
Sayap yang Terlepas dari Belenggu
Bab 2
Setelah dokter keluarga selesai mengobati lukanya, Saskia membuka pintu ruang kerja. Dia berniat mencetak surat cerai. Bagaimanapun caranya, Bagas harus menandatanganinya. Setelah itu, dia akan benar-benar meninggalkan kehidupan yang sejak awal bukan miliknya ini.
Begitu layar komputer menyala, jemarinya terhenti. Pandangannya mendadak kosong.
Wallpaper di layar komputer adalah sebuah foto keluarga.
Foto itu diambil saat ulang tahun pertama Evan dan Eva. Dua bayi mungil yang kala itu begitu lengket padanya. Tangan-tangan kecil bak ruas lotus melingkari tubuhnya erat, seolah tak ingin dilepaskan.
Fotografer berkali-kali berusaha mengarahkan perhatian mereka ke kamera, bahkan sampai mengeluarkan mainan favorit. Namun, tatapan kedua anak itu tetap tak beranjak dari dirinya.
Pipi tembam itu menengadah, mata bulat bening berkilau penuh kasih sayang.
Sementara Bagas berdiri di samping, dengan senyum lembut, merangkul dirinya dan anak-anak.
Saskia tertegun. Ingatannya melayang pada saat pria itu membujuknya menjalani program bayi tabung. Waktu itu, wajahnya juga setulus ini.
“Aku ingin kita punya anak laki-laki dan perempuan. Tapi dua kali kehamilan terlalu berat. Aku nggak tega lihat kamu kesakitan. Lebih baik sekali saja lewat bayi tabung.”
Dan Saskia percaya.
Saat tahu dirinya hamil, Saskia menangis bahagia. Itu berarti ada darah daging yang benar-benar menghubungkan dirinya dengan Bagas.
Meski kehamilannya penuh muntah-muntah, meski perut besarnya membuatnya nyaris tak bisa tidur, meski setelah anak lahir dia tak pernah benar-benar menikmati tidur nyenyak selama dua tahun—hatinya tetap lembut.
Saskia berasal dari keluarga yang berantakan. Satu-satunya hal yang bisa dia berikan hanyalah kasih sayang terbaik untuk anak-anaknya. Evan dan Eva tumbuh dalam cinta, selalu memeluknya sambil berkata “Mama hebat” atau “Aku sayang Mama”.
Namun segalanya berubah ketika mereka berusia tiga tahun. Bagas mendatangkan seorang guru Bahasa Prancis. Perlahan, anak-anak yang dulu hanya mengenal dirinya mulai berubah. Mereka menatapnya dengan remeh, menganggapnya hanya seorang ibu rumah tangga yang bodoh.
Setiap kali Saskia mengeluh, mereka akan merajuk manis, membuatnya kembali luluh.
Dia selalu mengira itu hanyalah kepolosan anak-anak, tak pernah menaruh curiga.
Sampai hari ini.
Sampai dirinya didorong jatuh dari tangga.
Anak-anak yang dia rawat sepenuh hati, membesarkannya siang dan malam… ternyata, dari hati yang terdalam, mereka merendahkannya.
Foto penuh kehangatan itu, kasih sayang yang dia yakini tulus… semua hanyalah fatamorgana.
Dengan cepat, Saskia mencetak surat cerai. Namun ketika hendak mematikan komputer, sebuah notifikasi muncul di pojok layar.
Karena terburu-buru, Bagas lupa keluar dari akunnya. Akun yang selama ini tak pernah Saskia ketahui—tersimpan di layar.
Refleks, Saskia mengkliknya.
Dan dunia seakan runtuh.
Semua catatan di dalamnya tentang Claudia. Ternyata dialah guru Bahasa Prancis online itu. Bagas terus menanamkan pesan bahwa Claudia hebat, sementara dirinya hanyalah wanita bodoh yang tak berguna.
Dalam video terbaru, Bagas menyewa hotel bintang tujuh dan mengundang sahabat-sahabat terbaiknya, hanya untuk menyambut kedatangan Claudia.
Evan dan Eva berlari ke arah wanita itu dengan sukacita.
“Tante Claudia… Tante lebih cantik daripada di video!”
“Iya! Tante Claudia lebih baik daripada Mama. Eva suka banget sama Tante!”
Bagas hanya tersenyum, sama sekali tak berniat menghentikan. Tangannya lama bertumpu di pinggang Claudia—gerakan yang penuh keputusan.
Saskia menatap layar itu begitu lama hingga jemarinya gemetar menutup video.
Kini, keluarga itu sudah lengkap. Bagas, Claudia, Evan, dan Eva.
Sedangkan dirinya hanyalah sosok asing yang tak lagi dibutuhkan.
Malamnya, Bagas pulang bersama anak-anak.
“Mama, aku nggak sengaja mendorongmu.”
“Iya, Eva juga nggak sengaja. Mama jangan marah, ya!”
Mata polos mereka seakan percaya bahwa ucapannya cukup untuk membuat Saskia tersenyum.
Namun Saskia hanya mengangguk dingin—tanpa senyum.
Anak-anak terdiam. Bahkan Bagas, dengan alis terangkat samar, menyentuh wajahnya.
“Masih sakit?”
Saskia terkejut, tak sempat menghindar. Sentuhan itu membuatnya teringat pada tangan yang sama baru saja melingkar di pinggang Claudia.
Rasa mual menyeruak hebat, membuatnya muntah tanpa bisa menahan diri.
Wajah Bagas langsung menggelap.
“Hamil lagi?”
Suara dinginnya penuh tuduhan.
“Ini sudah kedua kalinya kamu hamil tanpa rencana. Kita sudah pakai pengaman, kenapa bisa kebetulan lagi? Kamu sengaja, ‘kan?”
“Aku sudah bilang, kalau punya anak lagi, perhatianmu pasti terbagi. Kamu nggak akan bisa kasih sayang penuh untuk Evan dan Eva!”
Tanpa peduli, Bagas menariknya kasar, menyeretnya untuk tes kehamilan.
Tubuh Saskia terhuyung, terbentur meja hingga vas bunga jatuh pecah. Serpihan kaca menusuk kakinya yang sudah penuh memar.
Rasa sakit menjalar tajam, tapi pria itu tak menyadarinya sama sekali.
Nyeri yang menyesakkan seperti jaring yang mengikat, membuat Saskia tak bisa melarikan diri.
Namun rasa sakit itu tak seberapa dibanding perih yang meremuk di hatinya.
Karena ini bukan pertama kalinya.
Saat Evan dan Eva baru tiga tahun, Saskia sempat hamil di luar rencana sekali. Waktu itu, dia bahagia, ingin menyambut bayi baru.
Namun Bagas menolak.
“Terakhir kali kamu hampir mati di meja operasi. Aku nggak tega lihat kamu seperti itu lagi. Dengarkan aku, jangan hamil lagi.”
Ditambah anak-anak yang merengek tak mau adik, Saskia akhirnya menangis sambil merelakan kandungannya digugurkan.
Waktu itu, Bagas bahkan menyingkirkan semua pekerjaannya demi merawatnya, menenangkan dengan lembut.
“Kita sudah punya putra-putri lengkap. Jangan sedih lagi.”
Namun kini Saskia sadar—kelembutan itu semu.
Bagas bukan takut kehilangannya, tapi takut anak-anaknya terabaikan.
Pada akhirnya, Bagas dan Claudia justru memiliki anak laki-laki dan perempuan, sementara dirinya kehilangan satu-satunya darah daging yang sempat tumbuh di rahimnya!
Masa lalu bagai sebilah pisau tumpul, mengiris hatinya perlahan tanpa henti.
Dan pada alat tes kehamilan itu… hasilnya sudah jelas terpampang.
Anda Mungkin Juga Suka





