
Roh Jiwa Putri yang Teraniaya
Bab 4
Keesokan harinya, keluargaku tetap tidak mendapat kabar dariku. Pagi-pagi sekali, Nenek datang langsung ke rumah.
"Nenek!" seruku dengan senang sambil melayang ke arahnya.
Setelah meninggal, aku sering berharap bisa melihat Nenek lagi. Namun, jiwaku terikat oleh Ibu sehingga aku tak bisa pergi jauh. Untungnya, Nenek datang sendiri. Bisa melihatnya lagi membuatku merasa lebih tenang.
Namun, sebelum aku bisa mendekati Nenek, Ferdy langsung menyambutnya dengan ceria, "Nenek!"
Selama bertahun-tahun, Ferdy selalu mencoba mengambil hati Nenek dengan mengatasnamakan kedekatanku dengannya. Dengan bantuanku, Nenek sudah menerima Ferdy sebagai cucu meskipun tidak ada hubungan darah. Nenek juga tidak pernah bersikap terlalu formal terhadap cucu-cucunya.
Dengan lembut, dia menggenggam tangan Ferdy dan mengajaknya duduk, "Sudah dewasa begini, masih saja berisik sekali. Mana kakakmu?"
"Kakak!" teriak Ferdy.
Sierra langsung berlari keluar, "Nenek sudah datang!"
Saat melihat Sierra, Nenek yang tadinya tampak penuh harap, mendadak berubah menjadi dingin. Dia hanya bergumam dengan nada datar, tanpa ada kehangatan sedikit pun.
Melihat hal ini, Ibu langsung mengerutkan kening, "Ibu, Sierra lagi nyapa Ibu. Kenapa Ibu dingin sekali sama dia?"
Mendengar ucapan Ibu, Nenek merasa kesal, "Mau bagaimana perlakuanku terhadapnya, itu bukan urusanmu. Lihat saja tingkah lakunya sehari-hari, apa ada yang bisa disukai dari dirinya?"
Ibu sangat menyayangi Sierra. Mendengar ucapan Nenek, amarahnya langsung terpancing, "Bu, Sierra anak baik. Apa Ibu nggak bisa lebih sabar sama dia?"
Wajah Nenek memerah saking marahnya, lalu menunjuk ke arah Ibu, "Dasar kamu ini, tahunya cuma bela dia. Kamu nggak lihat bagaimana dia menindas orang? Aku memang nggak suka sama dia, memangnya kenapa?"
Ibu juga tidak mau kalah. Dengan tangan yang berkacak pinggang, dia bersitegang terhadap Nenek, "Sierra nggak nindas orang. Kamu bisa jadi begini pasti gara-gara dihasut si Shelly sialan itu, 'kan?"
Sebenarnya, aku hanya pernah menangis di hadapan Nenek sekali. Saat itu karena Nenek membelaku, Ibu menghukumku untuk menyalin tulisan "Maaf, Sierra" sebanyak 10 ribu kali. Aku menulis hingga tanganku hampir tak bisa bergerak lagi dan sejak saat itu, aku tak berani lagi mengadu.
Sejak aku tinggal bersama Ayah dan Ibu, Sierra selalu bersikap memusuhiku. Dia sering memperkirakan waktu dengan tepat untuk sengaja menabrakku, lalu saat Ayah dan Ibu datang, dia berpura-pura terjatuh dan menuduhku mendorongnya.
Sierra juga merobek tugas yang sudah kuselesaikan dan membuatku dihukum oleh guru. Dia menyembunyikan tasku hingga hampir membuatku terlambat ke sekolah. Dia bahkan mencoret-coret bajuku agar aku dipermalukan di depan teman-teman.
Melihat Ibu selalu membelanya, dia semakin berani menindasku. Ketika aku mengadu pada Ayah dan Ibu, tanggapan mereka selalu sama ... mengatakan aku terlalu rewel atau terlalu sensitif. Meski hatiku terasa sakit, aku tak pernah mengeluh lagi.
Saat dewasa, Sierra terus memperlihatkan kekuasaannya di keluarga. Di acara-acara keluarga, dia sering melakukan hal-hal kecil untuk mengucilkanku. Ketika Ayah dan Ibu berulang tahun, dia mengajak semua orang makan di luar, tetapi tidak mengundangku.
Ketika liburan tiba, mereka selalu memintaku untuk menjaga rumah. Lama-kelamaan, Ayah dan Ibu terbiasa dengan peranku yang terabaikan dan aku pun mulai merasa bahwa diriku hanya pantas menjadi sosok yang "ada tapi tak dianggap."
Di ruang tamu, suasana semakin memanas antara Ibu dan Nenek. Akhirnya, Ayah berdiri untuk melerai, "Von, Ibu sudah tua. Jangan bertengkar lagi dengannya. Kita ini satu keluarga, nggak perlu ribut cuma karena masalah sepele."
Meskipun Nenek tidak terlalu menyukai Ayah, demi Ibu dan aku, dia mencoba untuk menerima kehadiran Ayah. Namun, terhadap Sierra yang bukan darah dagingnya, Nenek tetap tidak bisa bersikap ramah.
Setelah menatap tajam ke arah Sierra sekilas, Nenek langsung memalingkan pandangan, seolah-olah merasa muak untuk melihatnya lebih lama.
"Di mana Shelly? Aku mau bawa dia pulang dan tinggal bersamaku dua hari."
Anda Mungkin Juga Suka





