampul Novel Rahasia Tubuh Serena
8.1
Hancur akibat vonis sindrom MRKH, Serena Queen Adhisty memilih menyakiti Adibara Erlangga agar pria itu membencinya. Sebelas tahun berselang, Serena tumbuh menjadi sosok angkuh yang enggan menikah. Takdir tak terduga mempertemukan mereka kembali di dunia kerja. Keadaan semakin rumit dengan kehadiran kakak Adibara yang membangkitkan dendam masa lalu. Akankah Adibara tulus menerima kondisi Serena, atau justru ada pria lain yang ditakdirkan mendampinginya?
Sampul Novel Tidak Mungkin Membebanimu Lagi
8.7
Alpha Nikolas Morrison kini sekarat akibat racun merkuri. Demi memutus paksa hubungan kami, kuhancurkan cincin pernikahan kami dan kusodorkan dokumen pembatalan kontrak. Meski dia bersimpuh memohon belas kasih dalam kondisinya yang sekarat dan tak berdaya, tekadku sudah bulat. Kuseret Alpha yang kini lemah itu ke altar Dewi Bulan. Aku mengancam akan meminta sang Dewi mencabut seluruh restu-Nya jika dia bersikeras menolak mengakhiri ikatan kami selamanya.