APKDock Logo
Sampul Novel Istri Yang Tersiksa

Istri Yang Tersiksa

8.7 / 10.0
Tiga tahun lamanya Rania Alvi menanggung kepedihan dalam pernikahan dingin dengan pengusaha kaya, Rizky Wira. Berstatus sebagai istri kedua, hidupnya kian terasing akibat bayang-bayang Inez, sang mantan istri. Ketika divonis mengidap kanker stadium dua, kondisi fisik dan mental Rania runtuh hingga ia nekat menggugat cerai. Namun, Rizky menolak keras dan bersumpah tak akan melepaskannya. Kini, Rania terperangkap dalam obsesi sang suami, bergelut dengan rasa sakit tanpa celah untuk bebas.

Istri Yang Tersiksa Bab 1

Pagi itu, Rania Alvi duduk di tepi tempat tiduran, memandangi bayangan dirinya yang terpantul di cermin besar. Jari-jarinya bermain dengan kain gorden berwarna krem yang bergelombang lembut di jendela. Angin pagi yang masuk melalui celah-celah gorden membawa aroma segar dari taman kecil di halaman belakang. Tapi tidak ada kesejukan yang mampu menghapus panas yang mengalir di sekujur tubuhnya. Panas yang datang bukan dari sinar mentari, melainkan dari luka yang terus membara di hatinya.

Suami Rania, Rizky Wira, masih terlelap di tempat tidur mereka. Wajahnya yang terbalut tidur tampak lelah, namun tak kehilangan ketampakan angkuhnya. Rizky adalah pria yang selalu diidam-idamkan oleh banyak wanita; tampan, karismatik, dan cerdas. Namun, bagi Rania, pria itu seperti musim dingin yang membekukan. Ketegangan di antara mereka sudah tak terhitung. Setiap percakapan mereka hanya menyisakan keheningan yang membosankan, hanya suara jam dinding yang berdetak kian lama kian menekan.

Rania menarik napas dalam-dalam dan menoleh ke arah pintu. Terdengar suara langkah kaki kecil yang mengetuk lantai kayu dengan ritme riang. Seperti biasa, itu adalah Raka, putra Rizky dari pernikahan sebelumnya. Rania tahu bahwa hari itu, seperti hari-hari lainnya, akan penuh dengan rutinitas yang membosankan dan menyakitkan. Di dalam kebisuan rumah ini, ia adalah satu-satunya yang selalu merasa asing.

"Selamat pagi, Bu," sapa Raka, suaranya melompat riang saat dia masuk ke kamar. Ia membawa sebuah buku cerita dengan gambar-gambar berwarna cerah.

"Selamat pagi, Nak," jawab Rania, berusaha menghadirkan senyum yang tulus di wajahnya. Namun, senyum itu terasa seperti senjata yang tajam, menyakitkan saat ditarik paksa.

Raka meloncat ke tempat tidur, mengendap-endap di samping Rania. Dia mendongakkan kepala ke arah Rizky, yang masih terlelap. "Ayah masih tidur, ya, Bu?" tanyanya, matanya bersinar penasaran.

Rania menatap Rizky, yang kini berbalik arah, memperlihatkan rahangnya yang tegang. "Ya, Nak. Ayah sangat lelah akhir-akhir ini," jawab Rania sambil menahan rasa sakit di dadanya. Penuh kebohongan, tetapi hanya itu yang bisa ia katakan.

"Bukankah ayah selalu lelah, Bu?" Raka bertanya dengan nada polos, membuat Rania terdiam sejenak. Kali ini, pertanyaan itu menyakitkan, lebih dalam daripada biasanya. Sejak awal pernikahannya, Rania sudah tahu bahwa Rizky hanya menyisakan ruang kosong dalam hatinya untuknya. Tapi, melihat Raka yang berbicara dengan kepolosan seorang anak kecil membuat hatinya semakin sakit, seperti dirajam ribuan pecahan kaca.

"Sudah, jangan ganggu ayah, Nak. Ayo kita sarapan dulu," kata Rania dengan lembut, mengalihkan perhatian Raka.

Mereka turun ke ruang makan, tempat di mana mereka biasa berbagi momen pagi yang sunyi. Setiap pagi seperti ini, suasana terasa semu dan hampa, meskipun di luar jendela matahari sedang tersenyum cerah. Rania menghidangkan roti bakar dan selai strawberry, menu yang hampir tak pernah berubah sejak pernikahan mereka. Ia tahu Rizky hanya akan mengambil secangkir kopi dan berlalu ke kantornya tanpa banyak bicara. Itu sudah cukup bagi Rania, setidaknya dia bisa melihat anaknya senang di pagi hari.

Raka duduk dengan penuh semangat, mengunyah roti sambil bercerita tentang sekolahnya. "Hari ini, Bu, aku akan bermain bola di lapangan!" katanya dengan mata yang berbinar. Rania mengangguk, membalas senyuman Raka, meskipun hatinya terasa sakit mendengar riuh tawa anak kecil itu, yang tak bisa ia bagi dengan suaminya.

Seperti dugaan Rania, Rizky datang ke meja makan dalam balutan jas hitamnya. Wajahnya segar, matanya tajam, dan ekspresinya tetap seperti biasa, dingin dan tak terbaca. Ia duduk di kursi di ujung meja, mengangkat cangkir kopi, dan hanya memberikan sekilas pandangan pada Rania.

"Selamat pagi, Rizky," ucap Rania dengan suara yang begitu lembut, hampir tak terdengar. Rizky hanya mengangguk, lalu kembali menatap ponselnya, mencari tahu email atau pesan yang menunggu di layar. Di sisi lain meja, Raka menatap ayahnya, berharap akan mendapatkan perhatian lebih dari pria yang hanya hadir dalam hidupnya seperti bayangan.

Rania merasa seolah dirinya berada di tengah badai yang tak terlihat. Setiap kata yang keluar dari mulut Rizky adalah pisau yang merobek, dan setiap diam yang ia pilih adalah luka yang semakin dalam. Pagi itu pun berlalu dalam keheningan, hanya diisi dengan suara piring, sendok, dan gelas yang berdenting.

Setelah Raka pergi ke sekolah, Rania duduk di ruang tamu, menatap dinding kosong yang penuh dengan foto-foto keluarga mereka. Foto-foto yang diambil ketika semuanya tampak sempurna. Tawa mereka terlihat tulus, mata mereka terlihat hidup. Namun, sekarang, semua itu hanyalah kenangan yang membebani, seperti gumpalan awan gelap yang menghalangi sinar matahari.

Rizky sudah pergi, meninggalkan rumah dengan langkah cepat, seperti selalu. Rania merasakan kekosongan di sekelilingnya, yang lebih dalam daripada ruang di antara dinding-dinding rumah. Ia tahu bahwa di dalam rumah ini, kebahagiaan hanya tinggal sebuah kenangan, sebuah ilusi yang tak pernah bisa ia genggam.

Telepon di meja sampingnya berbunyi. Rania menatap layar ponsel, yang menampilkan nama Dr. Amelia. Jantungnya berdegup kencang, seolah mengetahui apa yang akan dikatakan oleh dokter itu. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan beratnya kenyataan yang telah menunggu sejak beberapa minggu terakhir. Lalu, ia menekan tombol untuk menjawab.

"Selamat pagi, Ibu Rania. Maaf mengganggu pagi Anda," suara Dr. Amelia terdengar melalui ponsel, hangat dan penuh empati.

"Selamat pagi, Dokter," jawab Rania, suaranya gemetar.

"Rania, hasil tes terakhir sudah keluar. Kami ingin mendiskusikan hasilnya dengan Anda."

Mata Rania mulai berair, suara Dr. Amelia seperti ribuan ombak yang menghantam pantai. "Apakah... apakah ada kabar buruk?" tanyanya, suara itu hampir hilang di antara isak tangis yang sudah tak bisa ia tahan.

"Ya, Ibu Rania. Kami menemukan bahwa kanker Anda sudah mencapai stadium dua. Kami harus segera memulai pengobatan untuk menghentikan perkembangan penyakit ini."

Rania mendapati dirinya terdiam, seolah kata-kata itu melayang di udara dan membekukan seluruh tubuhnya. Di luar, suara mobil yang lewat terdengar begitu jauh, seperti deru angin yang tak ada artinya. Di dalam dirinya, dunia seperti berhenti sejenak, mengalir lambat dan berat, menunggu realitas baru yang akan segera datang.

Ia tahu, saat itu, bahwa tidak ada lagi kesempatan untuk melarikan diri. Tidak ada ruang untuk menolak kenyataan. Hatinya bergetar, bukan hanya karena rasa sakit yang akan datang, tetapi juga karena ketidakberdayaan yang menggerogoti. Ia mendongak ke arah langit-langit rumah, mengingat kembali janji-janji yang telah diucapkan saat pernikahan, yang kini hanya menjadi angin lalu yang menyinggahi.

"Rizky," bisik Rania dalam hati, berharap pria itu mendengar. Namun, di mana pun Rizky berada, ia hanya sebuah bayangan di antara kegelapan yang membungkus malam mereka.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Istri Yang Tersiksa

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Cinta Semalam Dengan Miliarder
9.1
Akibat dikhianati temannya, Melinda, gadis desa berumur 21 tahun, melewati malam penuh gairah bersama Lukas, seorang CEO terpandang. Kehamilan tak terduga dari hubungan itu kini mengancam reputasi sang miliarder. Lukas pun bimbang antara mempertahankan citranya atau bertanggung jawab atas janin tersebut. Di tengah konflik status sosial dan intrik keluarga yang kelam, mampukah cinta tumbuh di antara mereka, ataukah ambisi pribadi justru akan menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Ibu Mertuaku Mengusirku
9.1
Vonis mandul menghancurkan hidup Anjani. Ia dicampakkan oleh Bagas, suaminya yang tega menikahi adik tirinya sendiri, Sinta. Di tengah kepedihan akibat dikhianati, Anjani kembali dihadapkan pada nasib malang. Ia dipaksa menikah dengan pria lumpuh demi melunasi utang sang ayah. Terjepit tekanan keluarga, sanggupkah Anjani bertahan? Akankah ia pasrah menjalani pernikahan baru ini, atau memilih kabur demi membalas dendam pada Bagas dan Sinta?
Sampul Novel Kecanduan Ciumanmu
8.6
Liburan Midori, gadis 18 tahun bermata biru, berubah drastis setelah kecupan tak sengaja dengan Kenzo Watanabe di pemandian air panas Jepang. Kejadian itu memicu obsesi kuat dalam diri Kenzo, meski dirinya telah terikat pertunangan dengan bangsawan bernama Ayumi Tokugawa. Cinta mereka pun diuji oleh benturan tradisi serta jarak jauh antara Tokyo dan Perth. Akankah takdir menyatukan Midori dan Kenzo? Simak kelanjutan kisah emosional sang miliarder ini.
Sampul Novel Kehangatan Cinta
9.3
Memasuki tahun ketujuh pernikahan, kebenaran pahit terungkap bagi sang istri saat Yeni, cinta pertama Hans, kembali ke tanah air. Sadar hanya menjadi bayang-bayang, ia memutuskan menggugat cerai. Keputusannya pergi justru disambut gembira oleh putranya sendiri yang berharap Yeni menjadi ibu barunya. Tanpa ragu, ia melangkah pergi bersama putrinya. Tiga bulan berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali. Saat sang putra menatapnya sambil menangis, ia memilih berpura-pura tidak mengenalnya.
Sampul Novel Kubalas Selingkuh Suamiku dengan Indah
9.2
Zivanna Yahya memberikan seluruh kasih sayangnya kepada Rio Wibisono. Sayangnya, Rio malah memperingatkannya agar tidak terlalu mencintai demi mencegah rasa sakit hati. Saat situasi mendingin, hadirlah Gregory Abel yang mengabaikan norma moral. Baginya, merebut hati perempuan yang telah dimiliki pria lain merupakan dosa terindah, dan ia berambisi merebut Zivanna. Hubungan mereka pun kini terjerat dalam pusaran dusta serta obsesi berbahaya.
Sampul Novel Simfoni Pembalasan
8.4
Karier pianis genius Athena hancur setelah kecelakaan misterius melumpuhkan tangannya. Di masa sulit itu, ia justru dikhianati oleh suaminya dan sahabat terdekatnya sendiri. Di tengah keterpurukan, hadirlah Arthur, sosok misterius yang menawarkan kerja sama untuk membalas dendam. Athena pun memulai langkah berbahaya demi menuntut keadilan. Akankah taktik ini berhasil, atau ia justru akan hancur dalam intrik yang penuh kelicikan?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan