
Selamat Tinggal, Haris Gunawan
Bab 3
Haris tidak mencariku. Dia langsung tidur setelah mencuci muka dan sikat gigi.
Dia tidak menelepon atau mengirim pesan untuk menanyakan aku ke mana.
Benar saja, ketika kamu sudah melihat bagaimana dia mencintaimu, akan sangat jelas terlihat ketika dia tidak mencintaimu lagi. Sekali lihat saja sudah tahu.
Dulu, ketika aku sibuk bekerja dan tidak langsung membalas pesannya, panggilan bertubi-tubi darinya akan masuk.
Kadang-kadang, jika aku tidak mengangkat telepon, dia bahkan akan meninggalkan pekerjaannya untuk datang ke kantor dan memastikan keadaanku.
"Anna, sesibuk apa pun kamu, ingatlah untuk membalas pesanku."
"Aku cuma mau memastikan kamu baik-baik saja. Kamu nggak keberatan, 'kan?"
"Nanti kalau kamu sibuk, balas saja dengan emotikon senyum, supaya aku tahu kamu baik-baik saja."
...
Sekarang, mengirim pesan pun dia sudah malas.
Aku mengenalnya karena ibuku.
Ibuku adalah wanita yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga selama puluhan tahun, dan akhirnya melompat dari gedung tinggi, meninggalkan jasad yang hancur.
Haris adalah petugas pemulasaran jenazahnya.
Aku melihat Haris mengenakan sarung tangan, menyusun kembali tubuh ibuku dengan hati-hati, matanya penuh dengan rasa hormat dan iba.
Saat itu aku berpikir, uang yang kukeluarkan itu sepadan, anggap saja sebagai balas jasaku atas pengorbanannya melahirkanku.
"Ada tisu bersih di sebelahmu, pakailah untuk menyeka air matamu."
"Dia pasti akan merasa sedih."
Kupikir hatiku sudah sekeras batu, tetapi air mata tetap mengalir tanpa kusadari, sampai Haris mengingatkanku.
Dengan panik aku menyeka air mataku dengan tisu, diam-diam menatap Haris.
Dia memang tampan, wajahnya halus, garis wajahnya tegas. Hanya saja, aku tidak mengerti kenapa dia memilih pekerjaan ini.
"Kenapa kamu memilih pekerjaan ini?"
Biasanya aku pendiam, tetapi pertanyaan itu tiba-tiba terlontar begitu saja.
"Karena ayahku. Waktu itu dia meninggal karena kecelakaan, dan nggak ada yang bisa memperbaiki wajahnya. Ibuku sangat menyesal, karena ayah pergi dalam keadaan nggak utuh. Saat itu aku bersumpah, kelak aku akan menjadi petugas pemulasaran jenazah terbaik, agar setiap orang yang kutangani bisa pergi dalam keadaan utuh."
Kukira dia tidak akan menjawab. Ternyata Haris memberikan penjelasan panjang.
Dia bahkan bercerita tentang kisah indah orang tuanya.
Namun, Haris yang begitu hangat, begitu profesional dalam pekerjaannya, akhirnya melanggar prinsipnya demi Lea.
Anda Mungkin Juga Suka





