
Seandainya Bertemu Lebih Awal
Bab 4
Sebelum pergi, aku hanya ingin berpamitan dengan seseorang.
Setelah berpamitan, aku pun tidak akan merasa terikat lagi.
“Nak, kamu datang mengunjungi Bu Bianca lagi,” sapa pengurus kuburan yang mengenaliku.
Setiap tahunnya, aku akan datang untuk mengunjungi kepala panti asuhan. Dia meletakkan sebuket bunga krisan putih di depan kuburan Bianca.
“Mama Bianca, aku sudah mau pergi.”
Angin lembut berembus. Bianca yang di atas foto masih kelihatan begitu lembut.
Aku berjalan meninggalkan kuburan, lalu berjalan santai di jalan raya. Saat melewati depan toko kue, aku tercium aroma manis dan wangi dari dalam.
Tiba-tiba aku kepikiran masa-masa dulu, momen Lucas dan Jivan membelikan kue tar untukku. Meskipun hanya krim murahan saja, aku malah merasa sangat manis.
Ponselku terus bergetar.
[ Selamat ulang tahun. ]
Pesan itu dikirim dari Keluarga Gunadi. Disusul dengan dikirim uang nominal besar ke dalam rekeningku. Meskipun aku tidak bersedia untuk kembali ke Kediaman Keluarga Gunadi, setiap kalinya mereka tetap mengirimkan ucapan selamat secara rutin.
Dua jam yang lalu, Rosa baru mengunggah postingan yang berisi tiga tiket film terbaru.
Tanpa sadar, aku justru berjalan sampai ke depan gerbang panti asuhan tempatku dulu tinggal.
Tempat ini sudah dirombak menjadi taman hiburan, bahkan telah malam, tempat ini tetap ramai.
“Kak Feli!” Rosa melihatku dan berlari ke arahku dengan sedikit senyuman di matanya.
“Kamu juga lagi di sini, ya? Hari ini suasana hatiku lagi nggak bagus. Kak Lucas dan Jivan bersikeras bawa aku main di luar.”
Kedekatan Rosa yang tiba-tiba membuatku merasa tidak nyaman.
Namun, tiba-tiba terlihat senyuman aneh di wajah Rosa. Dia tiba-tiba menggenggam tanganku dan jatuh ke belakang.
Sebuah sepeda listrik melaju kencang dan menabrak kami hingga terpental.
Dari sudut pandang Lucas dan Jivan, kelihatannya seperti aku yang telah mendorong Rosa ke sisi kendaraan.
Sepanjang perjalanan, raut wajah Lucas dan Jivan menjadi sangat muram. Darah terus mengalir di dahi dan kaki Rosa. Mereka tidak memedulikan diriku yang berwajah pucat. Telapak tangan kananku digilas oleh sepeda listrik. Aku merasa tanganku itu seperti bukan milikku lagi.
Saat kami diantar ke rumah sakit, suster memberi tahu Lucas bahwa hari ini hanya ada satu dokter yang bertugas.
“Lakukan operasi untuk Rosa dulu! Nggak boleh ada bekas luka di tubuh wanita!” jerit Jivan begitu sampai di rumah sakit.
Luka di kaki dan dahi Rosa tampak mengerikan, tapi kenyataannya, siapa pun yang punya sedikit pengetahuan medis tahu luka itu hanya luka luar.
Seorang suster di samping melihat tanganku yang terkilir, lalu berkata, “Tuan Jivan, luka Nona Rosa juga bisa kami tangani, tapi luka Nona ini lebih serius. Kalau nggak segera ditangani, tangan kanannya ….”
“Prioritaskan operasi untuk Rosa dulu!” Sikap Lucas dan Jivan sangat tegas.
Wajahku sudah pucat pasi. Jika aku kehilangan tangan ini, aku tidak bisa memegang kuas lagi.
“Kak, Jivan ... boleh nggak aku yang dioperasi dulu .... Tanganku sakit sekali!”
“Felicia, kenapa kamu selalu menyulitkan Rosa!”
“Jangan lupa, kamu itu cuma seorang anak yatim piatu! Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kamu pasti sudah mati kelaparan di jalanan!”
“Mulai hari ini, Rosa itu adikku! Jangan harap kamu bisa menyakitinya lagi!”
“Kalau bukan karena kamu, Rosa juga nggak akan terluka!”
“Kamu bahkan nggak terluka! Kenapa malah bersandiwara!”
Aku ditampar hingga terjatuh ke tanah. Dalam seketika, wajahku semakin pucat saja.
Saat tanganku terkulai lemas di tanah dengan posisi yang aneh, dia menyadari ada yang tidak beres.
“Feli ... apa kamu baik-baik saja?”
Anda Mungkin Juga Suka





