APKDock Logo
Sampul Novel Segitiga Penguasa - Sudut Pertama

Segitiga Penguasa - Sudut Pertama

8.5 / 10.0
Demi melindungi keluarganya dan bayi titipan sahabatnya dari kejaran prajurit, seorang pria mengungsi ke desa asal setelah tragedi memilukan. Sialnya, empat tahun kemudian ia tewas di depan istrinya yang baru melahirkan. Dua dekade berlalu, Marcapada tumbuh tanpa sosok ibu. Kini, ia harus berjuang bersama pemuda yatim piatu bernama Soma. Mereka harus bersaing ketat dengan puluhan pemuda lain dalam sebuah kompetisi sengit untuk memperebutkan gelar Penjaga.

Segitiga Penguasa - Sudut Pertama Bab 1

Di sebuah hutan, dua puluh empat tahun lalu …

Senja pergi begitu tergesa. Awan kelabu membola pekat, menculik paksa semburat jingga dari langit sore. Gerimis datang perlahan. Sesekali, kilatan cahaya di hamparan langit menyibak kegelapan. Suasana memuram. Menyisakan kengerian, sekaligus ketegangan.

Terengah-engah, kedua lelaki berbadan tegap, berpakaian perang lengkap, dengan sederet luka menghiasi sekujur tubuh, terus berlari tanpa henti. Salah seorang lelaki membawa buntelan kain yang ia peluk erat dalam dekapannya. Rimbunan semak dan perdu mereka trabas tanpa menghiraukan ratusan duri yang akan membuat luka baru. Tak jauh di belakang, puluhan orang memburu mereka dengan senjata teracung.

Nyawa kedua lelaki itu tengah menjadi perlombaan untuk sesegera mungkin dihabisi. Siapa saja yang dapat memenggal kepala salah seorang, atau keduanya sekaligus, akan mendapat kenaikan jabatan. Dan hadiah semacam itu terlalu menggiurkan untuk diabaikan.

Sambil masih terus berlari kencang, jantung kedua lelaki itu pun berdebar tak keruan. Derasnya guyuran keringat membaur pasrah dengan tetes hujan. Udara di ujung hari mendadak terasa begitu dingin. Seolah menjelma bagai ribuan jarum yang menusuk. Menghadirkan rasa sakit yang tak mungkin diabaikan. Tak langsung mematikan, namun membunuh perlahan.

Masih di dalam pelarian, mendadak, salah seorang lelaki menghentikan langkah kakinya. Pandangannya sekilas berpaling ke arah buntelan kain yang ia bawa. Rona kesedihan terpancar dari air mukanya. Dibukanya perlahan buntelan kain itu. Dan seketika, wajah mungil seorang bayi mencuat dalam dekapannya.

Sadar dengan tindakan yang diambil oleh sahabatnya, lelaki lainnya ikut menghentikan pergerakan.

“Ada apa?” lelaki itu bertanya. Raut ketegangan jelas tergambar di wajahnya. Perhatiannya lalu beralih ke arah belakang. Celingak-celinguk ia menerawang, cemas. “Kita tak boleh berhenti di sini. Mereka semua semakin dekat.”

“Aku sudah tak kuat lagi. Tolong, bawa anakku bersamamu,” salah seorang lelaki menyodorkan buntelan kain berisikan bayi kepada sahabatnya. “Pergilah, biar aku yang mengadang mereka.”

“Tidak! Aku tidak bisa.”

“Kau tidak bisa menolaknya. Hanya ini jalan satu-satunya yang kita miliki,” potong lelaki itu, memaksa. Sebulir darah mengalir jatuh dari pelipis kanannya. “Harus tetap ada yang bertahan di antara kita,” lanjutnya.

Lelaki lainnya mantap menggelengkan kepala. “Tidak! Kita harus tetap bersama. Kita tak boleh terpisah.”

Perihnya sederet luka yang menganga, terkikis habisnya tenaga, dan beberapa luka tusuk yang terus mengeluarkan darah segar, membuat tungkai-tungkai kaki lelaki itu tak kuat lagi menopang berat tubuhnya sendiri. Ia tersungkur sambil terus memeluk buntelan kain berisikan bayi.

Melihat sahabatnya terjatuh, dengan sigap lelaki lainnya berusaha membantu. Ia memposisikan diri setengah berjongkok. “Sepertinya kau sudah tak mungkin lagi berjalan, biar aku yang menggendongmu.”

“Tidak usah. Bawalah saja anakku ini. Kumohon.” Sekali lagi, seorang bayi mungil yang berada dalam buntelan kain kembali disodorkan ke arah depan.

Lelaki penerima bayi itu tak dapat berkata apa pun lagi. Tak ada lagi kata-kata penolakan yang dapat ia ucapkan. Pasrah, ia pun menerima pemberian sahabatnya.

“Sembunyikan dia di tempat yang aman. Jaga ia agar terus bisa bertahan hidup.”

“Kita bisa melarikan diri bersama-sama,” lirih, lelaki itu bersuara.

“Tidak! Kau tidak akan kuat jika harus—”

“Kuat! Aku pasti kuat membawa kalian berdua.”

Lelaki dengan luka di sekujur tubuhnya itu tersenyum kecut. “Mungkin kau kuat, tapi pergerakanmu sudah pasti akan melambat. Kau seharusnya sadar betul siapa musuh kita. Walau dalam keadaan tidak terluka, kita belum tentu dapat mengimbangi mereka. Mereka ….” mati-matian, lelaki itu berusaha mengatur napas. Satu tangannya secara spontan bergerak memegangi bekas luka tusuk di bagian perut. Ia melenguh, menahan rasa nyeri yang terasa semakin menjadi-jadi. “Mereka … ditambah dengan keempat Jenderal keparat itu, sama saja bunuh diri jika melawan mereka semua.”

“Tapi ….” Buliran air mata tak dapat terbendung lagi. Tangis kegagalan menjadi penghias sempurna untuk suasana malam yang tengah memuram.

Dari celah kain yang sedikit terbuka, seorang bayi yang baru beberapa hari terlahir ke dunia merasakan lembut buliran air mata yang jatuh ke wajah mungilnya, bergerak perlahan menelusuri tubuhnya. Tanpa mengerti apa yang sedang terjadi, ia terus tersenyum bahagia di tengah-tengah gerimis yang sedari tadi mengecupi wajahnya.

“Pergilah. Kumohon.”

“Tapi ….”

“Kumohon.”

Getir, sambil bangkit berdiri, lelaki itu sekuat tenaga menahan tangis. Ia dekap erat buntelan kain berisikan bayi dalam gendongannya. Dengan kucuran air mata, ia memandang nanar ke arah sahabatnya.

Tanpa perlu ada lagi kata di antara mereka berdua, sebuah salam perpisahan diantar oleh rintik gerimis yang terus berjatuhan. Lelaki dengan sederet luka di sekujur tubuhnya itu tersenyum hangat ke anak semata wayang, dan satu-satunya sahabatnya yang tersisa.

Akhirnya, derap langkah seorang lelaki yang sejatinya tak ingin meninggalkan kawannya sendiri harus terjadi. Ia dihadapkan pada pilihan yang teramat sulit. Di situasi genting semacam ini, tak mungkin baginya berlama-lama untuk bernegosiasi. Keadaan mengharuskannya mengabaikan hati nurani. Jika ia tak segera melarikan diri, maka benar apa yang dikatakan oleh sahabatnya, tak akan ada lagi yang tersisa di antara mereka. Kisah perjuangan mereka akan pasti berakhir dengan akhir yang tragis.

Sambil memandang nanar ke arah punggung sahabatnya, lelaki itu berkata lembut kepada buah hatinya yang semakin dibawa jauh dari sisinya. Selamat tinggal, anakku. Dengan cerih-cerih tenaga yang sudah tak seberapa, ia pun berusaha bangkit berdiri.

Lelaki itu lalu membalikkan badan, bersiap kembali memulai pertarungan. Kedua tangannya kuat mengepal. Ini akan menjadi pertarungan terakhirku, batinnya menegaskan. Tak berselang lama, puluhan orang dengan senjata di tangan telah berada di dekatnya.

Menyaksikan banyaknya musuh di depan mata, lelaki itu justru menyeringai bak pemangsa. “Majulah, kalian semua!” serunya lantang.

∆

Di bawah guyuran sinar purnama, di atas hamparan bukit, seorang lelaki berambut panjang, mengenakan jubah putih, berdiri tegap menatap langit malam yang terang benderang. Kedua tangannya bertaut di belakang pinggang. Kedua bola matanya tetap awas mengamati riak air yang keberadaannya tak begitu jauh di depan.

“Tuan.” Seorang prajurit bertubuh kurus bergegas berlutut. Air mukanya memperlihatkan raut kepanikan.

“Apa anak itu sudah lahir?”

“Su—sudah, Tuan.”

“Lalu apa yang kau lakukan bersama dengan anak buahmu?”

Prajurit itu terdiam. Bingung harus menjawab apa.

Lelaki itu menoleh ke arah prajurit yang masih berlutut di dekatnya. “Berdirilah,” perintahnya.

Air muka prajurit itu pucat pasi. Meski ragu, perlahan ia mulai bangkit berdiri. “Ma—maafkan aku, Tuan. Aku sadar, aku sudah berbuat salah. Maafkan aku,” pinta prajurit muda itu. Penuh dengan ketidakyakinan, dan terselimuti rapat ketakutan.

“Kau tak perlu merasa bersalah. Semua ini sudah berjalan sesuai dengan apa yang aku rencanakan.”

“Benarkah itu, Tuan?”

Lelaki itu mengangguk. Tersenyum tipis.

Pelan-pelan, prajurit muda itu lalu memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya, melihat wajah Tuannya. Tak ada raut kemarahan di sana. Sebersit senyum seketika tergambar. Kepanikan yang sempat hinggap seketika lenyap.

“Pergilah,” ucap lelaki itu seraya tersenyum.

“Terima kasih, Tuan.” Prajurit itu berbalik. Bersiap pergi.

Sambil menyunggingkan senyum simpul, prajurit yang baru beberapa hari menjalankan tugasnya itu akhirnya menjauh dari tempat keberadaan Tuannya. Langkahnya ringan. Kelegaan tergambar jelas di setiap embusan napasnya. Tapi tunggu, tepat setelah batinnya bersuara, langkah kakinya sejenak tertunda. Kenapa bayi itu dibiarkan hidup? Bukankah seharusnya bayi itu dihabisi?

“Ada apa prajurit?” tanya lelaki berambut panjang. Melihat ada gelagat tak baik yang kentara dari seorang prajurit di depannya.

Merasa telah melakukan tindakan yang keliru, prajurit itu buru-buru menoleh ke belakang. “Ti—tidak, Tuan. Tidak ada apa-apa. Saya permisi,” katanya, disisipi cengiran lebar. Langkah kakinya pun kembali berlanjut.

Sambil memandangi punggung prajurit yang mulai menghilang di dalam kegelapan malam, seorang lelaki dengan kedua tangan yang masih bertaut di belakang pinggang menyunggingkan senyum lebar. Bagus, rencanaku berjalan sempurna.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Segitiga Penguasa - Sudut Pertama

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel An Affair
9.2
Demi membalas dendam atas kematian orang tuanya, Winter Samantha menyamar untuk menghancurkan keluarga Smith. Ia sengaja menjerat Edward Smith dan sang putra, David, dalam pusaran skandal perselingkuhan yang rumit. Namun, rencana ini terganggu oleh kehadiran Sean William, sahabat kecil yang tulus mencintainya. Kini, Winter dihadapkan pada pilihan sulit: menuntaskan dendamnya pada musuh atau menerima lamaran Sean untuk hidup bahagia bersama.
Sampul Novel Bukan Wanita Biasa
8.6
Madina kembali dipertemukan dengan Adnan, mantan suaminya yang dahulu mengusirnya akibat tuduhan selingkuh. Tiga tahun lamanya Madina berjuang sebagai kuli kasar lantaran ijazahnya dihancurkan. Kini, Adnan tiba-tiba mengajaknya rujuk. Pria itu berambisi merebut kembali putra mereka demi memperebutkan harta warisan. Di tengah luka masa lalu dan hadirnya sosok pria baru yang tulus, Adnan mencoba memulihkan nama baik Madina. Akankah Madina kembali atau memilih jalan barunya?
Sampul Novel Kesempatan Kedua dengan Sang Miliarder
9.2
Hubungan intim semalam membawa Raina ke dalam asmara serius dengan miliarder Felix. Sayangnya, Felix mencampakkannya demi cinta pertama yang kembali, meninggalkan Raina dengan selembar cek. Tanpa air mata, Raina pergi membawa senyum. Saat mereka bertemu lagi, Raina telah menggandeng pria baru. Felix yang kini terbakar cemburu setengah mati berbalik mengejarnya, bahkan rela mengantre demi mendapatkan kembali hati sang mantan yang dulu ia sia-siakan.
Sampul Novel My BadBoy
8.6
Adzando Dalwes, murid berandalan rupawan yang mahir bertarung, selalu menutup diri dari cinta akibat trauma masa lalu. Baginya, semua perempuan tidak ada bedanya. Namun, keyakinan itu mulai goyah sejak kedatangan Vania Deltasya, murid baru berdarah campuran Amerika-Indonesia. Kehadiran Vania membawa warna baru yang mengubah dunia Adzando. Akankah si pembuat onar ini benar-benar terpikat, dan sanggupkah Vania menyambut rasa dari cowok yang terkenal tak tersentuh ini?
Sampul Novel Perang Ego Dalam Jodoh Paksa
7.9
Alina Darya, seorang yatim piatu yang berjuang demi neneknya, harus menghadapi kemalangan usai berseteru dengan pria kaya raya, Rayan Syahmir. Rayan yang telanjur murka dan merasa harga dirinya diinjak-injak, memutuskan membalas dendam dengan memaksa Alina menikah tanpa landasan cinta. Di tengah kehancuran hidupnya, Alina hanya bisa berserah dalam doa. Siapa sangka, kebencian Rayan lambat laun terkikis menjadi ketertarikan. Akankah ada ruang bagi cinta untuk tumbuh di sela ego dan luka?
Sampul Novel Terpaksa Menikah Karena Kesalahpahaman
8.5
Akibat salah paham terkait undangan sebuah pesta, Marissa terpaksa menikahi Hendra, sopir pribadinya yang berpenampilan biasa saja. Keputusan keluarga demi menutupi skandal membuatnya tak berkutik, meski ia sempat menolak keras karena merasa kebebasannya direnggut. Namun, ketulusan serta kesabaran Hendra perlahan-lahan meluluhkan hati Marissa. Ia pun akhirnya menyadari bahwa kesetiaan sejati jauh lebih bernilai dibanding penampilan fisik semata.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan