APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel SABDA CINTA

SABDA CINTA

Kehidupan Cinta berubah drastis setelah keputusan sang ayah untuk menikah lagi. Ia tumbuh menjadi sosok yang dingin, tertutup, dan terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Khawatir dengan kondisi putrinya, sang ayah mencoba berbagai cara untuk menyadarkannya, tetapi selalu gagal. Akhirnya, Sabda, sahabat masa kecil Cinta, dipanggil pulang untuk menolongnya. Akankah kehadiran Sabda mampu menyembuhkan luka hati Cinta dan membimbingnya kembali ke jalan yang benar?
Bab
Bagikan

Bab 3

Cinta masih betah dalam tidurnya. Matanya terasa berat, kepalanya tampak pusing dan rasa kantuknya lebih dominan dibandingkan dengan silaunya matahari yang menembus kelopak matanya.

"Bangun!"

Cinta mendengar suara berat seseorang yang sangat dia kenali, akan tetapi Cinta tak menghiraukan ucapan pria itu.

Wanita itu malah semakin mengeratkan pelukannya pada bantal guling serta menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut.

"Bangun!" sentak Ricko.

Cinta membuka matanya, dengan gerakan lambat, dia bangkit, lalu menguap lebar tanpa memperdulikan dengan siapa dia sedang berhadapan. Perlahan wanita itupun sadar, Cinta menatap ayahnya serta lelaki yang menurut Cinta sangat menyebalkan. Sabda!

Cinta mendesis lirih, sejak kapan ayahnya mau menginjakkan kakinya di kamar Cinta lagi?

Cinta melihat Ricko sedang berkacak pinggang serta menatap dia dengan tajam.

"Jadi begini ya kelakuan kamu setiap hari. Keluyuran nggak jelas, balapan liar, terus tadi malam apa, hah?! Kamu mabuk-mabukan dengan pria sialan itu, beruntung ada Sabda, jika tidak, apa yang akan terjadi padamu. Ck! Cinta ... Cinta ... Harus berapa kali Ayah bilang sama kamu, jangan dekat dengan laki-laki berandalan itu, dia membawa pengaruh buruk untukmu. Tidak bisakah kamu seperti Kezia. Contohlah dia, wanita kalem, lemah lembut, dan yang paling penting dia nggak neko-neko seperti kamu yang sangat urakan!" sarkas Ricko.

"Cukup!" bentak Cinta. Wanita itu menatap ayahnya dengan perasaan terluka. "Sebenarnya anak Ayah itu siapa? Kenapa Ayah selalu membeda-bedakan aku dengan Kezia. Apa Ayah tidak mengerti perasaanku?"

Ricko menghela napas panjang, memijit pelipisnya pelan. "Ayah tidak membandingkan kamu dengan Kezia. Ayah hanya berharap jika kamu seperti Kakakmu, nggak lebih."

Cinta tersenyum kecut.

'Itu sama saja, Ayah,' batin Cinta.

Cinta bangun dari ranjangnya, berjalan menuju kamar mandi, menghiraukan ucapan ayahnya yang selalu membanggakan Kezia. Wanita itu menutup pintu kamar mandi dengan kasar, membuat Ricko maupun Sabda terhenyak.

Sabda memahami bagaimana perasaan Cinta, Sabda yakin jika saat ini Cinta sangat membutuhkan teman yang benar-benar peduli padanya. Pria itu berjanji dalam hati akan membawa Cinta ke jalan yang lebih baik, meskipun susah, Sabda akan tetap berusaha.

"Ck! Dasar anak durhaka, lihatlah tingkahnya. Biar seperti itu dia tak ingin disalahkan, jelas Kezia lebih baik dari pada anak itu," decak Ricko.

Sabda heran dengan ucapan Ricko, kenapa pria paruh baya itu lebih mengutamakan anak tirinya? Bukankah seharusnya Ricko membela Cinta?

"Cinta seperti itu pasti ada alasannya, Om. Aku yakin itu," bela Sabda.

"Apapun masalahnya, anak itu sekarang susah untuk diatur. Pokoknya aku nggak mau tau, kamu atur saja Cinta, kepalaku selalu pusing jika harus berhadapan dengan Cinta, sifatnya sangat jauh berbeda dengan bundanya yang lemah lembut."

Samar-samar Cinta mendengar suara ayahnya, wanita itu menjatuhkan tubuhnya dilantai, hatinya teriris ketika ayahnya mengucapkan bahwa Kezia lebih baik dari Cinta.

Cinta menangis dalam diam, selalu saja begini, sebenarnya apa salah Cinta, sampai-sampai wanita itu dibenci oleh ayahnya sendiri. Dia begini juga karena ayahnya yang tak pernah adil padanya, Ricko selalu mengedepankan istri barunya.

"Bunda, aku ingin ikut denganmu, aku sungguh tidak sanggup dengan perlakuan ayah," lirih Cinta.

***

"Kamu yang namanya Sabda?"

Sabda mendongak, menatap wanita cantik itu dengan mengernyit heran. Pasalnya dia tak kenal dengan wanita yang ada di hadapannya. Selama Sabda berada di rumah ini, dia belum pernah melihat wanita itu.

"Ya," jawab Sabda singkat.

Wanita itu tersenyum lebar, mengulurkan tangan, akan tetapi Sabda tak membalasnya. Akhirnya wanita itupun kembali menurunkan tangannya. Malu, karena Sabda tak merespon.

"Kenalin, aku Kezia."

Sabda hanya manggut-manggut, tak berniat untuk menjawab, pria itu lebih mementingkan ponselnya. Toh wanita itu juga sudah mengetahui namanya. Kezia yang melihatnya pun mendengkus sebal.

Sejak kapan ada pria yang menolak pesonanya? Bahkan selama ini banyak laki-laki yang bertekuk lutut padanya, termasuk kekasih Cinta. Tapi mengapa Sabda berbeda.

"Aku sudah siap!"

Sabda mendongakkan kepalanya, pria itu tersenyum lebar sembari berdiri dari duduknya, semua itu tak luput dari penglihatan Kezia, wanita itu mengepalkan tangannya.

"Yuk," kata pria itu.

"Kamu mau kemana?" tanya Kezia sambil menatap Cinta sinis.

"Bukan urusanmu!" tandas Cinta, wanita itu juga menatap Kezia dengan sengit.

"Ck! Jadi sekarang kamu mempunyai security? Manja banget sih kamu," ejek Kezia.

Cinta tak menjawab ucapan Kezia, jika dia terus meladeni Kezia, yang ada urusannya malah semakin panjang. Karena wanita itu sangat pandai bersilat lidah, dan berakhir Ricko yang menyalahkan Cinta.

Cinta berlalu dari Kezia, pun sama halnya dengan Sabda. Pria itu juga tak betah berlama-lama berhadapan dengan wanita itu, Sabda tak suka melihat cara berpakaian Kezia, menurutnya, Kezia seperti memakai pakaian kurang bahan.

Kezia memperhatikan mereka berdua dengan mata memanas. Dia sungguh tidak terima karena penolakan dari Sabda, dan juga dia tak suka karena ada yang menjaga Cinta. Kezia memang tidak suka dengan Cinta, apapun yang Cinta miliki selalu dia rebut, termasuk kekasihnya, Farel. Saat ini mereka memang tengah menjalin hubungan gelap.

Kezia tersenyum licik, apa yang dia inginkan harus terpenuhi, meski dengan cara kotor sekalipun.

***

"Kenapa kamu tidak melawan?"

Cinta melirik Sabda sekilas, kemudian wanita itu kembali menatap lurus ke depan.

"Kenapa? Berurusan dengannya sama halnya untuk membawaku ke dalam masalah yang sangat besar, dan pastinya ayah akan membela dia," jawab Cinta lirih.

"Sekali-kali memang harus melawan, jika sudah seperti itu dia akan ngelunjak, dan dia sesuka hati mengolok-olok kamu karena melihat ketidakberdayaanmu. Jangan membuat hatimu terus terluka, sekali saja kita egois," ujar Sabda. Nada bicara pria itu terdengar emosi.

Cinta menggeleng. "Bahkan kamu sudah melihat bagaimana reaksi ayahku saat membelanya. Saat ini aku sungguh tidak penting dihati ayah. Mau melawan pun rasanya juga percuma. Entahlah, aku ini dianggap anak atau tidak dengan dia."

Sabda menghela napas panjang, menurutnya, masalah keluarga Cinta sungguh rumit. Kalau seperti ini terus, Cinta pasti merasa tertekan. Pantas saja kehidupan Cinta berubah, semua akar masalahnya terletak pada Ricko yang tidak adil dengan anak-anaknya.

"Apa karena ayahmu, kamu jadi seperti ini?" tanya Sabda pelan.

"Menurutmu?" Cinta balik bertanya.

Tak perlu dijawab pun Sabda sudah tahu, pria itu hanya ingin memastikan saja bahwa dugaannya memang tepat.

"Sampai kapan kamu akan seperti ini? Apakah kamu tidak ingin berubah?" pancing Sabda.

Cinta tak menoleh sedikitpun ke arah Sabda, wanita itu tengah asyik melihat pemandangan di sepanjang jalan melalui kaca. Sabda menggigit bibir bawahnya karena tak mendapat jawaban. Wajar saja, pertanyaan Sabda memang terlalu sensitif.

Sabda pun memutuskan untuk diam, tak ingin mengusik ketenangan Cinta. Namun baru beberapa detik mereka terdiam, Cinta akhirnya kembali bersuara.

"Sampai aku menemukan pasangan yang tepat."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BILANG SAJA KAMU JANDA
8.6
Hati Rania hancur ketika sang suami tega menyuruhnya mengaku sebagai janda hanya demi uang. Di balik penampilan anggunnya, ia harus memendam kepedihan mendalam sekaligus berjuang menghadapi kanker ganas yang menggerogoti tubuhnya. Di tengah kondisi fisik yang terus melemah, Rania pantang menyerah demi kedua buah hatinya. Kisah pilu ini menggambarkan perjuangan seorang ibu untuk bangkit dari pengkhianatan, mengumpulkan sisa kekuatan agar bisa bertahan hidup demi anak-anaknya.
Sampul Novel Dendam Ayahku & Takdir Cinta
9.7
Bagi Liana, cinta hanyalah transaksi fisik sementara demi meraih kemandirian finansial. Namun, hidupnya berubah saat Prabu, putra dari musuh bebuyutannya, bertunangan dengan Kinar. Berniat merusak kebahagiaan mereka sebagai aksi balas dendam, sebuah kekacauan di hari pernikahan justru memaksa Liana mengenakan gaun pengantin. Kini, ia terjebak menjadi istri pengganti dari pria yang sangat ingin ia hancurkan.
Sampul Novel Dosen Duda Anak 1
9.2
Hidup Alva berubah drastis setelah tak sengaja bertemu dengan anak dari dosennya. Hubungan tak terduga yang terjalin di antara mereka perlahan menumbuhkan benih asmara yang sulit ia tepis. Kini, Alva dihadapkan pada kebimbangan batin yang besar. Di tengah rasa ragu yang terus membayangi langkahnya, ia harus segera memutuskan apakah dirinya benar-benar siap menerima kehadiran seorang pria berstatus duda sebagai pasangan hidupnya kelak.
Sampul Novel Menyerah atau bertahan
9.8
Nayla terjebak dalam pernikahan yang menyiksa bersama Beni, suaminya yang kasar dan arogan. Kesedihan Nayla kian mendalam saat sang ibu berpulang tanpa kehadirannya. Di tengah kepedihan itu, Beni malah tega berselingkuh dengan mantan kekasihnya. Kecewa dan terluka, Nayla memutuskan pergi membawa ketiga buah hatinya. Kini ia dihadapkan pada pilihan sulit: membalas semua rasa sakit itu atau bertahan demi masa depan anak-anaknya yang masih butuh figur ayah.
Sampul Novel Pacar Bayaran
9.5
Isack frustrasi akibat restu orang tua yang tak kunjung didapat untuk hubungannya dengan Chana. Setelah lama melajang, sang ayah mendesaknya membawa calon istri ke pesta kantor. Isack pun menawarkan posisi kekasih bayaran kepada Eve demi mengatasi tuntutan itu. Apakah Eve bersedia? Sandiwara ini justru kian rumit saat perasaan cinta yang sesungguhnya mulai tumbuh di antara mereka.
Sampul Novel PERNIKAHAN PENUH KEBENCIAN
8.3
Setelah sepuluh tahun, Rina Wibowo kembali ke kehidupan Aditya Harsono sebagai guru privat anaknya. Perubahan fisik membuat Adit tidak mengenali Rina dan jatuh cinta lagi padanya. Namun, begitu identitas asli Rina terbongkar, cinta Adit berubah menjadi dendam membara. Ia pun menikahi Rina hanya untuk menyiksanya demi membalas luka masa lalu. Di tengah siksaan itu, sanggupkah Adit bertahan dengan kebenciannya saat Rina memilih menyerah dan meminta cerai untuk selamanya?