APKDock Logo
Sampul Novel Saat Istriku Memilih Mati

Saat Istriku Memilih Mati

8.0 / 10.0
Kematian mendadak sang istri yang mengakhiri hidupnya sendiri menyisakan kepedihan mendalam bagi suami dan ketiga anak lelaki mereka yang masih kecil. Tanpa peringatan apa pun, rahasia kelam di balik keputusan tragis ini perlahan terkuak. Sang suami, yang awalnya merasa telah membangun keluarga yang ideal, kini harus menghadapi dampak buruk dari perilakunya selama ini. Di bawah tekanan dari pihak mertua, ia kini hanya bisa menyesali kesalahan masa lalu yang mustahil untuk ia ubah kembali.

Saat Istriku Memilih Mati Bab 1

Jasad istriku diturunkan dalam liang lahat, tangan ini terulur hendak menyambutnya. Sama seperti saat aku menyambutnya dengan senyum terkembang kala meminta kesediaannya untuk menikah denganku dulu. Waktu itu, aku menjanjikannya dunia beserta isinya, yang tak pernah kupenuhi.

Berjanji saat hati bahagia itu memang paling mudah.

Hanya kali ini, aku menyambutnya di bawah dengan berusaha tegar walau tanganku gemetar tak karuan. Dengan hembusan napas panjang dan hati getir meletakkannya dalam ceruk dan memiringkan tubuhnya ke arah kiblat.

Aku masih kuat.

Dibantu orang-orang lain aku mengubur tubuh istriku dengan gundukan tanah, hati-hati sekali takut menyakitinya. Takut menyakitinya? Mengapa baru sekarang aku memikirkannya? Selama ini aku lupa bertanya bagaimana keadaannya.

10 tahun lalu, diserahkannya padaku tanggungjawab atas istriku dari ayahnya saat aku berjanji di depan penghulu, tapi rupanya aku bukanlah lelaki atas sumpahku. Setelah ia dalam genggaman, tak lagi aku merepotkan diri memberikannya perhatian.

Tak pernah sekalipun bertanya kabarnya, bahkan enggan tiap membaca pesan darinya yang bertanya keberadaanku dan kapan aku pulang. Lebih-lebih harus mendengarkan cerita hari-harinya, setiap kali ia hendak bercerita aku mengabaikannya dan memilih nongkrong dengan teman-temanku saja.

Paling dia hanya akan mengeluh soal kerjaan rutinnya sebagai ibu rumah tangga dan menjaga anak-anak kami bertiga, lagu lama kaset rusak, aku bosan. Dia wanita yang kunikahi karena kepintarannya dulu, kini isi obrolan kami bukanlah lagi tentang ilmu terbaru tapi cerita sehari-hari yang tak memiliki bobot.

Dia pikir kerja di luar tak capek, bertemu dengan banyak rekan kerja dengan karakternya masing-masing yang bikin pusing kepala. Aku pulang mau istirahat, bukan mendengarkan masalah orang lain lagi.

Sehingga, jika kulihat ia mendekat hendak mulai mengeluh, maka aku memotongnya duluan dengan keluar ngopi ke rumah tetangga agar pikiranku rileks. Waktu itu aku merasa, rumah bukanlah rumah, tapi bara api, selalu panas. Belum lagi teriakan anak-anakku yang bersahutan tak henti-henti, telingaku penging dan memunculkan emosi.

Sengaja aku pulang tengah malam, saat mereka semua sudah tertidur, dengan demikian aku juga bisa langsung istirahat setibanya di rumah. Sebal sekali, padahal besok pagi harus mulai kerja lagi.

Tentang Ali, anak bungsu yang kehadirannya karena kesalahanku yang tak sempat memutus pers*ngg*maan kami saat aku mencapi klimaks, namun aku berdalih bahwa Ali adalah permintaanmu dulu saat kita masih sama-sama kuliah.

Aku masih ingat betul sorot mata tak terimamu waktu itu dan berkata.

“Itukan dulu waktu aku belum tahu repotnya menjaga anak kecil-kecil di waktu yang bersamaan! Bahkan Rayi masih kecil 15 bulan, dan Azka baru 4 tahun, bagaimana jika nanti aku hamil lagi? Sedang kau tak pernah di rumah membantuku merawat anak-anak?”

“Kalau hamil lagi ya rejeki, alhamdulillah.” Dalihku enteng sambil tersenyum padanya.

“Enteng banget ya Yah ngomongnya, kamu gak pernah tahu stressnya. Mengurus satu bayi saja sudah berat, ditambah lagi harus mengurusi kakak-kakaknya yang masih balita. Mereka juga butuh perhatian, tanganku cuma dua lho.”

“Bunda, semua itu akan terasa ringan jika kita melakukannya dengan ikhlas, apa yang bunda lakukan itu tak tampak nilainya, tapi disitulah letak ujiannya. Kalau bunda bisa ikhlas menjalaninya, balasannya surga.”

Aku tak lagi mendengar sanggahanmu waktu itu, saat kulirik mulutmu menganga kehabisan kata-kata. Dan itulah memang tujuanku, yaitu diammu.

Aku ingat, kau masih menyusui Rayi setelah hasil test pack mu menunjukkan garis dua. Juga rutin mengayuh sepeda untuk Azka, sulung kita yang baru masuk TK A karena kamu tak pandai membawa motor.

Hingga 5 bulan lamanya kau tetap memberikan hak ASI untuk anak kita yang kedua yang masih balita sembari menyicil tanah di kampung kelahiranku waktu itu, itupun karena inisiatif darimu.

Padahal aku merasa waktu itu masih belum siap untuk memiliki hutang, tapi kamu cerita jika ibuku bertanya kemana saja hasil kerjaku selama ini, maka demi memenuhi harapan orang tuaku kita menyicil tanah waktu itu.

Gajiku sangat mepet untuk hidup kita di kota penyangga Jakarta waktu itu, sehingga kamu berinisiatif untuk berjualan donat frozen ataupun yang siap santap untuk menambal sulam kebutuhan yang kurang.

Aku senang waktu itu, melihatmu keluar dari zona nyaman. Padahal kau melakukannya sembari mengurus rumah, Azka, Rayi dan juga jabang bayi dalam tubuhmu. Bergadang hingga tengah malam mengulen donat.

Tugasku adalah mencarikan pelanggan dari teman-temanku karena donat buatanmu memang enak, aku tak ingat bahwa tubuhmu entah bagaimana keadaannya waktu itu. Karena aku tidur sepanjang malam, tak pernah mengerti ceritamu yang mengeluh ingin rebahan tapi sudah disambut oleh tangisan Rayi 2 jam sekali setiap malam.

Aku ingat lagi, pernah kesal padamu yang masih tidur di pagi hari saat aku hendak berangkat kerja. Tak paham keluhanmu yang bilang habis begadang semalaman mengurus Azka yang demam dan Rayi yang bolak balik meminta asi.

Lebay sekali! Ngurus dua anak saja sudah seperti repotnya dokter memimpin operasi. Suami mau berangkat kerja malah tidur enak-enakan bukannya nyiapin bekal dan sarapan!

***

Lihatlah rapuhnya aku kini, saat ketiga anak kita yang masih sangat membutuhkan sosok bundanya menangis memegangi kedua tanganku sembari menatap gundukan tanah merahmu. Belum apa-apa batinku sudah lelah luar biasa.

Sesampainya di rumah, melihat dastermu tergantung di kastok membuatku tersedu sedan. Tumpah sudah semua tangisan, penyesalan, dan juga kekecewaan dari dalam diriku untukku sendiri. Kukunci pintu dan memeluk erat baju rumahmu yang dulu pernah kuprotes itu karena membuatmu tampak jelek dan tak memantik gairahku.

Wangi tubuhmu masih menempel di sana, bagaimana bisa wangi yang dulu menyebalkan ini kini membuatku candu? Kapan lagi aku dapat mengirup wangi tubuhmu secara langsung adinda? Mengapa kita tak lagi menyelesaikan semuanya dengan berbicara? Mengapa engkau memilih jalan pintas itu untuk pergi?

Bisa protes apalagi aku, karena terjawab jua mengapa kau memilih mengakhirinya. Dua hari lalu kau minta bicara, tapi lagi -lagi aku mengabaikannya karena janji futsalan dengan teman kantor.

Kau pintar, bicara denganmu adalah penghakiman atas tindakan-tindakanku yang salah. Bukan diskusi terbuka yang sehat antar dua insan manusia yang dewasa. Siapa juga yang mau disalah-salahi? Walaupun tindakanku memang salah.

Tapi kan aku imamnya? Terserah aku dong mau berbuat apa?

***

“Ayaaah... Buka pintunya... Kami lapeeer...” Rengekan Azka, diiringi tangisan Rayi dan juga si bungsu Ali.

Ah, tak bisakah mereka memberikanku waktu untuk sekedar berkabung sedih? Aku baru saja kehilangan istri, masih harus memikirkan kebutuhan mereka.

Seketika aku teringat, beginikah yang dirasakan istriku saat itu? Saat ia mengingatkan tangannya yang hanya dua? Saat ia stress ketika ketiganya membutuhkannya di waktu yang bersamaan?

Aku ingat, mereka belum makan dari kemarin, panggilan perut mereka saat ini adalah suatu kewajaran. Duh, susah sekali harus menekan emosi saat pikiran penuh oleh banyak hal lain.

Tak urung, kuseka juga airmata dan mengelus kepala mereka bertiga. Menuju dapur dan membuka kulkas untuk melihat bahan makanan yang tersedia. Saat membukanya, aku jatuh terduduk.

Kutemukan suratmu di sana.

-Untuk Suamiku.-

Begitu tulisan yang tertera di amplopmu, membuatku membukanya dengan tergesa-gesa, akhirnya aku mengetahui alasan kepergianmu, dengan demikian aku mendapat “penutupan” atas kalimat tanya besar dalam kepalaku 2 hari ini.

Jika kau membaca surat ini, artinya kau sudah lulus tahapan pertama menjadi seorang bapak, yang alpa kau lakukan 9 tahun ini.

Karena kau sudah lulus tahapan pertama, artinya tahapan selanjutnya pasti akan lebih mudah kau lalui. Berikut kujabarkan kebiasaan anak-anak kita, anggap ini kisi-kisimu melewati ujian hidup kedepan saat membersamai mereka.

Mereka makan dua kali sehari, makanan mereka tak susah-susah amat. Aku sudah tinggalkan beberapa sayuran lengkap dengan bumbunya agar kau tak kerepotan di 5 hari pertama, ingat-ingat resep dan takarannya ya! Karena setelah 5 hari tidak akan ada tutorial lagi.

Maaf ya,

Karena akhirnya aku memutuskan egois untuk mengambil cuti panjang yang tak pernah kau berikan.

Aku melirik beberapa plastik berisi sayuran yang sudah disiangi dan juga bumbu yang sudah dikupas beserta catatan kecil cara memasaknya. Tulisan tanganmu yang kembali membuat leleh airmataku.

Aku tak bisa bayangkan bagaimana kondisi mentalmu saat mempersiapkan semua ini. Apakah di sana lebih baik dibanding hidup denganku, adinda? Kau masih memikirkan kebutuhanku dan juga anak-anak kita bahkan saat hatimu kalut.

Ada ayam dan tempe ungkep juga kesukaan anak-anak. Telur dan juga nugget sebagai selingan hanya agar mereka mau makan. Maaf anak-anakmu makannya tak variatif dan mereka terbiasa dengan itu, tanganku cuma dua, Yah.

Azka gampang mimisan jika terlalu banyak pikiran dan istirahatnya kurang, pastikan dia cukup istirahat ya jika tak ingin kerepotan mengurus anak sakit. Jika musim berganti, pastikan mereka minum vitamin bintang-bintang yang mereka sukai itu.

Kaki Rayi gampang linu jika kelelahan, jika tak ingin bergadang mijetin semalaman, pastikan mengoleskan balsam di kedua kakinya jika sebelum tidur dia sudah tampak gelisah sembari menekuk kaki.

Ali belum bisa berbicara, tapi bahkan kakak-kakaknya yang belum remaja itu sendiri paham yang dia minta. Cobalah memahaminya dengan hati, bukan logika seperti yang biasanya kau lakukan dan berakhir memarahinya karena kau tak paham ia minta apa.

Mereka butuh dipahami olehmu yang dewasa, bukan justru belajar memahamimu. Jadi, seperti yang sering kau katakan dengan enteng saat aku sudah cerewet.

Sabarlah...

Begitu akhir dari suratmu yang kubolak balik karena tak percaya percakapan kita yang akhirnya baru kudengar (baca) ini berakhir begitu saja. Tapi tak ada. Tulisanmu hanya sampai situ saja.

“Ada lauk apa, Yah?” Azka menyapa dari balik bahuku ikut melongok isi dalam kulkas.

“Mm... Azka mau makan apa?”

“Ayam goreng aja, Yah.” Tatapan Azka tertuju pada kotak berisi potongan-potongan ayam yang sudah diungkep dan siap digoreng.

“Oke, Azka panggil adek-adek tunggu di meja makan ya?” titahku yang dijawabnya dengan anggukan kepala.

Wangi ayam saat digoreng memenuhi ruangan saat baru masuk di wajan yang panas.

“Horeee... Ayam goreng ya Bunda?” Rayi berlari menyusul ke dapur dan tercekat saat bukan orang yang dirindukan yang berdiri menunggu ayam matang. Ia berbalik menunduk lesu ke arah meja makan dan duduk menekuk kaki.

Bagaimana ini, aku tak memikirkan rasa kehilangan mereka dan sibuk berkubang dengan kesedihanku sendiri. Saat ayam itu sudah matang, aku menyiapkan makanan mereka.

Azka menatap ayam yang kugoreng dengan masygul, begitu juga Rayi.

“Ada apa, mas Azka? Rayi? Ayo makan, keburu dingin entar.”

“Azka biasanya di gorengkan paha sama bunda... Karena Azka gak pandai makan daging dada dan bagian yang banyak tulangnya.”

“Iya, Rayi juga sama Yah. Adek Ali juga, suka yang banyak kulitnya soalnya rasanya lebih enak.”

“Oh, ya sudah Ayah gorengkan lagi kalau begitu.”

“Gorengnya jangan terlalu kering ya Yah biar gak keras.”

Tak lupa Azka menambahkan instruksi. Baru kali ini aku tahu jika selera mereka berbanding terbalik denganku. Aku ingat, saat makan bersama waktu kuliah dulu kamu juga suka makan dada ayam sepertiku dengan alasan dagingnya bisa dapat lebih banyak.

Aku gak pernah ingat sejak kapan kamu beralih lebih menyukai bagian ceker, kepala dan leher.

Setelah kamu tiada kini baru aku tahu alasannya. Karena bagian-bagian terbaik telah kau berikan pada kami.

Sesak rasanya hati ini, apalagi mengingat sindiranku padamu yang sedang menggerogoti selipan daging di leher ayam.

“Meooong...” Demikian sindirku yang menerbitkan senyummu, aku benar-benar tak peka.

“Adinda, jangan ngadu sama Allah ya tentang kedzalimanku yang tak memperhatikanmu?”

Lanjut Membaca

Daftar Isi Saat Istriku Memilih Mati

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Cinta Dalam Hati
8.4
Tania, pengacara pemberani yang mempertaruhkan hidupnya demi keadilan, kerap berseteru dengan rival masa kecilnya yang dingin, Yudi. Walau menolak perjodohan, takdir mengikat mereka dalam pertunangan rahasia rancangan orang tua. Di tengah perselisihan benci dan cinta, bahaya besar mengintai saat Tania nekat melawan Wijaya, konglomerat kejam dalang perdagangan manusia. Akankah benih cinta akhirnya tumbuh di antara mereka?
Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Cinta tulusku pada Bima Wijoyo berakhir tragis saat ia membiarkanku terpanggang di studio seni yang terbakar demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Namun, takdir memberiku kesempatan kedua. Aku terbangun di masa lalu, tepat sebelum rapat dewan keluarga berlangsung. Dengan memori kelam tentang kobaran api dan pengkhianatan mereka, kini aku berdiri kokoh untuk membatalkan pertunangan kami. Aku bersumpah tidak akan membiarkan diriku hancur untuk kedua kalinya.
Sampul Novel Dewa Itu Adalah Patungku
8.6
Melinda kecil membawa pulang patung beruang yang ia temukan di jalan tanpa tahu rahasia di baliknya. Benda mati itu sebenarnya adalah wujud lain dari seorang pria muda yang sangat kuat. Melinda terus merawatnya dengan tulus hingga ia tumbuh dewasa menjadi wanita yang menawan. Keadaan mulai berubah saat ketegangan melanda hubungan mereka yang tidak biasa ini. Akankah kisah cinta unik antara manusia biasa dan sang dewa dapat bersatu dalam kebahagiaan?
Sampul Novel En-PD154
9.0
Kemenangan sepuluh kali berturut-turut di arena justru berujung pengkhianatan dari Roderick. Sang tunangan tega bermesraan dengan cinta pertamanya, bahkan membiarkan wanita itu menghinaku sebagai sosok kasar tak berkelas. Kelembutan Roderick sirna seketika demi menyatakan cinta pada wanita lain di depanku. Kecewa, aku langsung menghubungi ayahku, sang bos mafia besar. Kupastikan pernikahan kami batal karena aku akan mencari pria lain yang jauh lebih layak.
Sampul Novel I Fall Endlessly
8.1
Kasih sayang mendalam sebagai ibu memaksa Neva Zetrix mengesampingkan harga dirinya demi melindungi sang anak yang tak berdosa. Setiap hari, ia harus tunduk dan bersikap rendah hati di hadapan Brian Anderson yang sangat dominan. Neva terpaksa bertahan hidup di tengah tekanan batin yang begitu menyiksa. Hubungan yang penuh ketimpangan ini menuntut pengorbanan luar biasa dari Neva, yang rela melakukan apa saja demi keselamatan buah hatinya tercinta.
Sampul Novel KARENA MANTANMU, KUNIKAHI ADIKMU
8.6
Randika mengurus ekspansi bisnis keluarga Baskoro di Bali bersama mentornya, Charli. Di sana, ia terpikat oleh kemandirian Andini Wijaya, seorang pemilik sekolah. Namun, hubungan mereka menghadapi ujian berat saat mantan kekasih Andini, Junot, tiba-tiba muncul kembali. Masalah kian rumit karena Lily, adik Andini, bertekad merebut Randika demi membuktikan diri kepada ayah mereka, Sigit Wijaya. Akankah cinta Randika dan Andini bertahan di tengah bayang masa lalu dan ambisi keluarga?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan