APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ranjang Panas Istri Kedua

Ranjang Panas Istri Kedua

Di dalam kamar yang sunyi dan terasa sesak, Bella terbuai dalam pusaran gairah hangat bersama Bram. Dekapan erat sang suami membuatnya meremas sprei dengan kuat, seiring napas mereka yang saling memburu. Bella tidak mampu lagi menahan rintihan nikmat yang dipicu oleh setiap sentuhan intim dari suaminya. Bram pun terus memacu hasrat sang istri, menikmati setiap getaran tubuh Bella. Malam itu, derit ranjang menjadi saksi bisu bagi keintiman membara yang mereka lalui.
Bab
Bagikan

Bab 2

Setelah persetujuan itu, Bella dan kedua orang tuanya pulang ke rumah. Langkah mereka terasa berat, seolah setiap hentakan kaki membawa beban yang tak terlihat. Begitu pintu rumah tertutup, Bella segera melangkah ke kamarnya. Tangannya gemetar saat meraih tas besar di sudut ruangan. Ia mulai melipat pakaian satu per satu, namun matanya berkaca-kaca, menahan air mata yang terus mendesak keluar.

"Aku siap-siap dulu, Pak, Bu... Takut kalau kelamaan nanti Juragan Bram marah lagi pada kita," ucapnya dengan suara parau, berusaha tersenyum meski hatinya bergetar.

Joko berdiri di ambang pintu, wajahnya muram. "Apa kita pergi saja dari sini? Biar kamu tidak jadi istri keduanya," ujarnya dengan nada ragu, namun tatapannya penuh harap.

Intan yang berdiri di belakang suaminya langsung mengangguk. "Iya, benar. Kita pergi saja. Kita masih bisa memulai hidup di tempat lain."

Bella menghentikan lipatan bajunya. Ia menunduk, jemarinya meremas kain baju yang ada di pangkuannya. "Menurutku itu bukan solusi, Pak, Bu. Kita tahu siapa Juragan Bram. Kalau kita sembarangan pergi, itu justru akan membawa masalah yang lebih besar untuk kita bertiga. Aku... sudah ikhlas menerima takdirku. Semoga saja ini memang jalan hidup terbaikku," ucapnya pelan.

Setelah itu, ia kembali membereskan pakaian, memasukkannya ke dalam koper dengan gerakan kaku. Dalam hatinya, ia berulang kali meyakinkan diri bahwa ia kuat... meski kenyataannya, hatinya hancur.

Sementara itu, di sebuah kamar mewah yang dikelilingi perabotan mahal, suasana terasa tegang. Bram duduk santai di kursi kulit hitam, sementara di hadapannya Tiara berdiri tegak. Napas Tiara memburu, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Tatapan matanya tajam, penuh kemarahan yang berusaha ia tahan.

"Coba kamu pikir baik-baik, mas. Kenapa kamu harus menikah lagi? Aku tidak mau dimadu seperti ini!" serunya, suaranya meninggi, penuh emosi.

Bram hanya menghela napas, lalu menatapnya dengan dingin. "Kalau tidak mau dimadu, berikan aku anak. Sudah lebih dari sepuluh tahun kita menikah, Tiara. Sampai sekarang kamu belum juga hamil. Kalau aku tidak punya anak, siapa yang akan meneruskan semua ini? Aku anak tunggal. Orang tuaku jauh di Belanda. Menikahi Bella adalah keputusan terbaik yang bisa aku ambil. Suka atau tidak, kamu harus menerimanya. Kalau tidak... silakan keluar dari rumah ini."

"Bram!!" bentak Tiara, dadanya naik turun menahan amarah dan luka yang menyesakkan.

"Apa? Tidak terima?" Bram menaikkan sebelah alisnya, nada bicaranya meremehkan.

Tiara terdiam. Kepalanya menunduk, matanya terasa panas. Air mata hampir jatuh, tapi ia menahannya. Ia tahu, meski sekeras apa pun ia berusaha, tubuhnya memang tidak mampu memberikan anak pada suaminya.

"Baik," ujarnya lirih setelah hening sesaat. "Aku tidak akan menghalangi pernikahan itu. Tapi... setelah dia punya anak, ceraikan dia."

Bram bangkit perlahan, langkahnya mantap menuju Tiara. Tatapannya berubah tajam, penuh amarah yang terpendam. Tanpa ragu, ia mencengkeram wajah Tiara, membuat wanita itu meringis kesakitan.

"Jangan mengaturku," ucapnya dengan suara rendah namun penuh ancaman. "Kau tidak punya hak untuk mengatur hidupku."

Dengan kasar, Bram melepaskan cengkeramannya, mendorong Tiara hingga terhempas ke sofa. Tiara memegangi pipinya yang perih, menatap suaminya dengan campuran rasa sakit dan benci.

Sebelum keluar dari kamar, Bram sempat menoleh, matanya menusuk seperti pisau. "Pernikahan kami akan dilaksanakan malam ini. Jangan membuat kekacauan."

Pintu tertutup keras, meninggalkan Tiara sendirian. Ia jatuh terduduk, dadanya bergetar hebat, dan kali ini ia tidak mampu lagi menahan air mata.

***

Sore itu, Bella tiba kembali di rumah mewah milik Bram. Gerbang besar terbuka perlahan, memperlihatkan halaman luas dengan taman yang tertata rapi. Namun, keindahan itu tak mampu mengusir rasa sesak di dadanya. Langkah kakinya terasa berat, seolah setiap injakan membawa beban yang tak terlihat.

Begitu memasuki ruang tamu yang megah dengan lampu gantung kristal berkilauan, ia disambut oleh seorang wanita paruh baya. Wajahnya ramah, senyumnya hangat, berbeda kontras dengan hawa tegang yang menyelimuti rumah itu.

"Selamat datang, Non. Ayo, saya antar ke kamar. Saya sudah menunggu Non Bella sejak tadi," ucap wanita itu lembut.

Bella mengangguk pelan. "Iya, Mbok. Nama Mbok siapa?" tanyanya lirih, suaranya nyaris tenggelam di antara denting halus jam dinding.

"Panggil saja Mbok Inem," jawabnya sambil tersenyum.

Bella kembali mengangguk. Mereka berjalan menuju tangga besar yang membelah ruang tamu, naik ke lantai atas menuju kamar yang telah disiapkan. Namun, langkah Bella terhenti tiba-tiba. Sebuah tangan mencengkeram lengannya dengan keras.

Ia menoleh, dan di hadapannya berdiri seorang wanita cantik dengan gaun mahal, namun wajahnya dipenuhi amarah. Tatapan matanya tajam, menusuk seperti pisau.

"Jadi kau orangnya? Kau yang akan menikah dengan suamiku," kata Tiara, suaranya dingin namun penuh penekanan.

Bella hanya mengangguk pelan, tak berani membalas tatapan itu. Ia tahu, di hadapannya kini adalah istri pertama Bram, wanita yang sedang dikuasai amarah.

"Kau pikir kau bisa mendapatkan suamiku? Kau akan menderita di sini," ujar Tiara, bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang penuh ancaman.

Bella menelan ludah. "Saya tidak bermaksud merebut suami Anda. Saya hanya menjalankan apa yang suami Anda minta," jawabnya pelan, mencoba menjaga suara tetap tenang meski jantungnya berdebar keras.

Tiara mendekat, jaraknya kini hanya sejengkal. Tangan halus namun kuat itu mencengkeram wajah Bella, memaksanya menatap. Sorot matanya penuh kebencian.

"Dengarkan baik-baik. Dia tidak akan mencintaimu. Dia hanya ingin anak darimu. Setelah anak itu lahir, kau akan pergi dari sini. Jangan pernah berharap mendapatkan harta... atau dirinya," ucap Tiara dengan nada yang nyaris seperti bisikan namun terasa seperti racun di telinga Bella.

Setelah itu, Tiara melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Tumit sepatunya berderap di lantai marmer saat ia pergi, meninggalkan Bella yang terhuyung sedikit.

Bella menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran di dadanya. Ia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Pasrah... hanya itu yang bisa ia lakukan.

"Ayo, Non," suara lembut Mbok Inem memecah keheningan. Ia mempersilakan Bella masuk ke kamar yang telah disiapkan.

Kamar itu luas, dengan ranjang besar berseprai putih bersih, lemari tinggi dari kayu jati, dan tirai tebal yang menutupi jendela. Bella duduk di tepi ranjang, matanya kosong menatap ke depan.

Sore ini mungkin ia masih aman. Namun malam nanti, ia harus menghadapi sesuatu yang selama ini tidak pernah ia bayangkan. Seseorang yang tidak pernah ia cintai... akan menuntutnya di ranjang.

"Apa aku bisa melakukannya? Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara melayaninya." gumamnya dalam hati, jemarinya menggenggam erat ujung seprai, seolah itu satu-satunya pegangan di tengah badai yang akan datang.

Bab kedua

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Amnesia
7.9
Saat tersadar, aku hanya merasakan kekosongan yang membingungkan. Kamar tempatku berada dan orang-orang di sekitarku yang memandang penuh cemas terasa sangat asing. Ingatanku benar-benar terhapus tanpa menyisakan petunjuk tentang lokasi ini atau siapa mereka sebenarnya. Bahkan ketika menatap cermin, aku tidak mengenali sosok yang terpantul di sana. Aku telah kehilangan jati diriku sepenuhnya dan terjebak dalam misteri identitas yang lenyap.
Sampul Novel Cerita dewasa
7.9
Kisah romansa modern ini menyajikan dinamika hubungan dewasa yang intim antara pria dan wanita. Karena dipenuhi adegan eksplisit khusus dewasa, buku ini tidak boleh dibaca oleh anak di bawah umur. Pembaca wajib berusia minimal 21 tahun untuk menikmati seluruh alur ceritanya. Penulis sangat mengharapkan dukungan Anda agar karya imajinatif ini dapat terus berkembang. Pastikan usia Anda memenuhi syarat sebelum mulai membaca kisah ini. Terima kasih.
Sampul Novel Hati Seorang Perempuan
9.3
Senjahari Semesta Alam dengan ikhlas merelakan dirinya diceraikan oleh suaminya sendiri demi menikahi Mega Mentari--anak perempuan pemilik perusahaan yang mengaku dihamili oleh suaminya sendiri, Abimanyu Wicaksana. Sementara itu Halilintar Sabda Alam-- kakak sulung Mega Mentari. Pemilik beberapa perusahaan properti raksasa negeri ini, jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Senja, yang diperkenalkan oleh mertuanya sebagai adik bungsu Abimanyu. Abimanyu yang merasa dijebak sebagai kambing hitam dalam masalah hamilnya Tari, terus berusaha mencari kebenaran yang sesungguhnya agar bisa meraih kembali hati Senja. Sementara Sabda yang awalnya jatuh cinta pada Senja, menjadi salah faham saat secara tidak sengaja memergoki Abimanyu memesrai Senja bukan seperti seorang kakak terhadap adiknya, melainkan seperti seorang laki-laki yang tengah mabuk asmara. Sabda yang gelap mata malah akhirnya menjebak Senja dan menanamkan benihnya dirahim Senja. "Saya mohon, jangan memperlakukan Saya seperti ini. Saya punya salah apa pada Bapak? Laki-laki sejati tidak akan menggunakan kekuatannya untuk memaksakan dirinya terhadap seorang perempuan. Saya mohon jangan mengotori saya. Demi Allah saya bersumpah, saya tidak seperti apa yang ada dalam pemikiran, Bapak." (Senjahari Semesta Alam) "Salah kamu adalah, karena kamu telah menjadi duri dalam daging dalam rumah tangga adik saya! Kamu fikir saya tidak tahu akan hubungan terlarang kamu dengan Abimanyu? Kalian berdua itu incest, dan itu amat sangat menjijikkan! Kita lihat saja, setelah ini kamu masih bisa memandang dunia dengan kepala tegak, atau kamu akan melata seperti ular di kaki Saya!" (Halilintar Sabda Alam)
Sampul Novel Masa Lalu Yang Kau Tinggalkan
8.3
Setahun menikah, Hilda dihadapkan pada kenyataan pahit saat Marsel, suaminya, mendesak untuk menjual rumah warisan peninggalan orang tuanya demi investasi masa depan. Bagi Hilda, bangunan itu adalah satu-satunya kenangan fisik yang tersisa dari mendiang ayah dan ibunya. Sikap Marsel yang pragmatis memicu perselisihan hebat di antara mereka. Hilda yang bersikeras mempertahankan aset berharga tersebut kini mulai meragukan ketulusan serta sosok pria yang telah ia nikahi.
Sampul Novel Membangkitkan Kembali Cinta yang Kedaluwarsa
9.5
Tiga tahun Alicia bertahan dalam pernikahan tanpa cinta bersama Erick Ellis. Saat ia berharap hubungan mereka membaik, Erick justru ingin kembali pada cinta lamanya. Kecewa, Alicia memilih cerai, tetapi Erick menolak melepaskannya. Kini, Alicia telah menjelma menjadi wanita sukses yang dikagumi banyak pria. Pertemuan kembali mereka mengungkap keberadaan anak-anak di sisi Alicia. Erick pun memohon untuk menjadi ayah mereka, namun ditolak mentah-mentah meski ia terus mengejarnya.
Sampul Novel Mencuri Hatimu
8.8
Demi kesepakatan rahasia, seorang wanita mengandung anak pria asing sebelum menikahi tunangan masa kecilnya. Walau pernikahan mereka semula hanya transaksi formal, perlahan benih cinta tumbuh di hati keduanya. Namun, saat waktu melahirkan tiba, sang istri justru menuntut perceraian. Sadar akan kesalahannya, sang suami kini memohon agar ia kembali, menyadari bahwa wanita itu adalah satu-satunya cinta sejatinya.