
Satu Dekade Gairah Terlarang
Bab 2
"Nggak, nggak boleh!"
Aku makin panik saat merasakan alat pria itu yang besar dan panas. Tapi, kain yang tipis sama sekali tidak bisa menghalangi alat keras milik Jacky.
Hal itu justru memancingnya untuk mengembuskan napas berat yang rendah.
"Oh ... enak sekali ...."
Suara rendah Jacky membuatku merasa sangat malu dan ingin mati saja.
Keberanian Jacky makin menjadi saat melihatku tidak berani berontak.
Tubuh kekarnya perlahan menempel erat ke punggungku, bahkan dia mulai mengulurkan tangan untuk meraba.
Pinggangku terasa dingin. Hampir pada saat itu juga, secara tidak sadar aku langsung menjepit kedua kakiku.
Sayangnya, aku hanyalah wanita lemah. Mana mungkin bisa melawan tenaga Jacky yang kekar dan sedang dalam masa primanya?
Dua-tiga gerakan saja pertahananku sudah dipatahkan oleh Jacky, dia mulai menggoda hingga ke bagian terdalam yang sudah banjir cairan.
Malang bagiku, aku hanya bisa menggigit bibir sambil menundukkan wajah yang merah padam, membiarkan jari-jarinya yang kuat menyiksaku.
Harus diakui, teknik Jacky sangat mahir. Dia meremas perlahan dan memelintir lembut, dia pun dengan bebas memamerkan keahliannya di balik celana dalamku.
Serangan yang terus-menerus itu segera membangkitkan gairah yang terpendam di lubuk hatiku yang paling dalam.
Tubuh molekku gemetar, kedua kakiku pun ikut lemas.
Tubuhku yang sensitif sama sekali tidak sanggup menahan serangan Jacky yang bertubi-tubi.
Perasaan aneh ini membuat wajahku panas. Seharusnya aku menghentikan pelecehan Jacky. Tapi sekarang, hatiku justru muncul sedikit harapan, yang sangat mendambakan pria ini melakukan langkah selanjutnya.
Aku ini kenapa?
Apa aku begitu kekurangan belaian pria?
Padahal aku itu wanita yang sudah berkeluarga!
Rasa malu yang disertai stimulasi terus-menerus di bagian bawah membuat seluruh tubuhku lemas. Aku hanya bisa bersandar pada pegangan agar tidak jatuh tersungkur.
Sementara sikapku yang tampak berusaha menutupi gairah ini, semuanya terbaca jelas oleh Jacky.
Sambil merasa bersemangat, wajahnya menunjukkan keyakinan untuk menang. Baru diraba sebentar saja sudah banjir, dia sangat yakin kalau wanita cantik di depannya ini pasti bisa ditaklukkan dengan mudah.
Setelah membulatkan tekad untuk melahap wanita cantik ini, gerakan Jacky pun seketika menjadi lebih ganas.
Bagian bawahnya pun tidak tinggal diam. Memanfaatkan situasi ramai, dia mengangkat sudut rokku dan langsung memasukkan miliknya ke sana.
Jarinya pun ikut menekan, menyingkap celana dalam yang tipis. Dengan bantuan pelumas alami, dia langsung menerjang menuju tempatku yang paling misterius.
Plop!
Tanpa kesulitan sedikit pun, ujungnya seketika tenggelam ke dalam tempat yang lembut dan basah itu.
"Emm ... ngg ... nggak boleh!"
Anda Mungkin Juga Suka





