APKDock Logo
Sampul Novel I Love My Mother's Ex Lover

I Love My Mother's Ex Lover

8.0 / 10.0
Song Dasom tak pernah menyangka cintanya selama tujuh belas tahun pada aktor Yoo Junsu akan berbalas. Namun, di balik hubungan manis mereka, Junsu menyimpan motif terselubung. Ia mendekati Dasom hanya karena wajahnya sangat mirip dengan sang mantan kekasih, yang rupanya adalah ibu kandung Dasom. Begitu rahasia kelam ini terbongkar, Junsu harus bersujud memohon maaf atas kesalahannya. Kini, di tengah rasa sakit hati, keduanya mencoba bertahan dan menyembuhkan luka bersama.

I Love My Mother's Ex Lover Bab 1

"Ah, maafkan ak—" Dasom menggantungkan kalimat, lehernya berkontraksi, kepalanya kini menengadah, membuat dua manik mata cokelatnya menatap jelas wajah itu. "Ahjussi," ujarnya lirih, terpesona sekaligus tak percaya. Orang itu orang yang disukainya sejak ia masih orok. Kebetulan yang indah sekali bisa bertemu dengannya satu banding satu seperti ini, pada waktu yang tak terduga, tempat yang terduga namun sulit menemukan momennya, Dasom bertemu dengan lelaki yang ia puja dengan seluruh kata manisnya.

Yang dipanggil langsung membuka matanya lebar-lebar. "Ahjussi?" tanya pria itu sedikit sebal. Kedua alis tebalnya naik ke atas, sungguh pemandangan yang mematikan untuk Dasom. Belum lagi tubuh kokohnya yang dibalut kemeja dan sweter merah marun. Betul-betul mengajak Song Dasom untuk menjadi gila mendadak!

"Junsu Ahjussi! Aku penggem—" Lelaki itu meletakkan jari telunjuk di bibir Dasom, menghentikan si gadis menyelesaikan kalimatnya. Apaaa? Tangannya menyentuh bibir Dasom pada kali pertama bertemu? Astaga. Kalau begini, Dasom tidak akan fokus bertemu laki-laki di 'dunia nyatanya'. Di pikirannya hanya akan bertengger Yoo Junsu seorang. Tak lekang oleh waktu. Dibuktikan dengan 17 tahun rasanya yang tak memudar, justru semakin menguat, mengakar. Hampir seumuran dengan umur pernikahan orang tua Dasom—21 tahun—ia menyukai aktor kebanggaan negara itu, Yoo Junsu.

"Pertama-tama, aku bukan ahjussi-ahjussi," jelas Junsu sambil menyilangkan tangan di depan dada. Imut sekali kalau kata Dasom. Ah, ia akan selalu mengatakan imut kalau itu Yoo Junsu. Selain imut, kata yang bisa ia keluarkan hanyalah kata-kata pujian lainnya. Begitulah kalau sudah menjadi budak cinta namun tak menyadari bahwa ia telah menjadi budak.

"Tapi umur Ahjus ... ah, maksudnya, umur Oppa sudah tu ... 36 tahun," cicit Dasom. Agak berdebar juga jantungnya melihat idola yang sangat disukai berdiri tepat di hadapannya. Meski 183 cm tinggi lelaki itu sedikit mengintimidasinya—yang cuma 159 cm—ia tak apa.

Junsu mendekatkan wajahnya ke wajah Dasom. Gadis itu salah tingkah, ia tak tahu ternyata idolanya bisa bersikap gila seperti ini. Melihat Dasom bertingkah aneh, Junsu yang tadinya mau berucap, mendadak mengurungkan niatnya, lalu tersenyum dengan bibir kecil itu. Senyum yang selalu membayang-bayangi Dasom setiap waktu.

"Mau minta tanda tangan boleh?" tanya Dasom gagap.

Junsu mengerjapkan kelopak matanya dua kali, sebelum akhirnya tertawa renyah. "Kau hidup di tahun berapa, sih? Memang masih zaman meminta tanda tangan?" tanya pria itu meremehkan.

"Tidak boleh, ya?" Dasom balik bertanya dengan polos. Junsu langsung tertawa lagi. Ah, lelaki itu tak hentinya membuat jantung Dasom berdebar tak karuan. Kurang ajar.

"Junsu-ssi?" Suara sekumpulan wanita menghentikan scene senyum-senyum manis ala Yoo Junsu.

Junsu berbalik membelakangi Dasom. Diam-diam, Dasom mengintip dari balik punggung lebar Junsu. Mentang-mentang kecil, penglihatan Dasom ditutup layaknya tembok yang ditempeli kertas wallpaper saja.

"Hai! Mau foto?" tanya Junsu ramah kepada sekumpulan anak SMA itu. Gadis-gadis langsung menyerbunya, membuat Dasom tersingkir.

Setelah sesi foto-foto dadakan selesai, gadis-gadis itu pergi dengan senyum merekah di wajah mereka. Kalau dipikir-pikir lagi, sungguh beruntung para penggemar itu tidak memcerca Junsu dengan ribuan pertanyaan ketika melihat Dasom ada di sana.

Junsu berbalik, menatap intens Dasom yang masih bengong melihat kepergian gadis-gadis SMA tadi. "Hei? Jadi minta tanda tangan?" tanyanya.

"Eh? Oh, iya, jadi. Ini ..." Dasom mengeluarkan buku dan pensil dari dalam ranselnya—lebih tepatnya ransel adiknya, "di sini," katanya ragu.

Sama dengan Dasom, Junsu menerima buku dan pensil itu dengan ragu. "Yakin kau mau aku menggunakan pensil saja?" tanya Junsu, menimang pensil kecil dalam tangannya yang besar nan kokoh. Pelan, Dasom mengangguk. Ia baru pulang dari menjemput adiknya yang masih TK, jadi tak membawa alat tulis lain selain pensil dan krayon. Masa iya Junsu ia suruh menandatangani kertas dengan krayon?

"Padahal ini bisa cepat hilang." Junsu mengangguk paham. Lelaki itu membuka-buka buku tulis yang Dasom serahkan padanya. Ia terus membuka, mencari halaman yang kosong, tetapi tidak ada. "Penuh," komentarnya sambil menampakkan setiap kertas yang terisi tulisan adik Dasom yang tidak rapi sama sekali.

Sembari menghela napas kecewa, Dasom berniat mengambil buku itu dari tangan Junsu, tetapi pria itu mendadak mengangkat tangannya. Otomatis, Dasom tak mampu menggapainya.

"Ada buku lain?" tanya Junsu masih dengan satu tangan mengudara. Dasom menggeleng.

"Kita hapus saja tulisan di salah satu lembarnya," usul Junsu. Menurut, Dasom langsung mengambil penghapus.

Junsu menyerahkan buku itu kepada gadis dengan rambut sebahu di hadapannya. Dasom dengan sigap menghapus tulisan cakar ayam adiknya sebanyak dua halaman sekaligus, lalu menyerahkannya kepada Junsu.

"Hmm, masih ada bekasnya," ujar Junsu.

Dasom mendesah pelan. "Adikku memang seperti itu. Dia menekan tangannya sekuat tenaga waktu menulis," katanya putus asa.

Junsu tersenyum. "Tidak masalah," katanya.

"Ya?" Dasom membelalakkan mata melihat bagaimana kebaikan Junsu yang di luar batas normal itu terlihat.

"Balik badan," suruh Junsu.

"Hah?" Dasom melongo.

Junsu tak menghiraukan kekeongan Dasom, langsung memegang pundak gadis yang seperti anak kecil di hadapannya itu, membalikkannya. Ia sedikit menunduk, meletakkan buku di punggung Dasom, menjadikannya meja dadakan. Ia membubuhkan tanda tangan sebelum akhirnya berkomentar, "Mejanya sempit."

"Di rumah ada meja," ujar Dasom, menyembunyikan detak jantungnya yang setiap saat mungkin bisa saja terdengar oleh Junsu.

"Jadi aku harus mampir ke rumahmu?" Junsu menyeringai.

"Ahjussi sembarangan. Tapi tidak apa-apa, sih," Dasom berucap. Dia seperti orang gila sekarang karena sikap Junsu.

Seperti saat pertama mereka bertemu beberapa waktu yang lalu, kedua mata Junsu terbuka lebar begitu Dasom menyebutnya ahjussi. "Sudah kubilang, aku bukan ahjussi," belanya.

"Tapi Kakak lahir tahun 1984," cicit Dasom takut-takut.

Junsu berdecak. "Memang kau lahirnya tahun berapa? 1990?" tebaknya.

"2001." Dasom mengatupkan mulut cepat-cepat selesai menyebut tahun lahirnya.

Junsu terdiam mendengarnya. Detik berikutnya, ia berseloroh, "Tapi kau terlihat seperti ahjumma-ahjumma," kilahnya. Semua orang yang punya mata tidak akan setuju dengan pernyataan Junsu. Nyatanya, Dasom masih terlihat seperti anak kecil.

"Ih, saya masih muda!" gerutu Dasom.

"Aigoo, kalau marah langsung berbahasa formal, ya? Tadi waktu pertama ketemu saja kau tidak sopan," goda Junsu.

"Eh, aku tidak sopan, Ahj ... maksudku, Oppa?" Dasom memukul pelan mulutnya.

"Aku-ahjussi. Itu tidak sopan. Harusnya saya-Anda," kata Junsu meledek.

"Oke. Saya minta maaf. Terima kasih, ya, untuk tanda tangan ini. Saya minta maaf sudah mengganggu waktu Anda. Hati-hati ke mana pun Anda pergi, ya. Saya penggemar Anda," ujar Dasom penuh senyum tulus. Ia lalu berjalan pergi meninggalkan Junsu tanpa persetujuan lelaki itu.

"Eh, tunggu dulu! Mau ke mana?" Pertanyaan Junsu membuat Dasom berhenti melangkah, lalu berbalik.

"Kita belum berfoto," ujar Junsu sambil mengeluarkan ponselnya. Kali ini gantian, tanpa menunggu persetujuan Dasom, Junsu sudah berjalan pasti ke arahnya.

Lanjut Membaca

Daftar Isi I Love My Mother's Ex Lover

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Not A Perfect Marriage
9.5
Ivy Marionet menjalani pernikahan rumit yang penuh rahasia dengan seorang ksatria kerajaan. Ia harus berjuang keras demi menyembunyikan identitas aslinya yang misterius. Keadaan kian genting saat campur tangan Putra Mahkota Winter membuat Ivy terancam hukuman mati di tangan suaminya sendiri. Siapa sebenarnya sosok Ivy? Di tengah intrik dan bahaya yang mengintai, mampukah ia mengungkap kebenaran sekaligus menyelamatkan diri dari eksekusi yang membayangi hidupnya?
Sampul Novel Nyawaku di Ujung Kematian Saat Dia Bersenang-senang
9.2
Setelah ditinggalkan saat miskin, Elton kembali sebagai bos mafia berkuasa yang memaksa mantan kekasihnya masuk ke dalam pernikahan paksa. Meski dianggap sebagai istri yang paling dicintai, sang wanita justru harus menyaksikan suaminya membawa perempuan lain ke rumah setiap malam. Alih-alih marah atau cemburu, ia hanya mengurung diri dalam keheningan. Sikap apatis ini memicu kemarahan Elton yang tidak menyadari sebuah kenyataan pahit: waktu istrinya di dunia ini hanya tersisa tujuh hari saja.
Sampul Novel Pandora
9.6
Aaron Elang Cyane kembali dari latihan tiga tahun demi melindungi sahabatnya, namun ia justru mendapati situasi kacau. Guinevere Abigail belum juga pulang, sementara Aurora Bernett diculik organisasi Twilight Fantasy yang mengincar daemon darah murni. Di tengah konflik ini, Elang harus menghadapi perasaan rumitnya pada Aleasha Brunella Aoi dan ancaman pengkhianatan. Takdirnya kini terikat rencana gelap bagai kotak Pandora, menuntut keputusan sulit demi masa depan.
Sampul Novel Pengabdian dan Cinta
9.7
Dua polisi tangguh, Ardi dan Bara, berjuang keras merubuhkan sindikat mafia yang kebal hukum. Namun, misi mereka gagal total setelah Bara tertembak dalam aksi pengintaian. Di tengah situasi kacau itu, Ardi menemukan kenyataan pahit bahwa gembong kriminal yang mereka incar, Arkana, adalah ayah kandungnya. Kini, ia terjebak di antara ikatan darah dan kewajibannya sebagai aparat. Demi hukum dan pengabdian, Ardi akhirnya terpaksa melepaskan tembakan fatal.
Sampul Novel Pengantin Pengganti Untuk Tuan CEO
9.3
Aluna harus menjadi pengantin pengganti setelah kembarannya kabur dari perjodohan dengan CEO kaya, Angga Wijaya Kusuma. Enggan terjebak pernikahan tanpa cinta, ia nekat melarikan diri pada hari pernikahan. Sialnya, rencana itu gagal total saat dirinya malah masuk ke mobil milik calon suaminya sendiri. Kini, Aluna terjebak bersama Angga, menghadapi ancaman kehilangan kebebasannya secara total.
Sampul Novel Suami Pengganti
8.1
Kepergian Rian akibat kecelakaan tragis demi melindunginya membuat dunia Tania runtuh. Di tengah duka mendalam, ia dihadapkan pada tuntutan orang tuanya untuk menikahi Andre, sahabat lamanya sendiri. Pernikahan ini harus terjadi demi memulihkan kondisi kesehatan sang ayah yang memburuk. Tania merasa dikhianati oleh kesediaan Andre menerima perjodohan sepihak ini. Tanpa landasan cinta, akankah rumah tangga paksaan ini berujung bahagia, atau justru membawa luka baru bagi mereka?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan