APKDock Logo
Sampul Novel Sebuah Pengabdian

Sebuah Pengabdian

9.3 / 10.0
Impian Hamid menjadi tentara pupus seketika saat orang tuanya memaksa dirinya menjalani pernikahan dini yang tak pernah ia inginkan. Walau diselimuti amarah karena harus menikahi wanita asing, ia akhirnya mengalah demi berbakti. Siapa sangka, kehidupan pernikahan ini justru mendewasakan Hamid dan menuntunnya memahami arti pengabdian kepada Tuhan. Namun, badai ujian kini mulai mengancam komitmen mereka. Mampukah Hamid dan sang istri bertahan melewati cobaan demi menjadi abdi sejati?

Sebuah Pengabdian Bab 1

Di depan gerbang sebuah sekolah menengah, nampak beberapa siswa yang nampak sangat gembira. Sambil memegang selembar kertas di tangan kanannya, mereka berteriak kegirangan. Bak telah terlepas dari sebuah bencana yang melanda mereka dan menentukan nasib mereka. Kini mereka hanya tinggal memetik buah dari kerja keras mereka selama ini. Hati mereka telah siap untuk terus belajar di jenjang yang lebih tinggi.

Keempat siswa tersebut bersiap untuk kembali ke rumah mereka masing-masing. Namun mereka nampak tak terburu-buru. Mereka menepuk tangan satu sama lain untuk merayakan hari kelulusan mereka itu.

“Setelah ini kau akan melanjutkan pendidikanmu dimana?” tanya Aji pada teman di sampingnya.

“Aku ingin kuliah di bidang bisnis agar aku dapat menggantikan ayahku untuk mengurus perusahaan. Hamid pasti juga sama sepertiku. Dia kan anak tunggal. Siapa lagi yang akan menggantikan ayahnya mengurus perusahaan selain dia? Iya kan, Hamid?” jawab Marcell.

“Oh tidak, tidak. Aku tidak begitu tertarik dengan dunia bisnis. Aku lebih suka menjadi tentara saja,” sela Hamid yang berada di samping Marcell.

“Apa? Tentara? Kenapa begitu? Lalu bagaimana dengan perusahaan ayahmu? Siapa yang akan mengurusnya?” tanya Marcell.

“Iya Hamid. Ayahmu kan sudah tua. Ayahmu pasti membutuhkan seseorang untuk menggantikannya mengurus perusahaan dengan segera. Lagipula kau kan anak satu-satunya,” lanjut Aji.

“Iya Hamid. Sebaiknya kau melanjutkan kuliah di bidang bisnis saja bersama denganku. Lupakan saja impianmu untuk menjadi seorang prajurit demi membahagiakan orang tuamu,” sambung Marcell.

Hamid terdiam mendengar ucapan dari teman-temannya. Ia merasa bimbang tentang mana yang harus ia pilih. Apakah harus mengikuti keinginannya untuk menjadi tentara atau berbakti pada kedua orang tuanya dengan menempuh pendidikan di bidang bisnis?

Rafiq yang berada di samping kiri Hamid dan terdiam sejak awal mulai angkat bicara, “Eh sudah hentikan! Jangan diperpanjang lagi masalahnya! Biarkan Hamid memilih jalannya sendiri! Nanti juga ada cara lain untuk mengurus perusahaan ayahnya. Lebih baik sekarang kita pulang saja. Kita beritahu kabar bahagia ini pada kedua orang tua kita. Mereka pasti akan merasa bahagia dan bangga pada kita.”

“Iya. Ayo Hamid kita pulang saja! Tidak usah difikirkan lagi masalahmu itu! Nanti juga ada jalan keluarnya. Tapi, nanti kalau kau memilih untuk melanjutkan kuliah di bidang bisnis, kau katakan saja padaku! Nanti kita berangkat mendaftar bersama,” sahut Marcell.

Keempat pemuda itu bersiap untuk pulang. Namun sebelum itu, mereka menolehkan wajah ke belakang. Melihat kembali sekolah mereka yang akan mereka tinggalkan itu. Mereka pun mengucapkan selamat tinggal bersama-sama. Kemudian mereka melambaikan tangan mereka ke arah gerbang. Mereka terus melambaikan tangan sambil menatap sekolah yang menjadi tempatereka menimpa diri itu. Rasa bahagia juga sedih bercampur menyatu dalam hati mereka. Mereka memang senang karena telah lulus dari sekolah menengah mereka. Namun di balik itu mereka juga sedih bila harus meninggalkan sebuah sekolah yang selama tiga tahun setia menemani mereka dalam belajar. Sekolah yang selama tiga tahun telah menyimpan kenangan indah di antara mereka, teman-teman, juga antara mereka dengan sang guru.

Setelah merasa cukup lama menatap gerbang sekolah, dengan perlahan, keempat siswa tersebut membalikkan tubuh mereka. Mereka kembali menghiasi wajah mereka dengan senyuman. Halim dan Rafiq yang sempat meneteskan air mata segera menghapusnya dan kembali tersenyum. Kemudian menyalakan motor bersama-sama. Karena arah rumah mereka sama, Marcell mengajak ketiga temannya itu untuk berlomba balap motor. Akan tetapi, sebenarnya ia hanya ingin menantang Hamid yang baru saja menggunakan sepeda motor barunya untuk pergi ke sekolah.

Hamid yang sudah dapat menebak niat Marcell, langsung menjalankan sepeda motornya dengan sangat kencang. Melihat Hamid yang bersemangat dengan sepeda motornya yang merah menyala itu, ketiga temannya yang masih berada di belakangnya tertawa bersama-sama. Kemudian mereka pun mengikutinya.

“Hahaha...Dasar Si Hamid! Sudah ayo kita kejar!” ucap Marcell.

Marcell mulai menjalankan sepeda motornya. Rafiq dan Aji pun mengikutinya. Mereka juga tak ingin ketinggalan dengan Hamid. Marcell berhasil menyusul Hamid. Ketika Marcell menyamai posisinya, Hamid segera menambah kecepatannya. Namun tetap saja, Marcell menjadi pemenang seperti biasanya.

Setelah tiba di rumah, Hamid segera berlari dan memanggil-manggil orang tuanya dengan suara yang keras. Seorang wanita tua keluar dan menemui Hamid setelah mendengar suara yang menggetarkan seisi rumah. Hamid pun langsung mencium tangan wanita tersebut.

“Ada apa? Siang-siang kok malah teriak?” tanya wanita tersebut.

“Ibu lihat! Aku lulus dan mendapat nilai tertinggi,” jawab Hamid dengan nada gembira.

Wanita tersebut terbelalak ketika melihat selembar kertas yang ditunjukkan oleh Hamid kepadanya. Ia pun berkata, ”Waah...Bagus sekali, nak. Anak ibu ini memang yang terbaik. Tapi ayahmu masih di kantor. Nanti malam setelah ayahmu pulang, kamu langsung beritahu saja ya.”

“Yaah!!! Padahal aku sudah tidak sabar untuk memberitahukannya pada ayah,” keluh Hamid.

Hamid terus menunggu kepulangan sang ayah. Agar ia dapat segera memberitahukan kabar bahagianya itu dan memberitahukan tentang rencananya untuk melanjutkan pendidikannya di dunia militer. Sejak setelah solat isya’ Hamid hanya berdiri di depan pintu. Agar ia dapat langsung menyambut ayahnya jika sudah pulang.

Tak lama kemudian, penantiannya pun berakhir ketika ayahnya telah sampai di rumah. Hamid segera menyambut kepulangan sang ayah. Ia mencium tangan ayahnya sambil menunjukkan senyumannya yang lebar. Hingga membuat sang ayah menjadi heran akan sikapnya itu.

Segera setelah itu, Hamid menggandeng tangan sang ayah untuk memasuki rumah. Setelah itu, ia meminta sang ayahnya itu untuk duduk di samping sang ibu yang telah dahulu beristirahat di atas sofa. Saat semua anggota keluarga berkumpul, Hamid langsung menyerahkan surat kelulusannya pada sang ayah.

Sang ayah memperhatikan dengan seksama nilai-nilai yang didapat Hamid dari ujiannya. Setelah melihat semua nilai-nilai Hamid, Yasir merasa sangat bangga pada putra tunggalnya itu. Ia langsung teringat pada masa kecil Hamid yang selalu menjadi anak kebanggan semua orang. Bukan hanya di dalam keluarga,namun juga di lingkungan masyarakat. Hamid adalah anak yang pintar dan cerdas. Ia sering mengikuti berbagai macam perlombaan. Baik di sekolah maupun di lingkungan sekitar kota. Ia paling sering mengikuti perlombaaan tilawah Qur’an dan dakwah islam. Ia sering mendapatkan juara alam perlombaan-perlombaan tersebut. Ia bahkan sering mendapatkan juara pertama dalam lomba tilawah Qur’an karena keindahan nada dan kemerduan suaranya. Hamid tak pernah gagal dalam mendapat juara. Baik di dalam kelas maupun dalam perlombaan.

Melihat senyuman di wajah sang ayah, tanpa berfikir panjang lagi, Hamid mengutarakan niatnya pada kedua orang tuanya. Hamid yang duduk di samping kanan sang ibu tengah dibelai rambutnya kemudian berkata, ”Ibu, ayah, sekarang aku kan sudah lulus SMA, setelah ini aku ingin melanjutkan pendidikanku di Akademi Angkatan Darat. Boleh kan? Aku ingin menjadi prajurit yang hebat seperti Kak Sa’ad.”

Sejenak Hamid terdiam. Ia menundukkan kepalanya lalu menlanjutkan perkataannya, "Ya,aku tahu ayah. Ayah pasti menginginkan agar aku melanjutkan memimpin perusahaan ayah. Tapi apa salahku ayah, jika aku ingin mewujudkan impianku itu? Apakah aku tidak boleh memiliki cita-cita sendiri?”

Mendengar ucapan Hamid, Yasir meletakkan selembar kertas di tangannya di atas meja. Ia menarik nafas sejenak lalau menjawab, "Iya, ayah mengerti. Kau ingin menjadi tentara seperti Sa’ad. Kau boleh pergi kesana. Ayah tidak akan melarang. Tentang perusahaan nanti ayah yang akan mengaturnya.”

Hamid merasa sangat bahagia mendengar jawaban dari sang ayah. Ia lalu menjawab, "Terima kasih banyak ayah.”

“Iya. Kau pasti akan pergi kesana. Tapi sebelum itu, ibu ingin meminta satu hal darimu. Kau mau mengabulkan keinginan ibu kan, nak?” sela Mona.

Hamid terkejut mendengar ucapan ibunya, sontak ia langsung bangkit dari duduknya. Ia menghadapkan wajahnya pada sang ibu dan dengan penuh semangat ia pun berkata, ”Iya bu. Aku mau mengabulkan semua keinginan bu. Apapun itu. Asalkan aku bisa belajar di sekolah militer. Tapi, apa keinginan ibu itu?”

Mona memandang Yasir sejenak. Ia masih ragu untuk mengatakan keinginannya pada Hamid. Demikian pula dengan Yasir. Ia pun kembali memandang Hamid. Bagaimanapun juga mereka harus mengatakannya pada Hamid.

Melihat wajah kedua orang tuanya yang berbeda dari biasanya membuat Hamid merasa sangat heran. Ia lalu memegang tangan ibunya dan berkata, ”Ada apa ibu? Apa permintaan ibu?”

Pertanyaan Hamid membuat Mona dan Yasir terbangun dari lamunan mereka. Yasir lalu mengedipkan matanya sebagai isyarat agar Mona segera mengatakannya pada Hamid. Mona pun menganggukkan kepalanya.

Mona memandang wajah Hamid dengan lembut. Kemudian ia mendudukkan Hamid kembali. Dengan sangat hati-hati ia mulai berkata, ”Hamid! Dengarkan ibu! Ibu dan ayah kan sudah sangat tua. Dan mungkin usia kami tidak akan lama lagi. Maka dari itu, sebelum ibu dan ayah menutup mata, ibu dan ayah ingin memiliki cucu. Ibu dan ayah ingin melihat cucu kami sebelum menutup mata, walau itu hanya satu. Jadi, ibu dan ayah minta padamu sebelum pergi ke Akademi Angkatan Darat menikahlah terlebih dahulu dengan wanita pilihan ibu dan ayah. Wanitanya baik, cantik, sholehah. Dan kau pasti akan sangat menyukainya hanya dengan bertemu sekali saja. Besok kita akan melamarnya. Kau akan tahu siapa dia. Kau mau kan, nak?”

Jantung Hamid seketika berhenti berdetak setelah mendengar pernyataan dari ibunya.Senyuman di wajahnya langsung menghilang. Ia pun berkata, "Apa? Menikah bu? Apa maksud ibu sebenarnya?Aku kan masih sangat muda. Aku juga belum tahu apa-apa tentang dunia pernikahan. Aku tidak mau bu! Aku belum siap sama sekali.”

“Lagipula aku bisa gagal masuk Akmil jika ketahuan sudah menikah,” lanjut Hamid.

“Nanti kita akan sembunyikan statusmu. Kita akan tutup serapat mungkin rahasia ini," sahut Yasir

“Tidak semudah itu ayah.”

Dengan amarah yang besar, Hamid segera bangun dari tempat duduknya. Kemudian ia berjalan dengan sangat cepat ke kamarnya. Mona dan Yasir sudah menduganya sejak awal bahwa hal ini pasti akan terjadi. Tapi mereka tak mempunyai pilihan lain. Mereka harus melakukannya.

Mona mencoba untuk menyuruh Hamid untuk kembali dari kamarnya. Ia ingin memberikannya pengertian tentang masalah tersebut. Namun Yasir melarangnya. Yasir menyuruhnya untuk membiarkan Hamid menyendiri selama satu malam. Semua itu mereka lakukan agar Hamid menjadi lebih tenang esok hari. Kemudian fikirannya akan kembali jernih. Dan ia akan bersedia untuk memenuhi permintaan mereka.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Sebuah Pengabdian

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel 180 Days
9.4
Mengetahui suaminya berkhianat, April menolak menyerah pada perceraian. Ia justru memilih jalan sulit untuk menyelamatkan pernikahan mereka yang berada di ambang kehancuran. Sebuah target ambisius ia tetapkan: merebut kembali cinta sang suami dalam waktu 180 hari. Di tengah rasa sakit yang mendalam, April harus berkejaran dengan waktu demi memulihkan keharmonisan rumah tangganya. Akankah ia berhasil memikat kembali hati suaminya sebelum batas waktu tersebut habis?
Sampul Novel A Love Betrayal
8.9
Kehidupan rumah tanggaku hancur dalam sekejap setelah menyaksikan suamiku bermesraan dengan seorang wanita asing. Perempuan berambut panjang nan jelita itu merangkul lengannya begitu erat. Keduanya saling melempar tawa bahagia, layaknya pengantin baru yang sedang kasmaran. Siapa sebenarnya sosok wanita misterius tersebut? Rahasia besar apa yang mereka sembunyikan dariku? Inilah kisah penuh misteri tentang kepedihan dan pengkhianatan cinta.
Sampul Novel Bersama Gadis Gila Di Konser
9.0
Pertemuan tidak sengaja di sebuah konser musik mengubah hidup seorang remaja laki-laki yang membosankan. Gadis asing yang eksentrik dan penuh energi menyeretnya ke dalam rangkaian petualangan malam yang tak terduga. Di tengah riuh penonton dan melodi lagu, ia harus memutuskan untuk tetap berada di zona nyamannya yang aman atau membiarkan gadis itu mengajarinya cara menikmati masa muda yang sesungguhnya. Kisah romansa modern remaja yang hangat, dinamis, dan penuh warna.
Sampul Novel Istri Mudaku Meresahkan!
8.6
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang diambang kehancuran, Yasmin, gadis berusia 20 tahun, terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan duda kaya bernama Galih. Situasi memanas ketika Galih memberikan pilihan sulit antara Anggara atau anak sambungnya, Vira. Keraguan Yasmin yang sangat menyayangi Vira memicu kemarahan Galih. Akhirnya, Galih menjatuhkan talak dan melarang Yasmin menemui Vira selamanya, menghancurkan seluruh harapan pernikahan mereka.
Sampul Novel Kenikmatan Bercinta
8.1
Kisah romansa modern dewasa ini menyoroti kehidupan sopir tampan yang terjebak dalam hubungan intim tak terduga bersama majikan dan anaknya. Narasi penuh gairah ini menyajikan adegan panas eksplisit yang menuntut kebijakan pembaca. Konflik batin serta ketegangan fisik memuncak dalam persaingan ranjang yang memikat, di mana setiap momen membawa sensasi tak terduga bagi para tokohnya.
Sampul Novel Preman Jatuh Cinta
9.6
Rendi, seorang penipu telepon, justru terpikat pada korbannya, Mouza, yang memakinya saat beraksi. Ketertarikan itu membawa Rendi mendekati gadis SPBU yang dulu tak sengaja menyiramnya bensin. Demi Mouza, ia bertekad tobat dari dunia kriminal. Namun, masa lalu kelam membuat ekonomi keluarganya hancur hingga ia terpaksa merantau ke Jakarta. Di saat Mouza mulai mencintainya, ia harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan kontak dengan Rendi sekaligus menerima lamaran dari pria lain.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan