APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sebatas Pernikahan Bisnis

Sebatas Pernikahan Bisnis

Trauma masa lalu membuat Arjuna menutup rapat hatinya dari cinta. Demi merebut warisan keluarga dan mendepak ibu tirinya, ia menawarkan pernikahan kontrak kepada Anjani. Di sisi lain, Anjani yang terlilit utang mendiang orang tua terpaksa setuju, terlebih ia memang telah lama mencintai Arjuna secara rahasia. Di balik kesepakatan bisnis ini, mampukah mereka menyembuhkan luka batin masing-masing dan mengubah hubungan tanpa rasa menjadi cinta yang nyata?
Bab
Bagikan

Bab 2

6 Bulan yang lalu..

Soekarno Hatta Airport, Terminal 3, Kedatangan Luar Negeri. 

Sosok gadis berwajah oriental dengan balutan asimetris dusty blue blouse dan rok midi plisket berwarna putih berjalan ke arah pintu keluar. Pandangannya mengelilingi sekitar mencari sosok yang bertanggung jawab atas kedatangannya saat itu.

“Anjani ... ”

Samar-samar ia mencari sumber suara. Arahnya berbalik 180 derajat. Namun belum menemukan si pemilik suara tersebut.

“Hei! Anjani Samitha!”

Ia kembali menoleh, kini berbalik searah jarum jam. Matanya memicing. Dilihatnya seorang gadis berambut pendek sebahu dengan setelan kemeja putih dan celana kerja krem. Gadis itu, melambaikan tangan dengan senyum bahagia.

“Hei!” sahut Anjani lantas berhambur ke arahnya.

“Kau terlihat semakin cantik, Anjani.”

Anjani tersenyum. Ia mencolek sahabatnya sambil tersenyum malu. “Kau jelas lebih cantik, Naomi,” balasnya. 

Mereka tertawa disaat berikutnya.

“Kau sendirian?” Tanya Naomi sambil mengelilingi  pandangannya.

“As always.”

“Baiklah. Kita ke hotel dulu antar barang-barang, setelah itu kita ke tempat meeting,” tawar Naomi sambil mengambil koper berukuran 14 inci dari tangan gadis itu.

“Biar aku saja.” sela Anjani.

“Kau tamu disini ... jadi biar aku yang bawa.”

Anjani tersenyum melirik gadis itu. Rasanya baru kemarin mereka lulus kuliah. Namun, kesibukan kini memisahkan kebersamaan mereka. 

Well. Anjani Samitha merupakan Chief Marketing Officer sebuah perusahan Startup di bidang digital technology real estate yang berada di Johor Bahru, Malaysia. Perusahaan skala menengah ke atas berbasis layanan itu mulai menunjukkan eksistensinya di jagad industri. Kedatangannya saat ini, bukan untuk liburan tentunya, melainkan urusan bisnis. Kebetulan Naomi salah satu rekan yang menjembatani antara dirinya dengan salah satu investor di Indonesia. Meski demikian, mereka adalah sahabat karib yang sudah saling mengenal selama satu dekade.

Anjani merupakan lulusan Perguruan Tinggi Negeri di Malaysia yang mengambil jurusan School of Management hingga membuat dirinya lulus dengan gelar PhD di bidang Manajemen. Keputusan Anjani menetap di Malaysia setelah lulus, tentu membuat jarak yang besar diantara mereka. 

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, mobil berhenti tepat di depan lobi hotel ternama di kawasan Jakarta Selatan. Akhirnya Anjani mendarat di penginapannya. Hmm, keberadaannya di Indonesia ini tidak cukup lama, mengingat bahwa tak ada lagi sanak keluarga yang bisa dijumpai disana. Sejatinya, Anjani adalah kewarganegaraan Indonesia yang bekerja di Negeri Jiran. 

Kehidupannya yang tragis, membawa Anjani pada takdir yang dramatis. Anjani terlahir sebagai anak tunggal dari keluarga sederhana. Kedua orang tuanya meninggal akibat insiden kebakaran yang melahap habis seluruh isi rumah beserta ayah dan ibunya. Saat itu, ia tak bisa pulang ke Jakarta karena tengah mengikuti final semester assessment. Jika gagal, maka Anjani harus mengembalikan seluruh biaya yang dikeluarkan Pemerintah untuk beasiswanya. Sungguh malang. Ia tak memiliki pilihan. Kehilangan tentu merupakan cobaan terberat dalam hidupnya. Mencoba bangkit walau ditengah keterpurukan. Anjani dengan pasrah menerima takdirnya. 

“Kita sudah sampai!” seru Naomi membuyarkan lamunan gadis disana. Anjani menoleh dengan pandangan kikuk. Terpancar bahwa ada sorot kerinduan di matanya.

“Kau baik-baik saja?”

Naomi memastikan dengan hati-hati, meskipun dirinya tahu bahwa gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Anjani langsung memeluk Naomi dengan erat. Entah mengapa, seketika gadis itu berhambur. “Aku merindukan mereka, Naomi.” Anjani terisak. Lima tahun, kejadian itu masih saja membekas di hatinya. 

“Don’t worry, Anjani! I'll be with you! Masih ada aku disini,” cicit gadis itu memberi sedikit ketenangan pada sahabatnya.

Anjani mengangguk. Poni tipisnya tersibak bersama rambut bergaya soft-layered.

***

Anjani berdiri dengan gugup di depan podium. Bahan presentasinya sudah standby di layar proyektor sejak lima belas menit yang lalu. Dalam co-working space berukuran 5x5 meter persegi, Anjani melihat dua orang pria berjas hitam beserta sahabatnya, Naomi. Waktu berlalu namun ia terus bergeming, memandang ke arah sosok yang duduk di kursi besar. Kepercayaan dirinya lenyap seketika. Entah mengapa. Naomi dari sisi kanannya mencoba memberi kode untuk ia memulai presentasinya. “Bisa kita mulai?” tanya seseorang sambil memainkan iPad pro M1 miliknya. 

“Eung? I-iya ... ”

Bodohnya, lidah Anjani jadi kelu. Entah mengapa jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. Padahal, ini bukan pertama kali ia berhadapan dengan investor. Sekali lagi Naomi memberikan isyarat agar sahabatnya tidak membuang waktu.

“Waktuku tidak banyak, Nona. Jika kau terus berdiam diri, maka kita batalkan pertemuan hari ini,” ujarnya formal. 

Pria itu hendak beranjak dari kursinya. Namun, Anjani langsung menahan. Ia memutar company profile sambil memberikan kata pembukaan. “Presentasi ini akan berlangsung selama lima belas menit dengan jumlah sepuluh slide ... ”

Anjani menarik nafas dalam sebelum akhirnya melanjutkan presentasi tersebut, “menjadi pioneer dalam mengedepankan kebutuhan customer adalah visi dari perusahaan kami.” 

Senyumnya mengembang memperlihatkan dirinya mulai enjoy saat itu. Slide demi slide dipresentasikan dengan sangat detail hingga mendapatkan respon yang baik. “So, any question?” tanyanya di akhir presentasi. Anjani melihat pria di kursi besar itu berbisik pada asistennya. Satu detik, dua detik, hingga akhirnya di detik kesepuluh, sang asisten melontarkan pertanyaan. 

“Dalam dunia bisnis, kami membutuhkan keuntungan.” Asisten itu berkata dengan serius hingga Anjani bergidik. “Darimana revenue yang akan Anda peroleh? Lalu, siapa saja yang jadi kompetitor Anda?” 

Anjani menoleh pada Naomi. Anjani gugup. Ia memainkan jarinya sambil berpikir keras. Model bisnis yang sudah ia susun seketika lari dari otaknya. “Eung ... mari saya jelaskan dulu proyek ini, dimana proyek kami memberikan layanan kustom pembelian real estate di Asia Tenggara dengan target market millennial, harapannya banyak developer bergabung dengan memberikan penawaran harga sesuai pangsa pasar, dengan begitu, investasi di sektor properti semakin mendominasi.” 

Anjani terhenti sesaat. Ia melirik pria lain yang memandang kosong pada iPad disana, pria itu mengusap bewok tipisnya.

“Revenue didapat melalui SEO, subscription, sistem referral, dan service lainnya,” jawab Anjani, mantap. “Beberapa kompetitor kami diantaranya, East2West, Divvy, dan Loft,” lanjutnya.

Meski begitu, Anjani meyakinkan bahwa mereka memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh kompetitor mereka.  

“Baiklah, Nona.” Lagi-lagi asistennya yang bersuara. Entah mengapa Anjani merasa bahwa presentasinya gagal, mengingat betapa acuh pria selainnya. 

“Oh, sorry, what's your name?” 

“Anjani ... ”

Anjani menilik, “Anjani Samitha.”

Pria itu pun mengangguk.

Anjani menghela nafas. Akhirnya ia bisa bernafas karena sang investor berbicara dihadapannya. Pertemuan itu berlangsung selama tiga puluh menit, namun belum ada keputusan tentang proposal bisnis yang diajukannya.

Hingga akhirnya, kedua pria itu berlalu diantar Naomi hingga depan pintu. Setelahnya, Naomi memandang Anjani dengan senyum tak biasa.

Anjani mendesah. Nafasnya terasa berat.

“Orang itu sungguh menegangkan. Kau tahu siapa dia?” 

Anjani mendesis sambil membenahi bahan presentasinya. Wajahnya merengut, tidak senang. 

“Tentu. Aku yang membawanya kemari.” Naomi terkekeh.

“Kau tidak tahu siapa dia?” Naomi melanjutkan ucapannya sambil tercengang.

Anjani menggeleng dan Naomi tepuk jidat. “Arjuna Barathawardana ... kau bisa cari namanya di kolom pencarian.” 

Anjani meraih iphone-nya sambil melirik Naomi yang tengah berpangku tangan. Mata Anjani mendelik. Ia tak percaya.

“Arjuna Barathawardana,” gumamnya pelan. 

“Yups! Kau tahu? Pria itu juga salah satu senior kita saat kuliah,” cicit Naomi membuat Anjani menerka kembali. Sebenarnya Anjani tidak begitu yakin, tapi rasanya memang wajah itu tidak begitu asing. 

***

“Tolong cari tahu tentang gadis itu, perusahaan, dan keluarganya.”

Pria bertubuh atletis itu melangkah tergesa sambil memerintahkan asistennya. 

“Baik Tuan.”

Seketika langkah kakinya terhenti saat dering ponselnya berbunyi. Layar itu menampilkan sebuah nama “Sweetheart”. Dalam kurun waktu singkat, ponsel tersebut menempel ditelinganya. 

“Yes, Sweety. No, I won't forget. I’ll be there in thirty minutes. Ok! See you. Bye!”

Pria itu menghelas nafas lalu tersenyum tipis. Langkah kakinya kembali melaju. 

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Beautiful Hurt
9.1
Akibat fitnah dari sebuah pesan singkat, Marilyn dituduh merusak hubungan kakaknya sendiri. Christian, miliarder yang marah karena reputasinya rusak, mengira Marilyn adalah wanita licik yang gila harta. Demi membalas dendam, Christian memaksa gadis itu menikahinya dan bersumpah akan menyiksa hidupnya. Di tengah tuduhan kejam tanpa bukti tersebut, Marilyn hanya bisa pasrah menghadapi kebenaran sepihak mereka.
Sampul Novel Gadis Penakluk Hati Tuan Muda Tampan
8.5
Demi takhta, Arkana menikahi Yasmin lewat perjanjian formal. Meski kesal dengan sikap kekanak-kanakan istrinya, Arkana diam-diam tetap menjalin cinta dengan kekasih lamanya. Setelah delapan bulan, ia memilih bercerai demi sang pacar. Namun, Arkana tidak menyadari bahwa hubungan fisik mereka telah mengubah segalanya. Yasmin ternyata menyembunyikan kehamilannya. Terkejut mengetahui hal itu, Arkana pun menuntut rujuk demi darah dagingnya yang kini dikandung Yasmin.
Sampul Novel Istri Kampungan Kesayangan Presdir
9.1
Demi menghidupi adik-adiknya, Santi, seorang gadis desa, memutuskan mengadu nasib di kota besar. Takdir membawanya bertemu Bima, CEO tampan berjiwa Casanova yang sering bergonta-ganti kekasih. Biasa dikelilingi kemewahan, pertahanan Bima justru runtuh saat menghadapi ketulusan dan kepolosan Santi. Perbedaan latar belakang yang kontras ini menjadi awal mula kisah cinta tak terduga di tengah riuhnya kehidupan metropolitan.
Sampul Novel Istri Kontrak Sang CEO Dingin
9.4
Demi melunasi utang keluarganya yang menumpuk, Hana terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Ray, seorang CEO dingin yang ingin mempertahankan reputasinya. Walau sepakat menjaga jarak secara emosional, kebersamaan mereka justru menumbuhkan perasaan cinta yang tak terduga. Namun, ikatan palsu ini mulai diuji ketika masa lalu kelam Ray terkuak dan ancaman dari rival bisnisnya datang menyerang. Akankah ketulusan sejati berhasil lahir dari sebuah kebohongan yang rumit?
Sampul Novel Menikah dengan Pria Lain Setelah Tunanganku Menunda Pernikahan
9.7
Tiga hari menjelang pernikahan, Eliana dikhianati tunangannya yang beralih menikahi teman masa kecilnya demi alasan penyakit Alzheimer. Sang mantan meminta Eliana menanti hingga wanita itu hilang ingatan. Tanpa menangis, Eliana langsung menghubungi keluarganya untuk menerima perjodohan lama dengan pewaris takhta keluarga Barton yang sangat dingin. Eliana pun memastikan pria kaya raya tersebut akan benar-benar hadir bersamanya di altar pernikahan.
Sampul Novel MILIARDER CANTIK ITU ISTRIKU
8.4
Demi bertahan hidup, Zio terpaksa mengambil keputusan nekat untuk menemani seorang wanita dalam satu malam. Alih-alih bertemu perempuan paruh baya seperti dugaannya, ia justru dihadapkan pada sosok muda yang luar biasa menawan. Kejutan tak berhenti di sana; wanita tersebut justru memintanya untuk menghamili sekaligus menikahinya. Di tengah himpitan kesulitan hidup yang menderanya, sanggupkah Zio memenuhi tuntutan ekstrem dari miliarder misterius itu?