APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel RAHASIA SANG BODYGUARD

RAHASIA SANG BODYGUARD

Hidup Kinara berubah menjadi teror mengerikan. Demi keselamatan, ia menyewa bodyguard tampan bernama Satria. Meski begitu, Nara tetap waspada karena baginya ketampanan adalah tipu daya. Saat Satria mulai mendekatinya, sebuah rahasia gelap perlahan terungkap. Identitas asli sang pengawal ternyata adalah Ghazi Ammar Fahrezi, sosok misterius yang terhubung erat dengan trauma masa lalu Nara yang sangat kelam.
Bab
Bagikan

Bab 2

Dari bisnis yang dikelolanya, Nara banyak belajar, terutama tentang sifat manusia yang tidak pernah puas. Jangan jauh-jauhlah, dirinya sendiri bisa dijadikan contoh. Bagaimana lipstik merah menyala yang berjejer di meja riasnya bisa dijadikan simbol ketidakpuasan manusia.

Setiap bulan, kadang malah dua atau tiga kali sebulan, pasti kotak lipstiknya ada penghuni baru. Kadang warnanya sama tapi merk berbeda, ada juga yang merknya sama tapi shadenya beda tipis. Bisa dibilang, sebagian besar penghasilan Nara teralokasi ke sana.

Dirga bilang itu pemborosan, tapi Nara menyebutnya investasi. Dirga mencibir mendengar pembelaan diri Nara itu. Hah? Investasi? Investasi macam apa itu? Memangnya berapa harga jual kembali segambreng lipstik second yang warnanya hampir sama semua itu? Mana warnanya mentereng? Situ siapa sih? Marilyn Monroe? Dirga mencibir tiap kali berdebat dengan Nara soal kecanduannya dengan lipstik merah menyala.

Sekarang, adalagi yang sejenis dengan Nara. Klien yang punya sifat tak pernah puas. Ya, klien cantik di depannya ini juga masuk dalam kategori manusia tak pernah puas. Ditilik dari sisi manapun, klien Nara yang satu ini bisa dibilang nyaris sempurna. Tinggi semampai, kulit bersih cerah, wajah mungil dengan hidung bangir, tulang pipi tinggi, dan bibir yang tipis. Tapi tetap saja, dengan kondisi nyaris sempurna seperti itu, si klien masih belum merasa cantik dan masih ingin operasi lagi.

"Kalau mbak Nara operasi dimana?" tanya si klien sambil menatap Nara dari atas ke bawah. Tatapan matanya perpaduan dari rasa kagum dan iri. Dan selalu pertanyaan yang sama lagi yang di dengar Nara. Dirinya selalu dituduh melakukan operasi plastik, mentang mentang dia pemilik tempat ini.

"Saya belum pernah operasi apapun, Bu. Jangankan pisau bedah, suntik vaksin bulan lalu saja, saya hampir ngompol ketakutan." jawab Nara dibalas dengan tatapan tidak percaya perempuan di depannya itu.

"Ooh.. berarti mbak Nara ini memang jago make up ya. Buktinya bisa kelihatan cantik begini. Mana mungkin orang bisa cantik kayak barbie gini kalau nggak di edit edit mukanya. Kalau nggak oplas, pasti make up deh." perempuan itu menjawab lagi dengan nada sinis. Satu sisi mulutnya terangkat ke atas, dan dia memasang wajah angkuh, dan mengatakan semua itu tanpa melepaskan pandangan dari brosur yang dari tadi bolak balik dibacanya. Nara hanya menanggapi dengan anggukan samar sambil diam diam menggeretakkan gigi. Sesukamu mau bicara apa, Bu. Yang penting transaksi kita berjalan lancar. Kalau bukan karena uang, sudah lama mukamu itu ku operasi sendiri tanpa bius. Batin Nara menahan kesal.

"Saya cuma mau filler bibir. Tapi yang bagus. Sama hidung nih, bisa dimancungin lagi dikit kan? Ini pipi juga kayaknya udah mulai kempot deh.." Lisa Natania, perempuan cantik mantan model itu terus mengeluhkan kekurangannya sambil menatap cermin. Ia lalu melanjutkan.

"Sudut mata juga mulai ada keriputnya nih, iya kan sayang?" Lisa menoleh ke arah suaminya. Meminta pendapat.

"Mau jujur apa bohong?" tanya Fernando, sang suami pada istrinya.

"Ya jujur lah sayang." jawab Lisa sambil terus mematut diri di cermin besar di meja Nara.

"Aku nggak suka kamu oplas. Kamu tu udah cantik. Kurang apalagi coba?" tanya Fernando yang terlihat kesal dengan pilihan istrinya untuk oplas.

"Aku cuma nggak suka keliatan tua, Sayang. Cewek-cewek di sekeliling kamu tuh masih muda-muda semua, bisa kesalip pelakor kalo aku nggak berusaha mempertahankan kecantikan!" bantah Lisa dengan suara meninggi.

"Itu lagi yang dibahas! Memangnya kapan sih aku lirik perempuan lain?" Suara Fernando naik ikut ikutan satu oktaf seperti sang istri.

Nara memutar bola mata. Helloooww.. Bapak, Ibu, di sini kantor agen wisata medis dan konsultan operasi plastik. Bukan ruangan penasehat perkawinan. Ini kenapa malah berantem bahas rumah tangga di sini sih?

Jangan sampe ni kantor berubah jadi sasana tinju ya, aku ogah alih profesi dari konsultan jadi wasit dadakan. Batin Nara dalam hati sambil menatap sepasang suami istri di depannya itu dengan tatapan jengkel.

"Kamu pelit banget sih! Ini tuh nggak seberapa biayanya!" Lisa mulai berteriak.

"Ini bukan masalah duit! Ini paling berapa sih, mana pernah aku mempermasalahkan uang? Beli apartemen sama tanah kemarin aja aku nggak hitung kok, apalagi cuma biaya operasi yang recehan begini." Fernando tak terima dibilang pelit. Dia membalas istrinya dengan sengit.

Receh? Sepuluh digit dia bilang receh? Dia siapa sih? Crazy Rich? Atau CEO terkaya yang pernah masuk forbes? Shombong Amhat! Nara membatin kesal.

"Ya udah, kalo gitu kenapa dilarang coba?" si istri mulai ikut-ikutan meninggikan suara. Mereka tidak sadar sedang ada dimana. Bagai permen karet di ujung lidi, pertengkaran mereka memancing minat lalat-lalat tukang gosip yang mulai melebarkan telinga, siap menebar berita panas layaknya akun Lambey Tumpah.

"Ya sudah terserah kamu ajalah! Aku cuma nggak mau muka kamu jadi berubah! Siapa sih yang hasut kamu sampe segini ngototnya pengen oplas? Paling-paling nanti hasilnya juga sama aja!" Fernando mengomel lagi. Menyulut kemarahan sang istri. Brosur dengan foto wajah Kim Ji Won dan Yua Shinkawa mendadak remuk dalam genggaman Lisa.

"Ya udah, kalo memang nggak boleh aku batalin aja. Kamu emang tega." air mata Lisa mulai menggenang. Drama deh. Nara memutar bola mata. Mulai jengah dengan kelakuan dua sejoli tak punya urat malu ini.

"Bukan gitu sayang.." Fernando melunak. Dimana-mana sama, lelaki selalu lemah dengan air mata, seperti perempuan yang selalu luluh dengan lelaki yang punya mulut manis berbisa.

"Aku pengen cantik, Yang. Anita yang rekomendasiin agen oplas ini ke aku. Kamu liat dong dia makin cantik dan keliatan lebih muda. Masa dia bisa aku nggak bisa?" rengek Lisa.

Ah, si Anita rupanya. Istri anggota dewan juga, jebolan ajang pencarian bakat yang tereliminasi pertama kali. Mantan sekuter, selebriti kurang terkenal yang beberapa bulan lalu sempat menggunakan jasa kantor mereka untuk mempermudah proses oplas di korea. Pasti Lisa dan Anita bertetangga. Nara menebak dalam hati.

Ternyata si Lisa ini penganut paham rumput tetangga lebih hijau. Sungguh klise. Horang kayah macam mereka ini tak ada bedanya dengan emak-emak kampung yang biasa dilihat Nara. Selalu iri dengan apa yang dimiliki tetangga, padahal punya sendiri tak kalah bagusnya. Kalau emak-emak kampung nyinyirin tetangga yang beli kulkas baru padahal miliknya sendiri masih bagus, si Lisa ini iri dengan muka baru sang tetangga padahal dia sendiri jauuuh lebih cantik dari Anita.

"Kamu ni selalu aja iri dengan punya tetangga. Kemarin beli apartemen gara-gara Mbak Yuli, istri Pak Heru juga baru beli apartemen kan? Terus apalagi? Mobil kamu minta diganti juga ngikutin gayanya si Renata kan? Anaknya Pak Salman? Terus beli tanah itu? Hasutan siapa lagi itu?" Fernando meradang lagi.

"Itu bukan hasutan. Tanah itu aku beli karena semua pada beli tanah disitu, masa aku sendiri nggak? Masa tetangga investasi di mana-mana aku cuma gigit jari aja?" Lisa membela diri.

Nara mendesis. Sampai kapan drama ini mencapai episode akhir? Live lagi, mana bisa di skip! Harus di cut ini, sebelum jumlah episodenya ngalahin sinetron tukang cucur naik bajay.

"Ehm.. Bapak, ibu.. Maaf saya menyela. Saya coba jelaskan pilihan kliniknya dulu ya. Setelah itu, nanti Bu Lisa bisa diskusikan lagi dengan Bapak, karena untuk tindakan yang tadi Bu Lisa sebutkan tadi, saya ada rekomendasi beberapa klinik yang terkenal di Korea. Bu Lisa dan Bapak bisa berdiskusi dulu. Jadi atau tidaknya bisa dibicarakan nanti." Nara menjelaskan dengan santai.

Kedua orang didepannya memasang ekspresi terkejut, malu, bercampur kesal. Mungkin karena babak pertama pertarungannya diinterupsi.

Tapi akhirnya, kedua orang itu pulang juga setelah Lisa bersikeras mengambil beberapa brosur dan berjanji pasti datang lagi untuk proses selanjutnya.

Dirga, yang sudah hampir sekarat karena lelah, lapar dan kesal, langsung mengajak Nara pulang. Rumah mereka memang searah. Dengan dalih menghemat ongkos, Dirga selalu nebeng Nara setiap hari.

"Rumputnya sih sudah bukan lagi hijau." gerutu Nara sambil menutup pintu.

"Hah? Apa? Rumput? Rumput apa? Kok tiba tiba kamu bahas rumput sih?" kening Dirga berkerut mendengar Nara bergumam sendiri soal rumput. Dirga paham kalau sahabatnya ini sering bicara random. Tapi ini terlalu random. Kenapa tak ada angin tak ada hujan, tiba tiba membahas rumput?

"Itu, si Lisa. Rumput tetangganya warnanya jingga. Semenarik itu, makanya si Lisa ngotot banget pengen punya juga. Ah, sudahlah. Ayo kita pulang. Kalau sampai dia jadi, kita harus berterimakasih ke Anita, si tetangga yang rumputnya berwarna jingga." ujar Nara menganalogikan sifat iri hati Lisa pada Anita dengan rumput tetangga. Sementara Dirga menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia bingung dengan apa yang dibicarakan Nara.

Seandainya Nara tau, warna jingga rumput tetangga itulah yang nanti jadi sumber malapetakanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Force Skadron7
7.9
Yudi Juliansyah, pemuda Bandung berdarah Prancis, memilih mengejar cita-citanya menjadi tentara meski didepak dari rumah oleh orang tuanya yang menentang keras. Demi bertahan hidup dan membiayai studinya di AAU Yogyakarta, ia rela bertahan dengan berjualan gorengan. Perjuangan itu membawanya meraih predikat lulusan terbaik peraih Adi Makayasa. Kini Yudi kembali pulang demi membuktikan baktinya. Akankah restu dan pengakuan orang tua akhirnya ia dapatkan?
Sampul Novel Alpha Damon
9.5
Sejak kecil, Damon hidup dalam bayang-bayang kutukan misterius. Meski sang ayah mengisolasinya dari dunia luar, ia justru tumbuh menjadi pemburu yang sangat mematikan. Ketiadaan serigala batin membuatnya menjadi sosok brutal yang enggan memimpin kawanan. Namun, takdirnya berputar arah ketika seorang putri rupawan datang ke hidupnya. Demi keselamatan perempuan tersebut, Damon harus menerima takdir sebagai Alpha terkuat yang pernah ia benci demi melindunginya.
Sampul Novel DENDAM CINTA SANG MAFIA
8.3
Dunia kelam mafia mengubah total hidup seorang wanita biasa. Terjerat pesona sang bos kriminal yang kejam, ia kini terjebak di tengah gairah berbahaya dan aksi balas dendam yang brutal. Konflik berdarah tersebut memaksanya menghadapi dilema batin yang sangat berat. Pada akhirnya, ia harus menentukan pilihan sulit: tetap mengikuti kata hatinya untuk mencintai sang mafia, atau mempertahankan prinsip moralitas yang selama ini ia pegang teguh.
Sampul Novel Dendam Mrs. Ilona
9.7
Menginjak usia 25 tahun, Ilona Roselani Belvania pulang ke Indonesia demi menuntut balas atas kematian tragis ayahnya, Tuan Belvara. Peristiwa kelam itu tidak hanya menghancurkan finansial mereka, tetapi juga merenggut kewarasan sang ibu. Ilona kini mendapat peluang emas dengan menyamar sebagai guru di sekolah elit tempat anak pewaris keluarga Altaresh menuntut ilmu. Demi menuntaskan dendam masa lalu, mampukah Ilona menyelesaikan misinya terhadap musuh bebuyutan sang ayah?
Sampul Novel I'm Not a Gangster
9.8
Demi bertahan hidup, seorang pemuda desa memutuskan merantau ke kota besar dengan impian sederhana menjadi pengawal profesional. Namun, takdir berkata lain saat ia justru terseret ke dalam gelapnya dunia kriminal. Tanpa diduga, ucapan masa lalunya menjadi kenyataan pahit yang mengubahnya menjadi seorang gangster. Kini, ia harus terjebak di tengah pusaran konflik dunia bawah tanah yang menguji seluruh prinsip hidup serta keberaniannya.
Sampul Novel JOSEPH HUNTER (Fight for Trust)
8.7
Tragedi malam pertama merenggut Camila, istri Joseph Hunter, yang hanyut ke laut demi menghindari restu maut ayahnya. Nyaris tewas, Joseph terikat kontrak gelap untuk memburu kartel The Demon. Di tengah misi berbahaya ini, ia bertemu Vanessa, kekasih musuhnya yang berwajah persis mendiang istrinya. Rahasia masa lalu yang terbongkar menyeret Joseph ke pusaran dendam membara, memaksanya bertarung demi sebuah kepercayaan di dunia mafia yang kejam.