
Roh Jiwa Putri yang Teraniaya
Bab 3
Pembawa acara terus mengimbau masyarakat untuk tidak lagi memasuki kawasan berbahaya tersebut agar terhindar dari insiden yang tidak diinginkan.
Ferdy duduk dengan penuh perhatian, "Lembah Liar ternyata ditutup?"
Ibu tampak seperti mengingat sesuatu, alisnya langsung mengernyit tajam.
Sampai akhirnya Ferdy bangkit dari sofa, lalu menepuk pahanya dengan bersemangat, "Wah, hebat! Jadi, perkemahan kita di Lembah Liar itu yang terakhir? Teman-temanku pasti iri berat. Mereka bahkan belum pernah ke sana, tapi sekarang malah sudah ditutup."
Ekspresi tegang Ibu pun perlahan mulai mereda "Cukup, sudah dewasa begini masih saja berisik seperti anak kecil. Ulang tahun nenekmu sudah dekat, kamu sudah milih hadiah belum?"
Ayah yang tadinya berwajah muram, kini terlihat lebih tenang. "Kali ini, kalian berdua harus pintar ngomong untuk menyenangkan hatinya."
Ferdy memasang wajah meremehkan, "Toh setiap tahun Shelly yang selalu milihin hadiah untukku dan Nenek pasti suka. Jadi, kalian nggak perlu repot-repot." Dia pun kembali menonton pertandingan sepak bola.
Mendengar namaku disebut, tatapan Ibu kembali dipenuhi rasa benci. Dia segera berbalik dan masuk ke kamarnya. Setelah duduk di tempat tidur sejenak, dia pura-pura santai sambil mengambil ponsel.
Ibu membuka percakapan denganku di aplikasi WhatsApp. Percakapan terakhir kami terasa seperti sudah sangat lama. Beberapa kalimat singkat yang dulu terlihat sepele, kini tampak begitu asing.
Raut wajahnya menyiratkan perasaan yang sulit diungkapkan. Dia menahan tombol rekam suara, lalu menggerutu selama belasan detik.
"Shelly, besok juga kamu harus pulang. Aku bisa izinkan kamu tinggal di rumah lagi. Kalau kamu tetap sembunyi, aku akan putus hubungan sama kamu!"
Setelah selesai, dia membuang ponselnya ke samping dan merebahkan diri untuk tidur. Aku berdiri di sisinya, ingin menangis tapi tidak ada air mata yang keluar.
Setengah tahun yang lalu saat aku lulus, Ayah dan Ibu absen dari acara wisudaku yang sudah mereka janjikan akan hadir, hanya karena Sierra mengalami luka kecil. Saat pulang, aku mengeluh pada mereka. Namun, mereka justru mengusirku dari rumah dengan alasan aku sudah dewasa dan bisa tinggal sendiri.
Aku takut jika Nenek tahu tentang ini, Ibu akan kena marah lagi. Oleh karena itu, aku merahasiakannya dari Nenek. Bahkan saat mencari pekerjaan, aku tidak berani menggunakan koneksi Nenek.
Ibu tahu, aku selalu mengharapkan pengakuan darinya dan Ayah seumur hidupku. Itulah kelemahanku. Hanya dengan ancaman putus hubungan, aku pasti akan segera muncul dan meminta maaf padanya.
Namun, kini, ancamannya tak lagi berpengaruh padaku. Karena aku sudah meninggal dua bulan lalu.
Ketika Ibu bangun, hari sudah menjelang senja. Saat dia melihat ponselnya, satu-satunya pesan yang masuk adalah dari sahabat baiknya, Bibi Lucy.
[ Von, seingatku keluarga kalian baru saja pergi ke Lembah Liar beberapa waktu lalu, ya? Semuanya baik-baik saja, 'kan? ]
[ Terus, gimana dengan Shelly? Aku coba telepon dia tapi nggak ada jawaban. ]
Melihat pesan dari Bibi Lucy, aku merasa terharu. Selama ini, selain Nenek, Bibi Lucy adalah salah satu dari segelintir orang yang peduli padaku. Di saat-saat sulit, aku selalu menjaga agar Nenek hanya tahu kabar baikku.
Ketika aku merasa sedih, hanya Bibi Lucy yang akan menepuk pundakku dan menghibur, "Ibumu cuma belum memahami perasaannya. Dia sebenarnya menyayangimu."
Aku selalu percaya pada ucapannya. Namun saat menjelang kematianku, aku terus mencoba menghubungi Ibu, tetapi semua panggilanku malah diabaikan. Saat itulah, aku baru menyadari bahwa di dunia ini ada yang disebut kebohongan dengan niat baik.
Mungkin karena tidak rela, arwahku masih tetap berada di dekat Ibu setelah aku meninggal. Sebenarnya aku tidak ingin begitu. Aku tidak ingin menyaksikan mereka hidup bahagia sebagai keluarga yang lengkap.
Ibu memijat pelipisnya dan membalas pesan Bibi Lucy.
[ Entah sudah mati di mana dia sekarang. Dua hari lagi ulang tahun neneknya, kamu ikut aku ke sana, ya? ]
Bibi Lucy cukup dekat dengan keluarga kami, sehingga dia pun langsung menyetujuinya. Dia bahkan mengatakan bahwa dia telah membawakan syal sutra buatan tangan yang sudah lama kuinginkan.
Gerakan mengetik Ibu sempat terhenti. Dia tahu, syal itu adalah pesananku dari Bibi Lucy sebagai hadiah untuknya. Di awal tahun, aku pernah menanyakan apa yang diinginkannya untuk Hari Ibu dan dia hanya memperlihatkan sebuah video yang sedang ditontonnya di ponsel. Aku langsung mengingatnya.
Anda Mungkin Juga Suka





