
Seandainya Bertemu Lebih Awal
Bab 3
Setelah mengatasi masalah ini, aku kembali ke rumahku bersama Jivan. Baru saja pintu dibuka, aku pun merasa syok dengan keberadaan seseorang di dalam rumah!
“Kak Feli, lama nggak berjumpa!”
Rosa mengenakan piama yang tipis memamerkan tubuh indahnya. Dia berjalan keluar dari kamar pengantinku dan Jivan dengan ekspresi bersalah dan provokasi.
“Kak Lucas dan Jivan cemasin aku. Mereka suruh aku tinggal di sini.”
Aku melihat kamar pengantin yang kudekorasi dengan susah payah itu dimasuki oleh Rosa. Semua barang rumah tangga yang berpasangan telah dibuang sembarangan oleh Rosa ke dalam ruang kerja. Sebagai gantinya, barang-barang pribadinya memenuhi ruangan itu.
“Kata Jivan, pencahayaan di ruangan ini nyaman. Aku baru saja selesai operasi di luar negeri dan butuh pemulihan.”
Tersembunyi rasa muram di dalam tatapanku. Ruangan yang dia tempati itu sebenarnya adalah kamar pengantin milikku dan Jivan.
Saat ini, pintu kembali dibuka. Lucas dan Jivan memasuki rumah dengan membawa kue tar dan bunga segar. Terlihat tatapan tidak puas dalam tatapan mereka.
“Apa yang mau kamu lakukan? Rosa sudah pernah diusir sekali sama kamu,” ucap Jivan dengan tidak puas sembari melihatku.
“Sekarang Rosa adalah anggota keluarga kami. Rumah ini juga adalah rumahnya,” ujar Lucas dengan dingin sembari menatapku.
Aku mengamati vila kecil ini. Vila ini adalah hadiah dari Lucas untukku. Katanya, selamanya dia adalah anggota keluargaku. Selama ada dia, aku pun akan selalu memiliki rumah. Namun selanjutnya, Rosa tinggal di sini.
Lantaran mengingat hubungan dengan Erna, aku pun setuju membiarkan Rosa menumpang tinggal di sini. Setelah menemukan rumah, dia pun mesti segera meninggalkan rumah ini.
Hanya saja, Rosa semakin tidak tahu batasan. Dia bukan hanya mengambil barangku, bahkan juga berpelukan di atas ranjang dengan Jivan yang sedang mabuk.
Aku tidak bisa bersabar lagi dan langsung menampar Rosa. Aku pun didorong Jivan. “Rosa sudah kehilangan keluarganya. Dia hanya menganggapku sebagai kakaknya saja. Sejak kecil, kamu sudah didampingi oleh kami. Rosa berbeda sama kamu. Dia sudah mengalami banyak cobaan! Kamu lebih besar daripada dia. Apa kamu nggak bisa menjaganya seperti menjaga seorang adik?”
Aku melihat telapak tangan yang terluka akibat terkena pecahan kaca. Itu pertama kalinya aku merasa asing dengan diri Jivan.
Sekarang Rosa kembali lagi dan menguasai kamar pengantinnya, bersikap seperti nyonya rumah di sini.
“Felicia, selama beberapa tahun ini, aku yang menghidupimu. Aku sudah membesarkanmu hingga segede ini. Seharusnya kamu tahu berterima kasih! Sekarang, Rosa itu adikku! Kamu nggak berhak untuk menyuruhnya pergi! Kalau bukan karena kamu mengusirnya ke luar negeri, kondisi penyakitmu juga nggak akan bertambah parah.”
“Kamu tinggal di ruang baca saja. Kita bicarakan lagi setelah kondisi penyakit Rosa membaik,” peringatkan Lucas.
“Rosa butuh dijaga selama beberapa waktu ini. Lagi pula, kami juga belum mendaftarkan pernikahan kita. Kalau kamu berulah lagi, kita nggak usah menikah lagi!”
Jivan menatapku dengan ekspresi waspada. Sementara, aku menatap mereka dengan tatapan penuh hinaan.
Jika Felicia adalah Felicia yang dulu, mungkin dia akan merasa sakit hati. Namun, Felicia yang sekarang hanya merasa kecewa.
Tempat ini tidak menyambutku lagi. Sudah saatnya juga aku kembali ke keluargaku. Berhubung aku sudah memutuskan untuk pergi, aku pun tidak membalas ucapannya, langsung berjalan ke ruang baca.
Barang-barangku dilempar sembarangan ke dalam ruang kerja. Semua itu adalah hasil desain dan pilihanku sendiri. Barang-barang itu adalah bentuk dari impian dan harapanku terhadap masa depanku.
Aku diam-diam membuang barang pengantin yang dirusak Rosa ke tempat sampah.
Pada saat ini, Jivan baru mengangguk dengan puas. “Barang-barang itu nggak bernilai. Nanti baru dibeli lagi saat akan menjalankan pernikahan.”
Terlintas sedikit rasa muram di dalam tatapanku. Barang yang tidak bernilai bukan hanya barang-barang ini saja. Tidak ada lagi masa depan. Tempat ini bukan lagi tempatku untuk berlindung.
Anda Mungkin Juga Suka





