APKDock Logo
Sampul Novel Menyerah atau bertahan

Menyerah atau bertahan

9.8 / 10.0
Nayla terjebak dalam pernikahan yang menyiksa bersama Beni, suaminya yang kasar dan arogan. Kesedihan Nayla kian mendalam saat sang ibu berpulang tanpa kehadirannya. Di tengah kepedihan itu, Beni malah tega berselingkuh dengan mantan kekasihnya. Kecewa dan terluka, Nayla memutuskan pergi membawa ketiga buah hatinya. Kini ia dihadapkan pada pilihan sulit: membalas semua rasa sakit itu atau bertahan demi masa depan anak-anaknya yang masih butuh figur ayah.

Menyerah atau bertahan Bab 1

Bab 1.

"Kita hendak ke mana Van, kenapa baju Ibu di masukkan semua ke dalam plastik?" tanya Ibu sambil terbata-bata.

"Kita pindah ke kontrakan baru, Bu! Kita sudah di usir dari sini sama menantu Ibu," sahut Ivan.

Sambil terseok-seok Ibuku berjalan di tuntun oleh Ivan. Di luar, sebuah mobil pik-up sudah menunggu untuk membawa Ibu dan barang-barangnya.

"Kau bilang sama suamimu, kalau nanti dia mati, ku ludahi mayatnya. Dasar kalian anak durhaka," bentak adikku.

"Nanti kalau kau berumah tangga pasti merasakan seperti aku ini. Pilih istri atau orangtuamu," ucapku lirih.

Waktu itu hampir Magrib, ketika Ibu dan adikku meninggalkan rumah yang ku tempati ini. Aku terdiam, hatiku terenyuh melihat Ibu sudah duduk di dalam mobil pengangkut barang. Terdengar suara mesin mobil di hidupkan, perlahan mobil itu pun pergi dan menjauh. Aku masuk ke kamar lalu mengunci pintu dan menangis sejadi-jadinya. "Ibuuu ... maafkan akuuu."

🌷🌷🌷

Aku Nayla, seorang ibu rumahtangga beranak tiga. Aku tiga bersaudara, adikku keduanya laki-laki. Otomatis aku anak perempuan satu-satunya harapan Ibu. Tapi aku tak pernah berhasil membahagia kan Ibu. Sejak aku menikah dengan suamiku bernama Beni, Ibu tinggal bersama adikku, dengan mengontrak sebuah rumah kecil. Ivan dan Dery yang bergantian mengurus dan membiayai semua kebutuhan Ibu. Sedangkan aku susah payah menyisihkan sisa uang belanja agar bisa ku tabung. Niatnya untuk meringankan biaya Ibu, biar adikku  bisa menabung untuk masa depannya.

Sudah setahun belakangan ini, Ibuku mulai lemah tubuhnya. Terserang strock ringan. Jalannya pun tertatih-tatih. Matanya mulai rabun efek dari gula darahnya yang tinggi. Kami anaknya sudah berusaha membawanya berobat ke dokter dan meminumkan ramuan yang bisa menetralkan penyakitnya. Karena Ibu mulai sakit-sakitan, ku bujuklah Bang Beni suamiku ini, agar mengizinkan Ibu tinggal bersama kami. Sedangkan adikku tetap tinggal di kontrakkan. Awalnya ia diam saja ku ajak berbicara. Setelah tiga hari menunggu jawabannya, barulah ia mengizinkan Ibu tinggal bersama kami.

Alangkah senangnya hatiku. Sejak menikah, ini yang ku inginkan. Bisa membawa dan mengurus Ibu. Setelah punya anak tiga barulah bisa terwujud. Awalnya semua baik-baik saja. Ibuku merasa senang, rame katanya di rumahku. Bisa lihat aku dan cucunya bermain. 

Biasanya di kontrakkan ia merasa sendiri, sedih tak ada teman ngobrol. Sedangkan adikku bekerja dari pagi hingga malam. Sebulan tinggal bersamaku, kok tubuh Ibu semakin lemah, aku merasa khawatir, apakah Ibu merasa tertekan, atau memikirkan sesuatu. 

Ternyata ia kangen dengan kedua adikku. Tak sanggup bila tak melihat mereka. Setiap sore di tunggunya adikku datang untuk menjenguk. Lalu ku telfon adikku, agar datang ke rumah. Adikku kaget melihat kondisi Ibu yang tambah lemah. Jadi kami anak-anaknya berinisiatif agar besok membawanya ke rumah sakit untuk periksa tensi dan kadar gula darahnya.

🌷🌷🌷 

  Keesokan paginya, adikku Ivan dan Dery datang ke rumah. Kebetulan hari ini mereka libur kerja. Setelah memandikan dan memberi Ibu makan. Ku beritahu ke Ibu kalau ingin membawanya berobat ke rumah sakit, biar sembuh tak lemas seperti ini. Ia pun menyetujuinya. Aku minta izin ke Bang Beni untuk membawa Ibu berobat. Dia diam saja tak menjawab. Aku pun berlalu darihadapannya. Anakku tak ada yang ikut, karena yang sulung sudah bisa menjaga adiknya. Lalu aku memesan taksi online. Kami bertiga pun pergi ke rumah sakit. Di dalam taksi Ibu bertanya.

"Kita hendak ke mana? Pinggang Ibu udah sakit nih, dari tadi tak sampai juga!" tanyanya.

"Bentar lagi sampai Bu, itu belok ke sebelah kanan, sudah nampak dari jauh rumah sakitnya," jawabku menenangkan hatinya.

"Kok tangan Ibu dingin dan gemetar? Ibu tak usah takut, kita cuma periksa saja, bukan di suntik," hiburku 

Ivan pun ikut nyeletuk, "tapi Ibu ingin jalan-jalan lagi. Harus sehatlah jangan lemah seperti ini," ledeknya.

Sesampainya di rumah sakit, adikku meminta kursi roda untuk Ibu. Kemudian memapah Ibu turun dari taksi, lalu mendudukannya di kursi roda. Perawat menyambutnya di depan pintu masuk, lalu membawa Ibu ke ruang UGD. Aku dan adikku pun bingung. Ibuku kan tidak sakit  parah, kenapa di bawa ke ruangan itu. Alasannya wajah Ibu terlihat pucat pasi. Perawat itu khawatir lalu memeriksa tensi Ibu.

"Waduh, tensi Ibu tinggi sekali! seratus delapan puluh per seratus. Tensinya terlalu tinggi untuk orangtua seusia Ibu. Takut pecah pembuluh darahnya, bisa berakibat fatal bagi pasien."  Perawat pun menyarankan agar opname sekarang juga. Kemudian perawat itu memasang selang infus di tangan kiri Ibu.

Kami berdua pun kaget. Tadi sebelum berangkat sehat-sehat saja. Ternyata Ibu baru pertama kali berurusan dengan rumah sakit. Ia merasa cemas dan ketakutan. Dan itu lah penyebab tensinya naik secara tiba-tiba. Akhirnya Ibu pun  harus di opname, bisa pulang kalau tensinya sudah normal. Ivan lah yang menjaganya selama tiga hari.

🌷🌷🌷

  Aku pun pulang sendirian. Sesampainya di rumah, ku beritahu pada Bang Beni kalau Ibu sekarang ada di rumah sakit dan harus di opname. Sungguh jawabannya di luar dugaanku.

"Itu lah sok pandai kalian. Bawa-bawa ke rumah sakit. Siapa yang bayar biaya rumah sakitnya. Nanti kalau mati siapa yang mau mengurusnya," hardiknya sambil menunjuk wajahku.

"Kan Ibu punya kartu jaminan kesehatan dari pemerintah, tak bayar biaya rumah sakit," jelasku.

"Kau tanggung jawabi itu semua, terjadi sesuatu dengan Ibumu, aku tak peduli," makinya dengan suara kasar.

Ya Allah. Ini manusia atau bukan, batinku.

Seperti tak punya hati sama sekali. Ngeri mendengar ucapannya. Aku pun berlalu masuk ke kamar meninggalkan Bang Beni yang masih mengomel. Sungguh sakit sekali hati ini mendengarkan ucapannya. 

Sering timbul penyesalan ku, mengapa dulu tak ku dengar nasihat ibu. Bahwa dia itu bukan lelaki yang baik untukku. Aku malah pergi meninggalkan Ibu. Dan lari bersama lelaki yang sekarang jadi suamiku. Setiap pulang kerja ia mengomel dan memakiku dengan kata-kata kasar. Ibuku yang di opname, kenapa dia yang setres, pikirku. Lagian biaya rumah sakit dan obat semuanya kan gratis.

Sejak Ibu keluar dari rumah sakit, adikku Ivan tinggal bersama kami. Karena Ibu yang meminta. ia lebih dekat dengan Ivan,  sedangkan Dery tinggal sendiri di kontrakan. Lagian anakku pun masih kecil-kecil, masih repot mengurusnya. Biar lah kami  bergantian mengurus Ibu, pikirku kala itu. Setiap malam aku mengantarkan pispot ke kamar Ibu, dan membuatkan teh hangat. Ternyata Bang Beni memperhatikan semua yang ku kerjakan. Tiba-tiba ia berkata.

"Bilang ke adikmu, bayar perbulan kamar yang di pakainya itu! Di sini tak ada yang gratis," ucapnya kasar.

"Gila kau Bang! Itu kan Ibu dan adikku, bukan orang lain. Kenapa harus bayar pula. Lagian kita tinggal di sini pun tak bayar. Hanya menempati rumah pabrik.  Di berikan rumah gratis dan di beri gaji setiap bulannya karena menjaga pabrik ini," jawabku tegas.

"Terserah ... kalau ingin tinggal di sini harus ikut peraturanku. Kalau tak suka silakan pergi dari sini," teriaknya sambil berlalu masuk ke kamar.

Ya Allah cobaan apalagi ini. Tapi aku bingung menyampaikannya ke Ivan. pastilah ia marah dan kecewa terhadapku. Dengan orangtua sendiri pun perhitungan sekali. Pasti seperti itu pikirannya. Dengan berat hati ku sampaikan juga pesan Bang Beni ke Ivan. 

Di sini lah awalnya Ivan marah padaku. Pikirnya aku membela Bang Beni. Apalah dayaku seorang ibu rumah tangga yang tak punya penghasilan. Kalau ku lawan, tak di beri nya uang belanja, lalu anakku hendak makan apa. Begitu Ivan gajian langsung di bayarnya sewa kamar yang di minta Bang Beni. Dengan rasa bersalah, aku pun menerima uang itu. Lalu memberikannya ke Bang Beni.

Bersambung ....

Lanjut Membaca

Daftar Isi Menyerah atau bertahan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Aku Pernah Mencintaimu, Sebatas Itu
8.8
Selama lebih dari dua dekade, Talia Lewis selalu menjadi pusat perhatian dan dimanjakan oleh Tristan Howard. Talia sangat meyakini bahwa masa depan mereka akan diisi dengan pernikahan, kehadiran anak-anak, dan kebahagiaan abadi yang romantis. Namun, keyakinan itu runtuh seketika saat Tristan pulang membawa seorang gadis asing. Kenyataan pahit harus dihadapi Talia ketika pria yang dicintainya itu justru memperkenalkan gadis tersebut sebagai calon kakak iparnya.
Sampul Novel Akupun Menandatangani Namanya
9.1
Setelah dikhianati oleh suaminya, Marvin Kurniawan, dan diracuni hingga tewas oleh putra kandungnya sendiri demi kekuasaan Irma Fasnitan, seorang wanita mendapatkan kesempatan kedua. Terbangun tepat di hari pernikahannya di masa lalu, ia bertekad mengubah nasib tragisnya. Alih-alih menandatangani dokumen pernikahan, ia menuliskan nama Irma, lalu melarikan diri bersama seluruh harta warisan peninggalan orang tuanya demi menyelamatkan diri dan membalas dendam secara elegan.
Sampul Novel Birahi Kadang Tak Ada Logika
9.3
Kisah romansa modern khusus dewasa ini mengupas tuntas dinamika asmara, di mana cinta dan hasrat sering kali melampaui batas nalar manusia. Mengapa fenomena tersebut bisa terjadi? Temukan jawabannya dengan mengikuti narasi ini sampai akhir. Setiap bab menyajikan sudut pandang krusial yang akan memberikan pemahaman baru mengenai logika birahi yang terus berkembang. Jangan lewatkan kelanjutan kisahnya agar Anda mendapatkan pemahaman utuh dan tidak menjadi pembaca yang merugi.
Sampul Novel GAIRAH PEREMPUAN NAGA
8.1
Koh Ho Ming memercayai Diandra, putri piatu dari asisten rumah tangganya, sebagai reinkarnasi Perempuan Naga. Sejak kecil, ia memperlihatkan tanda spiritual kuat selaku titisan Dewi Kesayangan Langit. Diandra pun harus menghadapi rintangan berat serta tragedi hidup demi menggapai keberhasilan. Perjalanan takdirnya yang penuh liku diwarnai oleh kisah cinta yang mendalam serta sisi erotis yang membara.
Sampul Novel Gara-Gara Cinta Satu Malam
8.0
Akibat dikhianati kekasihnya, Ellena Cameron nekat menyerahkan kesuciannya pada pria asing demi membalas dendam pada takdir. Setelah berniat melupakan peristiwa itu, sang pria justru hadir kembali dan mengacaukan hidupnya. Pria itu adalah William Asahavey Hamilton, konglomerat yang jenuh dipaksa menikah oleh kakeknya. Terpikat oleh keberanian Ellena yang unik, gadis mungil itu kini menjadi pusat perhatian William yang biasanya dikelilingi banyak wanita.
Sampul Novel Hasrat Pengantin Remaja
8.6
Kukira pernikahan dini hanya soal menyatukan cinta. Nyatanya, membangun rumah tangga di usia muda jauh lebih rumit dari bayanganku. Kini, aku terjebak dalam badai godaan dan ujian yang menguras mental. Impian memiliki keluarga harmonis terasa mustahil karena banyaknya misteri yang menyelimuti hubungan kami. Di tengah kerapuhan ini, aku harus berjuang mengungkap rahasia besar demi mempertahankan pernikahan kami.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan