APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel RAHASIA SANG BODYGUARD

RAHASIA SANG BODYGUARD

Hidup Kinara berubah menjadi teror mengerikan. Demi keselamatan, ia menyewa bodyguard tampan bernama Satria. Meski begitu, Nara tetap waspada karena baginya ketampanan adalah tipu daya. Saat Satria mulai mendekatinya, sebuah rahasia gelap perlahan terungkap. Identitas asli sang pengawal ternyata adalah Ghazi Ammar Fahrezi, sosok misterius yang terhubung erat dengan trauma masa lalu Nara yang sangat kelam.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Aduh!" Nara mengaduh kesakitan sambil menahan kesal.

"Eh.. eh.. Ealaaah.. Asli toh? Maaf, Sis. Kirain palsu juga. Saya baru mau nanya, bikinnya dimana." ujar seorang perempuan paruh baya yang mencubit hidung Nara barusan. Perempuan yang juga klien Nara itu berkilah tanpa rasa bersalah.

Nara, yang bukan kali pertama diperlakukan seperti ini hanya tersenyum tipis sambil mengusap ujung hidungnya. Kalau bukan klien, ingin rasanya Nara balas mencubit hidung si ibu itu. Mencubitnya pakai paperclip jumbo sekalian. Biar mancung seperti permintaannya.

Nara menghela nafas. Selalu saja begini setiap kali ada klien. Entah itu hidungnya, dagunya, pipinya, pasti ada saja yang jadi sasaran cubitan mereka. Terutama kaum emak-emak dengan tingkat kepo di atas rata-rata. Seperti yang satu ini nih, wanita kepiting soka.

Kenapa Nara menjuluki mereka kepiting soka? Karena, perilaku klien kliennya ini persis seperti kepiting soka. Ya, seekor kepiting soka, sebelum cangkang lamanya dilepas paksa dan diganti dengan cangkang lunak yang baru, mereka cenderung sering stress dan mencapit kesana kemari. Nah perilaku mencapit membabi buta itulah yang sama persis seperti si ibu di depan Nara ini. Sebelum 'wajah lama' nya dipermak dan diganti 'wajah baru', dia sembarangan 'mencapit' hidung Nara dengan alasan memvalidasi, bahwa apa yang dilihatnya itu memang benar buatan Tuhan, bukan buatan Korea atau Thailand.

Dirga, sekretaris Nara, mengeluarkan suara batuk aneh. Suara mirip orang tercekik yang selalu Nara dengar setiap kali Dirga menahan tawa. Padahal ini sudah kesekian kali Dirga melihat bossnya itu teraniaya, tapi entah kenapa setiap kali hal itu terjadi lagi, Dirga masih saja merasa itu sangat lucu dan sulit menahan tawa.

Bagaimana tidak? Didepannya terpampang pemandangan tak biasa. Nara yang biasanya judes dan galak terpaksa mematung saja saat dicubit, dicolek, ditowel, dan dijambak oleh klien. Bahkan bagian dadanya pernah ditekan-tekan oleh istri seorang pejabat hanya karena penasaran, ini barang original atau kw super? Nara nyaris naik pitam dibuatnya.

Klien yang mayoritas perempuan lajang setengah matang, atau kaum emak-emak dengan rasa iri yang mendominasi, terkadang memperlakukan Nara seperti boneka. Wajar saja, hidung mancung, wajah tirus, kulit kencang, rambut tebal, bibir penuh dan tubuh ramping Nara memang pantas membuatnya dijuluki barbie hidup. Penampilannya itu selali mengundang rasa penasaran klien.

Karena fisiknya yang nyaris sempurna itu, Nara cocok sekali jadi role model dikantornya sendiri. Sebuah agen wisata medis, sekaligus konsultan bedah plastik yang tergolong diperhitungkan di kotanya.

Dulu, saat awal awal kantor ini beroperasi, klien sering meminta contoh wajah selebritis untuk menjadi contoh ketika klien ingin di oplas wajahnya. Dan Dirga-lah yang selalu siap dengan monitor yang menampilkan contoh-contoh perempuan cantik dari berbagai ras setiap kali klien datang. Tapi lama kelamaan, layar itu lebih banyak nganggur, teronggok tak berdaya di pojok ruangan. Klien lebih memilih Nara untuk dijadikan contoh. Ada yang hidup dan bisa dipegang-pegang di depan mata, untuk apa susah payah melihat-lihat foto?

"Eh, iya say, hotelnya nanti dimana? Bisa nggak nanti hotelnya minta di deket-deket lokasi syuting drakor? Saya lagi jatuh cinta setengah mati sama Cha Eun Woo dan Song Kang. Yaaa.. kali aja mereka lagi syuting, terus, saya bisa minta selfie bareng gituu.. hihihihii…” klien Nara, seorang istri pejabat yang umurnya sama dengan jumlah umur Cha Eun Woo ditambah umur Song Kang ini tertawa genit sambil bertanya pada Nara.

Mungkin si ibu lupa kalau masa mudanya sudah lewat beberapa dekade. Sudah nyaris kepala lima, tapi masih saja perilakunya macam kpopers remaja belasan tahun yang tengah tergila-gila pada sang idola. Nara menahan tangannya untuk tidak menyiram air mineral di meja. Ya, siapa tau si ibu ketempelan arwah hantu halu dan segera sadar dari halunya kalau disiram air dingin?

"Untuk urusan akomodasi, silahkan ke ruang sebelah ya bu, diselesaikan sama mbak Airina. Mari saya antar.” Dirga tiba tiba menyela pembicaraan. Untung Dirga cepat tanggap dan buru-buru menyelamatkan si ibu sebelum niat Nara menyiramkan air pada kliennya itu terealisasi.

Begitu si ibu meninggalkan ruangan, Nara menghela nafas lega. Setelah melakukan peregangan sebentar, Nara kembali berkutat dengan ponselnya. Dua puluh enam notifikasi tertera. Dua diantaranya email, dan sisanya pesan whatsapp.

Nara meletakkan kembali ponselnya di meja setelah membalas beberapa pesan penting. Ia lantas melirik jam dinding. Lima menit lagi jam kantor selesai. Sambil menunggu Dirga kembali dari ruang administrasi, Nara merapikan barang-barangnya.

"Besok jam sembilan pagi ada klien penting ya, Ra. Ratu Cantika, artis yang mantan Miss Missan itu mau ketemu kamu langung. Mau oplas dengan dokter lokal atau Thailand aja katanya.” Dirga, yang baru saja selesai mengurusi ibu ibu Kpopers di ruang administrasi, langsung masuk ke ruang kerja Nara tanpa mengetuk pintu. Ia lantas memberi tahu Nara beberapa agenda penting.

“Oke.” Jawab Nara tanpa melepas pandangan dari HP ditangannya.

“Oh iya, kamu diundang lunch di rumah Bu Nona. Konsultasi sekaligus makan siang di sana. Apa aku perlu ikut?” tanya Dirga lagi. Kali ini dia menarik kursi di depan Nara dan duduk di sana.

"Ya ikut lah. Aku ini sumbu pendek, Ga. Kamu itu pemadam nya. Kamu tau sendiri Bu Nona bawelnya gimana, kalau aku meledak, siapa yang mau jadi pemadam kalau bukan kamu?" Nara menjawab pertanyaan Dirga dengan balik bertanya. Retoris. Dirga tak perlu menjawab. Lagipula Nara ini, siapapun lawan bicaranya, mau bawel, mau anteng, tetap saja judes dan temperamen.

“Oke oke, tim pemadam kebakaran nurut aja laah..” sahut Dirga sambil memutar bola mata.

"Terus, Pak Aryo gimana? Masih pemulihan dia?” tanya Nara dengan raut wajah serius.

"Nah, itu yang mau aku omongin, Ra." Dirga sedikit membungkuk dan semakin mendekat ke arah Nara. Sekretaris sekaligus sahabat Nara semasa kuliah itu memasang ekspresi serius. Kalau sudah begini, pasti apa yang akan disampaikannya sangat penting.

"Waktu Pak Aryo konsul, kamu yang nyaranin dia ke klinik A, atau dia sendiri minta kesana?” tanya Dirga.

"Sebentar, aku lupa.” Nara mengambil ponselnya, lalu mengecek file rekaman suara pak Aryo di sana. Nara memang punya kebiasaan merekam pembicaraan dengan alat perekam, lalu secara berkala, pembicaraan yang dirasa penting dipindahkan ke ponsel.

Beberapa kali dituduh tanpa bukti membuatnya membiasakan diri merekam hampir semua pembicaraan dengan klien. Kebiasaan itu sudah dilakukannya sejak tahun lalu. Bahkan karena terlalu sering, Nara kerapkali meletakkan alat perekam dalam posisi menyala di mana saja. Akibatnya, mulai dari suara tawa, obrolan seputar gosip artis, sesi curhat orang-orang kantornya, sampai dirinya sendiri yang jadi bahan gosip karyawannya semua terekam di benda itu dan Nara jadi sering sekali mendengar pembicaraan macam macam.

"Oh… Aku yang suruh, Ga." jelas Nara setelah mengecek rekamannya. "Kan dia minta yang sesuai budgetnya. Di sini juga aku sudah jelaskan kelebihan dan kekurangannya. Memangnya kenapa?”

"Mmm.. belum pasti sih, karena masih bengkak. Masih pemulihan. Tapi kelihatannya nggak sesuai ekspektasi, Ra. Katanya, mukanya jadi kelihatan aneh.” jawab Dirga dengan raut wajah sedikit kesal. Sepertinya ia tak suka dengan klien yang satu ini. Dirga kalau tak menyukai seseorang selalu jelas terbaca di wajahnya.

"Hah? Masa sih? Empat bulan lalu, designer yang dari Surabaya juga operasi disana, tapi mukanya baik-baik aja, makin cakep malah. Mungkin karena muka Pak Aryo masih bengkak kali, Ga. Hasilnya masih belum jelas.” Kilah Nara menampik perkataan Dirga soal hasil yang tak sesuai ekspektasi.

"Iya sih, aku juga bilang gitu sama dia. Tunggu dulu pulih sepenuhnya ajalah, baru bisa dilihat lagi.” Dirga mengiyakan ucapan Nara.

Obrolan mereka terhenti saat terdengar ketukan pintu. Sevilla, resepsionis kantor masuk ke ruangan Nara setelah dipersilahkan.

"Bu, maaf, di lobi ada Bu Lisa dan suaminya, mereka mau konsultasi sekarang juga. Saya sudah bilang kalau jam kerja sudah selesai dan kantor sudah tutup, tapi beliau memaksa." Sevilla menjelaskan dengan perasaan takut. Khawatir singa betina di depannya ini mengamuk. Sevilla tau, Nara paling benci kalau ada yang memaksa konsul di luar jam kerja kecuali sudah buat janji sebelumnya.

"Bu Lisa siapa sih?" tanya Nara ke Dirga. Yang ditanya sibuk mengecek data klien di ponselnya. Tapi tak menemukan nama Lisa.

"Mmm.. itu, Bu.. Beliau itu istrinya Pak Fernando, anggota dewan. Bu Lisa ini selebgram juga, Bu." sela Sevilla setengah berbisik.

Nara langsung paham siapa tamunya kali ini. Sedikit banyak, Nara mengenal Lisa. Perempuan tiga puluh dua tahun yang baru saja melepas status jandanya dan menikah lagi dengan seorang duda beranak tiga yang juga anggota dewan. Mereka cukup sering wara wiri di beberapa stasiun televisi.

Nara juga mengenal mantan suami Lisa. Herawan, sang mantan suami adalah dokter gigi langganan Nara. Bahkan Nara justru lebih mengenal Herawan daripada Lisa sendiri.

"Okelah, suruh masuk aja, Vi.” jawab Nara dengan berat hati. Ia sudah membayangkan pulang ke rumah, lalu mandi air hangat dan santai sambil melepas lelah. Tapi klien satu ini malah memaksa.

"Baik, Bu.” Jawab Sevilla.

"Ga, lembur dikit ya, kelas kakap nih klien, aku yakin, bakal dapet untung gede dari dia doang." tukas Nara pada Dirga. Dirga mengiyakan, lalu mempersiapkan dokumen yang dibutuhkan.

Nara kembali ke tempat duduknya. Bersiap menerima calon klien yang diyakini bakal mendatangkan untung besar.

Seandainya Nara tau, keputusannya menerima klien yang satu ini adalah sebuah kesalahan terbesar yang nantinya akan dia sesali seumur hidup.

Kesalahan yang akan menyiksanya..

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Force Skadron7
7.9
Yudi Juliansyah, pemuda Bandung berdarah Prancis, memilih mengejar cita-citanya menjadi tentara meski didepak dari rumah oleh orang tuanya yang menentang keras. Demi bertahan hidup dan membiayai studinya di AAU Yogyakarta, ia rela bertahan dengan berjualan gorengan. Perjuangan itu membawanya meraih predikat lulusan terbaik peraih Adi Makayasa. Kini Yudi kembali pulang demi membuktikan baktinya. Akankah restu dan pengakuan orang tua akhirnya ia dapatkan?
Sampul Novel Alpha Damon
9.5
Sejak kecil, Damon hidup dalam bayang-bayang kutukan misterius. Meski sang ayah mengisolasinya dari dunia luar, ia justru tumbuh menjadi pemburu yang sangat mematikan. Ketiadaan serigala batin membuatnya menjadi sosok brutal yang enggan memimpin kawanan. Namun, takdirnya berputar arah ketika seorang putri rupawan datang ke hidupnya. Demi keselamatan perempuan tersebut, Damon harus menerima takdir sebagai Alpha terkuat yang pernah ia benci demi melindunginya.
Sampul Novel DENDAM CINTA SANG MAFIA
8.3
Dunia kelam mafia mengubah total hidup seorang wanita biasa. Terjerat pesona sang bos kriminal yang kejam, ia kini terjebak di tengah gairah berbahaya dan aksi balas dendam yang brutal. Konflik berdarah tersebut memaksanya menghadapi dilema batin yang sangat berat. Pada akhirnya, ia harus menentukan pilihan sulit: tetap mengikuti kata hatinya untuk mencintai sang mafia, atau mempertahankan prinsip moralitas yang selama ini ia pegang teguh.
Sampul Novel Dendam Mrs. Ilona
9.7
Menginjak usia 25 tahun, Ilona Roselani Belvania pulang ke Indonesia demi menuntut balas atas kematian tragis ayahnya, Tuan Belvara. Peristiwa kelam itu tidak hanya menghancurkan finansial mereka, tetapi juga merenggut kewarasan sang ibu. Ilona kini mendapat peluang emas dengan menyamar sebagai guru di sekolah elit tempat anak pewaris keluarga Altaresh menuntut ilmu. Demi menuntaskan dendam masa lalu, mampukah Ilona menyelesaikan misinya terhadap musuh bebuyutan sang ayah?
Sampul Novel I'm Not a Gangster
9.8
Demi bertahan hidup, seorang pemuda desa memutuskan merantau ke kota besar dengan impian sederhana menjadi pengawal profesional. Namun, takdir berkata lain saat ia justru terseret ke dalam gelapnya dunia kriminal. Tanpa diduga, ucapan masa lalunya menjadi kenyataan pahit yang mengubahnya menjadi seorang gangster. Kini, ia harus terjebak di tengah pusaran konflik dunia bawah tanah yang menguji seluruh prinsip hidup serta keberaniannya.
Sampul Novel JOSEPH HUNTER (Fight for Trust)
8.7
Tragedi malam pertama merenggut Camila, istri Joseph Hunter, yang hanyut ke laut demi menghindari restu maut ayahnya. Nyaris tewas, Joseph terikat kontrak gelap untuk memburu kartel The Demon. Di tengah misi berbahaya ini, ia bertemu Vanessa, kekasih musuhnya yang berwajah persis mendiang istrinya. Rahasia masa lalu yang terbongkar menyeret Joseph ke pusaran dendam membara, memaksanya bertarung demi sebuah kepercayaan di dunia mafia yang kejam.