APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rumit

Rumit

Sassy, remaja yang kesepian akibat kesibukan orang tuanya, menemukan warna baru saat ayahnya membawa Tio dari Kalimantan. Hubungan mereka segera tumbuh erat, namun kedekatan tersebut justru menyeret Sassy ke dalam gairah terlarang yang melanggar batas. Keadaan kian pelik ketika sebuah rahasia besar tentang siapa Tio sebenarnya mulai terbongkar. Sassy kini terjebak dalam konsekuensi berat dari keputusan hidupnya yang semakin rumit.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sekali lagi aku menarik rasa terpesona pada laki-laki bernama Tio. Semalam dengan beraninya dia masuk ke kamarku setelah Papa dan Mama tidur. Ketika aku hendak berteriak, dia membekap mulutku. Katanya, dia hanya ingin mengucapkan selamat tidur. Katanya lagi, dia tidak tertarik dengan gadis bertubuh kurus dan berdada rata sepertiku. Kurang ajar! Dadaku rata karena masih dalam masa pertumbuhan.

Hari ini dia akan mengantarku ke sekolah. Dengan sikapnya yang manis, dia membukakan pintu mobil bagian depan. Aku malah membuka pintu belakang tak peduli padanya.

Mobil melaju menembus jalanan yang belum terlalu padat. Aku pura-pura sibuk membaca novelnya Tere Liye. Aku tak lagi berminat dekat dengan si Tio. Tidak mungkin juga aku ingin dia pergi dari rumah kami. Bukankah kemarin aku yang paling bahagia dengan keputusan Papa.

"Kenapa cemberut? Gadis cantik itu harus selalu tersenyum, biar kecantikannya semakin terpancar," ujarnya memecah keheningan.

Entah kenapa kupingku jadi panas. Aku malas mendengar ocehannya. Pokoknya, rasa terpesonaku kemarin telah berubah menjadi rasa jijik. Rupa itu memang memesona, tapi sikap kurang ajarnya membuatku muak. Aku ingin mengadu pada Papa. Namun, urung karena katanya Papa tidak mungkin percaya dengan kata-kataku. Iya juga, sih. Semalam pas makan di resto, dia bisa membuat Mama yang baru kenal tersanjung padanya. Nah, apalagi Papa yang sudah mengenal lama.

Aku mendesah kesal. Andai tidak ada larangan membawa ponsel ke sekolah, pasti akan kusetel lagu-lagu happy, dan menyumbat telinga dengan earphone. Sayangnya, ponsel yang kuharapkan menemani perjalanan ini tersimpan manis di laci meja kamar.

Mobil berhenti di depan gerbang sekolah, tapi aku memintanya masuk ke dalam. Hari ini aku ingin memberinya pelajaran. Dia menuruti, lalu memarkirkan mobil di tempat parkir.

"Bukain!" perintahku sok arogan. Dia keluar dan membukakan pintu mobil. Sebelum keluar, kumasukkan novel ke dalam tas dan mengeluarkan buku Biologi.

"Silakan Putri berdada rata!"

Aku turun dan memandang kesal padanya yang sedang tersenyum usil. Setelah dia menutup pintu, aku menyandarkan tubuh ke badan mobil. Dengan sikap sok galak, aku pura-pura sibuk membaca . Dia juga ikut melakukan hal yang sama.

"Sassy!" Aku menoleh ke asal suara. Zara berjalan mendekatiku. Di belakang Zara juga ada Kalina bersama tiga temannya. Mereka memandang ke arah kami dengan rupa yang sok imut. Aku tahu mereka terpesona dengan Tio. Semoga mereka mendekati kami. Dengan begitu, aku bisa mempermalukan laki-laki kurang ajar ini?

"Dia siapa, Sy?" tanya Zara berbisik di telingaku.

Pertanyaan Zara tidak kujawab. Aku melirik ke arah Tio yang mengumbar senyum pada Kalina dan tiga temannya. Mereka mendekati Tio, mengulurkan tangan mengajak kenalan. Tidak lupa dengan sikap centil mereka yang membuatku enek.

"Hentikan kecentilan kalian!" Mereka menatap padaku, termasuk Tio dan Zara. "Dia memang ganteng, tapi ganteng aja nggak cukup. Dia tuh cuma sopir. SOPIR. Dia cuma numpang hidup di keluargaku."

Mata Tio melebar. Seperti dugaanku, senyumannya seketika lenyap. Dia menatap tajam padaku. Sedangkan aku tersenyum penuh kemenangan. Aku mengambil kunci mobil dari tangannya dengan mudah, lalu mengajak Zara ke kelas. Akan kubiarkan dia menunggu hingga pulang sekolah.

"Kamu bukan Sassy yang aku kenal," protes Zara. Sudah kuduga dia akan memberi nasihat panjang lebar. Jadi, sudah kusiapkan jawaban untuk membantahnya.

"Memangnya apa yang salah dengan profesi sopir?" lanjut Zara. "Bagiku, yang penting dia adalah laki-laki yang mau bekerja. Kamu harusnya ..."

"Dia udah kurang ajar padaku, Zara." Aku menyela sebelum nasihat Zara melebar kemana-mana. "Awalnya aku terima dia dengan baik. Udahlah, nggak usah bahas dia. Aku sedang emosi jiwa. Jangan menambah kekesalanku."

🍂🍂🍂

Pukul empat belas tiga puluh bel pulangan berbunyi. Zara dengan cekatan menarik tanganku agar segera keluar dari kelas. Dari tadi dia juga bawel karena aku tak menawari Tio makan siang. Dia sendiri yang membeli makanan, lalu mengantar pada laki-laki berambut ikal itu. Bahkan dia menghabiskan jam istirahat bersama Tio. Huh, kesal

Saat aku dan Zara tiba di tempat parkir, Kalina dan tiga temannya sudah ada di sana. Seperti biasa, Kalina tidak berhenti berbicara. Namun, Tio tak pedulikan ocehannya. Laki-laki berengsek itu malah asyik dengan ponsel-nya.

"Sy, boleh aku numpang sampai halte depan?" tanya Zara ragu-ragu. Aku menggeleng. Senyum Zara lenyap di bibir tipisnya.

"Aku ngantar kamu sampai rumah, Zara." Gadis itu berbinar. Ia berlari mendekati mobil.

"Minggir! Kami mau pulang." Kalina menatap kesal pada Zara. Apalagi senyum Tio mengembang saat melihat Zara. Dia membukakan pintu depan untuk gadis itu. "Nggg ... aku di belakang aja."

Tio mendorongnya masuk. "Nyonya muda menolak duduk di depan."

Aku membuka pintu belakang, lalu menutupnya dengan kasar. Tidak lupa wajahku diubah seganas mungkin. Zara menoleh, menatapku sejenak. Kepalanya menggeleng pelan, tapi tak mengatakan apa-apa. Kemudian dia menghadap lagi ke depan.

"Di mana alamatmu, Ra?" tanya Tio saat mobil mulai melaju.

"Walaupun dia bilang, kamu nggak mungkin tahu jalannya," jawabku meremehkan. "Jalan aja! Ntar diarahin."

"Saya memang tidak tahu, tapi sekarang zaman sudah canggih, Nyonya muda," balas Tio dengan menekankan kata Nyonya muda. Zara tertawa mendengar jawaban Tio dan menganguk setuju. Aku mendengus sebal. Kualihkan pandangan ke luar melalui jendela. Berharap gedung-gedung dan pohon perdu di tepi jalan menjadi sesuatu yang indah untuk dipandang.

Sepanjang perjalanan Zara dan Tio asyik berbagi cerita. Sesekali Zara tertawa terbahak-bahak saat mendengar cerita Tio yang lucu. Cerita laki-laki berengsek itu memang lucu, tapi tidak mungkin aku ikutan tertawa. Yang bisa kulakukan hanya diam meskipun kemarahan sedikit meluap.

"Di kampung kami, ada seorang ibu ditinggal mati suaminya. Saat di pemakaman, si ibu tak berhenti menangis. 'Biarkan aku ikut dengannya. Aku tak tahan hidup sendiri.' Begitu kata si ibu sambil berusaha masuk ke liang kubur. Orang-orang sibuk menahan tubuh si ibu. Ustadz yang mengurus jenazah jadi marah. Dia meminta orang-orang melepaskan si ibu. Tidak usah ditahan, biarkan dia masuk menemani suaminya. Seketika si ibu berhenti menangis, lalu pulang menahan malu."

Hampir saja aku ikut tertawa bersama Zara yang terbahak. Kutarik napas yang dalam, lalu mengembuskan perlahan. Cerita lucu memang selalu membuatku tertarik. Namun, acara humor di TV Indonesia rata-rata membuatku mual. Candaan para pelawak itu tidak jauh-jauh dari hinaan dan sindiran tak bermoral. Juga, laki-laki yang memakai pakain perempuan. Mungkin menurut orang lain lucu, tapi bagiku itu lelucon murahan.

Mobil berhenti di depan rumah sederhana yang asri, rumah Zara. Sahabatku itu melepas seatbelt, lalu keluar dari mobil. Aku melakukan hal yang sama. Pulang bersama Tio bukan menjadi tujuanku sekarang. Aku ingin di sini, bersama Zara. Biarkan si Tio-Tio itu pulang sendiri.

"Kamu pulang aja. Aku masih main di rumah Zara. Ntar aku pulang naik taksi," ucapku datar.

"Tidak, Nyonya muda. Saya akan tunggu. Saya tidak mungkin pulang sendiri," bantahnya seraya keluar dari mobil.

Aku memandang nyalang padanya. Dia menatapku tanpa senyum. Zara mendekat. Dia menepuk pelan bahuku.

"Aku setuju dengan Kak Tio. Biar dia nunggu di dalam aja. Yuk!"

Aku berbalik dan memandang tajam pada Zara. Tanganku terkepal. Bibirku terkatup. Gigi-gigiku bergemelutuk. Rahangku mengeras. Napasku berpacu. Hatiku semakin kesal. Zara mengernyit dan menggaruk kepalanya.

"Ya udah, ajak dia masuk dan ngobrol sepuasnya," kataku dengan kasar, lalu berjalan menjauhi mereka. Kenapa Zara tidak mengerti? Aku ingin laki-laki itu pulang karena tak ingin melihat rupanya. Kenapa Zara berharap si berengsek itu masuk ke dalam rumahnya? Padahal aku ingin cerita tentang betapa munafiknya si Tio.

"Sassy!" Zara mengejarku. Aku terus berjalan tak menggubrisnya. "Aku nggak ngerti, deh. Kenapa kamu marah banget ama Kak Tio? Padahal dia baik banget, lho."

Aku berhenti melangkah. Kutatap wajah sang sahabat dengan mata nyalang. "Iya. Dia memang baik. Baik banget hingga Zara yang aku kenal bertahun-tahun, lebih memilih laki-laki berengsek itu daripada teman sendiri."

"Bukan gitu, Sy. Oke, aku tahu pasti ada sesuatu yang salah. Apa yang sudah dia lakukan hingga membuat temanku ini marah-marah?"

"Bukankah kamu lebih asyik ngobrol dengannya? Lanjutin aja! Nggak usah sok peduli padaku." Zara menahan tanganku saat aku hendak melangkah pergi. Aku tepis tangannya, lalu menyetop ojek yang kebetulan lewat. Tidak kupedulikan Zara yang berteriak memanggil.

Selama enam tahun bersahabat dengan Zara, tak pernah kami bertengkar. Walaupun aku sering kesal padanya karena hobi sekali memberi petuah seperti nenek. Meski rambutku sering dijambak karena suka usil, tidak pernah aku berteriak seperti tadi.

Aku menghapus air mata yang menetes. Kenapa aku harus marah-marah pada Zara yang tidak mengerti apa-apa. Yang Zara tahu, Tio itu baik karena tak berlaku kurang ajar padanya. Sikap Tio pada Zara sama seperti sikapnya pada Mama dan Papa.

Aku ingin meminta maaf pada Zara. Aku ingin merengkuh ke dalam pelukannya yang hangat. Aku ingin menceritakan penderitaan ini semenjak ada Tio. Dia sahabatku yang selalu siap mendengar segala keluhan. Kehadirannya sudah seperti alat serbaguna.

Nanti saja di rumah, aku akan meneleponnya dan meminta maaf. Sekarang aku ingin menjauh dari laki-laki kutu kupret itu. Aku ingin cepat-cepat tiba di rumah, lalu masuk ke kamar dan mengunci pintu. Aman. Dia tidak mungkin mencongkel grendelnya, kan?

Kenapa ada manusia seperti Tio. Munafik. Bermuka dua. Memang, tidak ada manusia yang sempurna—satu sisi baik dan sisi lainnya buruk. Masing-masing manusia memiliki kedua sifat itu. Bagaimana kita menyikapi dengan menonjolkan bagian yang ingin dikenali orang. Jika ingin jadi jahat, tonjolkan sifat kejahatan yang ada di dalam dirimu. Sebaliknya, jika ingin menjadi baik, maka seharusnya tampilkan sisi kebaikannya.

Sebuah mobil berwarna merah semakin mendekati ojek yang kutumpangi. Itu mobilku. Laki-laki berengsek itu memaksa si tukang ojek menepi. Dia turun dari mobil, memberikan selembar uang sepuluh ribu pada tukang ojek, lalu menarik tanganku mengikutinya.

Bisakah kalian menelpon Thor? Aku ingin meminjam palunya. Kepala laki-laki bernama Tio ini minta digetok.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Amanah dari Sang Ayah
7.9
Rahel terpaksa menikahi pria asing yang jauh lebih tua demi memenuhi keinginan ayahnya. Ia bahkan hanya mengenali calon suaminya itu lewat selembar foto kecil. Di malam menjelang ijab kabul, sang ayah sempat tersenyum lega dan memberikan pelukan serta ciuman terakhir di dahi Rahel. Namun, tepat setelah momen perpisahan yang hangat itu, sang ayah berpulang selamanya, meninggalkan sebuah amanah besar yang kini harus dipikul Rahel dalam pernikahan tersebut.
Sampul Novel BECOME YOURS
9.4
Ditinggal menikah membuat Rayya hancur hingga ia mabuk dan tak sengaja masuk ke kamar Lydon Zimmerman, CEO kejam di tempatnya bekerja. Hubungan satu malam itu memaksa mereka menikah tanpa cinta. Bagi Lydon yang belum bisa lepas dari masa lalunya, Rayya hanyalah alat pemuas serta penerus keturunan. Situasi kian pelik saat mantan kekasih Lydon kembali hadir. Kini, Rayya dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dalam kepedihan atau pergi dengan merelakan anaknya.
Sampul Novel Cintaku Direbut Sahabatku Sendiri
9.6
Kehidupan Lara runtuh seketika setelah suaminya, Darren, tega berkhianat dengan Maya, sahabat karibnya sendiri. Hubungan pernikahan mereka pun kandas secara tragis tatkala Darren mendesak perceraian demi bersama selingkuhannya. Kemalangan Lara kian mendalam saat sebuah kecelakaan fatal merenggut calon bayi dalam kandungannya. Kendati berupaya bangkit dan membuka hati untuk lembaran baru, ujian hidup terus datang mendera. Sanggupkah Lara meraih kebahagiaan sejati setelah kehilangan segalanya?
Sampul Novel Get Pregnant Please!
8.3
Nasib buruk terus membayangi Caca. Seorang peramal lalu menyarankannya untuk hamil agar takdirnya berubah. Masalahnya, sang suami misterius yang menikahinya setahun lalu tidak pernah pulang, meski Caca hidup bergelimang harta di rumah mewah. Mengira suaminya adalah lelaki tua berwajah buruk, Caca nekat pergi ke klub malam demi mencari pria tampan untuk menghamilinya. Siapa sangka, pria tampan yang menjadi targetnya malam itu ternyata adalah suaminya sendiri yang selama ini ia hindari.
Sampul Novel Mengejar Cinta Mantan Istriku
8.1
Setelah tersadar dari koma yang begitu lama, Sean harus menerima kenyataan bahwa rumah tangganya dengan Inara telah kandas. Curiga akan adanya rahasia krusial yang disimpan Inara selama dirinya tidak berdaya, Sean enggan menyerah pada keadaan. Ia pun bertekad meluncurkan perjuangan besar untuk merebut kembali cinta sang mantan istri yang kini mendingin. Mampukah keteguhan hati Sean mengikis habis keraguan Inara dan merajut kembali biduk pernikahan mereka yang sempat hancur?
Sampul Novel Menjalani Sisa Hidup Sendiri
8.6
Pernikahan Colby dengan Ruben, sang pewaris Grup Gibson, terhalang restu keluarga. Brenda, nenek Ruben, menantang cinta mereka lewat taruhan tiga tahun. Jika berhasil bertahan, hubungan mereka akan direstui. Namun jika gagal, Colby harus mundur demi wanita yang sepadan. Colby sangat percaya diri karena Ruben bersedia mengorbankan apa pun demi dirinya. Sayangnya, di tahun ketiga yang krusial, keyakinan itu runtuh saat Ruben justru berkhianat.