
Sayap yang Terlepas dari Belenggu
Bab 4
Suasana seketika membeku.
Namun alih-alih marah, Bagas justru tersenyum tipis.
“Jadi kamu takut posisimu terancam? Sudah kubilang, antara aku dan Claudia itu mustahil. Kamu akan selalu jadi Nyonya Pradipta, ibu dari Evan dan Eva.”
Bagas begitu yakin kata-kata itu cukup untuk meredakan amarah Saskia. Seperti biasa, setelah itu dia langsung memberi perintah.
“Jangan ribut lagi. Evan dan Eva sebentar lagi genap lima tahun. Kamu persiapkan pesta ulang tahun mereka dengan baik.”
Hati Saskia terasa diremuk.
Setiap tahun, pesta ulang tahun anak-anak selalu dia siapkan sepenuh hati. Bahkan beberapa hari lalu, dia berniat menghadiahkan dana perwalian khusus untuk mereka.
Namun, karena bukan ibu kandung, hak itu tak diberikan padanya.
Melihat Saskia terdiam, Bagas mengira itu tanda setuju. Dengan santai dia melanjutkan ucapannya.
“Kebetulan ulang tahun Claudia jatuh di hari yang sama dengan anak-anak. Jarang sekali ada kebetulan begini. Sekalian saja kamu persiapkan. Makin ramai, makin meriah.”
Boom!!!
Kepala Saskia seakan meledak. Tubuhnya bergetar menahan amarah.
Masih segar dalam ingatannya saat mengandung anak kembar itu. Perutnya sudah begitu besar di akhir masa kehamilan. Dokter menyarankan operasi caesar, tapi Bagas bersikeras menunggu.
“Semakin lama anak-anak bertahan dalam rahim, semakin baik.”
Katanya waktu itu.
Demi kebaikan anak, Saskia menurut tanpa keluhan.
Setengah bulan terakhir menjelang persalinan, dia hampir tak bisa tidur. Guratan kehamilan merekah tanpa henti di perutnya.
Dia juga seorang wanita yang peduli pada kecantikan. Dia pernah menangis diam-diam, tapi selalu meyakinkan dirinya.
Demi jadi seorang ibu, aku harus kuat!
Dan akhirnya, hari operasi caesar tiba—hari yang ditentukan oleh Bagas.
Baru kini dia sadar… semua penderitaan itu tak lebih dari siasat. Agar “ibu kandung yang sesungguhnya” bisa merayakan ulang tahun di hari yang sama dengan anak-anak. Agar ikatan mereka semakin kuat.
Betapa konyol. Betapa menyedihkan!
…
Hari pesta pun tiba.
Acara digelar di rumah, Saskia tak bisa menghindar. Dia hanya berdiri di kerumunan.
Seperti yang sudah diduga, Claudia menjadi pusat perhatian.
Gaun duyung merah muda bertabur berlian membalut tubuh indahnya, lengkap dengan perhiasan langka—semua hasil lelang yang baru-baru ini Bagas menangkan khusus untuknya.
Evan mengenakan tuksedo mungil, sementara Eva tampil dengan gaun bunga merah muda. Bertiga, mereka masuk beriringan, bergandengan tangan.
Beberapa tamu yang tak tahu menahu berbisik kagum.
“Betapa beruntung Nyonya Pradipta! Suami tampan, kaya raya, ditambah anak laki-laki dan perempuan yang begitu mirip dengannya.”
Namun bisikan itu segera ditegur seseorang.
“Huss! Jangan sembarangan bicara! Itu bukan Nyonya Pradipta, tapi mantan pacar Pak Bagas. Katanya cuma teman… tapi lihatlah, lebih mirip cinta sejati.”
“Pantas saja dulu Pak Bagas menikahi wanita biasa itu. Rupanya hanya karena wajahnya mirip mantan. Lagi pula, wanita yang nggak pernah melahirkan tubuhnya tetap awet muda, ramping, bahkan pakai warna merah muda pun masih cocok sekali.”
Saskia tak tahan lagi. Dia berbalik, melangkah ke balkon untuk menghirup udara segar. Menghitung detik demi detik, berapa lama lagi hingga dia bisa meninggalkan tempat ini.
“Sudah tahu cuma pengganti, kenapa masih punya nyali untuk bertahan?”
Suara congkak terdengar di sampingnya. Claudia berdiri dengan tatapan angkuh.
“Tujuanku kali ini datang cuma satu. Menyingkirkan semua penghalang, agar aku bisa bersama Bagas. Kamu akan tersingkir sebentar lagi.”
Dia kira Saskia akan panik, kehilangan kendali—seperti yang Bagas gambarkan tentang istri polos yang tak tahu apa-apa.
Namun wajah Saskia tetap tenang, tanpa gelombang.
“Silakan coba saja.”
Bagaimanapun, keputusan Bagas selalu sulit digoyahkan.
Meski masih mencintai Claudia, Saskia tahu Bagas terikat aturan dan dendam keluarga. Pernikahan mereka mustahil.
“Kamu berani menantangku?” Mata Claudia menggelap.
“Jangan kira dengan melahirkan dua anak bisa mengamankan posisimu. Aku akan buktikan siapa yang lebih penting—aku atau kamu, pengganti murahan!”
Dengan cepat, dia melepas gelang mutiara merah muda dari pergelangan tangannya, lalu melemparkannya ke danau kecil di bawah balkon.
Lalu dengan suara lantang penuh pura-pura dan amarah, dia menuduh Sakia.
“Aku sama Bagas cuma teman. Kalau kamu nggak percaya, jangan seenaknya buang gelangku! Cepat ambil kembali gelang itu!”
Seketika, semua mata tertuju pada mereka.
Bagas bergegas mendekat.
Dia sempat ragu, lalu berusaha menenangkan.
“Claudia, jangan marah. Kondisinya belakangan ini kurang baik, mungkin Saskia nggak sengaja. Lagi pula, malam begini air danau dingin, nggak cocok untuk menyelam. Aku akan belikan gelang baru, yang lebih bagus.”
Namun Claudia mengguncang kepala, suaranya parau penuh tangis.
“Gelang itu nggak tergantikan! Itu gelang yang dulu kamu berikan padaku...” Sorot matanya dipenuhi rasa sakit.
Wajah Bagas seketika berubah. Saskia tahu persis alasannya.
Di akun pribadi Bagas waktu itu, dia pernah melihat gelang itu. Gelang yang terbuat dari mutiara kerang merah muda yang amat langka. Hanya ada satu di dunia. Hadiah ketika Bagas menyatakan cinta, lambang cinta sejati mereka.
Claudia dengan licik mengorbankan barang berharga itu demi menjebaknya.
Namun Saskia tak goyah.
“Claudia sendiri yang membuang gelang itu. Ada CCTV. Bisa dicek.”
Dia memang sudah menambahkan kamera tambahan—untuk berjaga-jaga. Dan kali ini, itu terbukti menyelamatkannya.
Ekspresi Claudia panik, jelas tak menyangka Saskia sudah menyiapkan langkah antisipasi.
Bagas memperhatikan perubahan itu, keraguan mulai memenuhi matanya.
Tepat saat itu, Evan dan Eva berlari menghampiri. Seperti dua anak binatang yang siap melindungi induknya, suara polos mereka terdengar lantang.
“Nggak usah lihat CCTV! Kami lihat sendiri, kok!”
“Gelang itu memang dibuang sama Mama!”
Anda Mungkin Juga Suka





