
Saat Hati Menyesal
Bab 4
Richard diam-diam menghela napas lega, lalu mulai mencoba menjelaskan,
“Jangan marah, aku benaran nggak tahu kalau Tira meninggalkan branya di sana. Aku tidur di ruang tamu semalam, kalau nggak percaya, kamu bisa cek CCTV.”
Aku menutup koperku dan menjawab, “Aku percaya.”
Sikapku yang terlalu tenang membuat alis Richard mengernyit. Dia pun melembutkan nada bicaranya, “Sayang, jangan marah. Percayalah padaku, aku dan dia benaran nggak ada apa-apa.”
“Kalau nggak percaya, aku bisa telepon dia sekarang.”
Entah apa yang dikatakan orang tuanya padanya, Richard benar-benar mengeluarkan ponselnya dan menelepon.
“Tira, apa maksudmu? Kenapa sengaja tinggalkan bra di rumahku? Mau buat istriku salah paham?”
Aku menatapnya dan sungguh ingin bilang, aktingmu jelek sekali.
Aku hanya tersenyum dan tak berkata apapun.
Kalau dia mau akting, biarkan sajalah. Bagaimanapun, besok kami sudah tidak ada hubungan lagi.
Richard juga tersenyum, lalu memelukku seperti masa-masa kami masih pacaran. Dia pun menghiburku, “Asal kamu nggak marah, aku bakal menuruti semua kata-katamu. Aku janji nggak akan bertemu Tira lagi.”
Senyumannya menusuk pandanganku, aku pun sengaja memalingkan wajah.
Semuanya sudah berubah. Richard yang dulu mencintaiku sepenuh hati, entah sejak kapan telah berubah.
“Nanti malam aku ajak kamu makan di restoran kesukaanmu. Aku juga punya hadiah untukmu.”
Aku bakal pergi besok. Biar tak menimbulkan masalah lain, aku pun hanya mengangguk.
Malamnya, aku menatap meja penuh makanan, tapi rasanya sama sekali tak berselera.
Aku tidak suka makanan pedas, tapi demi menyesuaikan selera Richard, aku selalu masak dengan banyak cabai.
“Sayang, ayo makan. Ini semua makanan kesukaanmu. Aku tahu kamu nggak bisa hidup tanpa yang pedas.”
“Oh iya, sayang, aku sudah belikan reksa dana untuk putri kita, buat dia sampai umur 18 tahun. Aku juga sudah siapkan banyak baju bayi. Aku benar-benar penasaran, bakal mirip siapa ya dia.”
Aku menunduk pelan dan menjawab, “Nggak lama lagi.”
Tiba-tiba, ponsel Richard berdering. Dia melihat sebentar dan menolak panggilan itu.
Namun, panggilan itu terus masuk berkali-kali.
Richard menatapku sejenak, lalu mengangkat telepon itu.
Usai dia bicara telepon, aku menatapnya datar, “Tira?”
Richard buru-buru menjelaskan,
“Dia diikuti mantan suaminya. Kamu juga tahu mantannya itu kasar, dulu kalah di pengadilan, jadi dendam sama dia. Aku takut terjadi apa-apa….”
Usai dia bicara, aku pun mengangguk pengertian, “Pergi saja.”
Richard menatapku penuh rasa terima kasih, lalu segera pergi.
Aku memesan semangkuk bubur lagi, sementara hidangan di meja tak kusentuh sama sekali.
Sesampainya di rumah, aku pun tidur nyenyak sampai pagi.
Sebelum pergi, aku meletakkan hasil keguguran dan Salinan USG janin di atas meja makan, bersama selembar surat kecil.
Anda Mungkin Juga Suka





