APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel SABDA CINTA

SABDA CINTA

Kehidupan Cinta berubah drastis setelah keputusan sang ayah untuk menikah lagi. Ia tumbuh menjadi sosok yang dingin, tertutup, dan terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Khawatir dengan kondisi putrinya, sang ayah mencoba berbagai cara untuk menyadarkannya, tetapi selalu gagal. Akhirnya, Sabda, sahabat masa kecil Cinta, dipanggil pulang untuk menolongnya. Akankah kehadiran Sabda mampu menyembuhkan luka hati Cinta dan membimbingnya kembali ke jalan yang benar?
Bab
Bagikan

Bab 2

Cinta berdecak kesal karena sedari tadi Sabda selalu saja mengikutinya. Entah rencana apa lagi yang Ricko lakukan kali ini, tetap saja tidak akan bisa membuat Cinta seperti dulu lagi.

"Kamu ini maunya apa sih, dari tadi ngikutin aku terus, nggak capek?" tanya Cinta dengan ketus.

Sabda menggeleng sambil tersenyum, membuat Cinta memutar bola matanya malas. Sudah berkali-kali dia berusaha untuk mengelabuhi Sabda, tapi tetap saja pria itu selalu tahu rencananya. Apakah cara Cinta gampang ditebak?

Cinta kembali melajukan motornya, sesekali dia melirik kaca spion untuk melihat Sabda. Cinta tersenyum licik, dia yakin bahwa kali ini pasti rencananya akan berhasil. Cinta menatap jalanan dengan senyum menyeringai, beruntung karena keadaan sedang mendukungnya, jalanan tampak sepi, dengan kecepatan tinggi dia melajukan motornya. Cinta tersenyum puas karena tak lagi melihat motor Sabda di belakangnya.

"Kubilang juga apa, kenapa kamu masih saja bebal, lihat sendiri akibatnya," kata Cinta sambil tertawa puas.

Tawa itu tak berlangsung lama, kini mata Cinta melotot karena melihat motor Sabda sedang menghadang jalannya. Cinta langsung memberhentikan motornya dengan perlahan, wanita itu masih tak percaya dengan apa yang saat ini dilihatnya. Sesekali Cinta mengucek matanya untuk memastikan bahwa semua yang dia lihat memang benar.

Cinta melihat Sabda tersenyum tipis, Cinta yakin kalau saat ini Sabda sedang menertawakannya.

"K--kau," ucap Cinta terbata.

Sabda turun dari motornya, pria itu berjalan ke arah Cinta.

"Hei, kenapa dari dulu kamu tidak berubah, selalu saja meremehkan orang lain."

Cinta mengerjapkan matanya berkali-kali, baru kali ini dia mendengar suara pria yang ada di hadapannya, karena sedari awal mereka bertemu, Sabda tak pernah berbicara. Bahkan Cinta mengira jika Sabda bisu. Suara Sabda terdengar sangat sejuk ditelinga Cinta. Wanita itu menatap Sabda cukup lama, dan tatapan itu pun dibalas oleh Sabda. Seakan mempunyai sihir, Cinta dibuat terpesona.

"Dan juga, kenapa kalau berkendara harus ngebut-ngebut, kamu nggak takut terluka atau kecelakaan, gitu?" tanya Sabda.

Cinta tersenyum kecut, justru itu yang dia inginkan, mungkin jika dia sudah tak ada di dunia ini lagi, ayahnya akan hidup dengan tenang bersama keluarga barunya.

"Ya bagus dong," jawab Cinta sewot.

Sabda mengerutkan keningnya, pria itu menatap Cinta heran.

"Kenapa berbicara seperti itu? Nggak baik. Sekarang tujuanmu ingin ke mana, biar aku yang antar, ayahmu sudah berpesan padaku agar aku menjagamu dengan baik. Pergi sehat, pulang selamat. Karena mulai saat ini kamu adalah tanggung jawabku. Suka tak suka, itulah kenyataannya," jelas Sabda.

Cinta memberengut kesal, tak suka dengan ucapan Sabda.

"Owh, jadi kamu mata-mata ayahku? Ck! Dibayar berapa sama ayahku sampai-sampai kamu menyetujui permintaannya?" tanya Cinta dengan tangan bersedekap.

"Ini bukan perihal bayaran, Cinta, kamu sekarang adalah tanggung jawabku," jawab Sabda dengan suara tenang.

Cinta tertawa pelan, dia menatap Sabda dengan sinis, rasanya berdebat dengan pria itu tak ada gunanya. Cinta berniat pergi dari situ, akan tetapi kunci motornya dicabut lebih dulu oleh Sabda.

"Hei, kau! Kembalikan kunci motorku, lancang sekali kamu ini!" bentak Cinta.

Sabda mengedikkan bahunya acuh, pria itu langsung memasukkan kunci motor itu disaku celananya.

"Tujuanmu ingin ke mana, ikutlah bersamaku."

Gigi Cinta gemeletuk, wanita itu tampak menghela napas berkali-kali seperti sedang menahan amarah. Masih tak terima dengan perlakuan Sabda yang bertindak sesuka hatinya.

"Oke, kalau itu maumu. Baiklah, bertindaklah sesuka hatimu seperti ayahku memperlakukanku," ujar Cinta pelan.

Sabda ingin menyela, akan tetapi Cinta sudah pergi dari hadapannya. Dengan langkah lebar Sabda menuju motornya.

"Kita akan pergi ke mana?" tanya Sabda antusias.

"Club," jawab Cinta cuek.

Seketika raut wajah Sabda langsung berubah.

***

Bingar musik mengalun begitu keras, membuat Sabda menutupi kedua telinganya. Mungkin, Cinta sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Berbeda dengan Sabda, ini adalah pertama kalinya dia memasuki tempat itu.

"Kalau nggak kuat lebih baik kamu pulang saja," ledek Cinta.

Sabda menggeleng tegas, membuat Cinta mengedikkan bahunya acuh.

"Oke, terserah kamu saja. Aku mau happy-happy dulu sama temanku, semoga betah ya," ucap Cinta, mata wanita itu mengerling nakal.

Wanita itu berbalik, mengacungkan jari tengahnya ke atas, membuat Sabda geleng-geleng kepala sembari mengusap dada.

'Ya Tuhan, inikah Cinta yang dulu aku kenal? Kenapa sangat berbeda,' batin Sabda.

Sabda duduk di balik kerumunan manusia yang sibuk meliukkan tubuhnya, akan tetapi matanya tak pernah lepas untuk melihat Cinta. Pria itu memandang Cinta dengan perasaan tak menentu. Ada rasa sesak dalam dadanya ketika dia melihat Cinta tampak mabuk, seperti tak sadarkan diri. Entah mengapa, perasaannya ikut hancur.

Sabda melihat ada seorang lelaki yang tengah membujuk Cinta untuk meminum air yang Sabda tak tahu itu air apa. Awalnya terlihat biasa saja, tetapi semakin lama tampak mencurigakan.

Cinta sedang tidak baik-baik saja, Sabda pun berdiri dari duduknya, mendekati Cinta yang tengah bersama teman-temannya. Tangan Sabda mencegah Cinta agar tidak kembali meminum minuman itu.

Cinta mendongak, tersenyum manis pada Sabda. Seketika ingatan Sabda terlempar pada masa lalu. Ya, dia sangat ingat siapa pemilik senyuman itu. Cinta tersenyum padanya, membuat hati Sabda terasa menghangat.

"Cinta, kita pulang."

"Apa?! Nggak denger!" teriak Cinta.

Sabda menghela napas. Jelas saja tidak dengar karena di tempat itu tampak riuh.

"Kita pulang," bisik Sabda tepat ditelinga Cinta.

"Woi! Elo ngapain deketin cewek gue, hah!"

Sabda menoleh ke arah sumber suara. Menatap pria yang tak dikenalnya dari atas sampai bawah. Dari cara berpakaian saja sudah bisa ditebak jika pria itu memiliki sifat tempramen.

Sabda tak menjawab, dia segera membopong Cinta yang saat ini sudah tak sadarkan diri.

"Heh! Gue lagi ngomong sama elo! Cewek gue mau dibawa ke mana?!"

Langkah Sabda terhenti. "Siapapun anda, saya tidak ada urusannya dengan anda, saya hanya berurusan dengan Cinta," jawab Sabda tegas.

Pria itu berjalan mendekat, menatap Sabda dengan garang.

"Lo belum tau siapa gue? Oke, kenalan dulu, gue Farel, kekasihnya Cinta, puas lo!" bentak Farel.

Sabda tersenyum kecut. "Hanya kekasih, tidak lebih."

Mata Farel membulat. "Gue kekasihnya, sedangkan elo bukan siapa-siapanya. Biar gue aja yang bawa Cinta pulang!"

Ketika Farel ingin mengambil tubuh Cinta, Sabda langsung mundur beberapa langkah, dia menatap Farel dengan tajam.

"Ya, saya memang bukan kekasihnya. Asal anda tahu bahwa Cinta adalah ... calon istri saya!"

Farel mematung di tempat. Terdiam cukup lama untuk mencerna apa yang diucapkan oleh Sabda. Tak lama kemudian Farel tertawa terbahak-bahak.

"Elo nggak bisa nipu gue," sarkas Farel.

Sabda mengedikkan bahunya. "Mau percaya atau tidak itu bukan urusan saya. Jika anda ragu dengan kata-kata saya, bisa anda tanyakan sendiri pada Cinta besok hari, permisi," pamit Sabda.

Sabda pergi meninggalkan club itu dengan perasaan berkecamuk. Masih tak percaya jika inilah makanan sehari-hari Cinta. Baru satu tempat yang Cinta tuju. Apakah ada hal lain lagi yang lebih mengejutkan Sabda?

Bersambung.

Cinta berdecak kesal karena sedari tadi Sabda selalu saja mengikutinya. Entah rencana apa lagi yang Ricko lakukan kali ini, tetap saja tidak akan bisa membuat Cinta seperti dulu lagi.

"Kamu ini maunya apa sih, dari tadi ngikutin aku terus, nggak capek?" tanya Cinta dengan ketus.

Sabda menggeleng sambil tersenyum, membuat Cinta memutar bola matanya malas. Sudah berkali-kali dia berusaha untuk mengelabuhi Sabda, tapi tetap saja pria itu selalu tahu rencananya. Apakah cara Cinta gampang ditebak?

Cinta kembali melajukan motornya, sesekali dia melirik kaca spion untuk melihat Sabda. Cinta tersenyum licik, dia yakin bahwa kali ini pasti rencananya akan berhasil. Cinta menatap jalanan dengan senyum menyeringai, beruntung karena keadaan sedang mendukungnya, jalanan tampak sepi, dengan kecepatan tinggi dia melajukan motornya. Cinta tersenyum puas karena tak lagi melihat motor Sabda di belakangnya.

"Kubilang juga apa, kenapa kamu masih saja bebal, lihat sendiri akibatnya," kata Cinta sambil tertawa puas.

Tawa itu tak berlangsung lama, kini mata Cinta melotot karena melihat motor Sabda sedang menghadang jalannya. Cinta langsung memberhentikan motornya dengan perlahan, wanita itu masih tak percaya dengan apa yang saat ini dilihatnya. Sesekali Cinta mengucek matanya untuk memastikan bahwa semua yang dia lihat memang benar.

Cinta melihat Sabda tersenyum tipis, Cinta yakin kalau saat ini Sabda sedang menertawakannya.

"K--kau," ucap Cinta terbata.

Sabda turun dari motornya, pria itu berjalan ke arah Cinta.

"Hei, kenapa dari dulu kamu tidak berubah, selalu saja meremehkan orang lain."

Cinta mengerjapkan matanya berkali-kali, baru kali ini dia mendengar suara pria yang ada di hadapannya, karena sedari awal mereka bertemu, Sabda tak pernah berbicara. Bahkan Cinta mengira jika Sabda bisu. Suara Sabda terdengar sangat sejuk ditelinga Cinta. Wanita itu menatap Sabda cukup lama, dan tatapan itu pun dibalas oleh Sabda. Seakan mempunyai sihir, Cinta dibuat terpesona.

"Dan juga, kenapa kalau berkendara harus ngebut-ngebut, kamu nggak takut terluka atau kecelakaan, gitu?" tanya Sabda.

Cinta tersenyum kecut, justru itu yang dia inginkan, mungkin jika dia sudah tak ada di dunia ini lagi, ayahnya akan hidup dengan tenang bersama keluarga barunya.

"Ya bagus dong," jawab Cinta sewot.

Sabda mengerutkan keningnya, pria itu menatap Cinta heran.

"Kenapa berbicara seperti itu? Nggak baik. Sekarang tujuanmu ingin ke mana, biar aku yang antar, ayahmu sudah berpesan padaku agar aku menjagamu dengan baik. Pergi sehat, pulang selamat. Karena mulai saat ini kamu adalah tanggung jawabku. Suka tak suka, itulah kenyataannya," jelas Sabda.

Cinta memberengut kesal, tak suka dengan ucapan Sabda.

"Owh, jadi kamu mata-mata ayahku? Ck! Dibayar berapa sama ayahku sampai-sampai kamu menyetujui permintaannya?" tanya Cinta dengan tangan bersedekap.

"Ini bukan perihal bayaran, Cinta, kamu sekarang adalah tanggung jawabku," jawab Sabda dengan suara tenang.

Cinta tertawa pelan, dia menatap Sabda dengan sinis, rasanya berdebat dengan pria itu tak ada gunanya. Cinta berniat pergi dari situ, akan tetapi kunci motornya dicabut lebih dulu oleh Sabda.

"Hei, kau! Kembalikan kunci motorku, lancang sekali kamu ini!" bentak Cinta.

Sabda mengedikkan bahunya acuh, pria itu langsung memasukkan kunci motor itu disaku celananya.

"Tujuanmu ingin ke mana, ikutlah bersamaku."

Gigi Cinta gemeletuk, wanita itu tampak menghela napas berkali-kali seperti sedang menahan amarah. Masih tak terima dengan perlakuan Sabda yang bertindak sesuka hatinya.

"Oke, kalau itu maumu. Baiklah, bertindaklah sesuka hatimu seperti ayahku memperlakukanku," ujar Cinta pelan.

Sabda ingin menyela, akan tetapi Cinta sudah pergi dari hadapannya. Dengan langkah lebar Sabda menuju motornya.

"Kita akan pergi ke mana?" tanya Sabda antusias.

"Club," jawab Cinta cuek.

Seketika raut wajah Sabda langsung berubah.

***

Bingar musik mengalun begitu keras, membuat Sabda menutupi kedua telinganya. Mungkin, Cinta sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Berbeda dengan Sabda, ini adalah pertama kalinya dia memasuki tempat itu.

"Kalau nggak kuat lebih baik kamu pulang saja," ledek Cinta.

Sabda menggeleng tegas, membuat Cinta mengedikkan bahunya acuh.

"Oke, terserah kamu saja. Aku mau happy-happy dulu sama temanku, semoga betah ya," ucap Cinta, mata wanita itu mengerling nakal.

Wanita itu berbalik, mengacungkan jari tengahnya ke atas, membuat Sabda geleng-geleng kepala sembari mengusap dada.

'Ya Tuhan, inikah Cinta yang dulu aku kenal? Kenapa sangat berbeda,' batin Sabda.

Sabda duduk di balik kerumunan manusia yang sibuk meliukkan tubuhnya, akan tetapi matanya tak pernah lepas untuk melihat Cinta. Pria itu memandang Cinta dengan perasaan tak menentu. Ada rasa sesak dalam dadanya ketika dia melihat Cinta tampak mabuk, seperti tak sadarkan diri. Entah mengapa, perasaannya ikut hancur.

Sabda melihat ada seorang lelaki yang tengah membujuk Cinta untuk meminum air yang Sabda tak tahu itu air apa. Awalnya terlihat biasa saja, tetapi semakin lama tampak mencurigakan.

Cinta sedang tidak baik-baik saja, Sabda pun berdiri dari duduknya, mendekati Cinta yang tengah bersama teman-temannya. Tangan Sabda mencegah Cinta agar tidak kembali meminum minuman itu.

Cinta mendongak, tersenyum manis pada Sabda. Seketika ingatan Sabda terlempar pada masa lalu. Ya, dia sangat ingat siapa pemilik senyuman itu. Cinta tersenyum padanya, membuat hati Sabda terasa menghangat.

"Cinta, kita pulang."

"Apa?! Nggak denger!" teriak Cinta.

Sabda menghela napas. Jelas saja tidak dengar karena di tempat itu tampak riuh.

"Kita pulang," bisik Sabda tepat ditelinga Cinta.

"Woi! Elo ngapain deketin cewek gue, hah!"

Sabda menoleh ke arah sumber suara. Menatap pria yang tak dikenalnya dari atas sampai bawah. Dari cara berpakaian saja sudah bisa ditebak jika pria itu memiliki sifat tempramen.

Sabda tak menjawab, dia segera membopong Cinta yang saat ini sudah tak sadarkan diri.

"Heh! Gue lagi ngomong sama elo! Cewek gue mau dibawa ke mana?!"

Langkah Sabda terhenti. "Siapapun anda, saya tidak ada urusannya dengan anda, saya hanya berurusan dengan Cinta," jawab Sabda tegas.

Pria itu berjalan mendekat, menatap Sabda dengan garang.

"Lo belum tau siapa gue? Oke, kenalan dulu, gue Farel, kekasihnya Cinta, puas lo!" bentak Farel.

Sabda tersenyum kecut. "Hanya kekasih, tidak lebih."

Mata Farel membulat. "Gue kekasihnya, sedangkan elo bukan siapa-siapanya. Biar gue aja yang bawa Cinta pulang!"

Ketika Farel ingin mengambil tubuh Cinta, Sabda langsung mundur beberapa langkah, dia menatap Farel dengan tajam.

"Ya, saya memang bukan kekasihnya. Asal anda tahu bahwa Cinta adalah ... calon istri saya!"

Farel mematung di tempat. Terdiam cukup lama untuk mencerna apa yang diucapkan oleh Sabda. Tak lama kemudian Farel tertawa terbahak-bahak.

"Elo nggak bisa nipu gue," sarkas Farel.

Sabda mengedikkan bahunya. "Mau percaya atau tidak itu bukan urusan saya. Jika anda ragu dengan kata-kata saya, bisa anda tanyakan sendiri pada Cinta besok hari, permisi," pamit Sabda.

Sabda pergi meninggalkan club itu dengan perasaan berkecamuk. Masih tak percaya jika inilah makanan sehari-hari Cinta. Baru satu tempat yang Cinta tuju. Apakah ada hal lain lagi yang lebih mengejutkan Sabda?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Istri Sang CEO (After Married)
8.7
Niat awal Sella untuk mencari pekerjaan berubah drastis saat ia justru terjebak dalam pernikahan kontrak. Dirinya terpaksa menjadi istri pengganti bagi Rishan, seorang CEO yang menikah hanya demi menepati janji pada ibunya. Tanpa ada rasa cinta, hubungan mereka diwarnai ego dan aturan sepihak dari Rishan yang dominan. Di tengah tuntutan aneh sang suami, Sella harus kuat bertahan dan berjuang mengendalikan perasaannya yang kian goyah dalam ikatan pernikahan paksaan ini.
Sampul Novel Kisah Penyesalan Masa Lalu Yang Menusuk
9.7
Dekade pernikahan bersama Pradipa berujung pilu akibat obsesinya pada cinta pertama. Ia bahkan tega menuntut donor darahku demi wanita tersebut. Saat mendekati ajal, tabir masa lalu tersingkap, memperlihatkan kesalahanku yang telah merusak hidup Adam, sosok yang tulus menyayangiku. Beruntung, takdir memberiku kesempatan kedua saat terbangun kembali. Kini, aku bertekad meninggalkan Pradipa dan menebus dosa masa lalu demi kedamaian hidup yang hakiki.
Sampul Novel Light Of Love
8.1
Kayla Pratama tidak punya pilihan selain menjadi istri kedua dari miliarder Raga Dirgantara demi membalas utang budi masa lalunya. Hidup yatim piatu ini kian pelik saat ia menyadari perannya dalam pernikahan tersebut hanyalah untuk memberikan keturunan bagi sang pengusaha sukses. Tanpa status sosial yang jelas, Kayla harus bertahan menghadapi kenyataan pahit bahwa dirinya tidak lebih dari sekadar alat tanpa posisi nyata di mata sang suami.
Sampul Novel Suamiku yang Tergila-gila Pada Asistennya
9.2
Alih-alih menemani mertua saat Festival Perahu Naga, Andy yang menjabat direktur rumah sakit memilih berbohong demi membantu Nikki, asistennya. Sang istri yang mengetahui kebenaran lewat unggahan media sosial langsung memberikan reaksi dingin. Bukannya meminta maaf, Andy justru menuntut istrinya menghapus komentar demi menjaga perasaan Nikki. Muak dengan janji kosong selama tujuh tahun pernikahan, sang istri membulatkan tekad untuk mengakhiri hubungan mereka lewat gugatan cerai.
Sampul Novel TERIMA KASIH TELAH MENCINTAIKU
8.6
Demi balas budi kepada keluarga angkatnya, Sukma yang yatim piatu rela melepas impiannya bersama Ahsan. Ia harus menggantikan posisi Prisilia untuk menikah dengan Raga, seorang duda difabel. Di luar dugaan, ketulusan Raga justru membuat Sukma merasa sangat dicintai dan dihargai. Namun, saat benih kebahagiaan mulai tumbuh di antara mereka, mampukah pernikahan ini bertahan menghadapi badai ujian serta ancaman orang ketiga yang ingin merusak segalanya?
Sampul Novel Terjebak Pernikahan Salah
8.4
Hera Altezza harus menjalani pernikahan paksa tanpa rasa cinta dengan Jayden Xavier. Sikap manis Jayden rupanya cuma kedok demi membalas dendam, sebab ia menuduh Hera merusak hubungannya dengan Elena Darwin. Di tengah siksaan batin akibat dikhianati sang suami, sosok Haidar Pratama datang menawarkan pertolongan. Akan tetapi, bantuan Haidar meminta tebusan besar yang berkaitan erat dengan masa lalu Hera. Kini, ia terjebak di antara kepedihan dan keputusan pelik demi meraih kebebasan.