APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sang Anak Konglomerat

Sang Anak Konglomerat

Dewi mengemban tugas berat untuk merawat William, seorang putra konglomerat yang kini lumpuh dan depresi. Tragedi kecelakaan yang menewaskan istri serta calon bayinya telah mengubah William menjadi pria yang sangat kasar, arogan, dan sensitif. Akibat perangai buruknya itu, tidak ada satu pun perawat yang sanggup bertahan mendampinginya lebih dari tiga hari. Kini, mampukah kesabaran dan keteguhan hati Dewi melewati batas waktu yang gagal dihadapi para pendahulunya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Dadaku bergemuruh, dan aku bergidik ngeri mendengar perkataan dari Den William itu.

Entah mengapa aku melihat tatapan matanya begitu dingin, seolah dia bukan manusia tapi entah makhluk apa yang tidak punya perasaan.

Mungkinkah aku bisa bertahan menghadapi orang seperti itu?

Aku kembali teringat pada ibuku yang sakit-sakitan, apalagi Bang Doni yang sering sekali menyakiti hati ibu, karena dia sering mabuk-mabukan dan juga malas bekerja, akibat terpengaruh dengan teman-temannya, karena pengaruh buruk pergaulan.

Meskipun perempuan, aku bertekad akan bangkit, supaya perekonomian keluargaku juga membaik.

Hingga suatu hari Dokter Anton menawarkan padaku, pekerjaan ini, merawat seorang anak konglomerat yang lumpuh dan juga depresi berat.

Bayaran yang ditawarkan juga sangat tinggi, bahkan hampir 10 kali lipat dari penghasilanku sebagai seorang perawat rumah sakit, Tentu saja aku menerima tawaran ini karena memang aku sedang membutuhkan uang, untuk membantu pengobatan ibu dan melunasi hutang-hutang yang disebabkan oleh perbuatan Abangku yang tidak bertanggung jawab itu.

Aku masuk ke dalam kamar yang sudah disiapkan oleh keluarga ini, membuka tas besarku dan menata beberapa pakaianku di dalam lemari kosong yang ada di kamar ini.

Ceklek!

Tiba-tiba saja pintu kamarku dibuka dari luar, Aku menoleh ke arah pintu, Bi Marni datang menghampiriku sambil tersenyum.

"Sus, sekarang suster beristirahat dulu, karena nanti sore ada jadwal minum obat untuk Den William, juga memberikan makanan untuknya!" kata Bi Marni sambil duduk di tepi tempat tidur, sementara aku masih membereskan beberapa barang dan pakaianku.

"Iya Bi, Aku sangat butuh pengarahan Bibi selama di sini, mudah-mudahan saja semuanya bisa berjalan lancar, hanya memberikan obat dan makanan kan Bi?" tanyaku sambil melirik ke arahnya.

"Ya tugasnya memang hanya memberikan obat dan makanan, membantunya mandi, terapi, dan juga melayani keperluannya, tapi... " Bi Marni menghentikan ucapannya.

"Tapi kenapa Bi?" tanyaku penasaran, kemudian aku beringsut duduk di samping Bi Marni.

"Den William itu seringkali mengamuk kalau ada orang yang menyentuhnya, apalagi melayaninya, sudah beberapa orang perawat yang mengundurkan diri karena tidak tahan, dan suster Dewi ini adalah perawat yang ke-10 yang bekerja di sini!" jawab Bi Marni.

"Memangnya sekarang apa yang bisa di lakukan Den William itu? Bukankah dia itu hanya seorang laki-laki lumpuh yang tidak berdaya? Apa yang bisa diperbuat oleh orang cacat seperti dia?" tanyaku lagi.

"Suster Dewi belum tahu saja, Den William itu kalau sedang marah atau tidak suka atau Mengamuk, dia bisa melakukan apapun, bahkan dia bisa melukai orang lain karena perbuatannya, Tuan dan Nyonya besar pun sampai kewalahan menghadapinya!" jawab Bi Marni.

Aku menghela nafas panjang, sebelumnya dokter Anton juga pernah mengatakan padaku, karena pekerjaan ini tidak mudah, makanya bayarannya mahal bahkan Dia meyakinkan aku Apakah aku benar-benar siap untuk bekerja di rumah ini, aku tidak pernah berpikir sekejam apa anak konglomerat itu, yang ada di pikiranku saat ini adalah aku butuh uang banyak, karena ada kebutuhan mendesak di keluargaku.

"Bi, sebenarnya apa yang menyebabkan Den William jadi seperti itu? Apakah hanya karena dia lumpuh dan tak berdaya sehingga dia tidak bisa menerima kenyataan? atau ada hal yang lain?" Tanyaku sambil menatap ke arah wanita paruh baya yang sudah bekerja paling lama di keluarga ini.

"Dulu Den William itu tidak seperti ini sus, Dia itu orangnya sangat baik, ramah, juga hangat, tapi sejak dia mengalami kecelakaan yang menyebabkan dia cacat, apalagi istri yang sangat dicintainya, yang pada saat itu sedang mengandung buah hati mereka, meninggal dalam kecelakaan itu, Den Wiliam menjadi depresi dan sangat terpuruk, bahkan beberapa kali dia hendak mengakhiri hidupnya!" ungkap Bi Marni sambil menunduk.

"Iya Bi, yang aku dengar ceritanya juga begitu, tapi mudah-mudahan saja Den William itu bisa bangkit ya Bi, Dia tidak terus-menerus tinggal dalam keterpurukan, kasihan masa depannya kalau seperti itu terus!" ucapku.

***

Tanpa terasa hari sudah menjelang sore, aku bergegas keluar dari kamarku dengan pakaianku yang sudah rapi, Bi Marni menungguku di ruang makan.

Aku melihat di atas meja makan besar, di atas sebuah nampan ada satu gelas air putih, satu gelas jus Mangga, beberapa kapsul yang diletakkan di atas piring kecil, ada beberapa potong buah dan aneka kue.

"Sus, bawa nampan ini ke kamar Den William, usahakan agar dia mau meminum obatnya dan memakan cemilannya, kalau ada apa-apa panggil saja Bibi ya!" kata bi Marni sambil menyodorkan nampan besar itu ke arahku.

"Baik Bi!" sahutku singkat sambil berjalan membawa nampan itu menuju ke kamar Den William.

Pintu kamar itu tidak tertutup dengan rapat, kemudian dengan perlahan aku mendorong pintu kamar itu dengan siku tanganku, lalu aku masuk ke dalam dan meletakkan nampan besar ini di atas meja yang ada di kamar itu.

Den William nampak sedang duduk di atas kursi rodanya membelakangiku, sepertinya dia memang sudah tahu kalau aku akan datang ke kamar ini, perlahan Aku berjalan mendekatinya.

"Selamat sore Den William, saya mengantarkan obat dan cemilan untuk Den William, Apakah bisa saya bantu untuk meminum obatnya?" tanyaku lembut dan sopan.

Den William tidak menjawab, Dia kemudian memutar kursi rodanya dan kini menghadap ke arahku, tatapannya begitu tajam padaku, lebih tajam daripada silet.

"Keluar dari kamarku! Aku tidak butuh Kehadiranmu di sini!" hardik Den William dingin.

"Maaf Den, tugas saya di sini adalah untuk merawat Den William, saya harus memastikan kalau Den William meminum obatnya!" jawabku.

"Kamu tuli ya? Aku tidak butuh bantuanmu, jangan mengurusiku karena aku tidak suka ada orang lain yang mengusik hidupku, sekarang kau keluar atau aku lemparkan kepalamu!" cetus Den William dengan matanya yang mulai melotot.

Sebenarnya aku ciut dan langsung ingin berlari keluar dari kamar ini, tapi aku mengurungkan niatku karena ini baru hari pertama aku bekerja di sini, masakan aku harus menyerah begitu saja menghadapinya.

"Saya akan keluar dari kamar ini kalau Den William sudah meminum obatnya!" kataku dengan mengumpulkan seluruh keberanian ku.

"Oh begitu ya, ya sudah bawa ke sini nampannya, berikan padaku!" ucap Den William sambil menunjuk ke arah nampan besar yang tadi aku letakkan di atas meja.

Aku tersenyum dan merasa lega karena ternyata Den William mau meminum obatnya dan memakan makanan yang sudah disajikan itu.

Dengan perlahan Aku kemudian mengambil nampan besar itu, kemudian aku berjalan mendekati Den William, aku menyodorkan nampan besar itu di hadapannya supaya dia bisa mengambil obat untuk meminumnya, dan memakan makanan yang sudah tersaji di hadapannya itu.

Namun tangan Den William bukan mengambil obat tetapi mengambil segelas jus dari atas nampan besar itu, dan dalam waktu sepersekian detik dia langsung menyiramkan Jus itu ke wajahku.

Aku sangat terkejut dan langsung memejamkan mataku karena terkena jus yang dia lemparkan, sementara gelasnya sudah pecah karena jatuh, aku berusaha tetap berdiri karena kedua tanganku sedang memegang nampan besar itu.

"Ini baru pecicipannya saja, setelah ini aku jamin kau tak akan betah untuk mengurusiku di rumah ini!" sengit Den William sambil tersenyum sinis menyeringai.

Seluruh rambut wajah dan pakaianku kotor terkena jus yang dilemparkan oleh Tuan Muda Arogan ini, hatiku sungguh sangat sakit, seumur hidup aku belum pernah diperlakukan seperti ini oleh orang lain, bahkan Abangku yang terkenal kasar dan suka mabuk-mabukan tidak pernah memperlakukan aku dengan tidak baik, tapi ini, bahkan orang yang baru aku kenal, bisa-bisanya memperlakukan aku dengan begitu buruk.

Bersambung....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ANTARA BISNIS DAN CINTA
9.4
Jessica Marie Armantyo terpaksa memimpin PT Gembira Raya setelah ayahnya wafat dan Arnold, kakaknya, terlilit judi. Masalah membesar saat Joshua Danujaya menguasai saham mayoritas perusahaan lewat utang Arnold. Jessica pun terpaksa bermitra dengan Joshua yang ambisius. Di tengah kemelut ini, asmara sepuluh tahun Jessica dengan Alan kandas akibat karier YouTube Alan. Saat patah hati, pesona Joshua mulai mengikis kebencian Jessica. Akankah cinta tumbuh di antara persaingan bisnis mereka?
Sampul Novel DICERAI SUAMI, DIPINANG CEO
9.0
Dituduh mandul dan dikhianati suaminya hingga bercerai, dokter kesuburan Felicia Hera nekat menghabiskan satu malam bersama pasiennya demi membuktikan dirinya subur. Ia lalu menghilang dan baru kembali lima tahun kemudian bersama putrinya. Namun, Felicia syok saat tahu direktur baru di rumah sakitnya adalah ayah dari anaknya. Kini, ia harus terus bersembunyi dari kejaran pria dingin yang telah mencarinya selama bertahun-tahun.
Sampul Novel Istri yang Terabaikan
9.7
Lima tahun pernikahan kulalui tanpa kehadiran suami di hari ulang tahunku, yang selalu mengganti kehadirannya dengan uang. Ironisnya, ia justru sibuk menyiapkan pesta untuk Fiona dengan alasan hanya dialah yang Fiona miliki. Saat melihat kemesraan mereka di media sosial pascatragedi kebakaran yang menyisakan trauma mendalam, batasan sabarku habis. Aku pun menuliskan komentar tegas bahwa kini aku merelakan pria tak berguna itu sepenuhnya untuk Fiona.
Sampul Novel Istri Yang Tersiksa
8.7
Tiga tahun lamanya Rania Alvi menanggung kepedihan dalam pernikahan dingin dengan pengusaha kaya, Rizky Wira. Berstatus sebagai istri kedua, hidupnya kian terasing akibat bayang-bayang Inez, sang mantan istri. Ketika divonis mengidap kanker stadium dua, kondisi fisik dan mental Rania runtuh hingga ia nekat menggugat cerai. Namun, Rizky menolak keras dan bersumpah tak akan melepaskannya. Kini, Rania terperangkap dalam obsesi sang suami, bergelut dengan rasa sakit tanpa celah untuk bebas.
Sampul Novel Jangan Hancurkan Hatiku
8.2
Evelyn Carter awalnya dikagumi karena dinikahi Victor Blake, pewaris Beaumont yang berjanji menjaganya terlepas dari keterbatasan fisiknya. Sialnya, mimpi indah itu sirna ketika Evelyn tahu bahwa cacat di kakinya adalah akibat perbuatan suaminya sendiri. Merasa dikhianati oleh sosok yang paling ia percayai, ia menolak untuk terus terpuruk. Kini, Evelyn bertekad menata ulang hidupnya dan bangkit demi membalaskan semua rasa sakit hati yang telah ia lalui.
Sampul Novel Keputusasaan Di Balik Pernikahan
7.9
CEO dingin Jerald Lucas sangat mencintai Clara Rernald, istrinya. Namun, citra suami idaman itu runtuh seketika saat skandal perselingkuhan akibat pengaruh racun menjebak Jerald tepat di hari jadi pernikahan ketujuh mereka. Walau Jerald bersujud memohon maaf dan berjanji setia, hati Clara terlanjur hancur melihat bukti pengkhianatan di kamar mereka. Upaya penebusan dosa sang CEO pun sia-sia karena sebuah foto misterius akhirnya memicu Clara untuk pergi selamanya.