APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahasia Keluarga dan Pengkhianatan

Rahasia Keluarga dan Pengkhianatan

Nadia terpaksa menerima tawaran licik Satria, ibu dari miliarder Reza Azhar, untuk menjadi ibu pengganti demi biaya pengobatan sang adik. Namun, setelah adiknya wafat, kepedihan mendalam mendorong Nadia melarikan diri dalam kondisi mengandung anak Reza. Di tengah pelarian dari kejaran Satria dan bayang-bayang kebenaran yang mulai tersingkap, mampukah Nadia bertahan menyembunyikan diri dari takdir serta pusaran intrik kekuasaan keluarga konglomerat tersebut?
Bab
Bagikan

Bab 2

Matahari pagi menyelinap melalui celah tirai di kamar Nadia, memantulkan sinar keemasan yang menyilaukan. Suasana di luar sudah mulai cerah, seolah dunia tak peduli dengan seberapa dalam kesedihan yang merasuki setiap sudut hidupnya. Nadia duduk di kursi tua dekat jendela, matanya kosong menatap dunia yang terus bergerak. Pikirannya dipenuhi suara jantungnya yang berdegup, menandakan betapa rapuhnya dirinya saat ini. Dunia luar berjalan dengan kebisingannya, sementara dirinya seolah terperangkap dalam ruang sunyi di mana hanya deru angin dan hujan malam yang menemani.

Ponselnya bergetar di atas meja, menyuarakan nada dering yang menyentakkan hatinya. Dia ragu sejenak sebelum mengangkatnya, jantungnya berdegup lebih kencang setiap kali nama itu muncul di layar: Reza Azhar.

"Selamat pagi, Nadia," suara Reza mengalir di telinga, jelas, tegas, dan tak ada celah untuk keberatan. Suaranya membuat tubuh Nadia membeku, mengingatkan dia akan betapa dinginnya pria itu. "Aku tahu semalam adalah malam yang berat untukmu."

Nadia menggigit bibir bawahnya, mencoba menenangkan diri. Meskipun suaranya terdengar tenang, di dalam hatinya amarah dan kebingungan bergemuruh. Bagaimana bisa pria ini, yang hampir tak pernah memperlihatkan sisi kemanusiaannya, tahu apa yang terjadi pada dirinya? Dia menarik napas dalam-dalam dan mencoba menjawab dengan nada seberapa mungkin terdengar biasa.

"Terima kasih, Reza. Tapi aku tidak tahu apa yang bisa kamu bantu," jawabnya, suaranya nyaris hilang dalam desakan yang mengisi ruang di sekitarnya.

Reza tertawa pelan di ujung sana, tawa yang seakan menyelipkan duri di hati Nadia. "Kita berdua tahu bahwa aku bisa membantu, Nadia. Dan aku di sini untuk memastikan kamu tidak merasa sendirian."

Kata-kata itu terasa seperti cambukan. Sendirian? Dia tak pernah merasa lebih kesepian daripada saat ini, terjepit di antara rasa sakit kehilangan dan pengkhianatan yang tak bisa dihindari. Nadia menatap langit biru yang tak memperlihatkan seberkas awan, berusaha menenangkan dirinya dengan keheningan luar yang menyakitkan.

"Jangan datang ke sini, Reza. Aku... aku tidak ingin melihatmu," kata Nadia, mengalihkan pandangan dari jendela ke ponselnya, matanya penuh kelelahan.

Tapi di ujung telepon, Reza menghela napas, seolah ingin berkata sesuatu yang lebih. "Kau tahu, Nadia, di dunia ini ada banyak hal yang bisa membuat kita terjebak dalam permainan yang tak kita pilih. Kadang, kita hanya bisa menerima kenyataan itu."

Kata-kata itu seperti ujung pisau yang menusuk di dada Nadia. Bagaimana bisa dia berbicara tentang kenyataan seolah dia tidak tahu apa yang telah terjadi? Bagaimana bisa dia mendekati kenyataan di mana hidupnya sudah seperti boneka yang dikuasai tangan-tangan tak terlihat?

"Jangan datang ke sini," Nadia mengulang, suara lebih tegas, tapi ada keraguan di dalamnya. "Aku tidak ingin menjadi bagian dari permainan ini."

"Semua sudah berjalan, Nadia. Tidak ada yang bisa mengubahnya sekarang," suara Reza kembali mengalun, kali ini lebih lembut, seolah berusaha menenangkan badai di hati Nadia.

Nadia menutup matanya, merasakan panas air mata yang menetes di pipinya. Semua sudah berjalan. Semua sudah diatur oleh tangan-tangan yang jauh lebih kuat darinya. Dan dia, dengan segala keterbatasannya, hanya bisa mengikuti arus yang membawa dia ke tempat yang tak pernah ia bayangkan-ke dalam jaring laba-laba yang menjeratnya hingga tak bisa bernapas.

Hari itu, di ruang pertemuan besar yang dipenuhi dengan kekuasaan dan keangkuhan, Reza Azhar duduk di kursi kulit hitam besar, matanya tertuju pada layar ponsel yang menampilkan foto Nadia. Foto itu diambil dari jauh, saat Nadia tengah duduk di taman rumah sakit, wajahnya tertekan, dan matanya merah. Reza tahu bahwa di balik setiap tatapan itu ada kekuatan yang tak terlihat-rasa sakit, penyesalan, dan ketakutan yang mungkin hanya bisa dipahami oleh mereka yang telah terjerat dalam permainan tak berperasaan ini.

"Jangan khawatir, Reza," suara lembut Satria terdengar dari balik pintu kaca. Wanita itu memasuki ruangan dengan senyum yang tak pernah bisa disamakan dengan kehangatan. Senyum itu adalah senyum yang penuh perhitungan. "Semua sudah berjalan sesuai rencana."

Reza menatap ibunya, matanya yang gelap seolah menyimpan ribuan kata yang belum diungkapkan. Dia tahu apa yang diinginkan Satria. Semua ini adalah permainan besar di mana setiap langkah adalah pertaruhan, dan semua orang di dalamnya bermain untuk kemenangan yang lebih besar dari sekadar kekuasaan-warisan, darah, dan nama yang akan dikenang sepanjang masa.

"Apakah Nadia sudah menghubungimu?" Satria melanjutkan, matanya yang tajam seperti pisau mengiris dalam. "Aku tidak ingin ada celah, Reza."

Reza menghela napas, menatap ke luar jendela yang menghadap ke taman yang dipenuhi bunga-bunga berwarna cerah. "Dia tidak menginginkanku, Ibu. Tapi, dia juga tahu apa yang harus dilakukan."

Satria mendekat, tangan putihnya menyentuh lengan Reza, menggenggamnya seolah ingin meyakinkan anaknya bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Jangan ragu, Reza. Tidak ada yang lebih penting daripada memastikan masa depan kita tetap aman. Nadia hanya bagian kecil dari rencana besar ini. Aku sudah mengaturnya. Dia akan mengerti bahwa dia tidak punya pilihan lain."

Kata-kata itu mengisi ruang dengan bisikan-bisikan tak terdengar, menjelma menjadi kenyataan yang tak bisa ditolak. Reza tahu bahwa dia terperangkap di antara ambisi keluarganya dan perasaan yang mulai terbangun dalam dirinya, perasaan yang tak diinginkannya, tapi yang semakin sulit diabaikan.

Di luar sana, di sebuah apartemen kecil di pinggiran kota, Nadia duduk di meja makan yang sudah usang, menatap cermin di dinding seberang, mencoba mencari kekuatan yang sudah lama hilang. Ponselnya bergetar lagi, membuatnya menarik napas panjang. Dia tahu, kali ini, dia harus membuat keputusan.

Pintu depan diketuk dengan keras, membuat jantung Nadia berdegup kencang. Kaki Nadia terasa berat seolah terbuat dari batu, tetapi dia tahu, jika dia tidak membuka pintu itu, dunia di luar sana akan terus memaksa masuk. Dengan tangan yang gemetar, Nadia membuka pintu.

Di luar, berdiri seorang pria dengan jas hitam yang pas di tubuhnya. Senyum Reza muncul, tanpa kehangatan, hanya sebuah senyuman penuh perhitungan yang membuat Nadia mengingatkan dia pada musim gugur-sebuah awal yang penuh janji, tapi juga dingin dan mencekam.

"Kita harus berbicara," kata Reza, suaranya dalam dan tidak bisa dibantah.

Nadia hanya bisa mengangguk, menatap pria di depannya yang kini seolah menjadi bayangan dari pilihan yang mengubah hidupnya. Saat pintu ditutup dan langkah-langkah di ruang sempit itu mengisi kesunyian, Nadia tahu bahwa tak ada jalan keluar lagi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ah! Enak Mas Dokter
9.1
Ketidakpuasan dalam kehidupan pernikahan membawa Febby Fiolla menemui dokter kandungan rekomendasi mertuanya. Tak disangka, dokter tersebut adalah Dirga, cinta pertama Febby di masa lalu. Pertemuan medis ini justru menyalakan kembali api asmara yang lama padam hingga berujung pada hubungan gelap. Terjebak dalam status pernikahan masing-masing, Dirga mendesak Febby untuk bercerai, sementara Febby menuntut komitmen serupa. Akankah mereka berani meninggalkan pasangan sah demi cinta lama ini?
Sampul Novel Dilema Hati
8.3
Kehidupan mandiri Leonard Mahendra yang berusia 38 tahun berubah drastis sejak kedatangan Evelyn. Putri sahabatnya itu menumpang hidup karena sang ayah berdinas di luar negeri. Kepribadian Evelyn yang periang memberi warna baru pada hari-hari Leonard. Lambat laun, kepedulian Leonard berkembang menjadi cinta terlarang. Evelyn pun bimbang karena memendam rasa pada teman ayahnya. Hubungan rahasia ini terancam hancur saat ayah Evelyn pulang dan mengetahui segalanya.
Sampul Novel Is This Love?
8.7
Farrel Aditama Effendi, pria kaya berjiwa bebas, sangat berbeda dari Fachmi, saudara kembarnya yang kaku. Didorong obsesi untuk memiliki sang kakak, Farrel berniat merusak rencana pertunangan Fachmi dengan seorang wanita lembut. Namun, taktik sabotase lewat penyamaran sebagai kembarannya justru menjadi bumerang. Farrel malah jatuh hati pada calon tunangan kakaknya itu. Kini, ia didera kecemasan besar jika kedoknya terungkap.
Sampul Novel LOVE BETWEEN TWO BELIEFS
9.3
Kehancuran melanda Stenly Sebastian Miller setelah Kimberly mengakhiri cinta dua tahun mereka karena rumor kebangkrutan. Bertekad pulih, ia berjanji menemukan sosok yang lebih baik. Saat terluka, Stenly menyelamatkan Seruni dari kejaran Dante yang obsesif. Walau terluka parah demi melindunginya, kejadian itu menumbuhkan rasa tertarik di hati Stenly. Kini, ia dihadapkan pada pilihan: terjebak bayang masa lalu atau meraih bahagia baru bersama Seruni.
Sampul Novel SEDUCING HOT DUDA
8.9
Verena nekat mengejar cinta pamannya sendiri, seorang duda matang yang juga musuh bebuyutan sang ayah. Meski terpaut usia sangat jauh dan terus-menerus ditolak karena alasan umur, Verena tidak menyerah. Ia terus melancarkan aksi godaan agresif demi menaklukkan hati pria tersebut. Di tengah perseteruan sengit antar keluarga, Verena bertekad menggunakan segala pesonanya untuk memenangkan cinta terlarang ini.
Sampul Novel Siswiku Canduku
8.1
Pertengkaran hebat dengan sang istri, Rashila Ghana, membawa Chandra ke sebuah kelab malam hingga berujung pada cinta satu malam bersama Mishall Afifah. Kejadian fatal tersebut berubah rumit saat ia menyadari bahwa wanita asing itu adalah siswinya sendiri. Kini, Chandra didera dilema besar. Ia harus memilih antara menjaga kesetiaan Shila yang mengidap gangguan jiwa dan sangat membenci pengkhianatan, atau justru tenggelam dalam obsesi terlarang bersama Mishall.