APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Setengah Kilo Nasi Aking Untuk Anakku

Setengah Kilo Nasi Aking Untuk Anakku

Kehidupan Hanum dan Hardi berubah drastis setelah Hardi kehilangan pekerjaan. Meski harus bertahan hidup sebagai kuli cangkul dan buruh cuci, pasangan ini tetap bersyukur dan harmonis membesarkan kedua anak mereka selama tujuh tahun pernikahan. Namun, ketenteraman keluarga kecil ini seketika runtuh saat sebuah musibah besar melanda. Kini, Hanum terpaksa berjuang sendirian menghadapi penderitaan yang luar biasa demi menyelamatkan dan melindungi buah hati tercintanya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Alhamdulillah.

Penulis : Lusia Sudarti.

"Dek ... seandainya Abang belum bisa membahagiakan kalian disisa hidup Abang. Abang mohon maaf yang sebesar-besarnya ....!"

"Emaak, Adek lapar udah masak belum Emak?" tanya Kurnia, Anak keduaku.

Aku terkesiap mendengar ucapan dan pertanyaannya. "Belum Sayang. Maafin Emak ya," ucapku pilu sembari merengkuhnya dalam pelukan. Tak terasa titik-titik embun menggenang dalam pelupuk mataku.

"Ya sudah kalo gitu Adek Nia main dulu ya mak, nanti kalo emak udah mateng masaknya, Adek panggil aja ya Mak!" ujarnya sambil beranjak dari kedua pahaku. Aku mengangguk dan mencoba untuk tersenyum. "Iya Sayang," sahutku dengan suara parau

Selepas kepergiannya aku menangis dalam diam, tubuhku luruh kelantai.

'Ya Allah, tunjukkanlah kuasa-Mu yang Maha besar.

Namaku Hanum aku hidup bersama Suami dan kedua orang Anakku. Anak sulungku bernama Fandi, ia duduk di kelas dua SD, Kurnia masih berusia empat tahun. Suamiku bernama Hardi, ia bekerja sebagai buruh serabutan. Sedangkan membantu bekerja sebagai buruh cuci setrika dari rumah kerumah.

Namun, baik penghasilanku atau pun

Bang Hardi belum mencukupi semua kebutuhan rumah tangga kami.

Zaman sekarang kebutuhan pokok telah melambung.

Kami tinggal di rumah gubuk sederhana peninggalan orang tua Bang Hardi.

Rumah tangga kami baik-baik saja, Bang Hardi tipe lelaki yang baik dan bertanggung jawab.

Aku termenung seorang diri, sementara Bang Hardi belum kembali dari bekerja sebagai buruh cangkul di sawah tetangga.

Aku berfikir kira-kira apa yang dapat kumasak untuk makan siang ini.

Kulangkahkan kakiku dengan langkah yang tertatih menuju tudung saji yang berada diatas meja makan persegi yang telah usang.

Disana hanya tersisa sekitar dua sendok makan sambal terasi di dalam mangkuk plastik berwarna hijau, dan dipiring kecil tersisa beberapa potong kepala ikan asin sisa semalam.

Dan juga beberapa potong singkong rebus sisa sarapan tadi pagi.

Aku mengedarkan tatapanku kesebuah plastik yang tergantung disamping rak piring yang terbuat dari kayu. Aku melangkah untuk memeriksa isi kantong plastik yang tergantung.

Kedua netraku membola, aku melihat isinya dengan rasa bahagia.

'wah beras AKING rupanya. Alhamdulilah Ya Allah ... semua ini akan kuolah menjadi nasi kembali. Untuk Anak-anakku nanti."

Aku memindahkan beras aking tersebut kedalam wadah, kutakar dahulu. Dua kaleng susu, lumayan untuk pengganti nasi.

Aku mencuci beras aking dengan doa semoga menjadi berkah buat keluargaku.

Dengan cekatan aku menyalakan api ditungku sederhanaku. Ya karena melonjaknya bahan pangan, aku tak mampu membeli gas buat memasak dikompor.

🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀

Setengah jam kemudian nasi pun telah matang, segera kuangkat dari kukusan dan kutaruh di sangku agar cepat dingin, aku mengambil kipas yang terbuat dari anyaman bambu untuk mempercepat proses pendinginan. Namun Kurnia telah berada dibelakangku, rupanya ia benar-benar kelaparan.

"Emak, udah masaknya!" Kurnia muncul dari pintu dapur dan menghampiri aku yang sedang menyendok nasi aking yang masih mengepulkan uap panas.

"Udah Sayang, ayo kita makan!" jawabku sambil mencuci tangannya.

"Enggak apa-apa lauknya pake kepala ikan asin dulu ya? Nanti jika kita punya uang kita beli ikan asin yang segar," ujarku kepadanya dengan pelan.

"Iya Mak, gak apa-apa kok. Enak itu," sahutnya dengan kedua netra berbinar. Aku menghela nafas perlahan, hatiku sedih bagai tercabik-cabik.

Aku meniup nasi yang masih panas dan menambahkan kepala ikan asin yang kupotong kecil-kecil kedalam nasi lalu menyuapkan kepada Kurnia.

Ia makan dengan begitu lahap, senyum manis tersungging dari kedua bibirnya.

"Mak ... kok rasanya gak sama kayak nasi yang biasa Adek makan ya?" tanyanya dengan mulut penuh dengan nasi.

Aku tertegun sesaat sebelum aku menjawab pertanyaan polosnya.

"Iya Sayang karena nasi yang ini adalah nasi aking."

Kurnia menatapku sesaat kemudian ia fokus kembali kearah piringnya.

"Nasi aking itu nasi yang bagaimana Mak?" tanyanya lagi.

"Nasi aking itu adalah nasi yang sudah dijemur dan kering lalu dimasak kembali," jawabku sembari mengusap lembut rambutnya.

"Oh gitu ya Mak," sahutnya.

"Iya Sayang. Tapi enakkan?" tanyaku.

"Enak Mak. Boleh Adek nambah dikiiiit lagi Mak, adek belum kenyang."

Aku tersenyum mendengarnya.

"Boleh dong Sayang!" aku menyendok nasi dan kutaruh didalam piringnya. Ia tersenyum melihat nasi di piringnya yang telah berisi nasi kembali.

Aku masih menyuapinya dengan sabar.

Aku hanya mampu menyimpan semua rasa dihatiku. Aku tak ingin melihat Anakku bersedih karena keluh kesahku.

'Ya Allah, ya Robb. Tolong ampuni ketidak berdayaanku dalam memberikan nafkah untuk Anak-anakku," lirih batinku.

"Assalamu'alaikum."

Terdengar salam dari arah pintu dapur. Sosok Bang Hardi muncul, dari tubuhnya mengucur keringat dan membasahi kaos yang telah kusam menempel di badannya.

"Waalaikum salam, baru pulang Bang?" tanyaku sambil menyuapi Kurnia.

Bang Hardi tersenyum kepada kami.

"Iya Mak. Aduh Anak bapak lagi makan ya? Minta dong," sapa Bang Hardi kepada Kurnia yang masih menikmati makan siangnya.

"Enak lo Pak, Adek Nia makan sama kepala ikan asin," sahutnya dengan tersenyum.

"Oh ya benarkah, mau dong," ujar Bang Hardi kepada Anaknya.

"Boleh. Ya kan Mak."

Aku mengangguk.

"Udah kenyang Adek Mak," seru Kurnia.

"Udah kenyang Sayang?" tanyaku sembari menyodorkan air minum kepadanya.

"Iya Mak, Adek main dulu ya Mak!" ujarnya sembari beranjak bangkit lalu menuju keruang depan tanpa menunggu jawaban dariku.

Aku hanya menghela napas perlahan, dan Bang Hardi tertunduk lesu dan sedih.

"Ya udah bang, istirahat dulu, biar kering kering keringat ditubuh Abang, setelah itu mandi lalu makan siang," titahku kepada beliau.

"Iya Dek. Maafin Abang yang belum bisa membahagiakan kalian," jawabnya dengan sedih.

Aku tersenyum mendengarnya. "Enggak apa-apa Bang, yang penting kita sudah berusaha semampu kita. Jika memang kita belum berpunya, itu suratan takdir darinya," jawabku sambil mencuci piring bekas makan Kurnia.

"Dek ... seandainya Abang belum bisa membahagiakan kalian disisa hidup Abang. Abang mohon maaf yang sebesar-besarnya," ujar suamiku sambil tersenyum. Namun menurutku itu bukanlah sebuah senyuman, tetapi lengkungan patah dan menyerah.

Aku bingung mendengar ucapan Bang Hardi selalu meminta maaf! Sebenarnya apa yang akan terjadi terhadap kami ...? Berbagai pertanyaan berkelindan di kepalaku, namun aku berusaha menepisnya.

Aku mendongak dan menatap kearah Bang Hardi. "Abang bicara apa sih? Emak gak suka mendengar abang bicara seperti itu lagi," jawabku sembari menghampirinya.

"Mak, Adek Nia main di halaman samping sebentar ya?" ujar Kurnia kepadaku.

Ia berjalan dari ruang depan, mungkin bosan berada seorang diri diruang depan.

"Jangan ketempat yang panas ya Sayang," jawabku.

"Iya Mak."

"Hati-hati ya Sayang?" timpal Bang Hardi.

"Iya Pak."

"Bang, jangan bicara seperti itu lagi, aku menjadi sangat sedih mendengarnya."

Aku menjatuhkan bobot tubuhku di sampingnya. Bang Hardi mengipas tubuhnya menggunakan topi bulat anyaman yang selalu dipakai jika bekerja.

Next kah?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bayangan Luka di Balik Seragam Putih
7.9
Demi membersihkan nama baik sang adik yang tewas dalam fitnah, Aldian menyelidiki seorang guru bereputasi bersih yang ternyata menyimpan rahasia kelam. Di tengah misi balas dendam itu, ia bertemu Aluna, putri guru tersebut yang hidupnya tertekan oleh ambisi sang ibu. Meski awalnya berniat memanfaatkan Aluna, Aldian menyadari gadis itu juga memendam luka yang sama. Kini, ia bimbang antara menuntaskan dendamnya atau memilih cinta yang tumbuh di tengah kebenaran pahit.
Sampul Novel Gairah Suamiku (Jangan Salahkan Aku Selingkuh)
8.4
Ayana kerap menerima kekerasan fisik dari suaminya, Dindar, yang sangat temperamental bahkan untuk urusan sepele. Keadaan menjadi tidak wajar ketika desahan tidak sengaja Ayana saat berhubungan intim selalu memicu kemarahan besar Dindar hingga berujung pada penganiayaan. Di balik sikap kasar serta keanehan gairah ranjang sang suami yang menyiksa batinnya ini, ternyata ada sebuah rahasia besar yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Dindar.
Sampul Novel Ingin Tenang, Dengan Menumpang
8.1
Kehidupan yang penuh tekanan membuat mental Deli benar-benar kelelahan. Demi memulihkan diri dan mencari ketenangan batin yang hilang, ia harus mengambil keputusan penting. Deli akhirnya memilih mengungsi dan menumpang hidup di rumah adik kandungnya, Dena. Di kediaman sang adik, ia berharap bisa mengistirahatkan pikiran yang penat sekaligus melarikan diri sejenak dari segala kerumitan masalah yang selama ini terus menjeratnya.
Sampul Novel Istri Rahasia Sang CEO
9.3
Demi kesembuhan ibunya, Arana Salingga dihadapkan pada tawaran tak terduga dari pengusaha kaya, Danendra Danu Atmaja. Danendra bersedia melunasi seluruh biaya medis tersebut, asalkan Arana mau menjadi istrinya. Tawaran ini membuat Arana bimbang setengah mati. Selain sudah mempunyai kekasih, ia juga heran mengapa CEO sukses itu bersikeras menikahi gadis biasa dari kelas sosial yang jauh berbeda. Rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan Danendra?
Sampul Novel Jangan Sentuh Hatiku, Jika Tak Bisa Memiliki
9.6
Nayara, staf administrasi rupawan yang bersahaja di perusahaan besar Jakarta, terlibat hubungan rumit dengan Leonardo Arvandre. Pria itu merupakan miliarder muda blasteran Prancis-Indonesia sekaligus ahli waris tunggal Arvandre Global Corporation. Sejak pertemuan pertama mereka tiga tahun silam, benih asmara mulai tumbuh. Namun kini, keduanya justru terjebak di antara gejolak cinta, harga diri, serta sebuah rahasia besar yang belum terungkap.
Sampul Novel Sayangnya Tak Ada Kata Andaikan
9.4
Saat memergoki Silvano, tunangannya, berciuman dan berjanji akan membiarkan cinta pertamanya, Marisha, merebutnya di altar, hati Juvena hancur. Namun, alih-alih melabrak mereka, Juvena memilih jalan lain yang jauh lebih ekstrem. Dia diam-diam merancang rencana balas dendam yang matang. Di hari pernikahan mereka sebulan kemudian, Juvena berniat menayangkan bukti perselingkuhan Silvano dan Marisha ke hadapan semua tamu undangan, sementara dirinya telah bersiap kabur ke luar negeri.