APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Saat Cerai Bukan Lagi Sekadar Kata

Saat Cerai Bukan Lagi Sekadar Kata

Ketika cinta lama suaminya bercerai, rumah tangga yang dipertahankan sekian lama runtuh seketika. Yohan menyodorkan surat cerai ke-99 demi menjaga Chika, sementara putra kandungnya sendiri malah mengusirnya demi menyambut wanita baru. Berbeda dari dugaan mereka, sang istri pergi tanpa air mata setelah menandatangani surat itu. Sepuluh tahun berlalu, sang anak yang kini berprestasi hanya bisa menangis di hadapan publik, memohon kepulangan ibunya yang telah lama hilang.
Bab
Bagikan

Bab 2

Itu adalah ucapan ayah Yohan padaku di hari pernikahan kami.

Waktu itu, Yohan masih muda dan gampang tersulut emosi. Begitu mendengar ucapan itu, dia langsung membanting mikrofon di tempat.

Dia bilang aku adalah istrinya yang dia pilih sendiri. Siapa pun tidak ada yang boleh menjelek-jelekkan aku.

Benar saja, ayah dan anak itu memang sama persis.

Anakku melemparkan mainan di tangannya ke arahku.

"Kamu tuh perempuan jahat! Cepat minta maaf sama Ayah!"

Ujung tajam mainan itu melukai pipiku. Aku refleks menyentuh luka itu. Rasanya perih dan getir di hati.

Inilah anak yang kukandung sembilan bulan dan kulahirkan sendiri. Seorang anak yang tak tahu berterima kasih.

Tujuh tahun kasih sayang dariku tidak sebanding dengan satu tahun rayuan manis Chika.

Melihatku diam saja, anak itu malah makin senang dan mengejek.

"Kamu nggak marah? Pantas saja, kamu cuma perempuan tua yang bisanya nyedot uang Ayah!"

"Kalau kamu tahu diri, cepat cerai sama Ayah. Rumah kita nggak butuh pembantu kayak kamu!"

Setelah berkata begitu, dia meloncat-loncat gembira kembali ke kamarnya.

Sebelum menutup pintu, dia masih sempat berjinjit menggantungkan papan kecil.

[Sania dan anjing sejenisnya dilarang masuk.]

Aku menyeka air mata yang keluar sambil tertawa getir, lalu kembali ke kamarku sendiri.

Sebuah gudang kecil di sebelah dapur.

Ruangan sempit tidak sampai sepuluh meter persegi, hanya ada satu ranjang tunggal yang sederhana.

Tempat yang bahkan pembantu pun nggak mau tinggali. Tapi, setahun terakhir ini justru jadi satu-satunya kamar di mana aku merasa bebas.

Setelah menyimpan gelang yang ke-17 dengan rapi, aku mengambil surat cerai dari dalam laci.

Itu surat cerai ke-99 yang pernah Yohan lemparkan padaku.

Tujuh tahun menikah, Yohan selalu melemparkan surat cerai setiap kali kami bertengkar.

Dia tahu aku haus kasih sayang, jadi dia yakin aku nggak akan pernah meninggalkannya.

Surat cerai itu jadi alat baginya untuk terus mengancamku.

Tapi, kali ini aku benar-benar berniat menandatanganinya.

Suami, anak, dan rumah yang menyedihkan ini.

Aku sudah tidak menginginkannya lagi.

...

Keesokan paginya, aku terbangun karena suara ketukan pintu yang keras.

"Bangun! Cepat buatin aku sarapan!"

Anakku memukul-mukul pintu gudang dengan mainannya sampai bergetar.

Dulu demi mengurus Yohan dan anak kami, aku selalu bangun jam lima pagi setiap hari.

Menyiapkan sarapan lezat untuk mereka.

Sekarang aku hanya berbaring di tempat tidur, berharap andai saja aku tuli.

Begitu membuka pintu, anakku berdiri di lantai tanpa alas kaki dengan wajah penuh amarah.

"Sarapan aku mana?!"

Aku menatapnya dingin, lalu menunjuk ke arah kulkas.

"Ambil sendiri, atau minta sama ayahmu, atau Tante Chika."

Anak itu terpaku sejenak. Ini pertama kalinya aku bicara padanya dengan nada sedingin itu.

Tapi, tidak lama kemudian ekspresinya berubah, seolah teringat sesuatu.

"Kamu 'kan pembantuku! Kalau kamu nggak nurut, aku bakal suruh ayah ceraikan kamu!"

"Cepat buatin aku sarapan! Kalau nggak, aku bakal jalan tanpa alas kaki seharian. Nanti kalau aku sakit, kamu harus jagain aku semalaman!"

Baru saat itu aku sadar kalau dia benar-benar berdiri di lantai tanpa alas kaki.

Anakku lahir prematur, sejak kecil tubuhnya lemah dan gampang sakit.

Jadi, aku selalu cemas setengah mati setiap kali kulihat dia bertelanjang kaki di lantai.

Biasanya aku langsung menyusul di belakangnya, menenangkan dan membujuknya supaya mau pakai sandal.

Saat aku menunduk membantunya, dia sering sengaja menginjak bajuku.

Sampai pakaianku penuh bekas tapak kakinya baru dia berhenti.

Mengingat itu, aku memalingkan pandangan dan berjalan melewatinya menuju kamar mandi.

Wajah anak itu memerah karena marah. Dia berteriak keras di belakangku, berusaha menarik perhatianku.

Namun, kali ini tidak ada lagi yang akan menenangkannya.

Setelah aku selesai cuci muka, Yohan muncul di depan pintu membawa sekantong barang.

Ekspresinya berubah begitu melihat Leon menangis.

"Sania, kamu tuh ibu macam apa? Nggak lihat anakmu lagi nangis?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta hilang kembali pulang
9.4
Rachel sangat berharap Nathan mengizinkannya pergi membawa putri mereka, Key. Akan tetapi, amarah membuat Nathan menolak mentah-mentah permintaan itu karena enggan ditinggalkan lagi. Nathan menegaskan Key hidup bahagia bersamanya dan melarang Rachel mendekat. Di balik sikap kerasnya menahan Rachel, tersimpan rasa cinta yang begitu besar. Nathan sama sekali tidak berniat menyakiti; ia hanya ingin memastikan Rachel dan Key selalu berada di sisinya.
Sampul Novel Dipaksa Menikahi Mafia Kejam
9.1
Niat baik Grazella Elnara Wesley menolong orang asing berujung petaka. Dia dipaksa menikah oleh Gabriel Leonard Mattew, bos mafia kejam asal Italia yang terobsesi padanya karena kemiripan fisik dengan masa lalunya. Meski terjebak di dunia Leon yang keji, mahasiswi psikologi ini bertekad melindungi hatinya. Sembari berjuang demi kesembuhan sang adik, Grazella harus bertahan menghadapi kekejaman pria yang merasa dirinya tuhan tersebut.
Sampul Novel Diperlakukan Bak Orang Asing Oleh Suami Anakku
8.2
Setelah merelakan seluruh hidupnya demi Ricardo dan putri mereka sebagai ibu rumah tangga, wanita ini justru menghadapi kenyataan pahit. Kehadiran kembali cinta lama suaminya yang baru bercerai mengubah segalanya. Diperlakukan layaknya pelayan oleh anak kandungnya sendiri dan diabaikan oleh sang suami, ia akhirnya memilih mundur. Dengan menandatangani berkas perceraian tanpa menuntut hak apa pun, ia pergi menjauh. Namun kini, setelah ia melangkah pergi, penyesalan mendalam justru datang menghampiri mereka.
Sampul Novel Sang Abdi
8.0
Kirana, gadis tunarungu yang kesulitan mendapat jodoh, dinikahkan ayahnya dengan Farhan, duda berumur empat puluh tahun. Farhan setuju karena utang budi, tetapi ia mengajukan syarat ekstrem yang wajib dipatuhi keluarga Kirana. Kini, Kirana harus berbakti dalam pernikahan yang gelap, di mana suaminya masih berhubungan intim dengan anak angkatnya bahkan ibu kandung Kirana. Sanggupkah kesabaran Kirana berujung bahagia?
Sampul Novel Setelah 17 Tahun Pernikahan
8.6
Amira harus menerima kenyataan pahit setelah sebulan lumpuh akibat stroke ringan. Melalui rekaman obrolan Bu Nur dan Bu Sarah, ia mengetahui rencana pengkhianatan ibu mertuanya. Bu Nur yang pesimis akan kesembuhan Amira berniat menjodohkan Habib dengan Laila. Sang mertua bahkan mengklaim bahwa Habib telah menyetujui rencana poligami tersebut dengan dalih kelelahan mengurus dirinya sendiri setelah 17 tahun bersama.
Sampul Novel Terpaksa Menjadi Istri Pengganti
8.2
Mikayla Audrien Gunawan, gadis manja berusia 18 tahun, harus menghadapi kenyataan pahit saat bisnis ayahnya bangkrut dan sang ayah jatuh sakit. Demi membiayai pengobatan, ia terpaksa menjadi tulang punggung keluarga. Di tengah kesulitan, seorang pria kaya menawarinya kesepakatan untuk menjadi istri pengganti bagi putranya. Mikayla menerima tawaran tersebut setelah calon pengantin wanita yang asli ketahuan berselingkuh tepat sebelum hari pernikahan dimulai.