APKDock Logo
Sampul Novel Bukan Bonekamu Lagi

Bukan Bonekamu Lagi

8.4 / 10.0
Setelah menyerahkan segalanya pada Adriel di malam penobatannya sebagai bos mafia Keluarga Mahendra, Vivian mengira penantiannya berakhir bahagia. Namun, ia mendengarkan sendiri bagaimana Adriel menghina dirinya dan hanya menjadikannya alat pemanasan sebelum mendekati wanita lain. Hancur oleh pengkhianatan kejam sang miliarder, Vivian memutuskan untuk tidak lagi menjadi boneka yang patuh. Ia segera mengirim pesan rahasia kepada Bos Indra Wijaya, meminta dipindahkan sejauh mungkin dari Adriel sebelum promosi tiga hari lagi.

Bukan Bonekamu Lagi Bab 1

Malam ketika Adriel diangkat menjadi bos Keluarga Mahendra, aku memberinya keperawananku. Dia adalah pewaris yang sudah dijodohkan denganku bahkan sebelum aku bisa bicara.

Kami berciuman di depan jendela besar yang menjulang dari lantai sampai langit-langit, tubuh kami saling terjerat dalam panas lembap senja itu.

Sentuhannya yang kasar dan tergesa-gesa membuatku sakit, tapi aku tidak menjauh.

Bahkan rasa sakit itu terasa suci, seperti pengorbanan yang rela aku lakukan demi cinta.

Tenggelam dalam panasnya momen itu, dia berjanji akan memberiku sepasang sepatu kristal paling indah, supaya aku bisa berdansa waltz pembuka bersamanya di upacara penobatannya keesokan hari.

Tarian pertama selalu dipersembahkan untuk bos baru dan calon pengantinnya.

Aku menangis bahagia, yakin bahwa tahun-tahun penantian diam-diamku akhirnya akan berakhir seperti dongeng.

Tapi aku salah. Teramat salah.

Keesokan paginya, aku memaksa tubuhku yang masih nyeri untuk keluar membeli ekspresso kesukaannya. Saat aku kembali, aku mendengar para lelaki bercanda.

"Jadi kamu akhirnya tidur dengannya? Bagaimana rasanya bersama Vivian di malam pertamamu sebagai bos?"

Suara Adriel terdengar malas penuh ejekan. "Wajahnya seperti malaikat, tubuhnya seperti iblis. Di ranjang, dia benar-benar seperti ular kecil yang menggoda."

Ruangan itu langsung riuh oleh siulan-siulan genit. "Jadi, kamu benar-benar akan menikahinya, Bos Muda?"

"Serius kamu pikir begitu?" Adriel mencibir. "Vivian cuma pemanasan. Setelah aku cukup berlatih, aku akan menaklukkan si putri es Keluarga Santoso. Kalau nanti aku bosan, aku selalu bisa kembali padanya dan menikahinya."

Aku berdiri terpaku di ambang pintu, pandanganku mulai kabur, cangkir kopi di tanganku bergetar.

Sebelum dunia gelap di mataku, aku sempat mengirim pesan sandi untuk Bos Indra Wijaya.

[Om Indra, untuk promosi yang akan berlangsung tiga hari lagi, tolong pindahkan aku. Sejauh mungkin dari Adriel.]

Malam ketika Adriel diangkat menjadi bos Keluarga Mahendra, aku memberinya keperawananku. Dia adalah pewaris yang sudah dijodohkan denganku bahkan sebelum aku bisa bicara.

Kami berciuman di depan jendela besar yang menjulang dari lantai sampai langit-langit, tubuh kami saling terjerat dalam panas lembap senja itu.

Sentuhannya yang kasar dan tergesa-gesa membuatku sakit, tapi aku tidak menjauh.

Bahkan rasa sakit itu terasa suci, seperti pengorbanan yang rela aku lakukan demi cinta.

Tenggelam dalam panasnya momen itu, dia berjanji akan memberiku sepasang sepatu kristal paling indah, supaya aku bisa berdansa waltz pembuka bersamanya di upacara penobatannya keesokan hari.

Tarian pertama selalu dipersembahkan untuk bos baru dan calon pengantinnya.

Aku menangis bahagia, yakin bahwa tahun-tahun penantian diam-diamku akhirnya akan berakhir seperti dongeng.

Tapi aku salah. Teramat salah.

Keesokan paginya, aku memaksa tubuhku yang masih nyeri untuk keluar membeli ekspresso kesukaannya. Saat aku kembali, aku mendengar para lelaki bercanda.

"Jadi kamu akhirnya tidur dengannya? Bagaimana rasanya bersama Vivian di malam pertamamu sebagai bos?"

Suara Adriel terdengar malas penuh ejekan. "Wajahnya seperti malaikat, tubuhnya seperti iblis. Di ranjang, dia benar-benar seperti ular kecil yang menggoda."

Ruangan itu langsung riuh oleh siulan-siulan genit. "Jadi, kamu benar-benar akan menikahinya, Bos Muda?"

"Serius kamu pikir begitu?" Adriel mencibir. "Vivian cuma pemanasan. Setelah aku cukup berlatih, aku akan menaklukkan si putri es Keluarga Santoso. Kalau nanti aku bosan, aku selalu bisa kembali padanya dan menikahinya."

Aku berdiri terpaku di ambang pintu, pandanganku mulai kabur, cangkir kopi di tanganku bergetar.

Sebelum dunia gelap di mataku, aku sempat mengirim pesan sandi untuk Bos Indra Wijaya.

[Om Indra, untuk promosi yang akan berlangsung tiga hari lagi, tolong pindahkan aku. Sejauh mungkin dari Adriel.]

Kata-kata Adriel terasa seperti hembusan udara kutub di tengah musim kemarau, membekukan darah di nadiku. Aku tak bisa berhenti gemetar.

Tanpa suara, aku mundur ke kamar tidur. Di luar jendela besar, cahaya neon kota mulai berkelap-kelip. Aku bersandar pada kaca dingin itu, air mata mengalir pelan di pipiku.

Kenangan semalam berputar kembali di kepalaku.

Sentuhan tangan Adriel di tubuhku, panas dan penuh hasrat untuk memiliki. Bibirnya menyentuh telingaku, suaranya serak berbisik, "Vivian, kamu milikku. Kamu akan selalu jadi satu-satunya."

Aku hampir meleleh di pelukannya. Aku pikir, sepuluh tahun pengabdian akhirnya terbayar.

Betapa konyolnya aku.

Baru sekarang aku mengerti, bagi pria seperti Adriel, intimasi, cinta, dan kekuasaan adalah tiga hal yang sama sekali berbeda. Ia bisa mengambil apa pun dari tubuhku, sementara di kepalanya ia merencanakan cara menaklukkan sang putri Keluarga Santoso. Semua bisikan manis itu hanya trik murahan, pelicin untuk sesi latihannya.

Ponselku bergetar. Pesan terenkripsi dari Tio, wakil Adriel.

[Bos bilang, urus dirimu sendiri. Paket ada di depan pintu.]

Aku menatap layar itu, pikiranku kosong.

Perlahan, aku membuka pintu kamar. Di ujung lorong, ada sebuah tas kecil berwarna hitam.

Isinya pil kontrasepsi darurat. Dan beberapa tumpuk uang seratus ribu.

Prosedur standar untuk membayar seorang pelacur.

Tanganku gemetar saat mengangkat tas itu. Semalam, dia memelukku dan berjanji akan mengurus semuanya. "Vivian, kamu cuma perlu menjaga diri. Biarkan pria yang urus sisanya."

Sekarang, mengurus sisanya ternyata cuma berarti satu pesan dingin dari wakilnya.

Dia bahkan tak sanggup menemuiku langsung.

Aku melangkah ke kamar mandi dan merobek kotak itu. Sebutir pil putih kecil tergeletak di telapak tanganku. Perhatian yang dulu kupikir tulus, ternyata hanya rutinitas.

Aku melempar pil itu bersama uang ke dalam toilet.

Lalu menekan tombol flush.

Semuanya lenyap ke pusaran air. Bersama sisa terakhir ilusi yang pernah aku miliki.

Kembali ke ruang tamu, aku terjatuh di atas karpet sutra yang dulu kucari sebulan penuh hanya demi dia. Sama seperti semua yang pernah kulakukan untuknya.

Aku baru berusia delapan belas tahun saat ayah menyerahkan urusan keuangan Keluarga Mahendra ke tanganku.

"Vivian," katanya. "Ingat, nilai kita ada pada kemampuan membuat setiap uang dari keluarga ini bekerja untuk kita."

Aku ingat.

Aku membangun kerajaan finansial yang membuka jalan Adriel menuju kekuasaan. Setiap transaksi melewati tanganku. Setiap angka terukir di kepalaku.

Aku yang mengubah Adriel dari prajurit biasa menjadi bos dengan kekayaan ratusan miliar rupiah.

Dan apa balasannya? Ia memanfaatkanku, di meja keuangannya dan di ranjangnya.

Layar ponselku menyala. Informasi penerbangan.

Tiga hari lagi. Tujuannya adalah Altenburgia.

Aku memberi diriku waktu 72 jam.

72 jam untuk mengucapkan selamat tinggal pada kota ini dan memutus semua ikatan dengan Adriel Mahendra.

Kota yang tak pernah tidur itu akhirnya tenang. Tapi bagiku, malam terasa tak berujung. Aku menatap jauh ke arah lampu-lampu yang padam satu per satu, seperti kehangatan di hatiku... perlahan memudar hingga tak bersisa.

Mulai saat ini, aku tak lagi menjawab pada siapa pun.

Kecuali pada diriku sendiri.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Bukan Bonekamu Lagi

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3 Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel ALASKA
8.4
Bhalendra Alaska Arlic meyakini bahwa perubahan sejati harus muncul dari kesadaran pribadi. Meski terus didera kepedihan hingga batinnya hancur, Alaska tetap berusaha tegar. Masa lalunya bersama Yesaya justru menorehkan trauma hebat dibanding memori indah. Di sisi lain, Azka memandang cinta tak lebih dari sekadar bualan belaka. Terperangkap dalam bayang-bayang kepedihan lama, sanggupkah kehadiran orang baru meruntuhkan benteng pertahanan Alaska dan memulihkan luka di hatinya?
Sampul Novel Birahi Kadang Tak Ada Logika
9.3
Kisah romansa modern khusus dewasa ini mengupas tuntas dinamika asmara, di mana cinta dan hasrat sering kali melampaui batas nalar manusia. Mengapa fenomena tersebut bisa terjadi? Temukan jawabannya dengan mengikuti narasi ini sampai akhir. Setiap bab menyajikan sudut pandang krusial yang akan memberikan pemahaman baru mengenai logika birahi yang terus berkembang. Jangan lewatkan kelanjutan kisahnya agar Anda mendapatkan pemahaman utuh dan tidak menjadi pembaca yang merugi.
Sampul Novel Cinta Pengantin Buta
9.4
Pernikahan resmi terjalin antara Pramudya dan Mentari setelah saksi menyatakan sah. Di tengah kegelapan akibat kebutaan yang dideritanya, Mentari mencoba meraih tangan sang suami. Pramudya dengan sigap menuntun jemari istrinya. Mentari lalu mencium punggung tangan Pramudya secara takzim, yang dibalas dengan kecupan hangat di dahi serta doa tulus dari suaminya. Mampukah pernikahan yang berawal sebagai pengantin pengganti ini menuntun mereka pada kebahagiaan sejati?
Sampul Novel GAIRAH LIAR PLAYBOY TAJIR
8.0
Leon Indrajaya, pewaris takhta bisnis properti yang kaya, menyembunyikan trauma masa kecil di balik tabiat dingin dan temperamentalnya. Demi menyembuhkan luka batin itu, sang ayah memaksanya menjalani terapi dengan psikiater menawan bernama Evita Caroline. Meski menyadari bahwa Evita telah bertunangan dengan CEO Young Entertainment, Belvin Alexander, Leon justru terobsesi padanya. Akankah ia nekat merebut Evita dan memicu perang besar antarkeluarga konglomerat?
Sampul Novel Malam Panas Dengan Mantan Suami
8.6
Satu malam intim bersama Calvin memutarbalikkan hidupku. Niat awal menjebaknya agar bersama Nona Agnes demi menyudahi pernikahan kami justru berbalik menjerat diriku sendiri. Walau menyadari kekeliruan fatal ini, bayang masa lalu dan kenangan indah bersamanya begitu sulit kulupakan. Kini, aku sepenuhnya terjebak dalam dilema besar akibat konsekuensi dari rencana yang kubuat sendiri.
Sampul Novel Resiko Pekerjaan Pengasuh Menyusui
8.3
Karena nyonya dari keluarga kaya tidak bisa menghasilkan ASI, protagonis wanita yang masih dalam masa menyusui disewa untuk datang langsung ke kediaman mereka demi menyusui sang bayi. Namun, sebuah kekeliruan besar terjadi di rumah megah tersebut. Ketika sedang menjalankan tugasnya menyusui si kecil, suami miliarder dari majikannya tiba-tiba salah mengenali identitasnya. Pria kaya itu mengira pengasuh bayinya adalah istrinya sendiri, memicu ketegangan dan situasi tak terduga.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan