APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Seni Seviyorum Aisyah

Seni Seviyorum Aisyah

Demi menyusul sang kakak kuliah di Istanbul, Turki, Aisyah berjuang keras belajar sambil terus menghafal Al-Quran. Langkah ini ia ambil demi memenuhi tuntutan orang tuanya yang selalu menuntutnya sesukses sang kakak. Namun, fokusnya terpecah ketika hubungan persahabatan eratnya dengan Raya, Fatimah, dan Hawa mendadak hancur berantakan. Sebuah pengkhianatan tak terduga terjadi di antara mereka, menyisakan misteri besar tentang dalang di balik rusaknya ikatan suci tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Aisyah bangun sayang!" teriak Adiba Bunda Aisyah yang melihat putrinya itu masih tertidur pulas dengan selimut tebal yang menutupinya.

"Ah Bunda, aku masih ngantuk," gerutu Aisyah sambil membalikan tubuhnya.

"Ayo bangung mandi dulu nanti kita sarapan, Ayahmu sudah menunggu di ruang makan," ujar Adiba dengan menarik selimut yang menutupi tubuh anaknya itu.

Aisyah menggeram, "Nanti aku mandi Bun, tunggu lima menit lagi ini cuacanya dingin banget."

Adiba hanya menggelengkan kepalanya mendengar ocehan anaknya, "Kalau nunggu dingin kapan mau mandinya? Mau siang hah?"

Aisyah membalikan tubuhnya yang masih nyaman berada di atas kasur dia membuka matanya dan menatap Bundanya, "Ah Bunda aku masih ingin tidur," lirihnya.

"Ayoo bangun! masa anak gadis bangunnya siang," tukas Bundanya.

Aisyah menggeliat dengan enaknya lalu mengulurkan tangannya, "Iya Bunda, Bangunin!"

Setelah Aisyah bangun dan beranjak ke kamar mandi Adiba pun berlalu untuk turun ke bawah.

"Bunda tunggu di bawah ya kamu jangan lama-lama mandinya!" pinta Adiba sebelum berlalu pergi meninggalkan kamar Aisyah.

Aisyah Salsabila merupakan anak kedua dari dua bersaudara dia terlahir dari orangtua yang selalu mementingkan pendidikan dan taat dalam beribadah, kakaknya bernama Katya Salsabila yang kini sedang melanjutkan studynya di Kairo Mesir Ayahnyalah yang memintanya untuk melanjutkan sekolah di sana dan setiap keputusan Ayah tidak akan ada yang bisa menolaknya, Katya memang anak yang pintar dan selalu juara di sekolahnya hal itu menjadi cerminan untuk Aisyah agar bisa menjadi seperti kakaknya.

Air terasa seperti air es saja membuat Aisyah takut untuk menyentuh air di bak mandi untung saja hari ini dia libur sekolah membuatnya merasa beruntung tidak akan berjalan menembus jalanan yang cuacanya dingin seperti ini.

"Huhf kenapa hari ini dingin sekali ya?" gumam Aisyah setelah selesai mandi.

Dengan cepat Aisyah memakai pakaiannya untuk segera turun menemui kedua orangtuanya yang sudah menunggunya di ruang makan.

"Pagi Ayah Bunda," sapa Aisyah saat melihat Ayah dan Bundanya makan.

Ayahnya hanya tersenyum, "Kebiasaan banget kalau hari libur pasti bangunnya siang," omel Ayahnya.

Aisyah mengakui kesalahannya itu dan memang benar saja alasannya ya malas mandi karena dingin.

"Ya sudah ayo buruan makan!" sergah Adiba sambil menuangkan nasi ke piring dan memberikannya kepada Aisyah.

"Ayah mau pergi ada rapat di kantor hari ini," ujar Ayahnya yang selalu memberi tahu kemana dia akan pergi.

Aisyah menatap Ayahnya yang memang sedang berpakaian rapi dengan dasi yang melekat di keranya. "Ayah Aisyah juga boleh main?" tanyanya meminta izin.

Adiba menoleh menatap putrinya itu dengan kerutan di keningnya Aisyah hanya tersenyum kelu sambil menunggu jawaban dari Ayahnya.

"Memangnya mau pergi kemana hah?"

"Aisyah sudah ada janji akan pergi ke rumah Fatimah soalnya ada tugas kelompok kemarin," jelas Aisyah yang sebenarnya tidak ingin pergi kemana-mana, hanya saja teman-temannya ingin mengerjakan tugasnya di rumah Fatimah bukan di rumahnya dengan alasan rumah Fatimah lebih dekat dengan rumah yang lainnya.

Ayah masih diam sambil melahap sarapannya, "Sudah jam tujuh Ayah harus berangkat dulu ya!"

"Ayahhh!" gerutu Aisyah karena permintaan izinnya belum dijawab oleh Ayahnya.

"Mobil sudah siap tuan Haris," ujar Pak Ujang supir pribadi di rumah ini. Haris nama Ayahnya Aisyah.

Aisyah menatap Bundanya dengan nelangsa, "Ayah, aku pergi dibolehin ya! Nanti kalau aku gak pergi gak akan dapet nilai," tukas Aisyah dengan kesal.

Haris menatap Aisyah sambil berpikir sesuatu, "Pak Ujang antar Aisyah ke rumah temannya saja biar saya pergi naik mobil sendiri," pinta Haris dengan keputusannya.

"Ayah," gumam Adiba sembari bangkit dari duduknya.

"Bundaa!" rengek Aisyah yang memang tidak ingin jika dia pergi selalu diantar jemput oleh supir.

"Ini yang terbaik buat kamu jika tidak mau ya sudah tidak usah pergi!" tukas Ayahnya sambil beranjak pergi.

Adiba membawakan tas kerja dan mengikuti suaminya ke depan rumah sedangkan Aisyah kembali terduduk sambil menyantap buah pir yang ada di atas meja makan.

"Kapan mau pergi Non?" tanya Pak Ujang sambil menunduk patuh.

Aisyah masih merasa kesal dan berpikir jika dia tidak pergi maka dia bisa kena omel teman kelompoknya dan tentu nilainya akan dikurangi Aisyah merasa bingung.

"Sekarang Pak," jawab Aisyah dengan ketus.

"Siap Non!" ucap Pak Ujang dengan tegas dan berlalu pergi.

Adiba telah kembali yang berarti Ayahnya sudah pergi.

"Bunda memangnya kakak juga dulu seperti itu ya?" tanya Aisyah yang penasaran akankah sikap Ayah memang seperti itu kepada anak-anaknya yang lain.

Adiba mengangguk, "Iya sayang, Ayahmu memang sangat mengkhawatirkan anak-anaknya apalagi ke dua anaknya perempuan semua," jawab Adiba sambil mengelus kepala Aisyah yang tertutup dengan hijab.

"Tapi kan Bun sampai kapan Ayah akan selalu menyuruh Pak Ujang untuk mengantar jemputku jika aku pergi? Kan aku juga ingin naik motor dengan teman-temanku jika pulang sekolah," ungkap Aisyah.

"Temen cewek apa cowok?" ejek Adiba dengan menggoda anak gadisnya ini.

Aisyah terkekeh, "Ah Bunda selalu saja menggodaku, aku tidak pernah membayangkan bagaimana jika aku diantar oleh seorang laki-laki ke rumah dan Ayah tahu itu," seru Aisyah.

"Hehehe," Bunda hanya tertawa karena ikut membayangkan jika itu terjadi bagaimana ekspresi suaminya itu.

Selama ini kedua putrinya selalu patuh akan perintah Ayahnya untuk tidak berpacaran karena harus pokus dengan pendidikan apalagi Aisyah mempunyai hafalan Al-Quran bagaimana nantinya hafalan itu akan tetap bertahan saat putrinya berbuat maksiat.

"Ya sudahlah Bun lagi pula aku percaya bahwa keputusan Ayah adalah yang terbaik buat anak-anaknya," ujar Aisyah dengan tersenyum.

Adiba pun mengangguk sembari tersenyum, "Ya sudah lanjutkan sarapannya!"

"Sudah Bun, aku mau pergi dulu ya," pamit Aisyah sambil mencium tangan Bundanya itu.

"Hati-hati ya sayang belajar yang benar." Adiba memberikan kecupan hangat untuk putrinya itu.

Aisyah berlalu pergi berjalan menuju pintu keluar sudah terdengar suara klakson mobil yang dibunyikan oleh Pak Ujang.

"Ke mana Non?" tanya Pak Ujang saat membukakan pintu mobil untuk Aisyah.

"Ke jalan Anggrek no 3 Pak," sahut Aisyah sembari menggunakan sabuk pengaman.

*"Fat, gue udah berangkat nih."*

Aisyah mengirim pesan untuk memberitahu jika tidak seperti itu maka temannya ini akan mengomel.

*"Baiklah gue tunggu."*

Gue dan Lu memang perkataan biasa yang memang sering Aisyah gunakan untuk berbicara dengan teman-temannya dan tidak ada masalah bukan? Karena rata-rata teman-temannya berbicara dengan Gue dan Lu, jadi menurut Aisyah itulah perkataan untuk lebih dekat dengan teman-temannya terkadang juga Aisyah menggunakan kata saya ketika berbiraca formal dengan teman-temannya atau pun Guru-guru.

"Belok kanan Pak," seru Aisyah saat sudah sampai di gang rumahnya Fatimah.

"Baik Non," sahut Pak Ujang.

"Pak Ujang boleh pulang dulu nanti pulangnya akan aku kabarkan lewat Bunda ya," ujar Aisyah sambil tersenyum kasihan jika Pak Ujang harus menunggu dia selesai belajar.

"Owhh baik Non kalau begitu." Pak Ujang tersenyum mendengarnya.

Tinn ... tinn ....

Rumahnya Fatimah pun dijaga dengan Saptam Pak Ujang membunyikan klakson mobilnya lalu terdengar suara Fatimah yang memanggil Saptamnya.

"Pak Hendri buka gerbangnya Pak!"

Dengan cepat gerbang pun dibuka Aisyah turun dari mobilnya.

"Woyy Ujang!" seru Pak Hendri yang memang sudah kenal dengan Pak Ujang karena sering bertemu kala Aisyah main ke rumah Fatimah.

Pak Ujang melambaikan tangannya dan tersenyum lalu kembali menjalankan mobilnya.

"Silahkan masuk Non," ujar Pak Hendri mempersilahkan.

"Makasih Pak," sahut Aisyah kepada Pak Hendri sambil tersenyum.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Sepasang Operator Data
8.1
Sebagai operator data di sebuah sekolah swasta, Rizal yang berstatus duda sangat mendambakan kehadiran istri tulus yang mau menerima dirinya dan kedua anaknya. Kini, ia sedang serius menjalin kasih dengan seorang perempuan yang berusia empat tahun lebih tua darinya. Sayangnya, jalinan asmara mereka harus menghadapi berbagai rintangan besar yang menguji hubungan tersebut. Mampukah Rizal menjaga komitmennya dan memperjuangkan cinta sejati ini hingga akhir?
Sampul Novel Istri Dadakan Tuan Kejam
8.9
Kematian tragis calon istrinya mengubah pria ini menjadi sosok kejam yang haus dendam. Ia bertekad menghancurkan hidup orang yang dianggap bersalah atas tragedi tersebut. Sebagai bagian dari rencana balas dendam, ia memutuskan menikahi seorang wanita. Namun, pernikahan yang awalnya dirancang untuk menghancurkan justru berjalan di luar kendali. Kedekatan dengan istri barunya perlahan menggoyahkan tekadnya dan membuka kembali sisi kemanusiaan yang telah lama ia kunci rapat.
Sampul Novel Kelahiran Kembali
9.1
Dianggap bodoh dan lemah, nona keempat keluarga Lu tewas tragis di tengah saudara-saudaranya yang berbakat. Namun, takdir berubah saat jiwa pembunuh bayaran abad ke-21 merasuk ke raganya. Terjebak di zaman kuno yang penuh konflik kekaisaran, ia harus bertahan hidup dengan prinsip membunuh atau dibunuh. Di tengah intrik istana yang rumit dan berbahaya ini, sebuah kisah romansa yang sangat unik pun dimulai.
Sampul Novel Nasip Sang GADIS MALANG
9.2
Kemarahan dan kecemburuan hebat membuat Noah kehilangan kendali diri. Dalam situasi yang sangat menegangkan, ia menyatakan kepemilikannya atas Abigel dengan nada rendah dan serak. Noah bertekad menghamili Abigel agar perempuan itu menjadi miliknya seutuhnya untuk selamanya. Langkah ekstrem ini diambil demi memastikan tak ada lelaki lain yang berani mendekati atau menyentuh Abigel. Obsesi gelap tersebut kini mengikat takdir keduanya dalam hubungan yang penuh gairah.
Sampul Novel Pacar CEO Batal Nikah, Aku Langsung Menghilang!
8.2
Tujuh tahun menjalin hubungan dengan seorang CEO, rencana pernikahan wanita ini harus kandas sebanyak 99 kali. Sang kekasih selalu pergi demi menolong asisten perempuannya, meninggalkan dirinya menanggung malu sendirian di kantor catatan sipil. Lelah menjadi prioritas kedua, dia akhirnya menyerah dan memilih pergi dari Kota Niros. Namun, kepergiannya justru memicu obsesi sang CEO untuk mencarinya tanpa lelah selama lima tahun berikutnya.
Sampul Novel PEMBALASAN RITA
8.5
Pernikahan Rita yang telah berjalan sepuluh tahun hancur total, memicu hasratnya untuk membalas dendam kepada pengkhianat. Namun, upaya tersebut justru menjeratnya dalam konspirasi rahasia gelap yang terkubur rapat. Seiring terungkapnya fakta-fakta baru, misteri masa lalu Rita mulai tersingkap satu demi satu. Kini, kehidupannya berubah drastis, dipenuhi bahaya serta intrik rumit yang mengancam keselamatan dirinya.