APKDock Logo
Sampul Novel Rumah Tanggaku

Rumah Tanggaku

9.0 / 10.0
Banyak pengantin baru mendambakan pernikahan yang sempurna, tetapi kenyataan yang aku jalani justru sebaliknya. Hidup bersama mertua menuntut kesabaran ekstra saat berbagai konflik mulai bermunculan. Selain harus memutar otak demi mengatur anggaran belanja yang melonjak, aku juga didera tekanan batin karena belum juga dikaruniai momongan. Saat ujian hidup datang silih berganti menghantam kami, mampukah aku tetap bertahan menjaga keutuhan pernikahan ini?

Rumah Tanggaku Bab 1

Yang di pikirkan seorang wanita ketika ia di lamar seorang pria yang ia cintai tentulah bahagia. Itu sudah pasti kan, lalu yang di rasakan lagi adalah sebuah kecemasan saat ia akan di bawa sang suami ke rumahnya.

Ketika akhirnya ia harus mengurus suaminya, membersihkan rumah dan juga menyiapkan makanan untuk sang suami. Tapi, itu semua akan terasa indah karena mereka saling mencintai dan bayangan sang wanita adalah ia di bantu suaminya, di peluk mesra, bercanda dan tak jadi makan karena mereka lebih memilih bercengkrama bersama.

Duh, membayangkan itu membuatku jadi tersipu malu. Bodohnya, bisa-bisanya aku membayangkan hal semacam itu padahal baru di lamar kemarin. Aku langsung melepas mukenahku dan merapihkannya.

Aku menatap diriku di cermin dan di sana terlihat seorang wanita yang tengah tersipu malu dengan pipi merona kemerahan. Dan itu aku.

Apa orang bilang? Panas! Karena aku tengah memikirkan tentang pernikahanku. Ah, sudah, lupakan itu. Aku harus sadar pekerjaanku banyak. Aku memakai hijabku dan langsung keluar dari kamar untuk membantu pekerjaan Ibuku.

"Sudah sholat subuh?" tanya Ibuku. Aku mengangguk dengan cepat dan menghampiri Ibuku.

"Apa yang harus aku kerjakan?" tanyaku riang. Ibu justru tersenyum melihatku.

"Senang ya kemarin habis di lamar?" godanya. Membuatku tertunduk malu.

"Kenapa bahas itu sih, Bu? Malu kan?" jawabku lirih.

"Kenapa harus malu, kamu harus bahagia, karena Ibu yakin Ibnu calon mu bisa membuat dirimu bahagia, dan itu harus." Aku menatap Ibu dengan penuh cinta. Ibu yang membesarkan aku seorang diri karena Ayah pergi meninggalkan kami ketika aku masih kecil dulu.

"Terima kasih, Ibu," ucapku tulus. Ibu hanya kembali tersenyum.

"Ya sudah, bantu Ibu potong sayurannya, ya."

"Siap!"

Kami pun saling bahu membahu untuk membuat sarapan. Walau hanya tinggal berdua saja, Ibu tidak pernah lupa untuk memasak. Bagi Ibu ketika kita memasak maka akan membuat rumah nampak hangat. Kita bisa memasak bersama, sarapan bersama dan membereskan sisanya bersama-sama.

Aku dan Ibu sudah seperti sahabat saja, apa pun aku ceritakan pada Ibu tanpa terkecuali. Tapi entahlah apakah ketika nanti sudah menikah aku masih bisa bercerita banyak hal bersama Ibu?

Lalu apakah nanti Ibu tidak kesepian ketika aku pergi? Mendadak aku terdiam mengingat itu semua. Haruskah aku menikah, atau haruskah aku tetap sendiri untuk bisa menjaga Ibu?

"Jangan memikirkan hal yang tidak perlu, Ibu bisa sendiri tanpamu, justru kalau ada kamu, Ibu jadi semakin repot karena harus masak porsi dua orang." Aku menoleh pada Ibu dan langsung marah.

"Ibu keterlaluan!" rajukku. Ibu tertawa melihatku kesal. Aku tersenyum kecil, bagaimana mungkin Ibu ku tahu isi hati ku ini. Ibu ku memang yang terbaik. Aku bergegas memeluknya dengan erat dan penuh sayang.

****

Aku tengah bersantai di kamar saat Ibu ijin keluar sebentar. Aku adalah tipe wanita yang tidak suka keluar rumah dan bergaul dengan banyak orang. Jadi, aku lebih memilih untuk mengurung diri di dalam kamar dengan ponsel di tanganku.

Dan saat tengah asik berselancar di dunia maya sebuah notif pesan masuk ke dalam Wa ku. Aku bergegas membukanya karena aku tahu itu dari siapa.

"Assalamu'alaikum?" Sebuah pesan singkat berupa salam dari calon suamiku.

"Wa'alaikumsalam, Mas," jawabku dengan raut wajah bahagia.

"Hari ini mau ikut beli seserahan?" tanyanya. Dengan hati berdebar dan bahagia aku mengangguk. Eh, untuk apa pula aku mengangguk, kan, calon suamiku tidak bisa melihatnya. Bodohnya aku.

"Ya, Mas," jawabku singkat. Jujur, kami berdua tidak melalui tahap pacaran. Kami hanya saling tahu satu sama lain. Dan saling menyukai sepertinya, eh, bukan sepertinya karena itu adalah kenyataan, terbukti dari calon suamiku yang melamarku kemarin. Ya kan, begitu kan?

Bagaimana sih awal kami bertemu? Baiklah aku ceritakan. Kami bertemu di sebuah Masjid komplek. Tentu saja komplek rumah kami. Aku di ajak salah satu tetanggaku yang seorang guru ngaji. Seumuran denganku sekitar usia 23 tahun. Dan karena Ibu ku tahu aku di ajak ke tempat yang baik untuk beribadah, maka Ibu dengan semangat mendorongku untuk ikut mengajar ngaji.

Awalnya aku menolak tapi kata Ibu. "Ketika kita memiliki ilmu, maka bagilah agar ilmu yang kamu miliki bermanfaat. Untuk apa kamu hebat sendiri, tapi tidak berguna untuk orang lain?"

Ya, kira-kira seperti itu nasehat Ibu yang membuat aku akhirnya mau mengajar ngaji di sebuah Masjid.

Saat di Masjid itulah aku bertemu dengan beberapa guru ngaji yang tak jauh berbeda dengan usiaku. Ternyata semua yang mengajar adalah anak-anak muda yang hebat dan cerdas. Aku jadi salut melihat perjuangan mereka untuk mengajar ngaji tanpa di bayar.

Anak-anak yang mengaji juga lumayan banyak. Aku menyukai suasana di Masjid ini. Oh ya, perkenalkan beberapa guru ngaji yang berteman denganku.

Jaya, ia adalah laki-laki yang pandai membaca al'quran dengan suara merdunya. Ia orang yang tegas dan tak kenal senyum pada wanita. Baginya dosa!

Lalu ada Izlam, ia laki-laki paling muda di antara kami, sekitar umur 19 tahun. masih kuliah dan sangat polos dan juga paling tampan serta imut. Aku menganggapnya adik tapi hanya di hatiku saja, tidak berani mengungkapkan langsung perasaan itu.

Lalu sahabatku Endah, yang sekaligus tetangga dekatku. Ia juga yang mengajakku untuk mengajar ngaji di Masjid ini. Lalu di mana aku bertemu calon suamiku?

Tentu saja di Masjid ini juga, hanya saja calon suami ku ini bukanlah seorang guru ngaji, ia hanya laki-laki yang rajin sholat di Masjid, ketika, Magrib, Isya dan subuh. Berarti selain itu ia di rumah atau tengah bekerja. Itu yang aku tahu.

Dan bagaimana aku bisa kenal dengannya sampai aku di lamar?

Itu karena calonku, Mas Ibnu suka ikut membantu anak-anak mengaji sampai waktu isya datang. Jadi selepas sholat magrib, Mas Ibnu tidak pernah pulang melainkan menunggu sembari mengajar sampai sholat isya tiba.

Dan saat itulah kami sering bertemu karena sama-sama mengajar ngaji anak-anak. Tak pernah sekali pun ada percakapan di antara kami, hanya terkadang saling lirik saja tanpa ada senyum di bibir kami.

Tapi hatiku tergerak, berdegup kencang kala melihat matanya yang tak sengaja bertemu itu. Kami akan langsung menunduk dan mengalihkan perhatian kami pada yang lain.

Tapi, walau begitu kami sering curi pandang membuat Jaya berdehem kala kami tak sengaja ketahuan olehnya. Usia Jaya dan Mas Ibnu berbeda tiga tahun. Jaya itu seumuran dengaku yaitu 23 tahun sementara Mas Ibnu ia berusia 26 tahun. Ya, berbeda tiga tahun dengan kami.

Sampai suatu ketika aku tak sengaja melihat Mas Ibnu berbicara berdua dengan Jaya. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tidak tahu karena menguping adalah hal yang dosa. Jadi, biarkan mereka dan Allah yang tahu. Aku memilih untuk segera masuk ke dalam Masjid dan bergabung dengan yang lain untuk briefing sebelum mengajar.

Dan setelah mengajar kurang lebih tiga bulan, Mas Ibnu memberikan sebuah pesan pada Jaya, lalu Jaya memberikan pesan itu pada Endah sahabatku dan terakhir Endah menyampaikan itu padaku.

Aku tentu saja terdiam mendengar pesan dari Endah dari Mas Ibnu untukku. Aku meliriknya dan ia mengangguk dengan senyum kecil menghias di wajahnya. Aku menunduk dan tersenyum dalam diam.

Aku berbisik pada Endah. "Katakan, datanglah ke rumahku, jika ia memang ingin melamar." Endah tersenyum senang mendengarnya dan langsung menyampaikan itu pada Jaya dan seterusnya.

Kami yang duduk melingkar sehabis mengajar ini hanya saling diam dengan pikiran masing-masing. Tentu saja ada raut bahagia yang tercetak jelas di wajah Mas Ibnu. Wajah yang tertunduk itu terlihat memerah dengan senyum merekah indah di sana.

Mas Ibnu, laki-laki yang membuat jantungku berdegup kencang, kini tengah berniat untuk melamarku. Aku menunduk, tersipu, berdegup, tak sanggup berkata-kata. Intinya aku bahagia, karena laki-laki itulah yang ingin meminangku.

Begitulah akhirnya aku bisa menjadi calon istrinya dan ia menjadi calon suamiku.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Rumah Tanggaku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel CINTA DI MUSIM SEMI
8.0
Kisah romansa modern ini mengikuti perjalanan emosional David dan Arina dalam menemukan kebahagiaan sejati. Di tengah keindahan bunga musim semi yang bermekaran, keduanya belajar saling memahami dan mengisi kekosongan hati masing-masing. Hubungan mereka pun tumbuh dengan indah seiring waktu, membuktikan bahwa satu musim yang singkat mampu menyatukan dua jiwa dalam sebuah ikatan cinta yang tulus serta sangat mendalam bagi mereka berdua.
Sampul Novel Cinta & Pengorbanan Alya
8.5
Demi menyelamatkan nyawa Kartika, ibunya yang butuh biaya medis besar dan donor organ langka, Alya terpaksa mengambil keputusan nekat. Ia menerima tawaran Niko, seorang miliarder yang sangat mendambakan anak, untuk menjadi ibu pengganti. Meski awalnya didasari keputusasaan, kedekatan mereka justru menumbuhkan perasaan cinta yang tak terduga. Hubungan ini pun diuji saat sebuah rahasia besar terkuak, memaksa keduanya memaknai ulang arti cinta serta keluarga.
Sampul Novel Dicampakkan Setelah Menjadi Korban Rudapaksa
9.4
Nalula Diandra hancur saat kesuciannya dirampas di depan kekasihnya akibat rencana jahat kakek pria itu. Bukannya melindungi, sang kekasih justru mencampakkannya dan menikahi wanita lain. Di tengah keputusasaan, Lula ditemukan oleh orang tua kandungnya yang merupakan konglomerat kuat. Bersama keluarga aslinya, ia menyusun rencana pembalasan dendam untuk menghancurkan mantan kekasih dan keluarganya. Namun, akankah kehancuran mereka membawa kedamaian yang ia cari?
Sampul Novel Direndahkan Oleh Keluarga Suami
8.9
Jasmine Bintang, yang memiliki keterbatasan fisik sejak lahir, kerap mengecewakan sang ibu. Harapan indahnya untuk bahagia bersama Ardan Mahendra, suaminya yang sukses, sirna ketika keluarga Ardan terus merendahkannya. Kehadiran Anindya, mantan kekasih Ardan yang membongkar kepalsuan pernikahan mereka, kian memperparah penderitaan Jasmine. Saat Jasmine memilih bercerai demi harga dirinya, Ardan justru menolak keras dan mengancam tidak akan melepaskannya.
Sampul Novel My Bad Boss
8.6
Xavier Narendra Maximilian sangat yakin takkan pernah mau menikah karena baginya wanita hanya teman ranjang semata. Namun, keyakinan sang miliarder goyah setelah ia mengenal sekretarisnya, Adeeva Adelia Albert, yang bersikap dingin dan acuh padanya. Meski Adeeva awalnya menganggap bosnya itu sebagai kesialan terbesar, Xavier justru merasa ia adalah berkah. Kini, rasa benci di antara mereka telah sirna, berganti menjadi hari-hari penuh romansa yang indah.
Sampul Novel Perceraian Aku dan Kakak Kembarku
8.5
Pernikahan dua pasang kembar dengan Leo sang hakim dan Sam sang dokter bedah berakhir tragis. Saat diculik dari rumah sakit, sang istri kehilangan bayinya karena disiksa setelah Sam mengabaikan puluhan panggilan telepon. Sang kakak yang menyelamatkannya juga diabaikan oleh Leo saat meminta bantuan. Setelah lolos dari maut akibat terjebak badai salju dan tanah longsor, kedua saudari yang terluka ini sepakat untuk mengajukan perceraian bersama begitu mereka tersadar di rumah sakit.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan