
Saat Hati Menyesal
Bab 2
Tubuhku masih terasa lemas, aku tertidur dengan kepala berat hingga tengah malam.
Sampai akhirnya, Richard pulang dan menyalakan lampu kamar.
Wajahnya tampak kesal, “Ella, kok kamu memblokirku?”
Melihat aku tak menjawab, dia malah mendekat dan dengan kasar menyelipkan tangan dinginnya ke dalam baju tidurku, menempel di perutku.
Tubuhku yang sudah tidak enak malah jadi semakin tersiksa.
Richard menarik tangannya kembali, lalu melanjutkan, “Ini akibatnya kamu suka ngambek. Sudah kubilang, aku dan dia hanya hubungan pengacara dan klien. Aku membantunya hanya karena kasihan saja.”
Perutku makin nyeri, benar-benar tak punya tenaga untuk berdebat dengannya.
Richard menghela napas, “Sudahlah, jangan marah lagi. Aku salah soal kemarin, aku bakal berubah ke depannya, ya?”
Ucapan basa-basinya itu sudah terlalu sering kudengar. Tapi nyatanya, hanya aku yang selalu menganggap semuanya serius.
Memikirkan semua itu membuat hatiku terasa getir.
Melihat wajahku yang pucat, Richard langsung menawarkan diri untuk membuatkan air gula merah.
“Kamu lagi datang bulan? Kamu itu nggak pernah jaga kesehatan. Kubuatkan air gula merah, ya. Aku begitu baik padamu, tapi kamu malah selalu membuatku kesal saja.”
Perhatian Richard itu membuatku tertegun sejenak. Perempuan yang sedang hamil tak akan datang bulan. Ternyata Richard memang tak pernah benar-benar peduli padaku.
Saat sibuk di dapur, dia lupa membawa ponselnya.
Layar ponselnya menyala, ada pesan dari seseorang bernama ‘Tira Si Menyebalkan’.
Aku mengalihkan pandangan, lalu meraih tangan untuk mengambil air hangat di atas nakas.
Entah sejak kapan Richard kembali, tapi dia bergerak cepat dan langsung mengambil ponselnya.
Dia tak sengaja menyenggol gelasku, air panas tumpah ke punggung tanganku. Seketika, tanganku langsung memerah karena panas.
“Kamu ini maunya apa sih?! Sudah kubilang, aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Tira, kok kamu malah diam-diam mengintip ponselku pas aku nggak ada. Bisa nggak sih kamu jangan begitu sensitif?!”
Aku menatap sorot mata paniknya, lalu menjawab datar,
“Aku hanya mau minum air.”
Sikapku membuat Richard sedikit tercengang, sepertinya dia sadar kalau reaksinya tadi terlalu berlebihan. Dia pun berkata, “Masih nggak mengaku. Tanganmu kena air panas, ‘kan? Sini, biar kulihat.”
Dia menarik tanganku dan meniupnya pelan-pelan
“Aku ini suamimu, kalau kamu saja nggak percaya padaku, siapa lagi yang percaya padaku? Yang paling penting dalam pernikahan itu kepercayaan….”
“Oh begitu?”
Aku memotong ucapannya dan menatap matanya lekat-lekat.
Seolah dengan begitu aku bisa melihat isi hatinya yang terdalam.
“Tentu saja.”
“Bayi kita sudah besar sekarang, pasti sudah nggak apa-apa, ‘kan?”
Dia sama sekali tidak merasa bersalah, bahkan sambil bicara, dia mendekat seolah ingin menunjukkan keintiman. Aku sedikit memiringkan kepala, menghindari gerakannya.
Wajahnya terlihat agak kesal, seperti ingin mengatakan sesuatu.
Namun, tiba-tiba ada orang yang datang.
Itu adalah Tira. Dia berdiri di ruang tamu dengan lingerie renda yang sexy, rambutnya berantakan dan matanya memerah.
Richard reflek ingin menghampirinya, tapi sempat melirik ke arahku dulu, lalu berpura-pura tenang dan berkata,
“Kenapa kamu datang ke sini tengah malam begini?”
Aku menatap mereka dengan datar dan bertanya, “Kok dia bisa tahu kata sandi pintu rumah kita?”
Richard tampak agak canggung, menjawab, “Waktu mengurus perkara kemarin, dia sempat ketinggalan barang di sini. Karena kita nggak ada di rumah, jadi aku menyuruhnya ambil sendiri.”
Tira meringkuk ketakutan dan menjawab, “Kak Ella, yang dibilang Pak Richard itu benar. Maaf sudah merepotkan kalian, rumahku tiba-tiba mati lampu, aku takut sendirian, jadi….”
Richard melangkah maju dan menyelimuti tubuhnya dengan jaket, menatapnya dengan sorot mata penuh iba.
Anda Mungkin Juga Suka





