
Saksi Gairah, Bukti Pengkhianatan
Bab 3
Mungkin sudah terlalu lama aku tak merasakan kehangatan pria, sampai-sampai aku tak bisa menahan diri untuk menantikan sentuhan Dikta lagi.
Sehari sebelum pulang kerja, Dikta menambahkan pertemanan denganku di WhatsApp, bilang ingin menyusun draft perjanjian cerai yang baru.
Aku menyeruput kopi yang dibawakan asistennya, Jasmin Lewis, sambil melihat foto-foto fitness Dikta di feed WhatsApp-nya.
Bentuk tubuhnya yang terpampang jelas di balik celana ketat itu benar-benar membuat pikiranku kacau balau.
Aku menurunkan kursi kerjaku, lalu menyembunyikan pinggang rampingku di bawah meja, dengan stoking hitam menggantung di betis.
Jari-jariku sudah tahu apa yang harus dilakukan, dengan lincah membuka pintu menuju dunia kenikmatan.
Tiba-tiba, seorang pria berdiri di depanku.
Suara godaannya terngiang di telinga, penuh canda “Pengacara Anna, kamu lagi ngapain sih?”
Ternyata Dikta.
Dia tampak seperti habis minum, matanya tak lepas menatap jari-jariku yang basah.
Begitu saja, dia tanpa malu-malu menatap leherku yang terbuka, tangannya yang besar mengelap lengketnya jari-jariku.
Aku segera menarik tanganku kembali.
“Kamu banyak air di tanganmu.” Dia mengulurkan jari tengah, memberi isyarat.
Aku mengerti maksud tersiratnya.
Perasaan malu dan geli yang bercampur aduk karena ketahuan langsung di tempat membuatku merasa canggung dan ingin segera melarikan diri dari situasi ini.
Namun saat itu aku terjebak oleh Dikta di bawah meja kerjanya, dia menarikku dengan kuat sampai aku terjerat di pelukannya.
Aku terjatuh di atas pahanya, dan saat dia menahan tubuhku, telapak tangannya dengan kasar menyapu area yang lembut.
Dari pinggang ke bawah, terasa sentuhan keras dan hangat yang hanya sekilas, lalu menghilang.
Dalam sekejap, seperti sumbu yang terbakar hingga ujungnya, kembang api meledak indah di dalam pikiranku.
Rasa berdebar yang lama terpendam akhirnya ingin meledak seperti letusan gunung berapi.
Karena itu, aku sedikit mengangkat pinggang dan bersandar pada bahunya.
“Bukankah kita harus buat rantai bukti?” Suaraku terdengar menggoda.
“Tentu saja, aku akan tunjukkan bukti bahwa dia selingkuh.”
Tatapan Dikta yang membara menelusuri tubuhku, seolah menjadi sesuatu yang nyata, meninggalkan sensasi geli di setiap titik yang disentuhnya.
Tiba-tiba aku teringat alasan mereka bercerai, dan seketika aku memahami kata-katanya!
“Kalau begitu, bolehkah aku lihat?” aku menjilat bibirku pelan.
Dikta pun segera menanggapi harapanku itu.
Nafas yang saling berpadu milik kami berdua bergema di ruang kantor, bergantian dan selaras, seperti pertunjukan simfoni yang indah.
Akhirnya, dia tak tahan lagi, menekan tubuhku ke meja dan menggerakkan aku seperti penari profesional yang sedang memamerkan kelenturan otot pahanya.
Aku membiarkan tangannya melewati batas yang dinamakan ujung rok.
Harapan dalam hatiku melonjak tinggi, menanti saat jiwa terdalamku dibuka dan disentuh…
Anda Mungkin Juga Suka





