APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Saat Istriku Memilih Mati

Saat Istriku Memilih Mati

Kematian mendadak sang istri yang mengakhiri hidupnya sendiri menyisakan kepedihan mendalam bagi suami dan ketiga anak lelaki mereka yang masih kecil. Tanpa peringatan apa pun, rahasia kelam di balik keputusan tragis ini perlahan terkuak. Sang suami, yang awalnya merasa telah membangun keluarga yang ideal, kini harus menghadapi dampak buruk dari perilakunya selama ini. Di bawah tekanan dari pihak mertua, ia kini hanya bisa menyesali kesalahan masa lalu yang mustahil untuk ia ubah kembali.
Bab
Bagikan

Bab 3

Tring!

Suara ponselmu sekali lagi berdering yang menyadarkan lamunanku, kali ini pesan dari Kak Ita, kakak kandungku. Aku menggemeletukkan gigi, apakah kakakku juga sama seperti kedua orang tuaku? Menjadikanmu sapi perah? Jika iya, maka aku tak akan segan-segan membuat perhitungan.

Namun, saat kubuka pesan darinya, netraku semakin basah.

Aku memang sumbu pendek, lebih mudah berpikiran negatif ketimbang positif. Begitu banyak percakapan yang kalian lakukan berdua, aku tak tahu jika selama ini Kak Ita juga memendam lara atas kelakuan orang tua kita berdua.

Bedanya, Kak Ita terjebak di sana. Tak bisa kemana-mana.

[Dek, mengapa kau tinggalkan kakak dek? Kepada siapa lagi Kak Ita cerita jika bukan pada adek? Megaaa... Kasihan anak-anakmu lho dek... Kalau ekonomi kakak baik, pasti mereka bertiga sudah kakak jemput, tapi kau tahu sendiri kondisi kakak di sini sulit, nanti nasib anak-anakmu malah akan menyedihkan seperti anak-anakku.]

Demikian pesan dari Kak Ita sehari setelah kematianmu.

Apa sebenarnya yang disembunyikan oleh mereka berdua sehingga tak mengungkapkannya padaku?

Ada apa dengan kedua orang tuaku sehingga Kak Ita juga menderita?

Saat aku hendak mencari tahu duduk perkara, namun sepertinya percakapan kalian banyak yang terhapus yang membuatku tak bisa mencari lebih jauh.

Kulihat Kak Ita sedang online dan tanpa menunggu waktu segera menghubunginya. Deringan pertama terlewat tanpa diangkat oleh Kak Ita, padahal tadi statusnya online, apakah kakak menghindariku? Aku berhak tahu yang terjadi! Selama ini aku sudah ditinggalkan dalam bayang-bayang, kali ini aku tidak lagi ingin dipermainkan.

Maka kucoba untuk menghubungi lagi, kali ini diangkat oleh Kak Ita.

“Halo, Kak! Assalamu’alaikum...!”

“Oh, Am... Mm, anak-anak bagaimana? Sehat? Maaf kakak tidak bisa melayat, keuangan kakak sedang tidak baik Am, semoga kamu mengerti. Tapi do’a kakak tak putus-putus untuk Mega, anak-anak dan juga kamu.”

“Tidak usah basa-basi kak, aku mau tahu yang sebenarnya terjadi. Sebenarnya ada cerita apa yang Kakak dan istriku sembunyikan?”

“Usah pikirkan Am... Fokuslah membesarkan anak-anak, mereka membutuhkan perhatianmu sepenuhnya setelah kehilangan sosok bunda mereka.”

“Gak bisa! Aku merasa bodoh selama ini, tak tahu apa-apa. Padahal ini menyangkut keluargaku sendiri.”

“Telat Am... Kemana saja kamu selama ini? Mega menanggung semua sendiri.”

“Kakak jangan ikut campur ya. Itu urusanku dengan Mega. Sekarang yang kita bahas adalah Ibu dan Bapak, ada apa dengan mereka? Mengapa mereka bisa merongrong Mega dan juga Kak Ita?!”

“Maaf Am, selama ini Kakak diam karena tak ingin membebanimu seperti yang Mega amanatkan, nantilah kita cerita jika suasananya sudah baikan ya Am. Kak Ita pasti akan membuka semua. Ah! Ada Bapak datang...! Kakak gak bisa ngomong panjang lebar, Assalamau’alaikum.”

Klik.

“Wa’alaikumsalam...”

Sambungan telepon diputus sepihak oleh Kak Ita. Bukan jawab yang kudapat, tapi justru tanda tanya besar di kepala. Sebenarnya ada apa, sih? Mengapa Kak Ita seperti takut terhadap Bapak?!

Dua tahun ke belakang aku memang tak pulang saat lebaran, karena biaya membawa tiga anak menyebrang pulau 2 kali itu sangat mahal. Jadi kami memilih untuk mengirimkan saja uang yang segunanya untuk ongkos. Itupun atas permintaanmu karena tak enak pada ibu.

Terutama saat ibuku cerita jika rumah kami di kampung dijadikan sebagai tempat untuk acara reuni bagi saudara dari pihak ibu dan juga bapak, sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jadi aku mengalah, memendam rindu demi situasi aman tentram.

Jadi, aku tak pernah tahu situasi di kampung halaman. Hanya kamu yang rajin mengabariku sekelebatan tentang kabar ibu dan bapak karena kamu masih rajin berkomunikasi dengan mereka.

Dulu, aku tak pernah sadar bagaimana ibu dan bapak memperlakukanku. Kini, setelah rahasia mereka terkuak baru aku menyadari bahwa mereka rajin menghubungiku hanya saat dekat tanggal gajian saja, dengan mengirimkan daftar kebutuhan rumah tangga yang sudah habis. Aku pun hanya menimpali dengan janji untuk segera mengirimkan jika uang gajiku sudah masuk.

Aku tahu jika kamu tak pernah mengetahui komunikasiku dengan ibu dan bapak karena password ponselku yang tak kamu ketahui.

Sekarang kupikir-pikir lagi, jadi aku berjuang untuk siapa? Siapa yang sebenarnya lebih berhak kupenuhi kebutuhannya lebih dulu? Kamu dulu kunikahi karena cinta, tapi mengapa aku bisa begitu jengkel akan tingkah-tingkah kecilmu saat telah resmi kujadikan istri?

Padahal pengabdianmu padaku selama ini tak pernah kurang.

Kuremas rambutku kasar, pening rasanya kepala mengolah informasi-informasi baru yang kuterima.

“Ayaaah... Adek Ali pup Yah... Maaf mas Azka belum berani bersihin, takut gak benar caranya...” Lapor Azka padaku dengan tampang takut-takut.

Aku merasa tertampar, mengapa ia berkata demikian? Itukan memang bukan tanggungjawabnya?

“Iya, nanti Ayah yang bersihin ya mas. Tunggu pusing Ayah reda sebentar.”

“Ayah... Ayah jangan sakit, jangan pergi ninggalin kita yaaa... Azka janji jadi mas yang baik untuk adik-adik dan bantu ayah menjaga mereka. Tapi ayah jangan pergi juga seperti bundaaa... Huwaaa...”

Tangis Azka, sulungku berderai, ia yang hatinya begitu lembut kini patah. Kurangkul ia cepat, mengusap-usap kepalanya. Hal yang tak pernah kulakukan dulu, dan ajaibnya justru sakit kepalaku kini yang hilang berganti dengan perih mengetahui rasa kehilangannya.

Lelaki sekecil ini sudah kehilangan sosok bunda, aku tak bisa bayangkan bagaimana perasaannya.

“Cup. Cup. Cup. Ayah gak papa mas, baik-baik saja. Mas sudah hebat, sudah bisa menjaga adik-adik, ayah sangat bangga sama mas, bunda pasti juga bangga. Kalau Azka bersedih, nanti bunda juga nangis di sana. Kita sama-sama ikhlas ya mas?”

Ia mengangguk patuh dan mengusap air matanya yang berlinang, kini tangisnya memang sudah reda. Tapi anakan sungai di pipinya tak jua surut. Aku ingat, setelah dua minggu kepergianmu, baru kali ini ia menangis lagi.

“Mas kangen bunda...” lirihnya berucap.

Duh, rasa sakit yang mengiris sembilu, lebih-lebih saat Rayi juga mengekor di belakangnya dan mengucapkan hal yang sama.

“Rayi juga kangen bunda...”

Adinda, lihatlah aku yang sejak kepergianmu berubah menjadi laki-laki cengeng yang gampang mengeluarkan air mata. Serapuh itu aku tanpamu, adinda. Tak kuasa aku mempraktekkan teori parenting yang menyarankan agar orang tua harus menjadi kastil kokoh untuk anak-anaknya.

Susah sekali mengontrol emosiku.

Padahal dulu, aku paling jengkel melihat air matamu, yang kehabisan kata-kata tiap kali aku mengabari hendak ngopi di tetangga.

Kamu melihatku yang berlalu dengan entengnya, tak melihat keadaanmu yang berdiri sambil menyusui Ali yang masih bayi, sembari ditariki oleh Rayi yang meminta perhatianmu. Pun juga teriakan Azka dari kamar mandi yang minta diceboki.

Dzalim, sungguh sangat dzalim memang suamimu ini, adinda...

Jika bisa kuputar waktu, aku ingin kembali tepat di hari pernikahan kita. Memperbaiki waktu demi waktu yang telah kubuang percuma tanpa memperhatikanmu.

Drrrt... Drrrt...

Mode getar di ponselku mengakhiri isak tangis mengharu biru antara aku, Azka dan Rayi.

Kulihat nama yang memanggil.

Deg!

Bapak mertua.

Beliau tak datang saat penguburanmu karena tak kuasa menanggung malu ditinggalkan oleh anak mereka dengan cara yang tragis. Kini, ada apa gerangan beliau menghubungiku?

“Assalamu’alaikum, Pak...”

“Wa’alaikumsalam. Amri, besok datang ke rumah. Bapak mau bicara.”

Klik.

Sambungan telepon diputus.

Singkat saja. Tapi mampu membuatku merasa bersalah dari nada bicaranya.

Pasrah, karena aku memang salah. Besok aku akan memenuhi permintaan beliau sembari membawa anak-anak. Semoga dengan hadirnya anak-anak mampu meluluhkan amarah beliau padaku.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Budak ranjang tuan muda
8.2
Renata, seorang mahasiswi pertanian, dikhianati oleh kekasihnya sendiri, Rian, yang tega menjualnya kepada pemuda kaya raya bernama Albert demi kepentingan bisnis. Setiap hari, Renata terpaksa menuruti nafsu Albert, bahkan di saat pria itu sedang diselimuti kemarahan. Namun, seiring berjalannya waktu, kebencian di antara mereka perlahan berubah menjadi cinta. Albert pun bertekad menjadikan Renata sebagai istri, meski harus menentang restu orang tua dan membatalkan pertunangannya.
Sampul Novel Drive Back To December
8.4
Tiga tahun bercerai, Gayatri Rumi Rahardjo tak menduga akan menikah lagi dengan William Alansyah. Demi rasa hormat pada mantan ibu mertuanya, ia bersedia membangun kembali rumah tangga bersama mantan suaminya tersebut. Namun, pernikahan kedua mereka langsung diuji oleh tuntutan memiliki anak. Di tengah situasi sulit ini, Gayatri mulai mengendus sebuah rahasia besar yang ditutupi oleh William. Akankah kebenaran pahit itu mendorong mereka ke jurang perceraian untuk kedua kalinya?
Sampul Novel Hati Tak Terucap: Istri yang Bisu dan Terabaikan
9.4
Lima tahun Kelly bertahan dalam siksaan mertua dan sikap dingin suaminya sebagai istri bisu. Usai perceraian mereka diresmikan, sang mantan suami justru langsung bertunangan dengan perempuan idaman lain. Kelly yang tengah mengandung memutuskan pergi jauh dan melupakan pria tersebut. Ketika sang mantan datang memohon untuk rujuk, Kelly yang telah menata hidup baru dengan bahagia langsung menolaknya. Ia menutup rapat pintu hatinya bagi pria yang dulu mencampakkannya.
Sampul Novel Jangan Jatuh Cinta, Ini Hanya Kontrak
7.9
Arga Satria Wicaksana terpaksa mencari istri sewaan demi menutupi kelemahan rahasianya. Namun, pernikahan kontrak ini justru membawa keajaiban yang tak terduga. Kehadiran wanita sewaan tersebut perlahan menyembuhkan penyakit kronis yang diderita Arga selama bertahun-tahun. Hubungan formal yang awalnya murni demi bisnis ini kini menjadi satu-satunya kunci kesembuhan Arga, sesuatu yang mustahil ia dapatkan dari pengobatan medis mana pun.
Sampul Novel  Kerudung Pembalasan
8.1
Kehidupan Ana hancur seketika setelah menyaksikan perselingkuhan Javier dengan sahabat dekatnya sendiri. Pengkhianatan kejam itu menghancurkan seluruh rencana masa depan mereka. Namun, di tengah rasa sakit, Ana menolak terpuruk. Ia bangkit dari kepalsuan tersebut demi menata ulang hidup dan jati dirinya. Saat Javier datang memohon dimaafkan, Ana menyadari bahwa harga diri dan mencintai diri sendiri adalah segalanya. Mampukah ia merelakan masa lalu demi menyambut cinta baru yang jauh lebih tulus?
Sampul Novel Pelabuhan Terakhir
9.5
Caca, seorang yatim piatu yang terasing di kediaman pamannya, harus menghadapi kenyataan pahit ketika lamaran Awan ditolak calon ibu mertua akibat perbedaan status sosial. Setelah neneknya wafat, ia memutuskan pergi ke pesantren di Purwokerto demi menunaikan wasiat sang ibu. Di lingkungan baru ini, Caca yang tomboy dan ceria dapat mengekspresikan dirinya secara bebas. Namun, pertemuannya dengan seorang rival justru menjeratnya dalam pusaran konflik asmara yang rumit dan penuh emosi.