APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Roh Istri yang Terikat Abadi

Roh Istri yang Terikat Abadi

Dian diculik saat mengandung, lalu tewas mengenaskan karena Rizal, suaminya, mengabaikannya demi sang sahabat. Ledakan bom menghancurkan tubuh Dian dan bayinya. Sebagai ahli forensik, Rizal malah mengautopsi jasad tak dikenal yang ternyata istrinya sendiri, bahkan sempat melayangkan hinaan. Namun, penemuan kancing baju usang di meja otopsi mendadak menyingkap kenyataan kelam yang seketika meruntuhkan seluruh hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Aku diculik saat sedang hamil dua bulan, dengan bom waktu terikat erat di perutku.

Dengan gemetar, aku menelepon suamiku, Rizal, untuk meminta pertolongan terakhir.

"Jangan drama, Dian! Bella sedang ketakutan karena mati lampu, aku tidak punya waktu untuk leluconmu!"

Itu kata-kata terakhirnya sebelum ia mematikan telepon demi menemani sahabat wanitanya.

Bom itu meledak. Tubuhku hancur bersama janin kami yang belum sempat melihat dunia.

Sebagai roh, aku menyaksikan Rizal-sang ahli forensik-berdiri dingin di depan meja autopsi.

Ia membedah sisa-sisa tubuhku, menyebutku sebagai "Jane Doe", dan bahkan mencemooh betapa menyedihkannya wanita yang mati ini.

Ia tidak sadar, pisau bedahnya sedang mengiris daging istrinya sendiri.

Hingga asistennya menemukan kancing baju yang dulu ia jahitkan untukku di antara serpihan daging yang hangus.

Detik itu, dunia Rizal runtuh.

Bab 1

Dian Sulistia POV:

Aku terkesiap, napasku tertahan di tenggorokan. Sebuah tangan kasar membekap mulutku, menyeretku mundur ke dalam kegelapan. Aroma klorofom yang menusuk hidung membuat pandanganku berputar. Aku tahu ini bukan mimpi buruk. Ini nyata.

Tubuhku diikat erat ke sebuah kursi tua yang reyot. Mataku yang buram berusaha menembus kegelapan, mencari celah, harapan. Sebuah gudang kosong, berdebu, dengan bau logam berkarat yang menyesakkan. Udara dingin merasuk hingga ke tulang.

Sosok pria bertubuh besar berdiri di hadapanku. Wajahnya keras, matanya menyimpan dendam yang membara. Aku mengenali pria itu. Dani Paulus. Gembong narkoba yang Rizal jebloskan ke penjara. Oh, tidak.

"Rizal Darman," suaranya serak, penuh kebencian, "dia pikir dia bisa bermain-main dengan hidupku." Dia mendekat, seringai mengerikan terpampang di wajahnya. "Sekarang, aku akan menunjukkan padanya apa artinya kehilangan segalanya."

Tangannya yang kotor menempelkan sesuatu yang dingin ke perutku. Mataku terbelalak melihat sebuah alat kecil dengan angka-angka digital yang menyala merah. Ini bom. Sebuah bom waktu.

Dani tertawa melihat ekspresi ketakutanku. "Ini untuk suamimu, Dian Sulistia. Hadiah dariku." Dia mengeluarkan ponsel dari sakunya, "Hubungi dia. Katakan selamat tinggal."

Tanganku gemetar saat menerima ponsel itu. Layarnya menampilkan nama "Rizal Darman". Dadaku sesak. Apakah ini akhir dari segalanya?

Aku menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantungku yang berpacu kencang. Jari-jariku yang dingin menekan tombol panggil. Tiap dering terasa seperti palu yang menghantam kepalaku.

"Halo?" Suara Rizal terdengar dingin dan terburu-buru, seperti biasa. "Ada apa lagi, Dian? Aku sedang sibuk."

"Rizal," suaraku bergetar, hampir tak terdengar. Aku bisa merasakan air mata menggenang di pelupuk mataku. "Aku..."

"Aku tahu kau di rumah, kan?" Dia memotong ucapanku, nadanya penuh kesal. "Tidak perlu menelepon hanya untuk memastikan aku baik-baik saja. Aku sudah bilang, aku ada di apartemen Bella. Lampu mati, dia takut sendirian."

Hati ku mencelos. Bella lagi. Selalu Bella.

"Tapi Rizal," aku mencoba lagi, suaraku sedikit lebih kuat, "ini penting. Aku dalam bahaya. Aku diculik."

Terdengar tawa sinis dari ujung telepon. "Oh, ayolah, Dian. Kau ini sudah dewasa. Jangan drama, deh. Aku tahu kau cemburu, tapi tolong, jangan berlebihan."

Dani merebut ponsel dari tanganku. "Dia pikir kau bercanda, ya?" Dia menyeringai, lalu mendekatkan ponsel itu ke telingaku lagi. "Coba lagi. Buat dia percaya."

"Rizal, kumohon," aku memohon, air mataku mulai menetes. "Ada bom di tubuhku. Dani Paulus... dia akan meledakkannya."

Ada keheningan sesaat, lalu Rizal kembali bicara. "Dian, sudah berapa kali kubilang? Jangan membuat cerita aneh-aneh. Bella di sini benar-benar ketakutan. Dia bahkan tidak bisa menyalakan lilin sendiri."

Aku mendengar suara perempuan lain di latar belakang, manja dan merengek. "Rizal, apa yang terjadi? Aku takut." Itu suara Bella.

"Tuh kan," Rizal mendesah frustrasi. "Dian, aku akan meneleponmu nanti. Aku harus menenangkan Bella dulu. Aku tidak punya waktu untuk leluconmu ini."

"Tapi Rizal, ini bukan lelucon! Tolonglah aku!" Aku menjerit.

"Dian, jangan kekanak-kanakan." Nada suaranya semakin tinggi. "Aku tidak tahu apa yang kau inginkan, tapi aku tidak bisa mengurus drama mu sekarang. Bisakah kau bertindak sedikit lebih dewasa?"

Angka di bom berkedip semakin cepat. Waktu terus berjalan.

"Rizal! Aku hamil!" Aku berteriak, berharap pengakuan ini akan menghentikan segalanya. Itu kejutan yang seharusnya kuberikan padanya, hadiah terindah kami.

"Hamil? Kau gila, Dian? Jangan mengada-ada!" Rizal terdengar marah. "Kau pikir dengan mengatakan itu aku akan langsung pulang? Aku tahu kau ingin perhatian, tapi cara ini sungguh tidak masuk akal!"

"Dia hanya mati lampu." Suara Bella kembali terdengar. "Aku benar-benar takut, Rizal."

"Sudah kubilang, Bella. Aku akan segera menemanimu." Rizal terdengar semakin tidak sabar. "Dian, jangan hubungi aku lagi sampai kau bisa berpikir jernih. Aku lelah dengan kecemburuanmu yang tidak beralasan ini."

Klik. Telepon terputus.

Dani Paulus tersenyum lebar. "Lihat kan? Dia tidak peduli." Dia meletakkan ponselnya, lalu melangkah keluar dari gudang. Pintu besi ditutup, mengunci ku dalam kegelapan.

Air mataku tumpah ruah. Mereka mengalir deras membasahi pipiku yang kotor. Aku menatap bom di perutku, angka-angka merah itu terus berkedip, menghitung mundur. Kurang dari lima menit.

Aku tahu Rizal tidak pernah benar-benar mencintaiku. Atau mungkin dia mencintaiku, tapi tidak sebanyak dia mencintai Bella. Bella adalah dunianya, prioritasnya. Aku hanya gangguan, beban, istri yang cemburu dan drama.

Aku teringat saat dia pertama kali mengenalkanku pada Bella. "Dia sahabat masa kecilku," katanya, menepuk kepala Bella dengan penuh kasih sayang. "Aku sudah berjanji padanya, akan selalu menjaganya." Saat itu aku tidak berpikir apa-apa. Sekarang, janji itu bagaikan kutukan.

Aku merogoh saku bajuku yang sudah lusuh. Ada ponselku sendiri di sana. Dengan jari gemetar, aku membuka aplikasi pesan. Aku mengetik pesan terakhir untuk Rizal.

"Rizal, aku tidak tahu apakah kau akan membaca ini, tapi... aku tidak berbohong. Aku diculik. Ada bom di perutku. Dan ya, aku hamil. Dua bulan. Aku ingin memberimu kejutan. Kuharap kau bahagia dengan Bella. Selamat tinggal."

Aku menekan tombol kirim. Pesan itu terkirim. Aku melihat angka di bom itu. Semakin sedikit. Semakin cepat.

Aku menutup mataku. Rasa sakit di hatiku jauh lebih pedih daripada rasa takut akan kematian. Aku mencintainya. Aku mencintai suamiku, meskipun dia mengabaikanku, meskipun dia lebih memilih Bella. Aku mencintainya sampai akhir.

Dia tidak pernah mencintaiku, kan? Dia hanya terbiasa denganku. Bella adalah satu-satunya yang dia pedulikan. Bella yang manja, Bella yang selalu membutuhkan pertolongan. Sedangkan aku, istrinya, selalu aman. Selalu mandiri. Selalu bisa ditinggalkan.

Sinis sekali. Dia menganggap teleponku adalah gangguan, bentuk kecemburuan yang tidak masuk akal. Dia menganggap aku "kabur dari rumah" dan "mencari perhatian". Dia bahkan tidak menyadari, atau tidak mau menyadari, bahwa aku benar-benar dalam masalah.

Aku berpikir tentang ciuman terakhir kami, tentang janji-janji yang dia ucapkan di hari pernikahan. Semua itu terasa seperti kebohongan sekarang. Semua itu terasa seperti ejekan. Aku seharusnya tidak pernah mencintainya. Seharusnya aku mendengarkan orang tuaku.

Ayah dan Ibu selalu bilang, "Rizal tidak layak untukmu, Dian. Dia terlalu dingin. Dia terlalu keras." Tapi aku tidak percaya. Aku yakin aku bisa mengubahnya, meluluhkan hatinya. Aku salah. Aku sangat salah.

Aku merasakan getaran di dadaku. Angka di bom itu kini hanya menunjukkan beberapa detik. Detik terakhir hidupku. Detik terakhir hidup anakku.

Aku tidak bisa menahan erangan yang lolos dari bibirku. Ini tidak adil. Sungguh tidak adil. Dia memilih mati lampu Bella daripada nyawa istrinya dan anaknya.

Aku menutup mataku lagi, erat-erat. Aku membayangkan wajah ayah dan ibuku. Aku membayangkan anakku yang belum sempat melihat dunia. Aku membayangkan Rizal, tertawa bersama Bella.

Sekarang, aku tahu pasti. Aku bukan prioritasnya. Aku tidak pernah menjadi prioritasnya. Dan itu, lebih dari bom ini, menghancurkan duniaku.

Napas terakhirku terembus. Ledakan itu begitu kuat, menghancurkan segalanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Pemenang Dalam Hidupku
8.6
Selama bertahun-tahun, ia selalu mengalah dan diabaikan oleh keluarganya demi sang adik. Puncaknya terjadi di hari pernikahannya, saat ayah, ibu, kakak, serta tunangannya yang merupakan seorang bos mafia, Jason, justru pergi menghadiri wisuda adiknya. Ditinggalkan sendirian menanggung malu di hadapan para tamu, ia akhirnya sadar bahwa dirinya tidak pernah dianggap penting. Bertekad untuk tidak lagi mengharapkan kasih sayang mereka, ia memutuskan pergi membawa koper dan rahasia kehamilannya demi memulai lembaran hidup baru.
Sampul Novel Bukan inginku Selingkuh
9.1
Menjunjung tinggi kesetiaan tak melindungi Ruela dari pengkhianatan Frans. Suaminya itu justru berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Alih-alih meratapi nasib, Ruela memilih bangkit demi menuntut balas. Di tengah rencana pembalasan dendam tersebut, takdir mempertemukannya dengan Felix, pemuda yang melewati malam penuh gairah bersamanya. Mampukah Ruela menghancurkan para pengkhianat di hidupnya? Inilah kisah penuh luka, ambisi, dan pertemuan tak terduga.
Sampul Novel Gairah Istri Kelima Juragan
9.3
Suami Malini lenyap tanpa jejak, meninggalkan tumpukan utang yang menjeratnya. Di tengah keputusasaan, Juragan Chandrakanta yang bergelimang harta datang menawarkan jalan keluar dengan menjadikannya istri kelima. Sempat menolak dan memilih kerja kasar, Malini akhirnya tak kuasa membendung pesona sang juragan. Lewat daya pikat dan mantra rahasia, ia takluk dalam semalam. Akankah Malini sepenuhnya menyerah pada gairah dan masuk ke lingkaran keluarga Chandrakanta?
Sampul Novel HARLEIN
9.8
Sebagai pewaris takhta Kerajaan Fortania, Harlein meyakini cinta tak mengenal kasta. Namun, Anggara Mahesa justru mundur karena merasa status sosial mereka terlalu timpang. Saat Anggara memilih menjauh demi kebaikan bersama, sang putri menuntut perjuangan yang seimbang. Kini, Harlein mulai lelah mengemis perhatian di tengah penolakan yang ada. Sanggupkah ia mempertahankan perasaannya ketika sang kekasih justru memilih untuk menyerah?
Sampul Novel Pengantin Pengganti
9.6
Pernikahan sempat menyembuhkan luka masa lalu Ainayya Hikari Salvina, namun kebahagiaan itu sirna akibat pengkhianatan yang memaksanya pergi dari rumah. Kini, penyesalan mendalam menghantui Albara Demian Dominic atas kehancuran rumah tangga yang ia perbuat sendiri. Albara pun harus berjuang keras demi menebus kesalahan besar dan mengobati luka hati sang istri. Akankah perjuangan panjangnya berhasil merebut kembali cinta berharga yang pernah ia sia-siakan?
Sampul Novel Putri Raja Kasino: Pembalasan
8.4
Luna Croft dikhianati oleh Smith Caldwell, kekasih yang mencampakkannya demi Alice Moore setelah merasa kaya raya. Namun saat jatuh bangkrut, Smith justru menyerahkan Luna kepada rentenir demi melunasi utang. Dianggap sebagai gadis yatim piatu yang tak berdaya, Luna justru tertawa saat dikepung. Dengan berani, ia menuntut untuk menghadap bos kasino demi mengungkap identitas aslinya yang selama ini dirahasiakan.