APKDock Logo
Sampul Novel Bidan

Bidan

9.7 / 10.0
Profesi bidan yang sering dicap judes tak pernah ada dalam rencana hidupku. Namun, di usia 25 tahun, aku justru sangat mencintai pekerjaan ini. Karena terlalu sibuk di Puskesmas, aku kesulitan mencari jodoh hingga Mama mendesakku dan meminta bantuan sahabatku. Di tengah kepasrahan itu, hadirlah sosok pria memikat yang sanggup membuatku bertingkah konyol. Kini, duniaku tidak lagi hanya berputar di ruang persalinan yang sibuk.

Bidan Bab 1

Gambar yang ditampilkan oleh benda pipih berukuran tiga puluh dua inchi di hadapanku seketika berubah saat tombol pada remotenya kutekan. Hujan deras di luar, ditambah petir yang menggelegar dan saling bersahutan, membuatku mulai menguap dan mata menjadi berat.

"Ga ada yang seru ih acara tivi. Garing semua!" gerutuku sambil mengangkat tubuh menuju ruang jaga.

"Bu Bidan... tolong!" Terdengar suara teriakan yang menggema dari arah lorong Puskesmas.

Tiba - tiba seorang pria paruh baya masuk ke ruangan bersalin saat aku baru saja akan merebahkan diri di ruang istirahat.

"Kenapa, Pak?" tanyaku dengan mata yang sempat redup, mendadak terang benderang dan segera bangkit mencari sendal.

"Penumpang bajaj saya anaknya keluar, Bu!" Bapak supir bajaj berkata dengan nada panik dan wajah yang pucat.

"Memey, siapin partus set, APD, bedong!" teriakku pada bidan magang. Aku pun berlari mengambil alat pelindung diri dan memakai handscoon, alias sarung tangan karet.

"Siap kak!" Ia segera berlari menghampiri sterilizer, membukanya, mengambil partus set, kassa, lalu jarum suntik dan ampul berisi oksitosin yang kemudian disimpan dalam tempat alat persalinan. Berlari ke arah lemari bedong bayi, menyambar salah satu kainnya, lalu mengikutiku di belakang dengan secepat kilat memakai Alat Perlindungan Diri sambil berjalan. Semua dilakukan dengan gesit.

Kami mengayunkan kaki lebih cepat hingga tiba di depan bajaj tak sampai lima menit.

Saat pintu bajaj dibuka oleh sang supir, kepala dan separuh bahu bayi sudah menjuntai. Sang ibu terlihat kepayahan dan banjir keringat. Aku segera masuk ke tempat supir bajaj dan menghadap ke belakang.

"Mey, partus set buka. Taruh di jok sebelah ibunya. Duk nya kesiniin!" Aku mengadahkan tangan kanan meminta alat yang kusebut.

Memey bergerak cepat meletakkan partus set dan memberikan duk, berupa kain hijau padaku.

Tangan kananku segera menahan perineum agar tak robek terlalu besar. Tangan kiri berusaha menangkap bayi saat meluncur.

"Ibu ikuti aba-aba saya, ya. Tarik nafas, dorong!" Aku memberi instruksi seraya mempraktikkan. "Tarik napasnya yang dalam, ya, bu. Mata lihat ke perut, lalu dorongnya dari perut kayak mau buang air besar, jangan dari leher."

Sang Ibu mengarahkan pandangannya ke perut dan mulai mengejan dengan sekuat tenaga.

"UHHH,,, AHHHH!!!"

Bayi mungil itu perlahan meluncur, memperlihatkan tali panjangnya di bagian perut, lalu kelaminnya disusul kakinya.

Syuut!

Tangan kananku menangkap dadanya, tangan kiri mengapit kedua paha si bayi. Aku menariknya dan segera memberikannya pada Memey yang sudah bersiap dengan bedong terbuka di sebelah kananku. Di belakang Memey, sang supir bajaj memayunginya agar terlindung dari hujan.

Aku tetap fokus pada si ibu, segera memasang klem dan memotong tali pusatnya. Memey berlari masuk ke dalam puskesmas dan meninggalkan si ibu yang mulai tampak kelelahan dengan nafas terengah.

Tangan kananku memegang tali pusat yang sudah putus, tangan kiri meraba perut si ibu. Setelah dipastikan bahwa tak ada bayi kedua, aku langsung menyambar jarum suntik yang telah diisi cairan oksitosin dan menyuntikkannya di paha bagian dalam ibu.

"Ibu, jangan tidur ya!" Aku berusaha mengajaknya berbicara agar tidak terlelap.

"Pak, tolong kasih si ibu minum,donk," ujarku pada supir bajaj yang berdiri di sebelah kanan.

"Ba.. baik bu!" jawabnya terbata.

Aku memutar tali pusatnya perlahan dengan tangan kananku. Beberapa detik kemudian seluruh bagian tali pusatnya keluar utuh. Segera kuletakkan di atas duk tadi. Aku bernafas lega.

"Alhamdulillah.." Aku mengucap syukur dalam hati.

Si ibu mulai menyeruput air mineral ukuran gelas yang disodorkan supir bajaj dan menghabiskannya. Wajahnya mulai terlihat sedikit segar.

"Pak, bantu saya gotong ibunya ke dalam, ya," pintaku pada supir bajaj.

"Iya bu," Ia segera meraih tangan kiri si Ibu dan memapahnya. Aku keluar dari ruang supir di dalam bajaj. Beruntung hujan sudah berhenti. Kami segera memapahnya ke dalam ruangan bersalin. Daster yang dikenakan si ibu telah basah oleh darah di bagian pinggang ke bawah.

"Naik ke atas tempat tidur bisa, Bu?" tanyaku padanya setengah melirik.

"Bisa, Bu Bidan." Ia menjawab dengan suara yang lebih santai.

Aku mulai memeriksa tanda vitalnya setelah memasangkan alas bokong dan melepaskan sarung tangan penuh darah yang tadi kukenakan.

"Ibu cuma sendirian? Suaminya mana?" tanyaku mencoba mengumpulkan data pasien pada formulir rekam medis miliknya.

"Suami tadi masih di jalan dari tempat kerja, Bu Bidan. Jadi tadi saya berangkat duluan." Ia mencoba menceritakan kronologis.

"Gak ada keluarga yang nemenin?" aku meliriknya sekilas, pandangan tetap pada formulir yang harus segera diselesaikan pengisiannya.

"Gak ada, Bu. Kami sendirian di sini. Keluarga jauh di Sukabumi." Kulihat ia menenggak minuman yang baru saja diberikan oleh Mey.

Aku terdiam. Berkosentrasi pada indikator tensi meter di hadapanku. Normal. Kuraba nadi di pergelangan tangannya selama satu menit. Terhitung normal juga. Termometer yang kupasang pada ketiaknyapun ikut berbunyi, kulihat angka di layar menunjukkan bahwa suhunya juga normal.

"Ibu, selama dua jam ke depan jangan tidur dulu, ya. Saya masih observasi dulu," ujarku pada si Ibu yang mulai menguap.

"Observasi itu apa Bu Bidan?" Ia berhenti menguap dan memandangku penuh tanya.

"Observasi itu pemantauan. Jadi saya harus memantau kondisi Ibu dalam dua jam ke depan. Baik keadaan umu, seperti pucat atau tidak, lalu tekanan darah, suhu, pernapasan, denyut nadi, dan kondisi darah paska persalinannya." Aku mencoba menjelaskan dengan bahasa yang bisa lebih dimengerti oleh orang awam.

"Oh begitu. Oke Bu Bidan. Saya juga mau nungguin suami saya datang dulu, kok." jawabnya.

"Siap, Bu. Saya ijin nengok bayi Ibu dulu di sebelah, ya." Aku berpamitan.

"Iya Bu Bidan, silakan."

Aku pun meninggalkan si ibu demi melihat bayinya.

"Gimana Mey?" tanyaku oada Memey yang tengah mengisi lembar rekam medis milik si bayi baru lahir.

"All is fine kak. Apgar Scorenya bagus," jawabnya santai seraya mengarahkan telunjuk dan ibu jari yang membulat, padaku.

"Cewek ya?" Aku kembali bertanya saat hendak menyingkap selimut bayinya.

"Cowok, Kak!" Ia protes.

"Eh, cowok? Ealah, gak merhatiin." Kututup selimut bayi tadi dan melangkah ke luar ruangan.

"Hihi." Memey terkekeh.

"Udah disuntik vit.K, Mey?" Langkahku terhenti, dan kembali bertanya padanya.

"Udah, Kakakku.." Memey menjawab dengan nada setengah lelah dan nyinyir.

"Ya udah, jangan lupa observasi, ya. Kakak mau rebahan sebentar dulu." Aku menitip pesan padanya. Mata sudah semakin berat.

"Siap!" Ia menjawab dengan gaya memberi hormat ketika mendekatiku.

"Haish, lebay!" Akupun menurunkan tangan kirinya yang ia letakkan di sebelah alis.

"Dek..." suara pria dari arah ujung lorong menghentikan langkahku yang hendak menuju ruang istirahat.

Aku membalikkan badan. Di hadapanku muncul sosok yang sangat aku kenal sepuluh tahun lalu.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Bidan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel TABIB CANTIK DARI MASA DEPAN KESAYANGAN PANGERAN DARI MASA LALU
8.4
Ahli bedah plastik masa depan, Virgolin Asteria, diculik ke dimensi lain oleh sosok misterius. Di bawah ancaman maut, ia dipaksa menggunakan keahlian medisnya demi menyelamatkan sang Ratu. Namun, saat gerbang untuk pulang akhirnya terbuka, Virgolin justru dihadapkan pada dilema batin yang berat. Benih cinta telah tumbuh di hatinya untuk sang penculik, Pangeran Pisceso Helios. Kini, ia harus memilih antara kembali ke keluarganya atau menetap di dunia asing itu demi sang pujaan hati.
Sampul Novel Dan ternyata cinta
9.4
Pertemuan tak terduga di atas pesawat mempertemukan Vita, seorang pramugari, dengan Andrian yang merupakan prajurit TNI. Andrian langsung jatuh hati pada pandangan pertama saat bertolak ke Jawa. Hubungan mereka berjalan lancar hingga berlanjut ke jenjang pernikahan. Namun, badai datang menerpa rumah tangga mereka ketika Vita tiba-tiba mengajukan gugatan cerai. Kini, Andrian terjebak dalam dilema besar apakah harus menyetujui perceraian tersebut atau tidak.
Sampul Novel DOLLAR MEKAR RUMAH TANGGA BUBAR
7.9
Demi memperbaiki finansial keluarga, Maryati mengadu nasib ke Taiwan sebagai perawat lansia, berpisah dari suami dan buah hatinya. Sayang, gelimang gaji besar menyeretnya ke pergaulan bebas hingga berselingkuh dengan sesama TKI. Pernikahannya hancur seketika saat Irwan membongkar aksi lancung tersebut, menyisakan penyesalan hebat bagi Maryati. Di kala terluka, hadir Ajeng yang tomboi dan tulus mengasihi Irwan. Kini, sanggupkah Irwan mengampuni Maryati yang memohon untuk rujuk?
Sampul Novel Rosemary's Life Story
9.6
Kehidupan Rosemary Laurens hancur seketika saat sang ayah meninggal di Balikpapan. Sekretaris asal Surabaya ini harus menerima kenyataan pahit bahwa rumah dan toko keluarganya disita bank akibat utang judi mendiang ayahnya. Di tengah kemiskinan yang tiba-tiba, nasib buruk kembali menimpanya. Mobil yang ia kendarai ditabrak truk, merenggut nyawa Owen, kekasihnya. Kini, Rosemary harus berjuang sendirian untuk memulihkan luka fisik serta trauma mendalam akibat kehilangan dua pria yang sangat dicintainya.
Sampul Novel Sang Luna yang Ditolak Alpha: Mengandung Anak Musuhnya
9.6
Demi Lyra, Alpha Kaelan tega mengkhianatiku. Aku dipaksa mengaku ternoda dan merawat anak haramnya. Tragisnya, saat aku hamil, Kaelan menyuruhku menggugurkan kandungan demi perasaan Lyra. Penderitaanku kian lengkap ketika ibunya menyekapku hingga aku kehilangan bayi kami. Di tengah kehancuran ini, rasa cintaku sepenuhnya mati. Melalui lolongan suci, kupanggil keluarga kerajaan dari Klan Taring Putih untuk menjemput putri mereka kembali.
Sampul Novel Tersesat Dalammu
8.5
Catalina terbangun di klinik mewah tanpa ingatan dan didiagnosis mengalami gangguan saraf. Di sana, seorang pria misterius bernama Vittorio Leone muncul dan mengaku sebagai tunangannya. Meski Vittorio menceritakan kisah cinta mereka, Catalina justru merasa sangat ketakutan. Saat terkurung di balik pintu terkunci, ia menemukan rekaman masa lalu berisi peringatan agar tidak mempercayai Vittorio. Kini, Catalina harus mengungkap kebenaran sebelum ia terlanjur mencintai pria yang mungkin adalah algojonya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan