APKDock Logo
Sampul Novel Istri Kontrak Sang CEO Dingin

Istri Kontrak Sang CEO Dingin

9.4 / 10.0
Demi melunasi utang keluarganya yang menumpuk, Hana terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Ray, seorang CEO dingin yang ingin mempertahankan reputasinya. Walau sepakat menjaga jarak secara emosional, kebersamaan mereka justru menumbuhkan perasaan cinta yang tak terduga. Namun, ikatan palsu ini mulai diuji ketika masa lalu kelam Ray terkuak dan ancaman dari rival bisnisnya datang menyerang. Akankah ketulusan sejati berhasil lahir dari sebuah kebohongan yang rumit?

Istri Kontrak Sang CEO Dingin Bab 1

Matahari baru saja muncul di balik gedung-gedung tinggi di kota Jakarta. Udara pagi masih sejuk, tetapi Hana Putri sudah terjaga sejak dini hari. Ia berdiri di depan jendela kecil rumah sederhana yang ditinggalinya bersama keluarganya. Pikirannya jauh melayang, terbelenggu oleh masalah yang tak kunjung menemukan jalan keluar. Setiap detik terasa seperti beban berat yang menghimpitnya.

Hana, seorang gadis sederhana berusia 24 tahun, telah menjalani hidup yang jauh dari kemewahan. Sejak kecil, ia terbiasa dengan segala kekurangan dan berusaha untuk tidak terlalu mengeluh. Namun, kali ini keadaan terasa jauh lebih berat. Beban keluarga seolah sepenuhnya berada di pundaknya. Ayahnya, Aldiansyah, sakit keras. Penyakit jantung yang sudah lama dideritanya semakin parah. Biaya pengobatan yang terus menumpuk membuat keluarga mereka jatuh dalam kubangan hutang. Ibu Hana, Linasari, yang selama ini menjadi tiang penopang keluarga, kini juga tak berdaya. Dengan penghasilan Hana sebagai pegawai administrasi yang pas-pasan, tidak mungkin baginya menutupi semua biaya rumah sakit yang membengkak.

Hari itu, Hana baru saja pulang dari rumah sakit setelah menemani ayahnya menjalani pemeriksaan. Biaya rawat inap dan operasi yang diperlukan sangat besar, dan mereka sudah terlilit hutang di sana-sini. Hatinya perih melihat sang ayah terbaring lemah di ranjang rumah sakit, wajahnya pucat dengan selang-selang infus yang menempel di tubuhnya. Setiap detik terasa menyakitkan saat ia menyadari tak banyak yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan ayahnya.

Hana menarik napas panjang, berusaha meredakan kegelisahan yang bergelayut di hatinya. Ia menatap keluar jendela, mengamati kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di jalanan kota yang sibuk. Semua orang tampak tergesa-gesa dengan urusan masing-masing, sementara dunia Hana terasa seolah berhenti. Semua pikiran dan tenaganya tersita untuk mencari solusi bagi masalah keluarganya.

Di dalam kamar belakang, Lina duduk di kursi tua, wajahnya terlihat lelah dan kusut. Matanya kosong, memandangi lantai tanpa arah. Hana tahu, ibunya juga sedang dalam keadaan yang sangat tertekan, tetapi ia tetap berusaha tampak tegar di depan Hana.

"Ibu, kamu sudah makan?" tanya Hana, mencoba memecah kesunyian.

Lina menoleh dan tersenyum lemah. "Ibu baik-baik saja, Nak. Ibu hanya memikirkan ayahmu. Bagaimana nanti biayanya? Rumah sakit bilang kalau kita tidak bisa melunasi pembayaran minggu ini, mereka tidak akan memberikan perawatan lebih lanjut."

Hana merasakan jantungnya mencelos. Ia sudah mendengar hal itu dari dokter, tetapi mendengarnya lagi dari mulut ibunya membuat kenyataan itu semakin menyesakkan.

"Aku akan cari cara, Bu. Aku janji," ucap Hana pelan, berusaha meyakinkan dirinya sendiri lebih dari siapa pun. Ia tidak tahu bagaimana caranya, tapi ia harus mencari jalan keluar.

"Ibu sudah hampir putus asa, Hana. Tapi melihat ayahmu, ibu sangat tidak tega," katanya sambil mengusap air mata.

"Ibu, kita tidak boleh menyerah." Hana menggenggam tangan sang ibu dengan lembut, berusaha untuk saling menguatkan.

Setelah berbicara singkat dengan ibunya, Hana kembali ke kamarnya. Kamarnya kecil dan sederhana, hanya ada satu kasur tipis di atas lantai, meja kayu kecil, dan lemari usang. Ia duduk di kasur dan membuka laptopnya. Selama beberapa minggu terakhir, Hana terus mencari pekerjaan tambahan, tetapi belum ada satu pun yang berhasil. Tawaran yang datang kebanyakan hanya pekerjaan dengan bayaran rendah atau berisiko tinggi. Hana tidak bisa mengambil risiko terlalu besar, apalagi meninggalkan pekerjaan tetapnya sebagai pegawai administrasi di sebuah perusahaan kecil.

Pikirannya terus melayang, mengingat segala upaya yang sudah ia lakukan. Setiap pintu yang diketuk terasa seperti jalan buntu. Setiap solusi yang muncul selalu datang dengan harga yang lebih tinggi dari yang bisa ia bayarkan.

Di tengah kebingungan itu, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Hana mengangkat teleponnya dengan malas, tidak begitu tertarik melihatnya. Namun, ketika ia melihat nama yang tertera di layar, jantungnya tiba-tiba berdebar. Pesan itu datang dari Leni, sahabatnya yang sudah lama bekerja sebagai asisten di sebuah perusahaan besar. Hana belum sempat menceritakan masalah keluarganya pada Leni, tetapi mungkin ini adalah saat yang tepat.

Leni: Han, aku dapat info soal kerjaan tambahan. Bosku cari seseorang yang bisa bantu dia dalam waktu dekat. Coba kamu datang ke kantor besok, siapa tahu ini bisa bantu kamu. Aku tunggu ya!

Hana membaca pesan itu berulang kali. Hatinya campur aduk antara rasa lega dan cemas. Leni selalu bisa diandalkan, tapi ia juga tahu, jika seseorang seperti bos Leni mencari bantuan, kemungkinan besar ada sesuatu yang lebih dari sekadar pekerjaan tambahan biasa. Ia tidak ingin terjebak dalam situasi yang lebih rumit lagi.

Namun, di saat yang bersamaan, Hana tidak punya banyak pilihan. Ia menatap langit-langit kamarnya, mencoba mencerna segala kemungkinan yang ada di depannya. Jika ia tidak mengambil langkah sekarang, kondisi keluarganya akan semakin memburuk. Hana menarik napas panjang. Besok ia akan menemui Leni di kantor, apa pun risikonya.

***

Keesokan harinya, Hana berdiri di depan gedung tinggi yang tampak megah. Gedung itu adalah kantor pusat perusahaan milik Ray Aditya, seorang CEO muda yang namanya sudah sering ia dengar di berbagai media. Hana merasa sedikit gentar memasuki tempat itu. Ia bukan tipe orang yang terbiasa berada di dunia bisnis yang penuh dengan orang-orang berkelas dan berkuasa.

"Hana!" Panggil Leni saat melihat Hana datang.

Merasa namanya di panggil, Hana langsung menoleh ke arah sumber suara, ada Leni di sana, dan Hana langsung membalas lambaian tangan sahabatnya itu.

Leni sudah menunggunya di lobi sejak tadi. Setelah berbasa-basi sebentar, Leni membawa Hana naik ke lantai paling atas, di mana kantor pribadi Ray berada. Sepanjang perjalanan, Leni tidak banyak bicara, hanya menyuruh Hana untuk tenang dan berusaha sebisa mungkin tidak menunjukkan kecemasan. Mereka berhenti di depan pintu besar berlapis kayu mahoni yang tampak mahal.

"Bosku mungkin sedikit kaku, tapi dia bukan orang jahat," bisik Leni sambil tersenyum, berusaha menenangkan Hana.

"Kira-kira pekerjaannya apa ya, Len?" Tanya Hana sedikit bingung.

Leni mengedikkan kedua bahunya. "Aku tidak tahu, Hana. Tapi aku dengar bos ku butuh asisten gitu."

Hana mengangguk pelan. Jantungnya berdegup kencang.

"Sudah sana ketuk pintu, semoga sukses, aku mau kerja dulu ya. Bye bye Hana..." Setelah mengatakan itu, Leni langsung pergi meninggalkan Hana.

Saat pintu terbuka, ia dihadapkan pada pemandangan ruang kantor yang sangat luas dengan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. Di balik meja besar yang tertata rapi, duduk seorang pria dengan wajah tegas, mengenakan setelan jas yang mahal. Pria itu adalah Ray Aditya.

"Masuk," suara seorang pria terdengar dalam, memecah keheningan di ruangan itu.

Hana melangkah masuk dengan perasaan campur aduk. Ia bisa merasakan tatapan tajam seorang Pria yang menelusuri sosoknya dari ujung kepala hingga kaki, seolah menilai setiap gerak-geriknya. Hana berusaha tetap tenang, meski hatinya terasa semakin berat.

"Duduklah," kata salah seorang pria yang duduk di sofa panjang tanpa basa-basi. "Leni bilang, kamu membutuhkan pekerjaan tambahan?"

Hana menelan ludah. "Ya, Pak. Saya..."

Sebelum ia sempat melanjutkan, pria itu menyela. "Pak Ray tidak butuh seseorang yang hanya mencari pekerjaan. Beliau butuh seseorang yang berani mengambil risiko. Pekerjaan ini bukan sesuatu yang bisa dilakukan sembarangan. Kamu siap?"

"Soal gaji, pak Ray akan membayarmu dengan bayaran yang tinggi." Lanjut pria itu.

Hana terdiam, dia melirik sejenak Pria yang sedang duduk di meja kerjanya yang kini sedang menatapnya tajam. Sesuatu dalam nada suara pria itu membuatnya merasakan bahwa apa yang akan ia hadapi bukanlah pekerjaan biasa. Namun, ketika ia mengingat ayahnya yang sakit dan keluarganya yang terlilit hutang, Hana tahu ia tidak bisa menolak. Apalagi tadi pria yang ada di depannya itu menyebutkan bayaran tinggi.

"Saya siap," jawab Hana tegas, meski dalam hatinya ada keraguan yang besar.

Ray menatapnya untuk beberapa detik, kemudian mengangguk. "Baik. Kita akan lihat seberapa jauh kamu bisa bertahan."

Hana menoleh ke arah sumber suara tersebut, tidak tahu apa yang menantinya di masa depan. Tetapi satu hal yang pasti, ia harus mengambil langkah ini, demi keluarganya, demi ayahnya. Dan meskipun ia tidak menyadarinya, hari itu adalah awal dari perubahan besar dalam hidupnya.

"Baiklah Nona Hana, saya akan kabari anda lagi nanti. Kami harus menyiapkan kontrak kerjasama ini secepatnya," kata Pria itu yang kemungkinan menurut Hana adalah asisten pak Ray.

"Baiklah, kalau begitu kamu boleh pergi," kata Ray pada Hana.

Mau tak mau Hana menoleh lagi ke arah Ray Aditya yang berwajah tampan namun terlihat penuh batasan.

"Baik, Saya akan tunggu kabar baiknya. Permisi."

Hana pun pergi meninggalkan ruangan tersebut. Ruangan yang sangat penuh dengan ketegangan. Namun Hana berharap banyak pada mereka.

"Semoga aku bisa dapat uang untuk pengobatan Ayah secepatnya," kata Hana bicara sendiri seraya melangkah keluar dari kantor tersebut.

***

Lanjut Membaca

Daftar Isi Istri Kontrak Sang CEO Dingin

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Delapan Tahun Menjadi Istri Rahasia
8.0
Kehamilan Clara yang diharapkan mampu mengungkap pernikahan rahasianya selama delapan tahun dengan David justru berujung tragis. Penolakan kasar dari David memicu pertikaian fisik fatal yang merenggut nyawa salah satu janinnya. Sadar dirinya hanya sebuah pengganti, Clara yang dahulu lembut kini berubah menjadi sosok dingin dan tegas meminta cerai. David pun kini didera rasa bersalah yang luar biasa saat melihat sang istri tidak lagi peduli pada pernikahan palsu mereka.
Sampul Novel DIBUANG SUAMI DISAYANG AYAH MERTUA
8.4
Elsa, gadis desa yang polos, harus menjalani pernikahan dingin dengan Landon, sang pewaris Parker Group. Demi memenuhi wasiat sang kakek, Landon justru tega menyiksa Elsa hingga terpuruk. Di tengah penderitaan tersebut, sang ayah mertua, Alex Parker, datang mengulurkan tangan demi tanggung jawabnya. Namun, interaksi yang intens memicu ketertarikan terlarang bagi sang miliarder. Mampukah Alex meredam gairahnya pada Elsa, atau ia justru akan menyerah pada godaan tersebut?
Sampul Novel Dosen Killerku Ternyata CEO
7.9
Demi masa depan sang anak, Surya Dinata menjodohkan Alzena dengan Emilio Cullen, dosen blasteran yang berusia lima belas tahun lebih tua darinya. Padahal, Alzena sudah mempunyai kekasih bernama Jody. Di balik ketegasannya mengajar, Emilio rupanya seorang CEO pewaris takhta yang merahasiakan identitas aslinya. Akankah Alzena memilih cinta sejatinya bersama Jody, atau justru terjerat dalam rahasia besar suaminya yang menyembunyikan kebenaran?
Sampul Novel Gairang seorang pembantu penggoda
8.3
Demi menyokong keluarganya, Hana yang baru berumur dua puluh tahun nekat merantau dan bekerja jadi pelayan di rumah seorang triliuner rupawan. Terbuai oleh harta, ia sengaja memikat sang majikan hingga terseret dalam hubungan rahasia yang penuh gairah di dalam mansion mewah tersebut. Semua itu ia lakukan demi uang. Namun, rasa jenuh akhirnya datang dan ia ingin menyudahi segalanya. Sanggupkah Hana membebaskan diri dari jeratan materi dan kepuasan yang menggiurkan yang membelenggunya?
Sampul Novel Pernikahan yang Tak Pernah Tuntas
8.1
Menjelang hari bahagia mereka, musibah menimpa Nando Soman yang menjadi korban pemukulan hingga kehilangan ingatannya. Rani yang panik segera mendedikasikan seluruh waktunya untuk membantu sang tunangan pulih dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah mereka. Namun, perjuangan tulus Rani hancur seketika saat ia tidak sengaja mendengar obrolan rahasia Nando dengan temannya di rumah sakit. Berbekal hasil pemeriksaan medis yang menyatakan kondisi Nando sebenarnya normal, Rani akhirnya menyadari bahwa amnesia tersebut hanyalah sandiwara licik untuk menunda pernikahan demi kebebasan Nando.
Sampul Novel THE GOOD GUY
8.7
Amora memilih pergi dari hidup Gio demi menikahi Marcel, sahabat yang ia kira tulus. Sayang, pernikahan itu justru menjadi mimpi buruk. Sifat lembut Marcel hanyalah topeng, dan penderitaan Amora kian parah akibat tekanan mertua serta kemunculan wanita dari masa lalu suaminya. Walau batinnya hancur dan didera trauma mendalam, Amora memilih bertahan dalam hubungan toksik ini. Semua ia lakukan demi calon bayi di kandungannya agar kelak lahir dengan sosok ayah utuh.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan