APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sayap yang Terlepas dari Belenggu

Sayap yang Terlepas dari Belenggu

Memasuki tahun keenam pernikahan dengan Bagas Pradipta, pewaris elit Moska, Saskia Prameswari berniat mengamankan masa depan anak kembar mereka melalui dana perwalian. Namun, verifikasi sistem daring mengungkap kenyataan pahit: secara hukum, ibu kandung anak-anak tersebut adalah Claudia Atmadja, cinta pertama suaminya, bukan dirinya. Saskia yang melahirkan mereka dengan bertaruh nyawa kini terjebak dalam misteri besar tentang bagaimana identitas anak-anaknya bisa dialihkan kepada wanita lain.
Bab
Bagikan

Bab 3

Saskia menatap alat tes kehamilan. Satu garis. Senyum getir melintas di wajahnya.

Bagus.

Dengan begitu, Bagas bisa tenang. Anak yang benar-benar milik mereka berdua tak akan pernah lahir. Ironisnya… sekarang Saskia juga tak menginginkannya lagi.

Bagas menghela napas lega, suaranya melunak.

“Saskia, aku cuma nggak mau kamu terlalu lelah. Kita sudah punya Evan dan Eva, itu sudah cukup.”

Munafik.

Namun Saskia hanya menjawab dingin, nyaris acuh.

“Terima kasih atas perhatianmu.”

Bagas tertegun.

“Kenapa bicaramu seperti orang asing?”

Orang asing? Di rumah ini, hanya Saskia yang benar-benar orang luar. Bagaimana mungkin tak terdengar asing?

Saskia terdiam, lalu berbalik dan mengambil sebuah dokumen—surat cerai.

“Nggak kok, nggak asing. Oh iya, aku mau beli satu ruko.”

Itu pertama kalinya dia meminta sesuatu secara langsung. Bagas merasa ada yang janggal, tapi sebelum sempat memeriksa isi dokumen, Saskia sudah lebih dulu menyindir.

“Kenapa? Nggak mau?”

Mendengar itu, Bagas langsung menandatangani dokumen itu tanpa ragu.

Istrinya menginginkan sesuatu, mana mungkin dia menolak?

Saat menerima dokumen cerai dengan tanda tangan itu, Saskia justru merasa lega, seakan sebuah beban berat akhirnya terangkat dari hatinya.

Dari luar kamar, bisik-bisik kedua anaknya terdengar.

“Mama benar-benar mau punya bayi lagi, ya? Kalau bayinya sama bodohnya kayak mama, gimana?”

“Iya! Bisa dapet anak sepintar kita saja karena beruntung, ‘kan? Aku nggak mau punya mama kayak dia, bikin pusing!”

Jemari Saskia yang mencengkeram surat cerai perlahan memutih. Baguslah, sebentar lagi semuanya akan sesuai dengan harapan mereka.

Sebulan setelah surat cerai itu berlaku, statusnya berubah. Secara hukum… dia tak lagi tercatat sebagai ibu mereka.

Keesokan paginya, Saskia tak bangun pukul enam seperti biasa. Semua urusan anak dan Bagas dia serahkan pada pelayan.

Hasilnya? Rumah seketika kacau balau.

Evan rewel soal makanan. Sejak kecil hanya mau makan masakan Saskia. Pelayan sudah menyiapkan belasan menu, tapi tak satu pun disentuh.

Eva pun sama, tak suka dengan gaya ikat rambut yang dibuat pelayan. Waktu sudah mepet, akhirnya gadis kecil itu pergi ke taman kanak-kanak dengan wajah kesal.

“Ny—Nyonya…” Seorang pelayan panik mencari Saskia.

“Tolong bantuannya. Setelan Armani terbaru tuan, bagaimana dipadukan? Saya sudah coba beberapa kali, tapi tuan tetap tidak puas.”

Saskia menekankan bibir, lalu menjawab datar, seolah itu rutinitas.

“Padukan sama dasi di lemari nomor tiga, laci sebelah kiri, baris kedua. Untuk manset, ambil yang warna perak gelap di lemari nomor lima, laci kanan, baris ketiga.”

Tak lama, Bagas masuk ke kamar. Tubuhnya tegap dan tinggi, ditambah setelan yang serasi, membuatnya tampak semakin berwibawa.

Dia bersandar di ambang pintu, sorot matanya sedikit tak senang.

“Kenapa tiba-tiba mogok?”

Saskia tak menoleh.

“Kurang enak badan,” jawabnya dingin.

Bagas teringat kejadian semalam. Luka-luka yang Saskia alami karena dirinya dan anak-anak. Wajahnya bergelayut rasa bersalah yang sulit dijelaskan.

“Baiklah, istirahat saja.”

Namun semenjak Saskia mogok, seluruh rumah jadi berantakan.

Makanan? Meski pelayan mengikuti resepnya, Evan tetap bilang rasanya beda, tubuhnya makin kurus.

Rambut? Pelayan menirukan caranya mengikat rambut Eva, tapi Eva selalu berakhir merengek kesakitan. Atau belum juga keluar lama, kepangan rambutnya sudah terlepas. Akhirnya gadis kecil itu pun menangis tersedu, dipenuhi rasa kesal.

Sementara Bagas, yang selama ini tak pernah peduli pada hal-hal sepele rumah tangga, mulai dihantui masalah kecil yang muncul bertubi-tubi hingga membuatnya jengkel.

Dia jarang marah pada pelayan, tapi kali ini emosinya meledak.

“Hal sepele saja nggak bisa kalian lakukan dengan benar!”

Pelayan menunduk, ketakutan.

Sementara Saskia hanya merasa getir.

Hal sepele?

Ya, mungkin di mata Bagas, dirinya memang hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Pekerjaannya remeh, bisa digantikan siapa saja.

Namun, siapa yang tahu betapa banyak usaha yang sudah dia curahkan?

Berulang kali mencoba, tanpa kenal lelah, hanya demi membuat putranya mau makan sedikit lebih banyak.

Dia bahkan menyimpan hampir seribu video tentang cara mengikat rambut—menontonnya berulang kali, melatih jemarinya siang dan malam, sampai akhirnya bisa membuat kepangan yang indah, kuat, dan tak merusak rambut putrinya.

Untuk menghadapi Bagas yang seleranya tinggi dan selalu kritis, Saskia rela belajar desain, menekuni seni rupa, hingga mengikuti berbagai kelas, hanya supaya dirinya layak disebut pendamping yang “sempurna” di sisinya.

Semua hal kecil yang tampak sepele itu…

Jika disatukan, sesungguhnya adalah bentuk cintanya yang utuh, penuh, tanpa sisa.

Mereka menikmatinya begitu wajar, seolah itu memang sudah seharusnya.

Namun tak pernah benar-benar melihatnya.

Tak pernah terpikir sedikit pun bahwa selain seorang istri, selain seorang ibu—dia juga seorang individu, dengan perasaan dan kehidupan yang pantas dihargai.

Syukurlah, semua ini sebentar lagi akan berakhir.

Tak lama lagi, dia bisa kembali menjadi dirinya sendiri.

…

Setelah berhari-hari dalam kekacauan, barulah Bagas mulai menyadari ada yang janggal.

Tatapannya serius, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.

“Saskia, kita perlu bicara.”

Pagi itu, dia menatap Saskia dalam-dalam. Jemarinya mengetuk pelan meja samping tempat tidur.

“Kamu… sudah dengar sesuatu, ‘kan?”

Lingkaran sosial mereka sempit, gosip berputar begitu cepat. Mana mungkin dia tak mendengarnya?

Beberapa hari terakhir, rumah ini memang kacau.

Tapi di luar sana, dunia justru semakin “ramai”.

Bagas membawa Saskia ke berbagai acara. Barang lelang yang biasanya hanya jadi hak istimewa Saskia sebagai istri sah, kini jadi milik Claudia.

Begitu wanita itu mengeluh tak terbiasa dengan arsitektur lokal, Bagas langsung menghadiahkannya sebuah mansion bergaya Prancis atas namanya.

Ketika Claudia berkata ingin punya karier, Bagas tanpa pikir panjang membeli sebuah sekolah elit di Moska, menjadikannya kepala sekolah di sana.

Begitu banyak yang sudah Bagas lakukan untuk wanita lain.

Namun di depan Saskia, dia hanya berkata datar.

“Jangan salah paham. Aku dan Claudia hanya sebatas teman.”

Konyol.

Begitu konyol, sampai Saskia malas menanggapi.

Bagas mengerutkan kening.

“Meski kamu cemburu atau marah sama aku, tapi anak-anak nggak bersalah. Sikapmu seperti ini akan memengaruhi mereka. Atau jangan-jangan… kamu memang sudah nggak mau jadi ibu mereka lagi?”

Saskia mengepal erat telapak tangannya. Amarah yang selama ini ditahan akhirnya memuncak, tak lagi bisa dibendung.

Dia menatap lurus ke arah Bagas.

“Baik. Kalau begitu… aku memang nggak mau lagi jadi ibu mereka.”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Istri Untuk Duda Tampan
8.2
Akibat dikhianati di masa lalu, Adskhan memilih menutup rapat hatinya. Namun, kehadiran Caliana Noushafarina seketika meruntuhkan pertahanan tersebut sejak pandangan pertama. Sayangnya, Caliana justru membenci bos dudanya itu dan menganggapnya sebagai pria buruk. Caliana terus menolak semua perhatian Adskhan karena sosok duda tak pernah ada dalam kriteria pasangan impiannya. Mampukah keteguhan hati Adskhan meruntuhkan kebencian dan meluluhkan hati Caliana?
Sampul Novel Istri Yang Di Jual Suami
8.2
Nasib malang menimpa Audrey Giana Maheswari, seorang ibu berumur 25 tahun, akibat salah memilih pendamping hidup. Saat berjuang keras mengumpulkan uang demi menyembuhkan buah hatinya yang sakit keras, ia justru dikhianati suaminya sendiri yang gemar mabuk dan berselingkuh. Demi uang instan, sang suami bahkan tega menjual Audrey kepada lelaki asing dalam semalam. Mampukah ibu muda ini bertahan melewati cobaan dan pengkhianatan yang begitu kejam dalam hidupnya?
Sampul Novel Kim Nana
9.7
Demi sang adik, Kim Nana rela membuang masa mudanya setelah ditinggalkan begitu saja oleh orang tua mereka. Kini, meski sukses secara finansial, kepedihan masa lalu telah membentuknya menjadi wanita yang dingin dan kaku. Beratnya beban kehidupan membuat Nana mati rasa dan enggan membuka hati untuk cinta. Akankah ada pria yang mampu mencairkan hatinya yang beku? Bisakah Nana memaafkan masa lalu serta orang tuanya? Simak kelanjutan kisah perjuangannya.
Sampul Novel My Sugar Daddy is a Monster
8.4
Demi bertahan hidup, Lylia Prozky yang lugu terpaksa menjadi sugar baby bagi Dante Prime, pengusaha kejam sekaligus monster dunia bawah yang tak kenal ampun. Di saat Lylia mendambakan cinta sejati, ia justru terjebak dalam obsesi dan sikap posesif Dante yang kian membara saat ada pria lain mendekat. Kini, Lylia harus berjuang menghadapi ancaman musuh yang mengintai sekaligus jeratan perasaan dari sang monster yang sangat berbahaya.
Sampul Novel PELUKAN HANGAT PAPA MERTUA
8.6
Sepuluh tahun Luna terjebak pernikahan hampa bersama Eric yang terus berselingkuh. Demi lari dari jerat perjanjian keluarga, ia mabuk hingga berakhir di ranjang Brian, ayah mertuanya yang menduda. Tergoda pesona Luna, Brian pun hanyut dalam hubungan terlarang demi mengusir sepi meski didera rasa bersalah pada putranya. Begitu Eric menceraikan Luna demi selingkuhannya yang hamil, rahasia ini terbongkar, memicu keputusan mereka untuk bersatu.
Sampul Novel Tak Apa Jadi Istri Kedua, yang Penting Soleha
8.9
Fika menjalani peran sebagai istri kedua dengan rasa percaya diri yang tinggi. Ia merasa posisinya jauh lebih unggul dibanding istri pertama sang suami. Di dalam hatinya, Fika bangga karena meyakini dirinya memiliki rupa yang lebih menawan. Bukan sekadar penampilan fisik, ia juga merasa tingkat ketakwaan serta pemahaman agamanya jauh lebih mendalam, sehingga ia menilai dirinya sebagai sosok yang lebih saleha dalam pernikahan tersebut.