APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahasia Memalukannya, Perselingkuhan Publiknya

Rahasia Memalukannya, Perselingkuhan Publiknya

Malam pertama sang istri hancur saat Bima, suaminya, mengigaukan nama Karin, sahabatnya sendiri. Pengkhianatan mereka makin nyata lewat tato inisial K di dada Bima. Konflik memuncak ketika Karin sengaja menyajikan makanan pemicu alergi parah pada sang istri. Bukannya menyelamatkan istrinya yang sekarat dan sesak napas, Bima justru membela Karin. Dalam kondisi hamil, sang istri kini harus berjuang bertahan hidup demi melawan kekejaman mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

*Dia baik-baik saja? Dia tidak menyusahkanmu, kan? Aku khawatir sekali padamu, Lana. Dia itu kadang emosional. Pastikan dia minum obat maagnya besok pagi, kamu tahu kan lambungnya sensitif.*

Pesan itu panjang, daftar instruksi terperinci yang disamarkan sebagai kepedulian. Terus berlanjut, setiap kata terasa seperti tusukan kecil yang tajam.

Aku tidak bisa fokus pada teks itu. Pandanganku kabur.

Pikiranku melayang kembali ke tahun-tahun yang lalu. Karin, yang selalu sangat membantu. Karin, yang menelepon mobil derek saat mobil Bima mogok karena aku terjebak dalam rapat. Karin, yang mengingatkanku antasida mana yang harus dibeli untuk perut sensitifnya.

Karin, bahkan memberiku "nasihat" tentang kehidupan seks kami, memberitahuku apa yang "mungkin disukai" Bima, dengan nada yang begitu santai, begitu seperti saudara.

Dia selalu begitu tenang, begitu pengertian, tidak peduli apa pun. Dia tidak pernah marah, tidak pernah tampak keberatan menjadi bayanganku, asisten yang selalu siap sedia.

Dan aku sangat berterima kasih. Sangat, sangat bodohnya berterima kasih.

Gigiku mulai bergemeletuk, getaran hebat menjalari tubuhku. Perasaan dipermainkan seperti orang bodoh adalah penyakit fisik, yang naik ke tenggorokanku.

Ponselku bergetar lagi, tanpa henti. Pesan baru. Lalu satu lagi. Kemudian mulai berdering, foto Karin memenuhi layar.

Suara itu menggema di suite mewah yang sunyi, alarm melengking yang menandakan bencana.

Aku tahu dia tidak akan berhenti. Karin tidak pernah berhenti sampai dia mendapatkan apa yang diinginkannya. Itu adalah sifat yang dulu kukagumi sebagai kegigihan. Sekarang aku melihatnya apa adanya: kebutuhan yang tak henti-hentinya dan menyesakkan untuk mengendalikan.

Aku tidak akan memberinya kepuasan dengan sebuah jawaban. Aku tidak akan memainkan permainannya.

Kemudian, suara yang berbeda memecah keheningan ruangan. Dering lembut dan merdu. Itu ponsel Bima. Nada dering khusus. Yang belum pernah kudengar sebelumnya.

Bima, yang tadinya seperti mati suri, langsung bergerak. Matanya terbuka seketika.

Dia meraba-raba ponselnya, gerakannya tiba-tiba tajam dan waspada. Dia menjawab, dengan cepat mematikan speaker, membelakangiku.

"Halo," gumamnya, dan garis-garis keras di wajahnya melembut. Pria mabuk yang lemah itu telah pergi, digantikan oleh seseorang yang lembut dan penuh perhatian.

Tawa kecil keluar dari bibirnya, suara kebahagiaan murni yang tak tercemar.

Mereka benar-benar tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Dia tidak pernah sekalipun menoleh ke belakang untuk melihat apakah aku ada di sana. Dia lupa bahwa istrinya ada di kamar pada malam pernikahan mereka.

Dan Karin. Apakah dia juga lupa? Atau dia hanya tidak peduli bahwa dia menelepon suamiku, pada jam segini, pada malam ini?

Panggilan itu berlangsung lama, hingga larut malam. Aku hanya duduk di sana, menyaksikan pria yang kunikahi membisikkan kata-kata manis kepada sahabatku.

Ketika dia akhirnya menutup telepon, senyum itu masih melekat di bibirnya. Matanya, yang penuh kehangatan yang tidak kulihat sepanjang hari, akhirnya menemukanku.

Dia menatapku selama beberapa detik.

Untuk sesaat, aku berpikir dia mungkin akan mengatakan sesuatu. Meminta maaf. Menjelaskan. Apa saja.

Tapi kenyataan menghantam, menghancurkan sisa-sisa harga diriku.

"Kenapa kamu tidak jawab telepon Karin?" tanyanya, suaranya diwarnai kejengkelan. "Dia khawatir padamu."

Aku mendengar sesuatu pecah di dalam diriku. Itu adalah suara yang sunyi dan final.

"Apa?" bisikku, kata itu nyaris tak terdengar.

Wajahnya mengeras. Kelembutan singkat yang dia tunjukkan pada Karin lenyap, digantikan oleh kejengkelan yang dingin. Seperti melihat topengnya terlepas.

"Dia menelepon dan mengirimimu banyak pesan. Dia hanya mencoba membantu. Apa kamu sengaja mau membuatnya merasa tidak enak?"

Dia berbicara tentang Karin dengan begitu hati-hati, begitu lembut. Dia tahu Karin sensitif. Dia tahu Karin butuh kepastian.

Dia tahu segalanya tentang Karin.

Tapi dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi padaku.

Aku hanya menatapnya. Rasanya seperti melihatnya untuk pertama kali. Pria tampan dan sukses dari keluarga baik-baik ini, kekasih masa kecilku, adalah orang yang sama sekali asing.

Mungkin dia melihat raut wajahku. Mungkin sebersit kesadaran menembus kabut mabuknya.

Dia meringis dan menutupi wajahnya dengan tangan. "Lana, maafkan aku."

Dia bergerak ke arahku, mengulurkan tangan untuk memelukku. "Maaf, aku hanya... aku mabuk."

Aku menekan bibirku rapat-rapat, menahan air mata yang membakar mataku.

Aku dengan lembut mendorongnya menjauh.

Dengan jari gemetar, aku menunjuk huruf 'K' di dadanya.

"Ini apa, Bima?"

Dia terdiam. Dia menatap tato itu, dan untuk sesaat, matanya menerawang, tersesat dalam kenangan yang tidak melibatkanku.

Dalam keheningan yang menyesakkan itu, aku tahu segalanya. Aku tidak butuh dia mengatakan sepatah kata pun.

Aku berdiri dan berjalan ke kamar mandi, gerakanku lambat dan sengaja. Aku menghapus riasan yang luntur, bayanganku di cermin adalah hantu pucat dengan mata cekung.

Ketika aku keluar, dia berdiri di jalanku, menghalangi pintu.

Dia mencengkeram lenganku, cengkeramannya putus asa. "Lana, kumohon."

"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan," katanya, suaranya serak. "Karin dan aku, kami tidak... Itu hanya naksir. Dulu sekali. Sekarang tidak berarti apa-apa."

"Aku akan menghapusnya," pintanya. "Besok. Aku akan menutupinya. Kumohon, Lana. Jangan seperti ini."

Tubuhku gemetar. Pikiranku adalah badai pengkhianatan dan rasa sakit yang kacau.

Tepat pada saat itu, ponselku bergetar lagi. Kali ini bukan Karin.

Itu adalah pesan dari ibuku. *Semoga kalian berdua menikmati malam yang indah. Jangan lupa minum obat jantungmu sebelum tidur, sayang. Ibu sayang kamu.*

Ibuku. Kondisi jantung kronisnya. Aku tidak bisa memberitahunya. Tidak sekarang. Guncangannya bisa terlalu berat baginya.

Aku menatap wajah Bima yang putus asa dan memohon.

Dalam keheningan mati di suite pernikahan kami, aku perlahan mengangguk.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bersama Gadis Gila Di Konser
9.0
Pertemuan tidak sengaja di sebuah konser musik mengubah hidup seorang remaja laki-laki yang membosankan. Gadis asing yang eksentrik dan penuh energi menyeretnya ke dalam rangkaian petualangan malam yang tak terduga. Di tengah riuh penonton dan melodi lagu, ia harus memutuskan untuk tetap berada di zona nyamannya yang aman atau membiarkan gadis itu mengajarinya cara menikmati masa muda yang sesungguhnya. Kisah romansa modern remaja yang hangat, dinamis, dan penuh warna.
Sampul Novel CINTA TAK MEMILIKI POLA
8.0
Demi menghidupi kedua buah hatinya, Dirgana rela membanting tulang sebagai pengemudi ojek online. Suatu hari, takdir mempertemukannya dengan Dimas, seorang anak pemilik toko emas yang sedang dirundung keputusasaan. Tanpa disangka, ibu Dimas ternyata telah merencanakan pernikahan rahasia untuk mereka berdua. Rencana ini dibuat sebagai wujud balas budi atas kebaikan Dirgana dahulu. Kini, keduanya harus mengarungi bahtera rumah tangga tersembunyi yang penuh dengan ketidakpastian.
Sampul Novel Dua Sisi
8.1
Kegagalan asmara yang bertubi-tubi, mulai dari menyukai gurunya sendiri hingga terpikat kekasih orang, membuat CEO ADITAMA Group, Revan Aditama Perkasa, mati rasa terhadap cinta dan pernikahan. Di tengah apatismenya, sang ayah justru menuntutnya menikahi seorang wanita dari Suku Anak Dalam. Revan menentang keras rencana itu. Baginya, menikahi perempuan yang dianggap primitif tersebut sangat tidak masuk akal dan bertolak belakang dengan kehidupan modernnya yang serbaintelektual.
Sampul Novel Dunia Pelita
9.8
Pelita, model tangguh berlatar keluarga retak, kehilangan kesuciannya akibat insiden tragis. Kejadian ini mengikat takdirnya dengan Adhim, pemimpin geng motor yang juga putra kiai. Demi menebus dosa, Adhim menawarkan pernikahan. Namun, Pelita yang enggan berkomitmen menjadi ragu. Perbedaan dunia mereka yang kontras kini menjadi ujian terbesar. Mampukah hubungan mereka bertahan di tengah bayang-bayang masa lalu kelam dan konflik yang terus mengintai?
Sampul Novel Janji untuk Berpisah
8.1
Niat Vivian menemui Darren di kantor untuk urusan tanda tangan kontrak penting berujung pilu. Meski terbiasa santai, ia sempat bimbang mengetuk pintu ruang kerja kekasihnya itu. Begitu masuk, hatinya hancur seketika saat menyaksikan keintiman Darren dan Khloe. Di bawah kehangatan sinar matahari, Khloe tampak mesra merapikan dasi pria itu. Kehadiran Vivian yang tiba-tiba membuat suasana langsung membeku, meninggalkan dirinya terpaku tanpa mampu berucap sepatah kata pun.
Sampul Novel Kasih Tak Sampai
9.2
Selama sepuluh tahun, Zed menyimpan dendam membara karena saudara laki-laki mantan kekasihnya telah menyiksa dan membunuh adiknya. Sang kakak kini dikurung di rumah sakit jiwa setelah dipukuli hingga cacat mental, sementara sang protagonis terjebak di sisi Zed tanpa jalan keluar. Menghadapi depresi, keguguran, dan tumor, ia menderita hingga ajal menjemput. Saat keinginan Zed agar seluruh keluarganya mati akhirnya terkabul, sebuah gundukan makam baru yang kecil muncul tepat di sebelah nisannya.