APKDock Logo
Sampul Novel Seni Seviyorum Aisyah

Seni Seviyorum Aisyah

8.9 / 10.0
Demi menyusul sang kakak kuliah di Istanbul, Turki, Aisyah berjuang keras belajar sambil terus menghafal Al-Quran. Langkah ini ia ambil demi memenuhi tuntutan orang tuanya yang selalu menuntutnya sesukses sang kakak. Namun, fokusnya terpecah ketika hubungan persahabatan eratnya dengan Raya, Fatimah, dan Hawa mendadak hancur berantakan. Sebuah pengkhianatan tak terduga terjadi di antara mereka, menyisakan misteri besar tentang dalang di balik rusaknya ikatan suci tersebut.

Seni Seviyorum Aisyah Bab 1

"Aisyah bangun sayang!" teriak Adiba Bunda Aisyah yang melihat putrinya itu masih tertidur pulas dengan selimut tebal yang menutupinya.

"Ah Bunda, aku masih ngantuk," gerutu Aisyah sambil membalikan tubuhnya.

"Ayo bangung mandi dulu nanti kita sarapan, Ayahmu sudah menunggu di ruang makan," ujar Adiba dengan menarik selimut yang menutupi tubuh anaknya itu.

Aisyah menggeram, "Nanti aku mandi Bun, tunggu lima menit lagi ini cuacanya dingin banget."

Adiba hanya menggelengkan kepalanya mendengar ocehan anaknya, "Kalau nunggu dingin kapan mau mandinya? Mau siang hah?"

Aisyah membalikan tubuhnya yang masih nyaman berada di atas kasur dia membuka matanya dan menatap Bundanya, "Ah Bunda aku masih ingin tidur," lirihnya.

"Ayoo bangun! masa anak gadis bangunnya siang," tukas Bundanya.

Aisyah menggeliat dengan enaknya lalu mengulurkan tangannya, "Iya Bunda, Bangunin!"

Setelah Aisyah bangun dan beranjak ke kamar mandi Adiba pun berlalu untuk turun ke bawah.

"Bunda tunggu di bawah ya kamu jangan lama-lama mandinya!" pinta Adiba sebelum berlalu pergi meninggalkan kamar Aisyah.

Aisyah Salsabila merupakan anak kedua dari dua bersaudara dia terlahir dari orangtua yang selalu mementingkan pendidikan dan taat dalam beribadah, kakaknya bernama Katya Salsabila yang kini sedang melanjutkan studynya di Kairo Mesir Ayahnyalah yang memintanya untuk melanjutkan sekolah di sana dan setiap keputusan Ayah tidak akan ada yang bisa menolaknya, Katya memang anak yang pintar dan selalu juara di sekolahnya hal itu menjadi cerminan untuk Aisyah agar bisa menjadi seperti kakaknya.

Air terasa seperti air es saja membuat Aisyah takut untuk menyentuh air di bak mandi untung saja hari ini dia libur sekolah membuatnya merasa beruntung tidak akan berjalan menembus jalanan yang cuacanya dingin seperti ini.

"Huhf kenapa hari ini dingin sekali ya?" gumam Aisyah setelah selesai mandi.

Dengan cepat Aisyah memakai pakaiannya untuk segera turun menemui kedua orangtuanya yang sudah menunggunya di ruang makan.

"Pagi Ayah Bunda," sapa Aisyah saat melihat Ayah dan Bundanya makan.

Ayahnya hanya tersenyum, "Kebiasaan banget kalau hari libur pasti bangunnya siang," omel Ayahnya.

Aisyah mengakui kesalahannya itu dan memang benar saja alasannya ya malas mandi karena dingin.

"Ya sudah ayo buruan makan!" sergah Adiba sambil menuangkan nasi ke piring dan memberikannya kepada Aisyah.

"Ayah mau pergi ada rapat di kantor hari ini," ujar Ayahnya yang selalu memberi tahu kemana dia akan pergi.

Aisyah menatap Ayahnya yang memang sedang berpakaian rapi dengan dasi yang melekat di keranya. "Ayah Aisyah juga boleh main?" tanyanya meminta izin.

Adiba menoleh menatap putrinya itu dengan kerutan di keningnya Aisyah hanya tersenyum kelu sambil menunggu jawaban dari Ayahnya.

"Memangnya mau pergi kemana hah?"

"Aisyah sudah ada janji akan pergi ke rumah Fatimah soalnya ada tugas kelompok kemarin," jelas Aisyah yang sebenarnya tidak ingin pergi kemana-mana, hanya saja teman-temannya ingin mengerjakan tugasnya di rumah Fatimah bukan di rumahnya dengan alasan rumah Fatimah lebih dekat dengan rumah yang lainnya.

Ayah masih diam sambil melahap sarapannya, "Sudah jam tujuh Ayah harus berangkat dulu ya!"

"Ayahhh!" gerutu Aisyah karena permintaan izinnya belum dijawab oleh Ayahnya.

"Mobil sudah siap tuan Haris," ujar Pak Ujang supir pribadi di rumah ini. Haris nama Ayahnya Aisyah.

Aisyah menatap Bundanya dengan nelangsa, "Ayah, aku pergi dibolehin ya! Nanti kalau aku gak pergi gak akan dapet nilai," tukas Aisyah dengan kesal.

Haris menatap Aisyah sambil berpikir sesuatu, "Pak Ujang antar Aisyah ke rumah temannya saja biar saya pergi naik mobil sendiri," pinta Haris dengan keputusannya.

"Ayah," gumam Adiba sembari bangkit dari duduknya.

"Bundaa!" rengek Aisyah yang memang tidak ingin jika dia pergi selalu diantar jemput oleh supir.

"Ini yang terbaik buat kamu jika tidak mau ya sudah tidak usah pergi!" tukas Ayahnya sambil beranjak pergi.

Adiba membawakan tas kerja dan mengikuti suaminya ke depan rumah sedangkan Aisyah kembali terduduk sambil menyantap buah pir yang ada di atas meja makan.

"Kapan mau pergi Non?" tanya Pak Ujang sambil menunduk patuh.

Aisyah masih merasa kesal dan berpikir jika dia tidak pergi maka dia bisa kena omel teman kelompoknya dan tentu nilainya akan dikurangi Aisyah merasa bingung.

"Sekarang Pak," jawab Aisyah dengan ketus.

"Siap Non!" ucap Pak Ujang dengan tegas dan berlalu pergi.

Adiba telah kembali yang berarti Ayahnya sudah pergi.

"Bunda memangnya kakak juga dulu seperti itu ya?" tanya Aisyah yang penasaran akankah sikap Ayah memang seperti itu kepada anak-anaknya yang lain.

Adiba mengangguk, "Iya sayang, Ayahmu memang sangat mengkhawatirkan anak-anaknya apalagi ke dua anaknya perempuan semua," jawab Adiba sambil mengelus kepala Aisyah yang tertutup dengan hijab.

"Tapi kan Bun sampai kapan Ayah akan selalu menyuruh Pak Ujang untuk mengantar jemputku jika aku pergi? Kan aku juga ingin naik motor dengan teman-temanku jika pulang sekolah," ungkap Aisyah.

"Temen cewek apa cowok?" ejek Adiba dengan menggoda anak gadisnya ini.

Aisyah terkekeh, "Ah Bunda selalu saja menggodaku, aku tidak pernah membayangkan bagaimana jika aku diantar oleh seorang laki-laki ke rumah dan Ayah tahu itu," seru Aisyah.

"Hehehe," Bunda hanya tertawa karena ikut membayangkan jika itu terjadi bagaimana ekspresi suaminya itu.

Selama ini kedua putrinya selalu patuh akan perintah Ayahnya untuk tidak berpacaran karena harus pokus dengan pendidikan apalagi Aisyah mempunyai hafalan Al-Quran bagaimana nantinya hafalan itu akan tetap bertahan saat putrinya berbuat maksiat.

"Ya sudahlah Bun lagi pula aku percaya bahwa keputusan Ayah adalah yang terbaik buat anak-anaknya," ujar Aisyah dengan tersenyum.

Adiba pun mengangguk sembari tersenyum, "Ya sudah lanjutkan sarapannya!"

"Sudah Bun, aku mau pergi dulu ya," pamit Aisyah sambil mencium tangan Bundanya itu.

"Hati-hati ya sayang belajar yang benar." Adiba memberikan kecupan hangat untuk putrinya itu.

Aisyah berlalu pergi berjalan menuju pintu keluar sudah terdengar suara klakson mobil yang dibunyikan oleh Pak Ujang.

"Ke mana Non?" tanya Pak Ujang saat membukakan pintu mobil untuk Aisyah.

"Ke jalan Anggrek no 3 Pak," sahut Aisyah sembari menggunakan sabuk pengaman.

*"Fat, gue udah berangkat nih."*

Aisyah mengirim pesan untuk memberitahu jika tidak seperti itu maka temannya ini akan mengomel.

*"Baiklah gue tunggu."*

Gue dan Lu memang perkataan biasa yang memang sering Aisyah gunakan untuk berbicara dengan teman-temannya dan tidak ada masalah bukan? Karena rata-rata teman-temannya berbicara dengan Gue dan Lu, jadi menurut Aisyah itulah perkataan untuk lebih dekat dengan teman-temannya terkadang juga Aisyah menggunakan kata saya ketika berbiraca formal dengan teman-temannya atau pun Guru-guru.

"Belok kanan Pak," seru Aisyah saat sudah sampai di gang rumahnya Fatimah.

"Baik Non," sahut Pak Ujang.

"Pak Ujang boleh pulang dulu nanti pulangnya akan aku kabarkan lewat Bunda ya," ujar Aisyah sambil tersenyum kasihan jika Pak Ujang harus menunggu dia selesai belajar.

"Owhh baik Non kalau begitu." Pak Ujang tersenyum mendengarnya.

Tinn ... tinn ....

Rumahnya Fatimah pun dijaga dengan Saptam Pak Ujang membunyikan klakson mobilnya lalu terdengar suara Fatimah yang memanggil Saptamnya.

"Pak Hendri buka gerbangnya Pak!"

Dengan cepat gerbang pun dibuka Aisyah turun dari mobilnya.

"Woyy Ujang!" seru Pak Hendri yang memang sudah kenal dengan Pak Ujang karena sering bertemu kala Aisyah main ke rumah Fatimah.

Pak Ujang melambaikan tangannya dan tersenyum lalu kembali menjalankan mobilnya.

"Silahkan masuk Non," ujar Pak Hendri mempersilahkan.

"Makasih Pak," sahut Aisyah kepada Pak Hendri sambil tersenyum.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Seni Seviyorum Aisyah

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel ALFARO | Berandal gilaku
8.5
Keenan Alfaro tumbuh tanpa orang tua, mengandalkan kalimat papanya yang keras untuk bertahan. Kini di usia 18 tahun, ia menjadi murid beasiswa yang urakan dan playboy, ditakuti semua orang. Namun Mutiara, gadis pintar seangkatannya, berhasil meluluhkan hatinya. Hubungan mereka berubah menjadi neraka ketika Mutiara meminta Keenan mempublikasikan status mereka. Para cewek yang merasa dimanfaatkan oleh rayuan Keenan, bersama para cowok yang pernah dikalahkannya, kini membalas dendam dengan membuli Mutiara. Akankah cinta mereka bertahan di tengah tekanan dan kekerasan? Atau Mutiara akan menyerah pada keadaan?
Sampul Novel Kekasihku Menikahi Saudaraku Disaat Aku Lumpuh
9.6
Arjuna lumpuh akibat kecelakaan tragis. Di tengah keterpurukannya, sang tunangan, Kirana, justru mengkhianatinya dengan menikahi adiknya sendiri, Bima. Situasi kian pelik saat adik-adik Arjuna mulai memperebutkan posisi CEO, sementara ia harus berjuang keras menjalani terapi fisik. Demi memulihkan kondisi mental dan fisik putranya, sang ibu menjodohkan Arjuna dengan Mentari. Kehadiran gadis unik yang ceria namun matre ini pun menjadi secercah harapan baru bagi hidup Arjuna.
Sampul Novel Neraka di Matanya, Surga dalam Ciumannya
8.3
Setelah dikhianati sang kekasih, Gabriela melarikan diri dan melewati malam penuh gairah bersama pria asing yang ia duga seorang playboy. Saat subuh tiba, ia langsung menghilang. Siapa sangka, pria itu adalah Wesley, bos barunya yang dikenal sebagai CEO berdarah dingin. Di kantor, Wesley tampak bersikap tenang dan profesional. Namun di balik topengnya, ia menyimpan kecemburuan yang sangat posesif karena mengira Gabriela masih menyimpan rasa pada mantan kekasihnya yang tidak setia.
Sampul Novel Sangat Salah Jatuh Cinta dengan Saudara Asuhku
9.5
Selama tujuh tahun, Rosalyn Wright mengorbankan hubungannya dengan keluarga demi mengejar cinta Saul, saudara asuhnya. Namun, amarah besar Saul hanya karena sebuah barang rusak akhirnya menyadarkan Rosalyn bahwa perasaannya tak terbalas. Menolak bertahan dalam ilusi, sang pewaris kaya ini memilih menyerah dan menggugat cerai. Ia memutuskan menghubungi ayahnya untuk pulang dan memimpin bisnis keluarga, meninggalkan pernikahan yang semu.
Sampul Novel Somebody That You Loved
8.3
Empat tahun merajut kasih membuat Bonita sangat mendambakan pernikahan dengan Benjamin. Sayangnya, impian indah tersebut runtuh seketika saat perselingkuhan Benjamin dengan seorang model seksi terbongkar. Meski dikhianati, trauma masa lalu membuat Bonita sulit melepaskannya. Sementara itu, Benjamin didera dilema hebat antara mempertahankan komitmen sucinya bersama Bonita atau mengejar cinta pertamanya sejak kecil. Akankah hubungan mereka berakhir tragis atau justru berlanjut ke pelaminan?
Sampul Novel Terjebak Cinta Ketua Preman
8.9
Malam kelulusan Amelia berakhir tak terduga setelah ia tidak sengaja tidur bersama Handoko, pria misterius yang selalu melajang. Tak disangka, Amelia hamil dan memilih menyembunyikan kandungannya. Ia sama sekali tidak tahu bahwa sosok Handoko adalah ketua organisasi preman yang paling ditakuti. Apakah rahasia besar ini akan menyeret Amelia ke dalam penderitaan, atau justru berujung pada takdir manis yang membuat semua orang iri?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan