APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel SEKEPING PERNIKAHAN

SEKEPING PERNIKAHAN

Rumah tangga Tiara terasa dingin tanpa kehangatan dari sang suami. Ketika ia memutuskan menyerah dan melangkah pergi, sang mantan suami justru didera penyesalan mendalam. Namun, perpisahan ini mengungkap tabir misteri yang menyelimuti orang-orang terdekat mereka. Tiara pun mulai mencurigai ketamakan ibu mertuanya dan meragukan identitas asli pria yang pernah dinikahinya dalam pusaran rahasia yang rumit.
Bab
Bagikan

Bab 2

Kepalaku terasa pusing memikirkan status terbaru Istrinya Reno.

"Ah, biarlah besok akan aku selidiki. Akku akan berpura-pura berkunjung ke rumah ibu mertuaku saja," gumamku dalam hati.

Rasa penasaran pun semakin dalam, sebenarnya apa yang mereka lakukan dengan uang suamiku? Ya, uangku juga. Rasa kantuk pun hilang, rasanya ingin segera aku menemui mereka. Sungguh Mas Bayu keterlaluan, aku di buat mati penasaran.

"Jika nanti anak-anakku besar, lihat saja kau Mas! Apa yang nanti akan aku lakukan padamu, sabar, sabar, Tiara." Itu yang selalu aku gumamkan dalam hati.

Aku memang seperti orang paling bodoh, diam tak bertindak. Untuk saat ini aku tak bisa berbuat apa-apa selain mengandalkan uang Mas Bayu yang kecil itu. Hinaan dan cemoohan dari tetangga dan saudara sudah biasa aku lalui.

"Hah, kamu Tiara mau saja hidup sabar dengan suami macam itu, mertuamu dan adiknya hidup enak dengan uang Suamimu. Lah, apa yang kamu dapat hanya kesengsaraan, sadar Tiara .... sadar." Itu yang selalu di ucapkan saudara-saudaraku. Hemm, sedih memang, tapi apa daya untuk saat ini aku belum bisa menghasilkan uang yang banyak.

***

"Kakak, adek, kita sekarang ke rumah Oma, yuk!" ajakku pada Rizki anak sulungku dan Bilar si bungsu.

"Ayo, Bu," sahut mereka berdua dengan kompak.

Wajah polos dan ceria mereka membuat hatiku tenang. Ah, memang benar mereka berdualah yang membuat aku mampu bertahan dengan Mas Bayu selama ini.

"Tapi ingat di rumah oma jangan bandel ya! Jangan terlalu minta ini-itu!" ancamku pada mereka berdua. Aku terkekeh geli melihat mereka cemberut dengan ancamanku tadi. Aku cubit pipi si sulung dan si bungsu gemas.

"Ah, biarin, Bu, kakak sama adek minta ini-itu juga, kan uang Ayah ada di Oma," jawab si sulung dengan polosnya.

"Husttt ... kakak nggak boleh ngomong kayak gitu, ah! Kakak kan masih kecil belum tahu apa-apa," ucapku kepada si sulung memberikan pengertian. Biarlah ini menjadi urusan orang tuanya.

"Hemm.. kata siapa kakak masih kecil? Nih otot Kakak besar," celotehnya, membuat aku semakin gemas sama si sulung. Apalagi pipinya yang putih mulus dan tembem kayak kue bapau.

"Iya.. iya oke jakak udah besar," sahutku

sambil aku cepat menggendong si bungsu dan meraih tangan si sulung untuk segera cepat mandi.

"Siappp ... lets go...!" Aku berteriak. Dengan ceria kami bertiga bersiap-siap pergi. Walaupun hidup kami susah, tapi aku tak mau menunjukan kesedihan di depan kedua anakku. Aku berusaha selalu menutupi semuanya. Ya, akulah Ibu idaman untuk kedua anakku. Mereka selalu mengidolakanku.

Katanya "nanti kalau kakak dan adek udah besar mau punya istri seperti Ibu, yang super sabar,"

Aku selalu tersanjung dengan kata-kata mereka.Ah, ada-ada saja mereka itu, hingga bisa membuat hatiku terhibur.

***

"Assalamualaikum ..." ucap anak- anakku dengan suara khas cempreng mereka.

"Eh, cucu-cucu Oma datang, sini sayang peluk Oma!" kelihatannya ibu mertuaku seperti menyayangi mereka, tapi entahlah.

Anak-anak tak mau jauh dari aku, walaupun sesekali ibu mertuaku menyuruh mereka untuk menonton televisi, tapi tetap mereka tidak mau.

"Tiara, ada apa kamu ke sini?" tanyanya dengan tatapan penuh curiga.

"Ah, tidak ada apa-apa, Bu, Tiara cuman pengen jenguk Ibu saja," jawabku untuk mengalihkan kecurigaan ibu mertuaku.

"Oh, dikirain mau minta uang lagi, kemarin sudah di kasih 500 ribu, segitu kan banyak?" ucapnya dengan nada suara meremehkan.

"Huh ... dasar mertua tak punya itungan, uang 500 ribu di anggap besar," gumamku berbisik pelan.

"Tiara, kamu barusan ngomong apa? Ibu ga budeg, loh."

"Oh ... eh ... nggak ngomong apa-apa kok, Bu. Cuman ngomong iya alhamdulilah uang 500 ribu besar mudah-mudahan sisa uang Mas Bayu banyak, supaya cepat kami bisa membeli rumah," sindirku halus, sebisa mungkin agar tidak menyinggung hati Ibu mertuaku.

"Hehh ... boro-boro kebeli sekarang sisanya juga sedikit. Uppsss..." Ibu mertuaku menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.

"Maksud Ibu apa? Ngomong kayak gitu," tanyaku tak mengerti.

"Kamu ini Tiara, bawel amat sih, pengen tahu segala keuangan suamimu. Untung di kasih jatah juga," cerocosnya penuh amarah.

"Bukan begitu, Bu, kami kan di kasih jatah hanya sedikit oleh Mas Bayu, pasti sisanya masih besar?" ucapku, memberikan penjelasan kepada Ibu mertuaku.

"Udahlah Tiara, kamu jangan banyak tanya masalah uang! uang Bayu, Ibu pinjamkan ke Reno untuk membeli rumah, kasihan numpang di rumah mertuanya terus."

"Lah, Ibu kenapa nggak bilang dulu ke Tiara, setuju apa tidaknya Tiara, Bu?"

"Tiara, kamu ini kenapa sih pelit banget sama saudara juga? Ya, bantulah adik ipar kamu!"

"Iya Bu, masalah membantu Tiara mau-mau saja, tapi kan ini masalahnya Tiara juga belum punya rumah, uang jatah kami pun sedikit. Ya, Ibu seharusnya mendahulukan kami daripada Reno." Aku juga tak mau kalah dengan Ibu mertuaku. Dadaku bergemuruh tak karuan, hatiku panas ingin rasanya ingin mencakar wajah Ibu mertuaku, tapi itu hanya sebatas rasa emosiku saja.

"Ah sudah lah Tiara, Ibu capek ngomong sama kamu, nggak mau mengalah sama mertua."

"Terserah Ibu juga, Tiara nggak mau tahu, saatnya nanti Tiara mau membeli rumah uang itu harus ada!"

"Sebentar lagi Reno dan istrinya kesini, kamu ngomong langsung saja sama mereka, kalau kamu berani!" tantang Ibu mertuaku penuh emosi.

"Ok," jawabku singkat.

Tak lama menunggu datang juga itu orang. Dengan mesranya mereka bergandengan tangan. Seperti Romeo dan Juliet saja. Memamerkan kemesraan mereka. Apalagi Nela seperti anak bocah 5 tahun yang manjanya tak ada ampunnya. Mungkin dia ingin memamerkan kemesraannya padaku, bahwa dialah wanita yang paling beruntung di sayang suami yang segala keinginannya selalu terpenuhi. Ya, meskipun Reno harus pinjam sana-sini, termasuk membelikan rumah baru dengan hasil meminjam uang Mas Bayu.

"Tak apalah yang penting Nela senang," Mungkin itu pikirnya.

Tak seperti aku yang harus menunggu dan menunggu berapa lama lagi Mas Bayu akan merubah sifatnya.

"Bodoh ... bodoh ...," batinku sambil menepuk-nepuk kepalaku yang tak sakit.

"Eh, Mbak Tiara kenapa tuh kepalanya kok di tepuk-tepuk segala, sakit, ya? atau lagi ga punya duit?" ejek Nela, yang tak sadar jika uangkulah yang dia pakai makan selama ini, dan yang dia pinjam pula untuk membeli rumah barunya. Dasar Nela memang orang yang tak tahu malu dan tepatnya orang berwajah tembok. Itulah dia.

"Ah, nggak ini cuman puyeng dikit saja," jawabku, pura-pura berbohong.

"Pusing kenapa, yah?" Nada suaranya yang manja dan bibirnya yang maju mundur seperti mulut bebek, terlihat monyong. Membuatku geram dan dongkol padanya.

"Iya, ini aku lagi pusing, soalnya uangku habis nggak tahu kenapa?" sindirku sengaja untuk memancing Nela dan Reno, supaya mereka cepat membahas masalah pinjamannya itu.

Dengan ekspresinya yang kaget, Nela dan Reno celingak-celinguk ke arah Ibu Mertuaku sambil mengedip-ngedipkan matanya. Mungkin mereka kesal kenapa Ibu Mertuaku memberitahu masalah uang yang dipinjamnya itu.

"Lah, Mbak ini masalah uang yang terus di pertanyakan. Iya, itu uang saya pinjam dulu, Mbak, buat beli rumah. Saya kan, nggak enak numpang di rumah Mertua terus." Kini Reno yang ambil alih pembicaraan Nela.

"Kenapa kamu nggak ijin dulu ke Mbak? Malah sama Ibu minta izinnya. Itu kan uang Mbak, Ren," tegasku pada Reno.

"Apa saya tidak salah dengar, Mbak. Itu uang mas BAYUUUU, Mbak," teriaknya padaku, tak ada sedikitpun rasa hormatnya menghargaiku sebagai Kakak Iparnya.

"Sama saja itu juga uang, Mbak. Mas Bayu kan suami, Mbak, jadi aku yang lebih berhak atas uang itu, bukan kamu atau Ibu," hardikku penuh emosi. Bukannya minta maaf, malah sebaliknya dia yang terlebih dahulu memarahiku.

"Kata siapa yang lebih berhak itu Mbak? Yang lebih berhak itu kami keluarga Mas Bayu. Mas Bayu anak yang paling besar. Jadi mas Bayu harus menjadi kepala keluarga setelah Ayah meninggal," cerocosnya pula tak mau kalah.

"Astagfirullah ... yang pantas ngomong kepala keluarga itu aku dan anak-anak. Kamu sudah menikah dan seharusnya yang menjadi kepala keluargamu itu ya, kamu sendiri, bukannya Mas Bayu, mengerti!" Aku seperti orang gila membalas teriakan Reno.

Aku marah, apa keberadaanku dan anak-anak tak berartikah dalam kehidupan Mas Bayu? sehingga keluarganya lah yang lebih berhak menikmati hasil kerjanya.

"Lagian Reno adalah saudara satu- satunya Bayu dan dia juga sayang sama Reno. Bayu pasti tidak akan mempermasalahkan uang ini, mengerti kamu, Tiara?" Bela Ibu Mertuaku tanpa sedikit pun memperdulikan perasaan dan posisiku saat ini.

"Iya Mas Bayu, kan sayang kita, ya, Mas?" celoteh Nela seperti anak ingusan saja, membuat hatiku semakin muak terhadap mereka. Rasanya ingin sekali aku menonjok bibirnya yang monyong itu.

"Iya, tenang sayang, Mas Bayu tidak akan marah dan akan mengerti kok, kita juga berhak terhadap uangnya." Dengan santainya mereka meninggalkan aku yang berdiri mematung tanpa ekspresi. Sungguh tak bisa digambarkan dengan apapun hatiku saat ini seperti apa?

Aku berjongkok memeluk anak-anak erat. Aku tumpahkan semua air mataku di pelukan kedua anakku. Si sulung mengerti dengan kondisi seperti apa saat ini? si sulung mengusap pipiku pelan dan menciumiku berkali kali.

"Ayah nggak sayang kita ya, Bu? Kakak benci Ayah," lirih anakku pelan, seraya membisikkannya di telingaku.

Entah apa yang ada di pikiran anakku, dia membenci Ayahnya. Dia melihat pemandangan seperti apa ini? dia mendengar semua ucapan Oma dan Om nya. Ya, si sulung mengerti semuanya.

"Ayo, Bu, kita pulang saja! jangan mengemis di sini," ucapnya.

"Tak ada yang peduli dan membela Ibu saat ini. Percuma berteriak, menangis, menjerit pun, mereka tak akan peduli". Mungkin itulah yang ada dalam pikiran anak-anakku saat ini.

"Iya, Sayang ayo kita pulang!" ucapku. Tanpa basa-basi lagi aku dan anak-anak pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada mereka.

"Sayang anakku inilah perjalanan hidup kita, sampai kapan? entahlah, Mas bayu" lirihku pelan. Aku menangis, mengingat kejahatan hati Mas Bayu kepada kami.

Sungguh mulia hatimu Mas bertaruh nyawa di Negeri orang untuk membahagiakan Ibu dan adikmu, tapi aku dan anak-anak hanya bisa melihat kemewahan kalian dari angan kami saja . Dengan langkahku yang gontai, aku menggiring anak-anak keluar dari rumah Ibu Mertuaku yang bijaksana.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Meninggalkan Tunanganku di Pesta Pernikahan
9.0
Hubungan kami hancur saat Jake berpaling pada Elsie, gadis yang ia sponsori. Walau Jake sempat memilihku dan mengusir Elsie, insiden tenggelamnya gadis itu di hari pertunangan kami membalikkan keadaan. Jake panik, menyalahkanku, dan menyebut Elsie sebagai masa depannya. Ketika ia melepas tanganku demi mengejar perempuan itu, aku sadar kisah kami telah berakhir. Tidak ada lagi alasan bagiku untuk bertahan di pesta pernikahan yang kini terasa hampa ini.
Sampul Novel Arus yang Membuatku Liar
9.6
Novel romantis modern Arus yang Membuatku Liar mengisahkan tindakan kejam seorang suami yang tega mengaktifkan alat pengontrol pada tubuh istrinya ke tingkat tertinggi saat berada di tempat umum. Di tengah keramaian, sang istri seketika kehilangan kekuatan hingga terjatuh lemas di lantai. Alih-alih mendapatkan pertolongan tulus, ia justru menjadi pusat perhatian dan dikelilingi oleh pria-pria asing dengan niat buruk yang mulai mendekatinya dalam situasi tak berdaya tersebut.
Sampul Novel Bidan
9.7
Profesi bidan yang sering dicap judes tak pernah ada dalam rencana hidupku. Namun, di usia 25 tahun, aku justru sangat mencintai pekerjaan ini. Karena terlalu sibuk di Puskesmas, aku kesulitan mencari jodoh hingga Mama mendesakku dan meminta bantuan sahabatku. Di tengah kepasrahan itu, hadirlah sosok pria memikat yang sanggup membuatku bertingkah konyol. Kini, duniaku tidak lagi hanya berputar di ruang persalinan yang sibuk.
Sampul Novel Bukan inginku Selingkuh
9.1
Menjunjung tinggi kesetiaan tak melindungi Ruela dari pengkhianatan Frans. Suaminya itu justru berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Alih-alih meratapi nasib, Ruela memilih bangkit demi menuntut balas. Di tengah rencana pembalasan dendam tersebut, takdir mempertemukannya dengan Felix, pemuda yang melewati malam penuh gairah bersamanya. Mampukah Ruela menghancurkan para pengkhianat di hidupnya? Inilah kisah penuh luka, ambisi, dan pertemuan tak terduga.
Sampul Novel Bukan Pelayan Biasa
8.8
Hari kelulusan Amanda Felicia berubah menjadi duka mendalam saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. Keadaan kian berat ketika Fanny, sahabat karibnya, harus pindah ke luar negeri. Demi bertahan hidup di tengah keterpurukan, Amanda memutuskan bekerja menjadi pelayan di rumah seorang miliarder bernama Alexander Mattew. Sayangnya, Alex yang berhati dingin terus mempersulit pekerjaannya agar ia tidak betah. Sanggupkah Amanda bertahan menghadapi segala tekanan dari majikannya?
Sampul Novel Fajar Baru
9.1
Sophie Wilson telah memberikan segalanya untuk Daniel Carter. Namun di akhir hayatnya, ia justru menerima kenyataan pahit. Daniel mengaku menyesal telah menikahinya dan merindukan Lily Harvey, wanita dari masa lalunya di desa nelayan. Meski Daniel sempat memilih hidup mewah bersamanya, di saat-saat terakhir ia mengungkapkan bahwa kesetiaan pada Sophie hanyalah beban yang melelahkan.