
Saksi Gairah, Bukti Pengkhianatan
Bab 2
Setelah melihat bukti yang kubawa, atasan kami tampak dalam suasana hati yang sangat baik. Ia langsung menarikku dan Dikta untuk berdiskusi soal langkah selanjutnya.
Saat aku mengambil berkas dan melangkah melewati Dikta menuju ruang rapat, aku jelas merasakan sentuhan samar di bagian belakang tubuhku, entah sengaja atau tidak, bokongku sempat tersentuh olehnya.
Hanya satu detik, tapi ada gelombang aneh yang tiba-tiba naik dari bawah perutku.
Dikta duduk di kursinya, sementara aku berdiri di sampingnya, membungkuk sedikit agar bisa melihat isi percakapan di tangannya.
“Tapi semua ini tetap tak sebanding dengan kerja keras Pengacara Anna,” katanya tiba-tiba sambil menoleh ke arahku.
Karena perbedaan tinggi badan, wajahnya kini tepat mengarah ke bagian dadaku.
Pakaian berpotongan rendah yang kupakai jelas tak mampu menyembunyikan apa pun dan napas hangatnya langsung menyapu ke kulitku.
Wajahku langsung memanas.
Tapi melihat ekspresinya yang tetap tenang dan seolah tak terjadi apa-apa, aku pun menganggapnya sebagai sebuah kebetulan belaka.
Aku menarik sedikit bagian kerah bajuku dan duduk di sampingnya.
Tapi kemudian, kaki Dikta makin lama makin mendekat.
Suara bicaranya lembut, seperti semut yang merayap di hati, geli dan membuatku gemetar.
Bahkan melalui rok ketatku, aku masih bisa merasakan otot-otot kakinya yang keras dan panas, nyaris membakar kulitku…
Detak jantungku yang semakin cepat membuatku gelisah tak karuan.
Antara kedua pahaku tiba-tiba terasa licin dan lengket, sangat tidak nyaman.
Agar bisa bernapas lega, aku membuka sedikit kaki, tanpa sengaja ujung kakiku menyentuh betisnya.
Mungkin Dikta salah paham, melihat gerakanku yang tak sengaja itu, tangannya pun diam-diam merayap mendekat.
Suhu tubuh pria memang lebih hangat, panas dari sentuhan tangannya seolah membakar kulitku sampai terasa sesak.
Ketua tim duduk di depan, fokus menyusun rencana, tak seorang pun tahu apa yang terjadi di bawah meja.
Tangannya yang besar dengan santai meletakkan di pahaku, sesekali seperti ingin mengeksplorasi lebih jauh.
Aku tak bisa menahan diri, menggoyangkan pinggul mencoba mengusir rasa geli di kaki.
Saat tangannya hampir saja menyelinap ke balik rok, ketua tim dipanggil oleh rekan kerja.
Saat itu hanya tersisa aku dan Dikta di ruang rapat, tatapan panasnya menancap tajam di leherku yang basah oleh keringat.
“Pengacara Anna, tubuhmu benar-benar luar biasa, gimana kalau lagi bergairah nanti?”
Aku tak berkata apa-apa, lalu berusaha berdiri.
“Ku tunggu saat kita bisa bersama-sama membuat rantai bukti.”
Dikta menghentikanku, mendekat ke telingaku, suaranya dibuat sangat pelan.
Kata membuat diucapkannya dengan sengaja pelan dan berat, aku jelas tahu itu godaan terselubung.
Jadi, sebelum keluar dari ruang rapat, aku menatapnya tanpa basa-basi, tersenyum menggoda.
Jari-jari tanganku menggoyang-goyang dasinya.
Setiba di rumah, aku seperti biasa mandi dan beristirahat.
Aneh, saat mandi aku tak bisa menahan diri membayangkan tubuh Dikta di balik celananya.
Tangan mengikuti aliran air, turun perlahan...
Anda Mungkin Juga Suka





