APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rumah Tanggaku

Rumah Tanggaku

Banyak pengantin baru mendambakan pernikahan yang sempurna, tetapi kenyataan yang aku jalani justru sebaliknya. Hidup bersama mertua menuntut kesabaran ekstra saat berbagai konflik mulai bermunculan. Selain harus memutar otak demi mengatur anggaran belanja yang melonjak, aku juga didera tekanan batin karena belum juga dikaruniai momongan. Saat ujian hidup datang silih berganti menghantam kami, mampukah aku tetap bertahan menjaga keutuhan pernikahan ini?
Bab
Bagikan

Bab 2

Pernikahan kami sebentar lagi dan aku tengah menemani calon suamiku membeli seserahan. Berdua? Tentu saja tidak, kami di temani Kakak iparnya yang bernama Kak Warsih dan juga Ibunya, Bu Ida.

Selama perjalanan menggunakan angkutan umum, kami duduk terpisah, karena belum halal jadi masih berjauhan. Terkadang tidak sabar untuk segera halal dan bisa di perhatikan lebih seperti pasangan lainnya. Duh, lagi-lagi aku mikir aneh-aneh begini sih. Malu dong malu.

Aku meliriknya yang tengah duduk bersama dengan Ibunya. Dan saat aku menatap wajahnya ternyata ia sadar lalu menoleh padaku dan memberi senyum kecil yang berhasil membuat jantungku terasa di cubit. Duh.

Aku bergegas melihat ke arah lain karena tak sanggup di lihat oleh calon suamiku. Lah, aneh kan tadi mikir yang iya-iya, sekarang malah nggak sanggup, mau mu apa sih, Amira.

Akhirnya kami sampai di sebuah tempat seperti pasar yang menyediakan aneka macam seserahan dan juga sovenir pernikahan. Kami berjalan menyusuri semua toko sampai mendapatkan yang terbaik dengan harga yang terjangkau.

Maklumlah kami ini bukan dari keluarga super kaya yang mampu membeli dengan harga berapa pun itu. Eh, nggak boleh bicara begitu, harus tetap bersyukur dengan keadaan kita apa pun kondisinya.

Eh, kondisi ku mah baik-baik saja, justru aku tengah merasakan kebahagiaan di Dunia ini. Hehehe. Kembali aku melirik sang calon suamiku yang tampan nan manis itu. Teduh sekali wajahnya, semakin di lihat semakin tak bosan.

"Amira, bagaimana dengan ini?" tanya calon Kakak Iparku. Aku tersentak kaget dan langsung tersadar dari lamunanku, bisa-bisanya aku melamun saat kondisi seperti ini, sungguh memalukan.

"Ba-bagus, Kak," jawabku gugup. Mas Ibnu yang mendengar suara ku gugup langsung menoleh.

"Kalau tidak suka bilang saja, Dek, jangan di paksa takutnya malah jadi mubazir," ujarnya yang membuatku melongo heran.

"Su-suka kok, Mas. Aku suka." Aku tetap meyakinkan mereka jika aku menyukai pilihannya. Sebenarnya apa pun itu aku akan menerimanya, aku tidak paham soal seserahan dan aku juga bukan tipe wanita yang menginginkan sesuatu.

Jadi, apa pun yang mereka beli aku terima.

Mas Ibnu akhirnya memilih tas warna hitam itu. Lucu, terlihat mungil tapi bagus. Aku suka.

Setelah berputar-putar mencari akhirnya kami selesai membeli perlengkapan seserahan dan juga sovenir. Acara memang tidak di buat besar apalagi mewah, tapi setidaknya kami tetap ingin memberikan sebuah kenang-kenangan pada para tamu undangan yang bersedia hadir dan memberikan doa pada kami.

"Dek, lihat ke depan, jangan kebanyakan menunduk, kalau ada apa-apa aku tidak bisa menyentuhmu untuk menyelamatkanmu," bisik Mas Ibnu tepat di sebelah telingaku sembari lalu mensejajarkan langkahnya dengan sang Ibu yang berjalan lebih dulu.

"Ayo, Amira," ujar Kak Warsih. Aku pun bergegas menyamakan langkah dan kami makan siang bersama di sebuah warung bakso.

****

Pernikahan tinggal hitungan hari saja, semua perlengkapan pernikahan sudah selesai, dan aku tidak bisa bertemu dengan calon suamiku. Walau sebenarnya kami juga tidak pernah bertemu kecuali di dalam Masjid.

Dan sekarang aku di larang untuk mengajar ngaji dulu agar tidak bertemu dengan calonku, di pingit bahasa adatnya, begitu kiranya. Dan aku pun tak masalah, toh, aku bukan wanita yang di mabuk cinta, yang harus selalu bertemu dan juga di beri kabar oleh kekasih hatinya. Ah, aku tidak selebay itu.

Tapi, kalau sudah menikah aku harus bersikap seperti apa ya nanti? Penasaran dengan itu aku pun beranjak dari kamar dan menemui Ibu ku yang tengah di dalam kamarnya.

Aku ketuk lebih dulu pintu kamar Ibu sampai mendengar jawabannya.

"Masuk, Mir!" seru Ibu dan aku pun masuk ke dalam kamarnya. Aku melihat Ibu tengah membaca al'quran dan ia segera menutupnya lalu menaruhnya di meja.

"Ada apa?" tanyanya lembut. Ibu ku seperti malaikat saja.

Aku dengan ceria dan manja duduk di samping Ibu.

"Mau tanya, boleh?" tanyaku.

"Boleh, tanyalah."

"Ibu, ketika kita menjadi seorang istri, apa yang harus kita lakukan?" tanyaku tanpa basa-basi.

"Tentu harus patuh kata suami."

"Semua yang ia ucapkan?"

"Ya, asal baik dan tidak mengajak ke dalam keburukan, kamu wajib mengikuti ucapan suamimu."

"Lalu?"

"Layani suamimu, siapkan makan sebelum ia minta, siapkan minum sebelum ia minta, siapkan pakaian kerjanya sebelum ia bangun, siapkan semua hal yang berkaitan dengannya sebelum ia minta itu semua."

"Bagaimana kita tahu?"

"Kita akan tahu ketika sudah menjadi seorang istri."

"Ibu, apakah berat menjadi seorang istri?"

"Tidak, lebih berat menjadi seorang suami."

"Kenapa?"

"Karena mereka harus menanggung semuanya. Dosa istrinya, rumah tangganya dan kemakmurannya."

"Lalu apa tugas istri kalau semua di tanggung suami, Bu?"

"Semua hal yang di tanggung suami, kecuali pekerjaan mencari nafkah. Karena itu kewajiban seorang suami. Tugas kita adalah meringankan beban suami, dengan kita mengurus rumah, mengurus anak, dan mengurus suami agar ia bisa beristirahat dengan baik, makan dengan baik, maka ia akan bahagia, semangat untuk keesokan harinya mencari rejeki."

"Kalau Ibu tahu semua itu dengan baik, dan akhirnya Ibu menjadi istri yang baik kenapa Ayah tetap pergi meninggalkan kita, Bu?" tanyaku dengan sedih. Ibu bukannya marah tapi mengusap rambutku lembut.

"Karena Ibu tidak sebaik wanita yang Ibu ceritakan tadi." Aku tak mengerti ucapannya tapi aku tahu ada kesedihan terdalam di kalimat itu. Sampai sekarang aku tidak tahu kenapa Ibu sampai berpisah dengan Ayah.

Aku juga tidak pernah bertemu dengan Ayah setelah Ibu bercerai. Entah bagaimana kabar Ayah sampai sekarang aku tidak tahu.

"Bu, bagaimana aku bisa menikah kalau Ayah tidak ada kabar sampai sekarang?"

"Kata siapa?" tanya Ibu yang membuatku terbelalak dan menatapnya.

"Ayah akan datang?" tanyaku ragu. Dan saat aku melihat kepala Ibu mengangguk aku langsung membekap mulutku tak percaya.

"Bagaimana bisa?" tanyaku.

"Karena Ibu yang menghubungi Ayahmu."

"Ibu ...."

"Ibu tidak berniat menyembunyikan kabar Ayahmu, nanti kamu akan tahu kenapa kamu tidak pernah tahu kabar Ayahmu."

Aku tidak mau berprasangka buruk pada Ibu dan aku akan terus percaya pada Ibu. Karena hanya Ibu yang aku punya di dunia ini.

"Bu, Ibu tidak apa-apa ada Ayah di pernikahanku?" Itulah pertanyaanku karena sebagai sesama wanita aku tahu bagaimana perasaan Ibu ketika Ayah pergi meninggalkan kami.

"Ibu tidak apa-apa, itu masa lalu dan sekarang Ibu sudah lebih terbiasa di banding dulu."

"Ibu wanita hebat."

"Hebat apanya?"

"Hebat semuanya, aku bangga punya Ibu seperti Ibu."

"Kalau begitu kamu juga harus buat Ibu bangga nantinya."

"Bagaimana caranya aku buat Ibu bangga padaku?"

"Jadilah istri yang baik hingga suami mu tidak meningglkan kamu suatu saat nanti."

"Apakah aku bisa?"

"Itu tergantung dirimu. Jawabannya hanya kamu yang tahu."

"Ibu, aku jadi takut."

"Jangan takut, percayalah pada suami mu, jika ia bisa membahagiakan kamu."

"Bagaimana aku tahu, kan, aku baru kenal denganya?"

"Dari kamu yang berani menerima lamarannya." Aku mengerutkan kening mendengar itu.

"Hanya dari itu?"

"Ya."

"Kenapa?"

"Karena Ibu tahu ketika ia datang melamar, kamu sangat bahagia, bukan begitu?" Aku tersipu karena kenyataannya memang begitu.

"Jadi, kisah Ibu kamu jadikan sebuah pelajaran saja, jangan di jadikan acuan, paham, Nak?" Aku mengangguk dan memeluk Ibuku dengan erat. Bahagianya aku memiliki Ibu yang begitu bijaksana seperti ini.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cowokku Lebih Muda
8.9
Hubungan cinta Andini dengan Alex, pria yang terpaut usia jauh lebih muda, kini berada di ujung tanduk. Badai menerpa asmara mereka saat sosok masa lalu yang sangat dinanti-nantikan oleh Andini mendadak datang kembali. Kehadiran pria tersebut seketika memicu dilema besar dalam batin Andini. Ia pun terdesak di antara dua pilihan sulit. Akankah jalinan kasihnya bersama Alex mampu bertahan, atau justru cinta lama yang akan kembali bertahta di hatinya?
Sampul Novel Dulu Kau Buang Aku, Kini Aku Milik Pamanmu!
9.8
Silvia mengorbankan segalanya demi menikahi Sienzo Gunawan lewat investasi 20 triliun. Namun, di malam pernikahan, ia justru dijebak dan ditiduri belasan teman Sienzo hingga hamil dan tewas saat bersalin di ruang bawah tanah. Terbangun kembali di masa lalu tepat saat keluarga Gunawan memohon investasi dan pernikahan bisnis tersebut, Silvia memutuskan untuk mengubah takdirnya. Kali ini, ia tidak akan menjadi korban lagi, melainkan membuat Sienzo membayar semua kekejamannya di masa lalu.
Sampul Novel Ratu Drama
8.5
Dipermalukan di grup obrolan sekolah oleh sang primadona yang berpura-pura menjadi putri kaya, Clarisa, pewaris konglomerat yang sebenarnya, memutuskan untuk menghadiri undangan pernikahan tersebut. Mantan teman-teman sekelasnya terus menghina kemiskinannya demi menjilat sang primadona yang akan menikah dengan anggota Keluarga Wirawan. Namun, Clarisa justru tersenyum sinis saat melihat detail undangan. Lokasi pesta mewah itu ternyata berada di vila pribadi miliknya, dan sosok pengantin pria tidak lain adalah sopir dari suaminya sendiri.
Sampul Novel Saat Istriku Memilih Mati
8.0
Kematian mendadak sang istri yang mengakhiri hidupnya sendiri menyisakan kepedihan mendalam bagi suami dan ketiga anak lelaki mereka yang masih kecil. Tanpa peringatan apa pun, rahasia kelam di balik keputusan tragis ini perlahan terkuak. Sang suami, yang awalnya merasa telah membangun keluarga yang ideal, kini harus menghadapi dampak buruk dari perilakunya selama ini. Di bawah tekanan dari pihak mertua, ia kini hanya bisa menyesali kesalahan masa lalu yang mustahil untuk ia ubah kembali.
Sampul Novel Skandal Panas Presdir Tampan
8.0
Damien D'Arcy, pemilik hotel mewah yang kerap mempermainkan wanita, mengalami perubahan hidup total setelah bertemu Chiara, seorang resepsionis di Italia. Tujuh tahun pasca-hilangnya Chiara, Damien hidup menderita akibat masalah kesuburan dan kehilangan harta demi kompensasi cerai. Saat kembali ke Italia, sebuah prosedur donor darah mengungkap rahasia besar: ia bertemu anak yang sangat mirip dengannya dan Chiara yang kini bersikap dingin.
Sampul Novel Suami Kedua
7.9
Sejak malam pertama, hidup Anin hancur dalam jerat kekangan sang suami. Di tengah keputusasaan itu, adik iparnya datang mengulurkan bantuan. Kedekatan mereka justru menumbuhkan cinta terlarang yang berujung pada penyesalan mendalam. Kini, sang adik ipar memintanya bercerai agar mereka bisa membangun lembaran baru bersama. Anin pun terjebak dalam dilema besar untuk menentukan arah hidup dan melepaskan diri dari masa lalu yang kelam.