APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel RAHASIA SANG BODYGUARD

RAHASIA SANG BODYGUARD

Hidup Kinara berubah menjadi teror mengerikan. Demi keselamatan, ia menyewa bodyguard tampan bernama Satria. Meski begitu, Nara tetap waspada karena baginya ketampanan adalah tipu daya. Saat Satria mulai mendekatinya, sebuah rahasia gelap perlahan terungkap. Identitas asli sang pengawal ternyata adalah Ghazi Ammar Fahrezi, sosok misterius yang terhubung erat dengan trauma masa lalu Nara yang sangat kelam.
Bab
Bagikan

Bab 3

Baru jam setengah delapan pagi. Nara masih di balik kemudi, dengan sepotong roti selai kacang terjepit di sela bibir saat ponselnya berdering dan suara lembut Sevilla terdengar dari seberang sana.

"Pagi, Bu Nara, maaf bu, ada tamu menunggu ibu.

"Tamu? Sepagi ini?" Nara seketika menoleh ke arah Dirga yang duduk di sampingnya, "Ga, ada jadwal terlewat ya?" Nara bertanya dengan raut wajah bingung. Seingatnya tak ada jadwal sepagi ini. Tapi mungkin ada yang terlewat. Itu sebabnya Nara bertanya pada sekretarisnya sekaligus sahabatnya ini. Dia yang memegang semua jadwal Nara. Tapi yang ditanya malah sibuk memasang kaos kaki dekil yang seketika menebar aroma tahu gejrot campur ikan asin jambal di mobil Nara.

"Heh! Bangke kecoa! Jorok banget sih! Baaauuu tauuu! Berapa lama tuh benda nggak dicuci?" maki Nara sambil melempar botol parfumnya ke kepala Dirga. Tepat mengenai bagian samping kepalanya. Dirga mengelus jidatnya yang memerah, lalu menyemprot cairan wangi itu ke segala arah.

"Baru tiga hari kok, itu yang ketinggalan di jok mobil kamu kemarin malah udah semingguan nggak dicuci. Emangnya nggak kecium?" jawab Dirga santai.

"JOROOOKK!" Nara meradang sambil kembali memukul Dirga.

"Aduh!" Dirga meringis. Serangan kedua tiba-tiba mendarat di tempat yang sama.

"Jorok banget sih! Untung aku lagi nyetir, kalo nggak, ku sumpel tuh kaos kaki ke mulut kamu!"

"Iyaaa maaap.. Apaan tadi? Nanya apaan?"

"Itu.. Ada janji kelewat nggak? Ini Sevilla telepon, katanya ada tamu pagi buta begini."

"Hah? Nggak ada. Dari kemarin sore aku bolak balik ngecek jadwal." Dirga menjawab sambil mengecek lagi ponselnya. Mereka berdua sama-sama bingung. Jarang sekali kantor mereka kedatangan tamu pagi-pagi sekali.

"Halo, Sev? Tamunya siapa?" tanya Nara dengan kening berkerut.

"Katanya namanya Tania, Bu." jawab Sevilla.

"Hah? Tania? Oke, suruh tunggu sebentar ya, Sev. Kurang lebih lima menit lagi sampe kantor." jawab nara sambil memprediksi waktu kedatangannya ke kantor.

"Baik, Bu." Sevilla menjawab, lalu menutup telepon setelah Nara selesai berbicara.

Kening Nara lagi lagi berkerut pertanda bingung. Tania? Satu-satunya Tania yang Nara kenal cuma perempuan sialan itu.

Jangan-jangan....

"TNT?" seolah ada kekuatan telepati, Dirga menggumamkan tiga huruf yang baru saja terpikirkan oleh Nara.

Ya.. T N T.

* * *

Trinitrotoluena. Begitu Nara dan Dirga memanggilnya. Tentu saja tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. Bukan tanpa alasan Nara mengganti nama Tania Nashifa Trianda menjadi nama senyawa kimia itu. Selain karena sama-sama disingkat TNT, merekapun punya sifat yang sama : pemicu ledakan.

Bukan satu dua kali Nara terdampak 'ledakan' yang disebabkan ulah perempuan cantik itu. Dan semuanya meninggalkan 'cacat permanen' dalam hidup Nara.

Mulai dari nama baiknya yang tercemar, ia juga dibully habis habisan di kampus, lalu wisudanya juga harus tertunda, sampai terakhir, ia pun harus berurusan dengan pihak kepolisian gara gara keterlibatan Tania.

Rasa-rasanya, kalau tidak menyangkut hidup dan mati, Nara tidak mau berurusan dengan perempuan satu itu. Sudah cukup dia membuat masalah dalam hidup Nara.

Tapi sekarang, mau tidak mau, Nara harus menghadapinya. Seorang perempuan mungil berambut coklat yang sedang duduk diruangannya. Mata perempuan itu bertumpu pada benda bertuliskan Kinara Aruna Azalea di meja. Papan namanya.

Benar dugaan Nara dan Dirga. Perempuan ini adalah TNT. Tania Nashifa Trianda. Si pemicu ledakan, Trinitrotoluena.

"Tania?" Nara menyapa singkat saat melihat Tania duduk di ruang tunggu ruangannya.

"Eh, hai, Ra.. Apa kabar?" Tania balas menyapa. Ia langsung berdiri dan memeluk Nara dengan sikap bersahabat namun kontras dengan tatapan matanya yang dingin.

"Baik. Duduk, Tan. Tumben pagi-pagi? Ada perlu apa?" Nara yang tak suka basa-basi langsung menanyakan maksud kedatangan Tania. Untuk apa basa-basi? Hubungan masa lalu mereka yang tidak baik membuat Nara merasa tak perlu bersikap manis pada perempuan ini.

"Aku perlu oplas, Ra. Klinik atau rumah sakit terbaik di Korea, dan yang paling cepat. Aku butuh segera. Berapapun kubayar. Uang bukan masalah." tukas Tania cepat. Kalimat terakhir ia cetuskan dengan intonasi yang lebih tegas, dan ada sedikit nada sombong di sana.

"Soal klinik atau rumah sakit, aku bisa rekomendasikan yang terbaik. Aku jamin itu. Tapi kalau soal cepat, aku belum bisa janji ya. Kalau ada yang kosong, sekarang juga bisa, tapi kalau penuh, kamu harus masuk waiting list. Itu aturannya. Semua pun patuh dengan itu, tidak peduli siapa dan berapa banyak uang yang dia punya." jawab Nara tegas. Ia menyerang balik Tania. Tania menghela nafas dan melirik Nara dengan tatapan tak suka.

"Maaf menyela, kalau boleh tau, tercepat yang dimaksud itu berapa lama? Siapa tau masih bisa diusahakan. Lagipula kan belum cek jadwal. Mudah-mudahan bisa disegerakan." Dirga mencoba menengahi.

Tania, yang tak sadar akan kehadiran Dirga langsung menatapnya heran. "Dirga?"

"Hai, Tan..." sapa Dirga singkat.

"Kamu kerja di sini?" Tania menatap Dirga tak percaya.

"Iya, aku manajer di sini, sekaligus sekretaris boss kita ini. Dia mencuriku dari sebuah bank, aku dipaksa resign dan memaksaku bekerja dengannya." Dirga menjelaskan sambil tersenyum dan mengerling ke arah Nara. Tania, yang masih terkejut, menatap Dirga dan Nara bergantian. Sekarang posisinya makin tidak nyaman. Dua orang yang tau masa lalunya sekarang ada di sini.

"Aku perlu oplas secepatnya. Kalau bisa minggu ini." tegas Tania cepat.

"Minggu ini? Berarti tinggal tiga hari lagi. Ini bedah estetik zeyeeng, bukan bedah jantung. Nggak sedarurat itu! Buru-buru amat? Memangnya kalau nggak oplas minggu ini jantungmu bisa berhenti?" sindir Nara sinis. Sikap basa-basinya seketika lenyap.

Dirga menatap Nara, memasang gesture seperti ibu yang jengkel dan ingin menenangkan anaknya yang tantrum ditengah prosesi ijab kabul tetangga. Nara, bagaikan hewan buas yang dijinakkan pawang, langsung menutup mulutnya dengan enggan.

"Tan, kita ngobrol di ruangan sebelah ya.. Nanti aku coba cocokkan jadwal sambil rekomendasikan beberapa rumah sakit yang sesuai dengan permintaan kamu." lagi-lagi Dirga mengambil alih, sebelum si boss medusa bersikap tidak profesional dan melontarkan kalimat sakti yang bisa mengusir klien. Bisa gawat, singa betina menyerang, cuan bisa hilang.

Tania melempar tatapan setajam pisau jagal ke arah Nara. Dia kesal setengah mati. Kalau bukan karena reputasi kantor Nara yang dikenal terbaik dan sudah tersohor kemana-mana, Tania pasti sudah angkat kaki dari tadi. Apa boleh buat, operasi ini sangat penting untuknya.

"Kok buru-buru amat, Tan?" tanya Dirga penasaran.

"Tiga bulan lagi aku harus ke Jepang. Suamiku ada kerjaan di sana. Penampilanku harus all out, Ga. Suamiku bukan orang sembarangan." jawab Tania dengan nada angkuh dan dengan sombong memamerkan kedudukan suaminya yang katanya bukan orang sembarangan.

"Tiga bulan? Tania, bedah paling sederhanapun proses pengerjaannya bisa berhari-hari. Pake make up pun baru bisa full setelah hitungan minggu. Tiga bulan lagi? Jangan mimpi bisa tampil all out, muka nggak bengkak lagi pun udah untung." cecar Dirga panjang lebar.

Tania menghela nafas. Tanpa sadar jarinya membuat gerakan teratur mengetuk meja. Keberangkatan ke Jepang itu sudah seperti masalah hidup dan mati untuknya. Entah kenapa, Tania merasa sangat tidak percaya diri kalau harus terbang ke Jepang dengan kondisi wajahnya yang sekarang.

"Ga, paling cepat berapa lama?" tanya Tania, rupanya ia masih bersikukuh ingin oplas secepatnya.

"Tergantung, tindakan apa yang mau dilakukan nanti? Tapi kalau aku lihat, kamu harusnya nggak perlu di operasi, Tan. Mukamu yang sekarang juga nggak kenapa-napa." Dirga enggan menyematkan kata cantik untuk teman lamanya ini. Itu sebabnya ia hanya mengatakan kalau wajah Tania tidak kenapa kenapa. Walaupun dalam hati dia mengakui, kalau Tania sebetulnya memang sangat cantik.

"Face and body liposuction.." permintaan pertama Tania. Ia mengabaikan komentar Dirga.

Mata Dirga membola. Hah? Sedot lemak? Lemak bagian mana lagi yang mau dia enyahkan? Muka tirus badan kurus begitu? Kurang-kurangin lah, Tan. Kalau ke pantai terus ketiup angin siapa yang tanggung jawab? Omel Dirga. Sayangnya omelan itu cuma dalam hati saja. Bagaimanapun juga, Tania adalah klien.

"Ear cartilage rhinoplasty. Biar hasilnya lebih alami.." permintaan kedua. Ia meminta hidungnya dipermak dengan menambahkan tulang rawan dari telinga.

Buseet. Itu hidung kurang mancung gimana lagi, Markonah! Mau cosplay jadi pinokio apa gimana ini? Dirga mengomel mengingat hidung Tania aslinya memang sudah cukup mancung. Untungnya lagi lagi Dirga hanya mengomel dalam hati, bukan disemburkan semua macam si boss medusa tadi.

"Face counturing perlu nggak ya, Ga? Atau cukup botox aja biar dapet V shape?" lagi lagi Tania bertanya sambil mematut dirinya di cermin.

Manakutempe. Yang kulihat mukamu itu sudah runcing mirip beauty blendernya si Sevilla. Hati-hati dikira tumpeng kebalik. Dirga mulai jengkel dan kembali mengomel dalam hati lagi.

"Gini Tan.. Untuk tindakan sebanyak itu nggak akan cukup cuma dengan tiga bulan. Aku serius. Kamu memang sudah bisa beraktifitas, sudah bisa make up. Tapi hasil operasimu belum bakal terlihat. Yang ada nanti kamu malah kelihatan bengkak, Tania." jelas Dirga pelan. Berharap Tania paham.

Tanpa sadar Tania mengumpat meski pelan. Dia harus percaya diri dan itu tidak cukup hanya dengan sentuhan make up. Di Jepang, selain mendampingi suaminya, dia juga ada janji temu dengan beberapa teman sosialitanya. Tania menolak terlihat tua. Apalagi rata-rata mereka sudah pernah merasakan tajamnya pisau bedah dokter Korea. Tania jelas tak mau kalah.

"Oke, gini aja, Ga. Tolong tetap carikan aku rumah sakit terbaik dan tercepat. Aku tetap akan operasi secepat mungkin. Tolong biayanya di WA ke aku ya, langsung ku transfer. Masalah lain-lain besok aja kita bahas, nanti aku kesini lagi. Aku buru-buru." Tania memutuskan secepat kilat. Dirga hanya mengangguk.

"Oke. Siap bu boss. Aku proses yaa.." tukas Dirga yang senang karena ini artinya perusahaan mereka akan dapat cuan.

"Oke. Eh, satu lagi. Aku maunya, selama proses ini berlangsung, kamu yang jadi konsultan aku. Jangan sampe alergiku kambuh kalo berurusan dengan nenek sihir itu!" Tania menunjuk ruangan Nara sambil melirik tajam.

Sejurus kemudian, dia pergi begitu saja tanpa pamit dengan Nara.

Dirga yang profit oriented langsung mengerjakan apa yang Tania pinta. Tanpa sadar bahwa TNT itu akan meledak lagi. Tania Nashifa Trianda, akan langsung menjelma menjadi Trinitrotoluena, dan menyebabkan Nara harus babak belur terkena ledakannya.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Force Skadron7
7.9
Yudi Juliansyah, pemuda Bandung berdarah Prancis, memilih mengejar cita-citanya menjadi tentara meski didepak dari rumah oleh orang tuanya yang menentang keras. Demi bertahan hidup dan membiayai studinya di AAU Yogyakarta, ia rela bertahan dengan berjualan gorengan. Perjuangan itu membawanya meraih predikat lulusan terbaik peraih Adi Makayasa. Kini Yudi kembali pulang demi membuktikan baktinya. Akankah restu dan pengakuan orang tua akhirnya ia dapatkan?
Sampul Novel Alpha Damon
9.5
Sejak kecil, Damon hidup dalam bayang-bayang kutukan misterius. Meski sang ayah mengisolasinya dari dunia luar, ia justru tumbuh menjadi pemburu yang sangat mematikan. Ketiadaan serigala batin membuatnya menjadi sosok brutal yang enggan memimpin kawanan. Namun, takdirnya berputar arah ketika seorang putri rupawan datang ke hidupnya. Demi keselamatan perempuan tersebut, Damon harus menerima takdir sebagai Alpha terkuat yang pernah ia benci demi melindunginya.
Sampul Novel DENDAM CINTA SANG MAFIA
8.3
Dunia kelam mafia mengubah total hidup seorang wanita biasa. Terjerat pesona sang bos kriminal yang kejam, ia kini terjebak di tengah gairah berbahaya dan aksi balas dendam yang brutal. Konflik berdarah tersebut memaksanya menghadapi dilema batin yang sangat berat. Pada akhirnya, ia harus menentukan pilihan sulit: tetap mengikuti kata hatinya untuk mencintai sang mafia, atau mempertahankan prinsip moralitas yang selama ini ia pegang teguh.
Sampul Novel Dendam Mrs. Ilona
9.7
Menginjak usia 25 tahun, Ilona Roselani Belvania pulang ke Indonesia demi menuntut balas atas kematian tragis ayahnya, Tuan Belvara. Peristiwa kelam itu tidak hanya menghancurkan finansial mereka, tetapi juga merenggut kewarasan sang ibu. Ilona kini mendapat peluang emas dengan menyamar sebagai guru di sekolah elit tempat anak pewaris keluarga Altaresh menuntut ilmu. Demi menuntaskan dendam masa lalu, mampukah Ilona menyelesaikan misinya terhadap musuh bebuyutan sang ayah?
Sampul Novel I'm Not a Gangster
9.8
Demi bertahan hidup, seorang pemuda desa memutuskan merantau ke kota besar dengan impian sederhana menjadi pengawal profesional. Namun, takdir berkata lain saat ia justru terseret ke dalam gelapnya dunia kriminal. Tanpa diduga, ucapan masa lalunya menjadi kenyataan pahit yang mengubahnya menjadi seorang gangster. Kini, ia harus terjebak di tengah pusaran konflik dunia bawah tanah yang menguji seluruh prinsip hidup serta keberaniannya.
Sampul Novel JOSEPH HUNTER (Fight for Trust)
8.7
Tragedi malam pertama merenggut Camila, istri Joseph Hunter, yang hanyut ke laut demi menghindari restu maut ayahnya. Nyaris tewas, Joseph terikat kontrak gelap untuk memburu kartel The Demon. Di tengah misi berbahaya ini, ia bertemu Vanessa, kekasih musuhnya yang berwajah persis mendiang istrinya. Rahasia masa lalu yang terbongkar menyeret Joseph ke pusaran dendam membara, memaksanya bertarung demi sebuah kepercayaan di dunia mafia yang kejam.