
Setelah Mati Pun Aku Masih Nomor Dua
Bab 5
Aku menyadari sebuah fenomena yang aneh.
Selama kami mengikuti Simon, kami bisa pergi dari tempat yang telah membatasi kami.
Putraku sudah bosan di sini selama tiga tahun, aku berencana mengajaknya jalan-jalan di luar.
Dia begitu bersemangat, terus-menerus melihat sekeliling dan berseru keheranan.
Tapi sepertinya kami tidak bisa pergi ke tempat yang terlalu jauh darinya.
Kami mengikuti Simon kembali ke dalam vilanya.
Mulut putraku ternganga melihat vila yang didekorasi mewah itu.
Dia juga tinggal di sini sampai usia dua tahun.
Mungkin setelah bertahun-tahun, dia sudah lupa.
Dia terbang ke sana kemari sambil melihat-lihat, sementara aku mengikuti Simon ke ruang kerjanya.
Aku melihatnya menelepon bank dan membekukan kartu tambahan yang diberikannya kepadaku.
Sebenarnya jika dia lebih teliti dia akan menyadari bahwa dia sudah tidak menerima informasi pengeluaran apa pun selama tiga tahun.
Uang yang ditransfernya ke kartu dalam tiga tahun terakhir, tidak sepeser pun disentuh.
Dia mengira setelah membekukan kartu bank, aku akan muncul dalam waktu kurang dari seminggu.
Apalagi putra kami menderita uremia dan perlu cuci darah sampai dia mendapatkan transplantasi ginjal.
Dua kali seminggu, aku tidak bisa hidup tanpa uang.
Setelah melakukan semua ini, dia membuka album foto di ponselnya, tenggelam dalam pikirannya.
Aku terbang ke belakangnya dan menyadari dia ternyata sedang melihat foto yang aku unggah itu.
Foto dirinya dan putra kami.
Wajah mereka, satu besar dan satu kecil seperti sebuah salinan, dahi lebar, bulu mata tebal, mata sedikit terangkat dan puncak alis yang identik, semuanya menunjukkan keajaiban ikatan darah.
Dia tidak bodoh.
Tentu dapat menyadarinya.
Sebuah panggilan telepon memecah kesunyian ruang kerja, itu dari rumah sakit.
Felicia tiba-tiba pingsan di rumah sakit.
Anda Mungkin Juga Suka





