APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ranjang Panas Istri Kedua

Ranjang Panas Istri Kedua

Di dalam kamar yang sunyi dan terasa sesak, Bella terbuai dalam pusaran gairah hangat bersama Bram. Dekapan erat sang suami membuatnya meremas sprei dengan kuat, seiring napas mereka yang saling memburu. Bella tidak mampu lagi menahan rintihan nikmat yang dipicu oleh setiap sentuhan intim dari suaminya. Bram pun terus memacu hasrat sang istri, menikmati setiap getaran tubuh Bella. Malam itu, derit ranjang menjadi saksi bisu bagi keintiman membara yang mereka lalui.
Bab
Bagikan

Bab 3

Acara pernikahan itu akhirnya digelar malam itu juga. Sederhana, tanpa kemewahan berlebih, hanya dihadiri oleh beberapa orang terdekat termasuk kedua orang tua Bella. Semua berjalan lancar, tanpa kendala, hingga akhirnya malam itu Bram resmi mendapatkan gadis yang selama ini menjadi incaran banyak pemuda di desa.

Bella hanya bisa menahan air mata ketika dirinya sah menjadi istri dari seorang pria yang sebenarnya sudah beristri. Hatinya terasa begitu hancur. Menyedihkan sekali, namun apa lagi yang bisa ia lakukan? Nasi sudah menjadi bubur. Takdir telah menuntunnya ke jalan ini, dan ia hanya bisa belajar menerimanya.

Usai acara pernikahan, Bella memilih mengantarkan kedua orang tuanya pulang, meski hanya sampai depan rumah mewah yang kini resmi menjadi tempat tinggalnya.

"Maafkan bapak dan ibu ya, Nak," ucap Joko lirih, suaranya bergetar menahan rasa bersalah.

Bella tersenyum kecil, meski matanya berkaca-kaca. "Bapak, ibu... kalian tidak perlu merasa bersalah. Aku baik-baik saja di sini. Aku yakin bisa menjalani kehidupanku dengan baik," jawabnya, berusaha tegar.

Kedua orang tuanya hanya bisa menatap putri mereka itu dengan penuh rasa haru dan penyesalan. Setelah mengucapkan salam perpisahan, mereka berdua pun melangkah pergi. Bella berdiri terpaku, matanya mengikuti langkah orang tuanya sampai benar-benar hilang dari pandangan. Hatinya terasa semakin kosong.

Barulah kemudian ia berbalik masuk ke dalam rumah besar itu. Suasana di dalam sudah sangat sepi. Bram memang sebelumnya meminta semua orang untuk segera pulang, tak ingin ada siapapun yang tersisa di sana.

Bella menggigit bibirnya, perasaan resah menguasai dadanya. "Dia sudah mengusir semua orang... itu artinya malam ini aku harus melayaninya," gumamnya dalam hati. Jantungnya berdetak begitu cepat, membuat langkahnya terasa berat. Ia benar-benar tidak tahu harus memulai dari mana.

Dengan perlahan, kakinya menaiki anak tangga satu per satu. Suara langkahnya terdengar begitu jelas di tengah keheningan rumah itu. Setiap langkah terasa seperti menyeret dirinya semakin dekat pada kenyataan yang tak bisa ia hindari. Sesampainya di depan pintu kamar, tangannya gemetar saat memegang gagang pintu. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mendorong pintu itu terbuka.

Di dalam, pandangannya langsung tertuju pada Bram. Pria itu sedang melepaskan pakaiannya, kini hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan. Bella terdiam. Ada rasa takut yang menjalari tubuhnya, tapi di saat yang sama, matanya tak bisa mengelak dari kenyataan bahwa Bram bukan pria tua yang menjijikkan seperti yang ia bayangkan selama ini.

Ia tampak gagah, dengan tubuh tinggi dan berotot, dada bidang yang dihiasi beberapa tato, serta wajah keturunan Belanda yang masih tampak jelas. Proporsinya begitu sempurna, membuatnya terlihat seperti sosok yang berbeda dibandingkan bayangan buruk di benak Bella.

Bram menoleh, sorot matanya langsung mengunci Bella. Senyumnya tipis, namun penuh dengan makna yang membuat Bella semakin gugup.

"Kau sudah datang," ucap Bram pelan, tapi tegas. Suaranya berat, penuh wibawa. "Mendekatlah. Aku tidak sabar menikmati tubuh indahmu."

Bella menelan ludah. Dari tatapan matanya saja, ia bisa merasakan betapa kuat hasrat pria itu malam ini.

"Kenapa diam? Kau tuli?" suara Bram terdengar berat, tajam, membuat Bella tersentak. Tatapan matanya yang semula penuh hasrat kini berubah dingin, menekan, membuat tubuh Bella semakin bergetar.

Dengan langkah ragu, Bella akhirnya mendekat. Ia memilih duduk di samping Bram, bukannya di atas pangkuannya. Baginya, itu cara paling aman agar jarak tak terlalu terasa menyesakkan. Namun, pilihan itu justru membuat Bram semakin bernafsu. Ia segera menggeser tubuhnya, menahan Bella agar tidak sempat menjauh.

Mata mereka bertemu. Jarak di antara keduanya kini hanya beberapa sentimeter, membuat Bella menahan napas. Ketakutan bercampur dengan rasa asing yang sulit ia pahami.

"Tenang, sayang..." suara Bram terdengar parau, bergetar bukan karena gugup, melainkan karena nafsu yang menguasainya. "Semua tidak seburuk yang kamu pikirkan. Percayalah, kamu akan merasakan kepuasan dari permainan yang kuberikan."

Bella tidak mampu berkata-kata. Ia hanya mengangguk pelan, mencoba menenangkan dirinya meski jantungnya berdebar semakin kencang. Dan dalam hitungan detik, bibir Bram sudah menyapu bibirnya.

Itu adalah ciuman pertamanya. Bella terkejut, tubuhnya kaku. Bibir Bram terasa begitu kuat, seolah menghisap setiap helai rasa yang ada padanya. Basah, hangat, dan asing.

"Buka bibirmu, sayang," bisik Bram di sela ciumannya.

Dengan ragu, Bella membuka bibirnya sedikit. Seketika, lidah Bram menyusup masuk, menelusuri rongga mulutnya dengan penuh agresi. Bella tersentak, spontan ingin melepaskan diri. Namun Bram tidak membiarkannya. Ia menekan semakin dalam, membuat Bella gelagapan, bingung, tak tahu harus berbuat apa.

Beberapa saat berlalu, tubuh Bella mulai menyerah. Ia perlahan memahami apa yang diinginkan pria itu. Rasa takutnya berangsur bercampur dengan keheningan pasrah. Ia membiarkan Bram mengeksplorasi, meski dalam hatinya tetap berteriak menolak.

Tangan Bram tentu saja tidak diam. Jemarinya dengan berani merayap, meremas bagian tubuh Bella yang paling ia idam-idamkan. Sentuhannya kasar, penuh hasrat. Yang membuat Bella menggigil, tak berdaya.

Ciuman itu kian menurun, menelusuri leher jenjang Bella. Gadis itu tanpa sadar mendongakkan kepalanya, sebuah refleks yang tak bisa ia kendalikan. Membuat Bram semakin leluasa mengecup, menekan bibirnya di kulit halus itu, meninggalkan tanda yang seolah menjadi cap kepemilikan.

"Ahh... panas," desah Bella, suaranya lirih, hampir tak ia sadari keluar dari bibirnya.

Ucapan itu justru membuat darah Bram semakin bergolak. Hasratnya meledak, tubuhnya semakin menekan tubuh mungil Bella, seakan ingin menelan seluruh rasa takut yang tersisa.

Namun tiba-tiba, Bella merasakan sesuatu yang janggal. Ada aliran hangat yang merembes di bawah sana, bukan kenikmatan, melainkan rasa sakit yang menusuk, tak nyaman, dan sangat ia kenali. Hatinya langsung mencelos.

"Juragan... tunggu sebentar," ucap Bella dengan panik, tangannya mendorong dada bidang pria itu.

Bram mengangkat wajahnya, napasnya terengah seperti seseorang yang baru saja berlari jauh. "Kenapa?" tanyanya, sorot matanya masih menyala, penuh gejolak.

Bella menunduk, menahan rasa malu bercampur cemas. "Sepertinya... saya datang bulan," jawabnya dengan suara nyaris bergetar.

Dahi Bram langsung berkerut, nadanya meninggi. "Jangan menipuku! Kau pasti sudah basah kan? Itu bukan datang bulan, kau hanya sedang berhasrat."

Bella menggeleng cepat, berusaha menjelaskan. "Tidak, Juragan... saya serius." Ia segera beranjak, berlari kecil ke kamar mandi. Bram sempat menatap punggungnya dengan tatapan penuh curiga, namun beberapa detik kemudian matanya menangkap noda merah di belakang gaun tidur Bella.

Mata Bram melebar, wajahnya memanas bukan karena gairah semata, melainkan juga karena frustrasi. "Ahh, sial!" teriaknya, mengepalkan tangan.

Napasnya kian memburu, tubuhnya dipenuhi campuran hasrat yang tak tersalurkan dan emosi yang meledak-ledak. Ia merasa seperti dipermainkan oleh keadaan. Malam yang seharusnya menjadi awal untuk melampiaskan keinginan terpendamnya justru dipatahkan begitu saja.

Dalam pikirannya hanya ada satu jalan keluar. Jika Bella tak bisa melayani, maka hanya satu orang yang bisa memenuhi nafsunya malam itu, istri pertamanya.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Amnesia
7.9
Saat tersadar, aku hanya merasakan kekosongan yang membingungkan. Kamar tempatku berada dan orang-orang di sekitarku yang memandang penuh cemas terasa sangat asing. Ingatanku benar-benar terhapus tanpa menyisakan petunjuk tentang lokasi ini atau siapa mereka sebenarnya. Bahkan ketika menatap cermin, aku tidak mengenali sosok yang terpantul di sana. Aku telah kehilangan jati diriku sepenuhnya dan terjebak dalam misteri identitas yang lenyap.
Sampul Novel Cerita dewasa
7.9
Kisah romansa modern ini menyajikan dinamika hubungan dewasa yang intim antara pria dan wanita. Karena dipenuhi adegan eksplisit khusus dewasa, buku ini tidak boleh dibaca oleh anak di bawah umur. Pembaca wajib berusia minimal 21 tahun untuk menikmati seluruh alur ceritanya. Penulis sangat mengharapkan dukungan Anda agar karya imajinatif ini dapat terus berkembang. Pastikan usia Anda memenuhi syarat sebelum mulai membaca kisah ini. Terima kasih.
Sampul Novel Hati Seorang Perempuan
9.3
Senjahari Semesta Alam dengan ikhlas merelakan dirinya diceraikan oleh suaminya sendiri demi menikahi Mega Mentari--anak perempuan pemilik perusahaan yang mengaku dihamili oleh suaminya sendiri, Abimanyu Wicaksana. Sementara itu Halilintar Sabda Alam-- kakak sulung Mega Mentari. Pemilik beberapa perusahaan properti raksasa negeri ini, jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Senja, yang diperkenalkan oleh mertuanya sebagai adik bungsu Abimanyu. Abimanyu yang merasa dijebak sebagai kambing hitam dalam masalah hamilnya Tari, terus berusaha mencari kebenaran yang sesungguhnya agar bisa meraih kembali hati Senja. Sementara Sabda yang awalnya jatuh cinta pada Senja, menjadi salah faham saat secara tidak sengaja memergoki Abimanyu memesrai Senja bukan seperti seorang kakak terhadap adiknya, melainkan seperti seorang laki-laki yang tengah mabuk asmara. Sabda yang gelap mata malah akhirnya menjebak Senja dan menanamkan benihnya dirahim Senja. "Saya mohon, jangan memperlakukan Saya seperti ini. Saya punya salah apa pada Bapak? Laki-laki sejati tidak akan menggunakan kekuatannya untuk memaksakan dirinya terhadap seorang perempuan. Saya mohon jangan mengotori saya. Demi Allah saya bersumpah, saya tidak seperti apa yang ada dalam pemikiran, Bapak." (Senjahari Semesta Alam) "Salah kamu adalah, karena kamu telah menjadi duri dalam daging dalam rumah tangga adik saya! Kamu fikir saya tidak tahu akan hubungan terlarang kamu dengan Abimanyu? Kalian berdua itu incest, dan itu amat sangat menjijikkan! Kita lihat saja, setelah ini kamu masih bisa memandang dunia dengan kepala tegak, atau kamu akan melata seperti ular di kaki Saya!" (Halilintar Sabda Alam)
Sampul Novel Masa Lalu Yang Kau Tinggalkan
8.3
Setahun menikah, Hilda dihadapkan pada kenyataan pahit saat Marsel, suaminya, mendesak untuk menjual rumah warisan peninggalan orang tuanya demi investasi masa depan. Bagi Hilda, bangunan itu adalah satu-satunya kenangan fisik yang tersisa dari mendiang ayah dan ibunya. Sikap Marsel yang pragmatis memicu perselisihan hebat di antara mereka. Hilda yang bersikeras mempertahankan aset berharga tersebut kini mulai meragukan ketulusan serta sosok pria yang telah ia nikahi.
Sampul Novel Membangkitkan Kembali Cinta yang Kedaluwarsa
9.5
Tiga tahun Alicia bertahan dalam pernikahan tanpa cinta bersama Erick Ellis. Saat ia berharap hubungan mereka membaik, Erick justru ingin kembali pada cinta lamanya. Kecewa, Alicia memilih cerai, tetapi Erick menolak melepaskannya. Kini, Alicia telah menjelma menjadi wanita sukses yang dikagumi banyak pria. Pertemuan kembali mereka mengungkap keberadaan anak-anak di sisi Alicia. Erick pun memohon untuk menjadi ayah mereka, namun ditolak mentah-mentah meski ia terus mengejarnya.
Sampul Novel Mencuri Hatimu
8.8
Demi kesepakatan rahasia, seorang wanita mengandung anak pria asing sebelum menikahi tunangan masa kecilnya. Walau pernikahan mereka semula hanya transaksi formal, perlahan benih cinta tumbuh di hati keduanya. Namun, saat waktu melahirkan tiba, sang istri justru menuntut perceraian. Sadar akan kesalahannya, sang suami kini memohon agar ia kembali, menyadari bahwa wanita itu adalah satu-satunya cinta sejatinya.