APKDock Logo
Sampul Novel Ditinggalkan Karena Burik

Ditinggalkan Karena Burik

9.6 / 10.0
Andra menceraikan Aisyah begitu saja karena kondisi fisiknya yang dinilai kurang menarik. Tak disangka, Aisyah bangkit dan berubah menjadi wanita yang sangat menawan, memicu penyesalan besar di hati mantan suaminya. Konflik kian rumit saat mereka berdua terpaksa bersandiwara sebagai pasangan harmonis demi menjaga perasaan orang tua. Di balik kepura-puraan itu, luka masa lalu dan kenyataan pahit terus membayangi hubungan mereka.

Ditinggalkan Karena Burik Bab 1

Hinaan Andra

Suara motor Mas Andra terdengar menderu di halaman. Setelahnya pria itu terdengar membuka pintu bahkan sebelum aku berjalan mendekat ke arahnya.

"Kamu sudah pulang, Mas?" tanyaku pada pria yang dua tahun ini sudah menikahiku.

Namun, bukannya menjawab, pria itu malah berpaling ke arah lain bahkan untuk mengulurkan tangannya padaku pun, sepertinya jijik. Tanpa kata, Mas Andra melewatiku begitu saja dengan wajahnya yang terlampau dingin. Sama sekali tidak menegaskan kesan sebagai seorang suami yang baik kepada pasangannya.

Ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, setidaknya aku harus tahu alasan Mas Andra membenciku. Berusaha menegarkan hati, aku mencoba bertanya kembali padanya.

"Kenapa kamu terus memperlakukan aku seperti ini, Mas? Apa salahku padamu?" tanyaku dengan mata yang pasti sudah berkaca-kaca, karena jujur aku tak mengerti. Aku tak nyaman mendapatkan perlakuan seperti ini terus-menerus. Kedua orang tuaku selalu bersikap lemah lembut saat di rumah, tak pernah kami berseteru apalagi dalam kemarahan hingga waktu berbulan-bulan. Tapi sekarang, suamiku sendiri yang bertingkah seperti itu.

Perlakuan Mas Andra padaku sudah berjalan selama lebih dari lima bulan lamanya.

"Kamu mau tahu alasannya?" Mas Andra berbalik dengan mata tajam, saat aku mengangguk dengan cepat. Terlihat kebencian di matanya yang kecoklatan untukku.

"Karena kamu itu burik! Dan nggak ada cantik-cantiknya sama sekali! Aku bosan dan benar-benar jijik sama kamu, Aisyah!" sarkas Mas Andra terdengar marah, lalu membanting pintu kamar dan menguncinya dari dalam bahkan sebelum aku sempat membalas ucapannya.

Setelahnya kudengar teriakan kesal. Aku mendekati pintu, dan mendengar Farel yang tengah tertidur, seketika terdengar menangis kencang.

Ya Allah, kenapa Mas Andra jadi nggak bisa mengontrol emosinya? batinku bicara. Apakah hanya karena kulitku yang burik, hingga Mas Andra berlaku kasar tiap hari padaku? Atau mungkin dia memiliki sebuah alasan lain untuk itu? Jujur aku tak mengerti.

Jika alasannya karena kulitku yang burik ini, itu sama sekali bukanlah kesalahanku. Kulitku memang sensitif, Mas Andra juga tak mampu membelikanku skin care, apalagi ditambah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari, sangatlah jauh dari kata layak. Ya, kami mengontrak rumah di kawasan padat penduduk dengan sumber air yang menguning, dan bau besi berkarat. Tapi seharusnya itu bukanlah kesalahanku, karena jika Mas Andra memiliki gaji yang lebih besar, kami bisa pindah ke tempat lain yang sumber airnya lebih baik. Setidaknya, jika tidak ada sumur bor, maka bisa menggunakan air PDAM yang bening dan tidak merusak kulitku.

Pintu kembali terbuka, saat tanpa sadar aku menatapnya yang berkacak pinggang. Mas Andra saat ini persis seperti seorang preman yang berniat menghab**i lawannya. Membuatku jelas sangat ketakutan.

"Aisyah, urus anakmu yang berisik itu! Dan Jangan biarkan dia menangis terus menerus! Aku pusing mendengarnya!" titahnya seperti seorang raja. Aku mengangguk dan enggan berdebat. Malu juga pada tetangga kanan kiri yang rumahnya jelas berdempetan.

"Baik, Mas." Benar saja Farel sudah nangis kejer. Segera kudekati dan kuberikan asi agar tangisnya berhenti. Setelahnya, terdengar suara motor yang menderu di halaman dan pengendaranya pergi. Kebiasaan Mas Andra jika sedang marah, maka pria itu akan memilih pergi sebagai pelarian.

Ya Tuhan, kenapa rumah tanggaku jadi seperti ini. Tanpa terasa air mataku berlinang begitu saja.

******

"Heh, Aisyah. Suamimu marah-marah lagi hari ini?" Bu Nur langsung bertanya ketika aku keluar rumah untuk membuang sampah.

"Biasa saja, Bu," kilahku karena tidak ingin membuat wanita itu merasa memiliki jalan untuk semakin menghinaku.

Di lingkungan ini, Bu Nur sudah terkenal karena mulutnya yang kadang tidak bisa disaring dan suka sekali mencampuri masalah orang lain. Dan akhir-akhir ini, sasarannya tentu saja adalah aku dan Mas Andra. Mungkin karena sering mendengar suamiku itu berkata keras, hingga memancing kuping tetangga untuk semakin mencari tahu tentang keadaan rumah tanggaku yang sebenarnya.

"Ya sudah sih, kamu tinggalkan aja suamimu yang kasar dan pemarah itu. Lagi pula kalau aku punya suami seperti itu, malas banget. Udah gajinya kecil, suka marah-marah lagi. Aku sih pasti udah tinggalin dari dulu. Lagian kamu itu cantik dan masih muda lho, pasti bisa mendapatkan suami yang lebih baik daripada si Andra yang cuma karyawan biasa itu."

"Di sini saya posisinya saya adalah istrinya Mas Andra lho. Kenapa ibu yang malah lebih gemes sepertinya?"

"Eh, kamu itu kalau dibilangin memang benar-benar nggak nurut, ya. Bodoh, dasar mentang-mentang datang dari kampung. Digituin sama lakinya aja, kamu tetap aja masih sabar!" Suara Bu Nur naik beberapa tingkat, langsung berlalu masuk ke dalam rumahnya. Setelahnya, terdengar pintu yang ditutup sedikit kencang, membuatku lagi-lagi harus mendesah berat, melihat perlakuan orang-orang di sekitarku, yang bukannya saling menguatkan saling menolong malah saling menjatuhkan.

Daripada aku memikirkan wanita itu yang jauh dari kata ramah, dan hanya mencari gara-gara saja, kuputuskan untuk kembali ke dalam dan pergi ke dapur, menyiapkan makan malam. Kebetulan hari juga beranjak sore dan gelap sebentar lagi menyapa.

Kulihat beras ternyata tinggal dua liter saja. Dan beras ini harus cukup sampai hari sabtu, sebelum Mas Andra memberi uang belanja di hari minggu. Sayur kangkung yang seikat dengan tempe di sampingnya itu, kuputuskan untuk memasaknya segera, sebelum Farel kembali bangun. Bayi berusia dua bulan itu memang tidak rewel, dan itu membuatku sedikit terobati, ditengah sikap Mas Andra yang masih saja buruk.

******

Lega rasanya setelah menunaikan ibadah salat magrib dan berdzikir sebentar, lalu mencurahkan segenap keluh kesah kepada Sang Pemilik Takdir. Kulipat mukena dan sajadah dan mengembalikan ke tempatnya semula. Farel masih anteng di tempat tidur, bahkan bayi itu tengah anteng sambil mengemut ujung jarinya.

Kudekati putra tampanku itu, kemudian membawanya ke ruang tamu. Kontrakan yang hanya tiga petak ini membuatku wara- wiri hanya disekitaran itu-itu saja.

Kuputuskan untuk menonton tv sambil menunggu makan malam. Meski kuakui perutku semakin keroncongan karena tadi siang hanya makan sedikit, semua itu demi menghemat pengeluaran.

Suara Mas Andra terdengar berbincang dengan seseorang di luar rumah. Tampak akrab dengan lawan bicaranya yang kuduga adalah Pak Tarso, suaminya Bu Nur.

Pintu dibuka dari luar. Mas Andra seperti biasanya langsung masuk tanpa mengucap salam terlebih dahulu. Kebiasaan yang turut hilang selama lima bulan ini. Entah apa kesalahanku yang begitu besar, hingga membuat pria itu sama sekali tidak mentolerir dan sama sekali tidak menganggapku berada di sisinya. Padahal dulu sikap pria itu sangat manis, terlebih lagi ketika berkunjung ke kampung untuk meminangku kepada kedua orang tuaku.

"Mas, kamu mau makan sekarang?" tanyaku sambil berdiri dengan Farel di gendongan.

"Aku sudah makan di luar!" ucapnya tanpa mau repot-repot mengalihkan pandangan padaku. Seperti biasanya, akan masuk ke dalam kamar kemudian menutup pintu dengan kasar. Aku sampai memegangi dadaku saking terkejutnya, dan kembali duduk di ruang tv. Membaringkan Farel di atas tempat tidur, lalu segera berjalan ke dapur untuk mengambil nasi dan lauk.

Sepertinya tak guna terus-terusan membaik-baiki pria itu, jika Mas Andra sendiri tidak mencoba untuk merubah akhlak dan perlakuannya kepadaku.

Rasa lapar yang kutahan sejak tadi, membuatku sampai gemetaran. Apalagi Farel kuat sekali jika menyusu, hingga beberapa puluh menit lamanya, membuatku makan dengan rakus sambil menonton sinetron yang belakangan ini booming dan menjadi idola kaum emak-emak sepertiku.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Ditinggalkan Karena Burik

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel CINTA DI MUSIM SEMI
8.0
Kisah romansa modern ini mengikuti perjalanan emosional David dan Arina dalam menemukan kebahagiaan sejati. Di tengah keindahan bunga musim semi yang bermekaran, keduanya belajar saling memahami dan mengisi kekosongan hati masing-masing. Hubungan mereka pun tumbuh dengan indah seiring waktu, membuktikan bahwa satu musim yang singkat mampu menyatukan dua jiwa dalam sebuah ikatan cinta yang tulus serta sangat mendalam bagi mereka berdua.
Sampul Novel Cinta & Pengorbanan Alya
8.5
Demi menyelamatkan nyawa Kartika, ibunya yang butuh biaya medis besar dan donor organ langka, Alya terpaksa mengambil keputusan nekat. Ia menerima tawaran Niko, seorang miliarder yang sangat mendambakan anak, untuk menjadi ibu pengganti. Meski awalnya didasari keputusasaan, kedekatan mereka justru menumbuhkan perasaan cinta yang tak terduga. Hubungan ini pun diuji saat sebuah rahasia besar terkuak, memaksa keduanya memaknai ulang arti cinta serta keluarga.
Sampul Novel Diagnosis Kanker di Hari Ulang Tahun Pernikahan
9.3
Delapan tahun menikah, Jessica selalu memercayai alasan pekerjaan Rio Aditya setiap hari jadi pernikahan mereka. Namun, rahasia busuk terungkap saat ia mendengar rencana Rio untuk menceraikannya demi Nadia. Di tengah pengkhianatan tersebut, Jessica justru menerima diagnosis medis yang fatal: kanker ovarium stadium akhir. Menyadari suaminya tidak lagi mencintainya sejak ia keguguran, Jessica memutuskan untuk merelakan hubungan mereka dan pergi dalam damai tanpa pernah bertemu lagi.
Sampul Novel En-PD153
8.9
Kekasih lama yang kusangka sudah mati tiba-tiba kembali bersama seorang wanita hamil yang katanya telah menolongnya. Dengan lancang, dia menyuruhku tinggal bersama mereka dan menjanjikan pesta pernikahan formal sebagai ganti atas keputusannya menikahi perempuan itu. Statusku sebagai putri bangsawan dan menantu konglomerat membuatku menolak keras menjadi simpanan. Jika dia memilih melepaskan kemewahan, aku akan membuat hidupnya hancur hingga dia jatuh miskin.
Sampul Novel ISTRI RASA SIMPANAN
9.5
Demi kesembuhan kekasih Anthony Smith, Alicia Huang rela menjadi donor sumsum tulang belakang. Namun, ia mengajukan syarat agar Anthony bersedia menikahinya. Anthony pun sepakat dengan satu tuntutan mutlak: pernikahan mereka harus dirahasiakan rapat-rapat dari publik. Kini, Alicia menjalani hari-harinya sebagai istri yang tersembunyi layaknya seorang simpanan. Akankah pernikahan kontrak ini menumbuhkan cinta tulus, atau justru berujung luka mendalam bagi mereka?
Sampul Novel Janda Bertemu Dengan Duda
8.1
Demi menghapus duka setelah kepergian Rizal, Sonia memboyong Alif dan Hana ke sebuah apartemen sederhana. Di hunian baru itu, takdir mempertemukannya dengan Yudha, duda menawan yang juga berjuang mengasuh putrinya, Mira, pasca-tragedi memilukan. Pertemuan tak sengaja di lorong apartemen perlahan memantik getaran rasa di hati mereka yang sama-sama terluka. Kini, keduanya dihadapkan pada pilihan sulit: terus meratapi masa lalu atau berani membuka hati bagi cinta yang baru.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan