APKDock Logo
Sampul Novel Secret Affair With Hot Captain

Secret Affair With Hot Captain

9.4 / 10.0
Gilang, pelaut penakluk hati wanita, mendadak bimbang saat kapalnya bersandar di kota tempat tinggal Kyra Pandhita. Kyra adalah teman masa kecil sekaligus cinta pertamanya yang realistis dan takut berkomitmen. Pertemuan itu menghidupkan kembali rasa lama, namun terhalang tembok besar karena Gilang telah memiliki kekasih bernama Joysella. Di tengah desakan Joysella untuk segera menikah, Gilang kini terjebak dilema antara komitmen kesetiaan atau mengejar cinta sejati.

Secret Affair With Hot Captain Bab 1

Kapal pesiar Goldensea yang membawa lebih dari lima ratus penumpang kembali berlabuh di pelabuhan Singapura. Kapal pesiar dengan rute Singapura – Perth – Indonesia dan akhirnya kembali berlabuh di Singapura, telah menghabiskan waktu dua puluh satu hari di tengah lautan. Gilang Mahendra selaku salah satu nakhoda kapal pesiar itu pun akhirnya bisa merasakan suasana kota lagi, setelah hampir satu bulan berada di tengah lautan.

'Angkat telponku. Kapan lagi kita membahas rencana pernikahan kita kalo bukan sekarang, Mas.'

Udara pagi di pelabuhan Marina Bay Cruise Centre Singapore itu sangat segar. Harusnya Gilang merasa senang sudah kembali berlabuh di kota. Namun sebuah pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya seketika membuat dirinya tidak lagi bersemangat.

“Kenapa, Lang? Kok tiba-tiba berhenti?”

Enggan menjawab pertanyaan sang senior, Gilang hanya memberikan pesan yang ia terima. Sang senior yang berdiri di samping Gilang pun membaca pesan itu. Seketika tawa sang senior pecah, dan hal itu sukses membuat Gilang menghela napas kasar.

“Kan sudah saya bilang ke kamu, Lang. Kalo kamu ga mau nikah, putusin sekarang juga,” jawab sang senior sembari mengembalikan ponsel milik Gilang.

“Saya bukannya ga mau nikah, Pak. Cuma belum siap aja,” keluh Gilang yang kemudian menyimpan ponselnya ke dalam saku celana jeans, enggan membalas pesan tersebut.

“Ya kasih penjelasan dong pacarmu itu. Lagian kenapa sih kamu belum mau nikah? Emang apalagi yang mau kamu siapin?”

Gilang melirik ke arah seniornya, “Nyiapin diri, Pak,” hela Gilang, “Nyiapin duit lamaran lebih tepatnya.”

Sang senior kembali tertawa ketika mendengar jawaban Gilang, “Emang pacar kamu minta berapa sih? Kok kamu macem orang susah ga punya uang gitu?”

Gilang hanya diam tidak menggubris pertanyaan yang diajukan seniornya. Ia hanya diam sepanjang perjalanan menuju ke tempat antrian taksi.

Seolah tahu dengan apa yang sedang dipikirkan Gilang, seniornya kembali bicara, “Dengar, Lang. Kalo kamu orangnya lurus aja dan emang setia, kamu ga bakal kepikiran dengan kebiasaan kamu sebagai orang kapal nanti setelah menikah,” ucap sang senior menepuk pundak kiri Gilang, “Lagian kamu mainnya sama saya sih. Kalo kamu main sama Pak Bayu yang setia banget sama istrinya dan juga agamis, ya kamu ga bakal terpengaruh juga. Semuanya balik ke pribadi masing-masing.”

Pak Rafi, senior Gilang pun telah mendapatkan taksi yang ia pilih. Gilang hanya menatap seniornya yang sudah duduk di dalam taksi.

“Mending kamu pikirin baik-baik, Lang. Dan juga jangan lupa nanti malam bakal ada party kecil-kecilan di Marina Bay. Seperti biasa,” ucap Pak Rafi sembari mengedipkan satu matanya. Lalu taksi yang membawa seniornya itu pun pergi meninggalkan stasiun tempat mereka memesan taksi.

Gilang pun langsung masuk ke dalam taksi yang ia pilih. Setelah mengatakan ke mana tujuannya, taksi pun segera melaju menuju ke hotel tempat biasa Gilang menginap.

Marina Bay Sands Hotel. Hotel yang selalu menjadi tempat pilihan Gilang untuk menginap. Walau harga per malamnya kamar hotel tersebut hampir menyentuh delapan juta, Gilang tetap akan memilih menginap di sana. Alasannya sederhana, kasino terbesar ada di dalam hotel tersebut. Walau yang sebenarnya Gilang cari adalah night club-nya.

Sesampainya di hotel, Gilang langsung check-in dan merebahkan tubuhnya di atas kasur king size yang ia pilih. Tangannya meraih ponsel yang kembali bergetar entah untuk yang ke berapa kalinya hari ini. Namun Gilang tetaplah Gilang. Walaupun panggilan tak terjawab dengan nama kontak yang sama sudah lebih dari dua puluh kali. Ia tetap enggan untuk menjawabnya.

“Aku sibuk,” gumam Gilang ketika akhirnya ia mengangkat telpon setelah dirinya membersihkan badan.

“Kamu kenapa sih akhir ini selalu menghindar? Kamu ada cewe lain di sana ya, Mas?”

“Aku sibuk, Sella. Kapalku baru aja berlabuh. Masih banyak yang harus ku urus. Bisa ga sih nanti aja kita ngobrolnya?”

“Kamu ngehindarin aku.”

“Maksud kamu apa, Sel?”

“Iya aku tahu kamu lagi ngehindarin aku. Kamu ga biasanya kaya gini. Sesibuk dan selelah apapun kamu, kamu pasti angkat telpon dari aku. Dan hari ini? Puluhan kali aku telpon kamu dan baru kamu angkat sekarang.”

“Sella denger. Hari ini ada kerjaan penting yang buat aku ga bisa ngangkat telpon dari kamu.”

“Kamu selingkuh. Kamu pasti punya pacar baru kan di sana? Ngaku sama aku, Mas. Aku ga pernah permasalahin kamu kalo kamu mau main cewe tapi, please. Jangan punya pacar selain aku, Mas. Aku satu-satunya pacar kamu.”

Gilang yang baru saja ingin menuangkan air ke dalam gelas pun tiba-tiba berhenti. Ia pun segera duduk di pinggiran kasur, “Bentar. Main cewe? Apa maksud kamu?”

“Ga usah pura-pura gatau kamu Mas. Aku tau persis kebiasaan orang kapal tuh main cewe. Udah jadi rahasia umum kalo di setiap pelabuhan pasti ada cewe-cewe yang sudah nunggu kamu. Sumpah Mas aku gapapa. Aku ga marah selagi itu bukan pa—“

“Maksud kamu apa sih, Sel? Jadi selama ini kamu ngeraguin kesetiaanku?” suara Gilang terdengar sudah naik satu oktaf.

“Aku gapapa kamu main sama para cewe penggoda di sana, asal kamu tetep sama aku. Biarpun kita nikah nanti kamu tetep mau main sama cewe di sana juga bakal aku ijinin. Makanya nikahin aku segera, Mas. Kamu ga bakal aku kekang.”

“Gila kamu, Sel.”

Tidak pernah sejarahnya Gilang mematikan panggilan telponnya lebih dulu. Tidak pernah sekalipun. Ia terlalu kesal mendengar ucapan pacarnya barusan. Entah apa yang dipikirkan pacarnya itu sampai menuduh Gilang memainkan para gadis di sini.

Memang benar. Apa yang dikatakan Joysella—pacar Gilang, benar adanya. Gilang sudah berumur tiga puluh empat tahun, tahun ini. Dan ia bukanlah tipikal pria yang agamis. Ia butuh hiburan. Dan ia butuh belaian wanita lain di saat ia jauh dari sang pacar.

Namun dituduh dengan tuduhan yang ‘cukup blak-blakan’ seperti ini membuat Gilang kesal. Ia terdengar seperti laki-laki rendahan. Dan hal itulah yang membuat Gilang marah.

“Dan apa maksudnya? Dia rela kalo aku main cewe asal dia aku nikahin? Sedangkan aku nahan ga mau nikahin dia karna aku masih sering main cewe, dan aku ga mau nyakitin dia nantinya.”

“Cewe mana yang mau suaminya main di luar demi cewe lain? Sella oh Sella. Entah apa yang ada di otak kamu saat ini,” keluh Gilang masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran pacarnya itu.

Ponsel Gilang kembali bergetar. Dilihatnya ada dua pesan masuk. Yang pertama dari Sella dan yang satunya dari Reno—teman Gilang di kapal pesiar.

'Maafin Sella ya, Mas. Sella lagi datang bulan dan ibu terus-terusan nyuruh Sella buat nanyain ke Mas Gilang kapan mau nikahin Sella. Mas tahu kan hormon Sella gimana kalo Sella lagi datang bulan? Maafin Sella yaa, Mas. Sella sayang dan selalu percaya sama Mas, kok.'

“Hormon aja terus yang disalahin. Kalo hormon kamu bisa ngomong, marah kali dia selalu dibawa tiap kamu mau marah,” gumam Gilang masih kesal ketika membaca pesan masuk dari Sella.

Tak berniat membalas pesan dari Sella, Gilang pun langsung beralih ke pesan masuk yang lain. Pesan yang dikirim Reno dua menit yang lalu.

'Ke mana sih Lang? Cepet sini aku udah di bar. Jadi nginep di Marina lagi kan?'

“Mau nginep di mana lagi aku Ren, kalo bukan di Marina,” gumam Gilang sembari merapikan rambutnya dan berjalan menuju pintu kamar hotelnya.

Tak pernah lupa leather clutch bag Gucci yang sempat ia beli tempo hari di shopping centre Marina Bay. Habislah riwayat dirinya jika lupa membawa clutch bag berwarna hitam itu, pasalnya isi clutch bag itu merupakan barang penting. Dompet dan paspor ada di dalamnya.

Gilang keluar dari dalam lift dan segera masuk ke dalam bar. Seseorang berbaju hawai berwarna biru dengan celana pendek hitam menarik perhatian Gilang. Pria itu sudah memesan minuman dan seorang gadis sudah duduk di samping pria tersebut.

“Mana yang lain?” gumam Gilang mengambil posisi duduk di samping pria tersebut.

“Eh, Lang? Yang lain open table di atas,” tunjuk Reno menggunakan dagunya menunjuk ke meja yang berada di lantai dua.

“Yaudah aku naik dulu. Nyusul ga Ren?” tanya Gilang sebelum beranjak mencari rekannya yang lain.

“Ga deh kayanya. Udah dapet nih.”

“Yaudah duluan.”

Tanpa menunggu jawaban dari temannya, Gilang pun langsung menaiki lantai dua. Ia melihat sekumpulan bapak-bapak bersama para wanita muda di samping mereka. Gilang menarik napas dalam sebelum ikut bergabung dengan para seniornya.

“Gilang akhirnya yang ditunggu datang juga.”

***

Lanjut Membaca

Daftar Isi Secret Affair With Hot Captain

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel ASI untuk Pak Guru
8.5
Jenara Atmisly, siswi berprestasi, menyimpan rahasia medis yang memalukan. Ia mengidap galaktorea, kondisi hormon yang membuatnya memproduksi ASI tanpa pernah hamil. Saat rasa sakit akibat penumpukan cairan itu tak tertahankan di sekolah, ia terpaksa meminta bantuan gurunya. Insiden tak terduga di ruang guru tersebut mengubah segalanya. Rahasia ini menjadi awal mula hubungan asmara mereka yang rumit, menantang, dan penuh risiko.
Sampul Novel Dosa Berbalut Cinta
8.6
Saschya terjebak dalam neraka pernikahan penuh kekerasan bersama Adnan, sosok suami yang tega menyiksanya demi membalas dendam kepada mertua. Di tengah penderitaan fisik dan batin yang tiada henti, orang dari masa lalu Saschya mendadak hadir kembali. Apakah kedatangan sosok tersebut akan menjadi penyelamat yang membebaskannya dari jeratan kejam Adnan, atau justru memicu prahara baru dalam kehidupannya yang telah hancur?
Sampul Novel Kekayaan Besar: Aku Adalah Seorang Miliarder
9.2
Rencana kejutan ulang tahunku hancur saat memergoki pacarku berselingkuh dengan pria kaya. Setelah dihina karena miskin, takdirku berbalik ketika pelayan keluarga terkaya mengungkap bahwa aku adalah pewaris tunggal Grup Nelson. Berbekal harta melimpah yang tak terbatas, aku bangkit untuk membalas dendam. Mantan kekasihku kini bersujud memohon maaf, tetapi aku mengabaikannya dan melangkah ke dunia mewah. Bagiku, uang hanyalah angka yang siap kuhabiskan sesuka hati.
Sampul Novel Light Of Love
8.1
Kayla Pratama tidak punya pilihan selain menjadi istri kedua dari miliarder Raga Dirgantara demi membalas utang budi masa lalunya. Hidup yatim piatu ini kian pelik saat ia menyadari perannya dalam pernikahan tersebut hanyalah untuk memberikan keturunan bagi sang pengusaha sukses. Tanpa status sosial yang jelas, Kayla harus bertahan menghadapi kenyataan pahit bahwa dirinya tidak lebih dari sekadar alat tanpa posisi nyata di mata sang suami.
Sampul Novel Menyusui Bayi Mafia
9.7
Pelajar muda bernama Lea dikejutkan oleh tawaran tidak masuk akal dari bos mafia, El Zibrano Elemanus. El bersedia memberikan kekayaan melimpah asalkan Lea mau menyusui putranya. Tentu saja Lea menolak keras demi masa depannya. Sayangnya, El tidak menerima kata tidak dan siap memakai caranya sendiri untuk memaksa Lea. Kini, ia terjebak dalam situasi intim yang mengancam harga diri serta masa depannya akibat obsesi sang mafia.
Sampul Novel Penguasa Abadi Sepuluh Ribu Binatang
8.3
Suasana khidmat menyelimuti Puncak Lundao di Pulau Sepuluh Ribu Binatang saat puluhan ribu anak belia berkumpul. Para murid baru yang baru mendeteksi akar spiritual ini menyimak dengan saksama petuah tetua berjubah hijau. Sang tetua mengisahkan awal mula sekte yang dirintis oleh Wan Beast Immortal Li. Tokoh legendaris itu awalnya hanya kultivator biasa asal Kerajaan Qin di Alam Qianyang sebelum akhirnya berhasil meraih keabadian.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan