APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahasia Hati Suami Lumpuh

Rahasia Hati Suami Lumpuh

Mayang menghadapi ujian kesetiaan berat ketika suaminya, Galang, yang lumpuh mulai bersikap dingin dan menjauhkannya. Saat hubungan mereka merenggang, Elang datang menawarkan kehangatan cinta baru, sementara Leo terang-terangan meragukan pernikahan mereka. Meski Galang bertekad kuat untuk tetap menjadi suaminya selamanya, rayuan dari pria-pria dominan ini terus mengguncang komitmen Mayang. Mampukah ia tetap bertahan demi Galang di kala godaan cinta lain datang mendesak?
Bab
Bagikan

Bab 3

Anu bingung apakah harus salim atau pura-pura tidak melihat sang nenek. Dia sadar neneknya tidak suka padanya dan biasanya menolak bila dia ingin salim.

Benar saja, neneknya melengos pergi saat Anu mengulurkan tangan untuk salim.

Mayang yang melihat kejadian itu kembali harus merasakan nyeri di ulu hatinya.

"Anak mama sudah pulang, sini sayang dulu," ucap Mayang. Dia mengambil tangan Anu yang masih terulur. Mayang memeluk dan mencium anak kesayangannya itu meski sambil menahan air mata agar tidak terjatuh.

"Mah..." Anu memanggil lirih ibunya.

"Mamah nangis, ya?"

"Hah siapa yang nangis? Mamah?"

Anu menatap wajah ibu tersayangnya. Anu yakin ibunya tidak akan mengakui kesedihannya. Akan ada ribuan alasan yang diucapkan ibunya. Anu tidak peduli jika ayahnya tidak menerimanya. Anu tidak masalah jika neneknya mengabaikannya. Selama ada sang ibu yang selalu ada disisinya itu sudah cukup.

"Pak tua itu bikin Mamah sedih?"

"Nu...berapa kali mamah bilang jangan panggil papah pak tua. Dia papahmu sayang. Kamu wajib menghormatinya."

"Pak tua itu tidak mau menjadi papahku."

"Nu..."

"Nu paham Mah. Nu akan tetap menghormati dia. Tapi Mamah jangan paksa Nu panggil dia Papah."

"Nu..."

"Nu sayang sama Mamah, tapi Nu akan marah kalau Mamah terus paksa Nu mendekati Papah."

Mayang memeluk Anu dengan erat. Apa benar usianya tujuh tahun? Apa yang bisa dipikirkan anak usia tujuh tahun?

"Nu...Papah sangat sayang sama Nu. Beri papah waktu ya sayang. Kamu sabar dulu, suatu saat nanti Papah akan mengungkapkan rasa sayangnya sama Nu."

"Nu tahu, Mah. Anu bukan anak kandung Papah kan?" Mayang tidak terkejut dengan kata-kata Anu. Cepat atau lambat Anu pasti akan menanyakan hal ini. Sikap ayah dan neneknya terlalu terlihat jelas.

"Nu..."

"Gak masalah, Mah. Anu gak sedih. Selama Mamah adalah Mamah kandungku semua baik-baik saja. Suatu hari nanti Anu akan bikin Mamah bangga. Nu akan jadi orang sukses dan akan bawa Mamah pergi dari sini."

Hati Mayang berdebar mendengar ucapan Anu. Dia tak sanggup membayangkan hancurnya hati Anu jika suatu saat nanti mengetahui bahwa dia bukan ibu kandungnya.

"Nu dengar kata Mamah sayang. Mamah dan Papah sangat menyayangi Anu. Anu mungkin merasa Papah gak sayang Anu, tapi sejatinya Papah sangat sayang Anu. Hanya saja Papah saat ini sedang sakit. Jadi Papah gak bisa dekat-dekat Anu dulu. Papah gak mau terjadi sesuatu sama Anu. Lagian mamah juga bukan nangis karena Papah. Mamah nangis abis nonton drakor. Adegannya terlalu menyedihkan. Mamah gak kuat lihatnya.".

"Oh iya lupa. Tadi tante Gendis ngajak kita jalan-jalan ke supermarket. Tante mau belanja buat oleh-oleh nenek nanti kalau mau pulang. Kamu ganti baju gih buruan!"ucap Mayang sembari mengusap air mata yang hampir jatuh. Secengeng itulah Mayang. Air matanya gampang sekali jatuh. Namun setiap kali ia mampu menyembunyikan air matanya.

***

Asam di gunung garam di lautan bertemu di penggorengan. Sama seperti Mayang dan Elang yang tidak sengaja bertemu di swalayan. Sebenarnya hanya Elang yang melihat Mayang sedangkan Mayang sibuk dengan belanjaannya. Elang berteriak memanggil dengan antusias tapi Mayang sama sekali tidak menanggapi. Terang saja Mayang diam saja karena Elang memanggil dia Gendis.

"Kak Gendis... Kak," teriak Elang girang.

Karena tidak juga mendapat tanggapan dia akan mendekati Mayang karena posisinya agak jauh. Namun sebelum dia melangkah dia sudah ditarik oleh seseorang.

"Mau kemana kamu? Kebiasaan, gak bisa banget lihat yang bening dikit."

"Eh Om Leo, bentar doang Om. Jarang-jarang Elang punya kesempatan ketemu nona peri?"

"Julukan apa lagi itu?"

"Julukan buat calon pacar, orangnya imut, lincah kaya Tinkerbell."

"Sadis juga kamu sekarang. Om sendiri baru pulang dari luar negeri dikacangin cuma buat calon pacar? Fine kamu Om coret dari daftar kartu keluarga."

"Dih Om lebay. Kalau aku dicoret Om gak punya ponakan yang unyu-unyu lagi. Yang bisa menangkis serangan wanita-wanita pengejar om-om kualitas super."

"Jeez!"

Hanya sesaat Elang ngobrol dengan Leo, adik ayahnya yang usianya hanya terpaut beberapa tahun tapi dia langsung kehilangan jejak Mayang. Daripada om dan ponakan, Elang dan Leo lebih terlihat seperti kakak adik. Selain jarak usia yang tidak begitu jauh mereka juga terlihat sangat akrab dan cocok.

Di tempat lain Gendis yang sejak tadi mendengar namanya dipanggil tanpa bisa melihat siapa yang memanggilnya mulai merasa parno. Tengok kanan dan kiri tapi tak melihat orang yang sekiranya dia kenal. Karena takut, dia menggamit tangan Mayang dan buru-buru mengajaknya pulang.

***

Setiap kali ibu Galang berkunjung maka Mayang dan Galang akan berakting seperti pasangan normal. Bertingkah laku layaknya suami istri yang lain termasuk tidur satu kamar. Meski berada satu ruangan mereka tetap tidur terpisah. Bukan kehendak Mayang tapi Galang. Dia tidak mau berada di sisi Mayang dalam jarak kurang dari satu meter.

Galang memandangi wajah polos istrinya yang terlelap. Dari sofa tempatnya berbaring dia bisa melihat istri kecilnya yang rupawan. Bertambah usianya semakin cantik wajahnya. Kecantikan yang anggun disertai sikap dewasa dan tak ketinggalan cerianya.

Wajar saja Elang yang jauh lebih muda terpesona olehnya. Berbeda sekali dengan dirinya sendiri yang terlihat kuyu dan rapuh. Terlebih dengan kedua kakinya yang sudah tidak berfungsi. Berdampingan dengan Mayang tidak akan ada yang menyangka mereka adalah pasangan suami istri.

Galang selalu berpikir ini adalah karma yang ia tuai karena menyakiti hati Mayang yang dulu masih naif.

Galang mengangkat tangannya dan mengarahkan jari-jarinya ke wajah Mayang. Memposisikannya seolah ia membelai wajah Mayang. Siapa sangka saat itu Mayang membuka matanya.

"Loh, Mas Galang bangun? Haus? Mau Mayang ambilkan minum?"

Galang tersentak ketika Mayang tiba-tiba bangun. Detak jantungnya berpacu dengan cepat seolah seribu kuda berlarian di dalam jantungnya.

"Kenapa ... Mas mimpi buruk? Mayang ambilkan minum dulu, ya?"

"Tidak usah," ucap Galang ketus dan berbalik memunggungi Mayang.

"Mas Galang tadi gak lagi mengagumi wajahku kan?"

Galang berbalik lagi menatap sinis Mayang. Dari tatapan matanya Mayang seakan bisa mendengar Galang bicara,"heh pede banget kamu. Memangnya kamu pikir kamu ini cantik apa? Ngaca!"

"Kagum juga gak apa-apa, Mas. Istrimu emang nggemesin. Kalau jemput Anu aja suka banyak yang ngira aku kakaknya. Awalnya ibu-ibu di sekolah gak ada yang percaya aku ibunya, mereka ngotot kalau aku ini kakaknya Anu."

"Memang kamu bukan ibunya," ucap Galang datar.

Skak mat!

Mayang seketika mengunci mulutnya rapat-rapat. Dia sudah hapal betul tabiat suaminya. Seharusnya dia tidak mengajak suaminya bercanda karena pasti akan berakhir derita.

Galang sadar ucapannya pasti melukai istrinya tapi dia tidak menyesal mengatakannya. Istrinya terlalu baik untuk menjadi ibu dari anak seorang penghianat.

Suasana kamar yang awalnya sunyi berubah semakin mencekam. Mayang menggigit bibirnya mencoba menahan bulir bening yang mengancam akan tumpah.

"Mas ... tolong jangan ucapkan hal seperti ini lagi. Aku gak mau kalau nanti Anu sampai tahu. Aku mohon ini kali terakhir Mas mengucapkan hal ini!"

Galang tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia kembali membalikan wajahnya menghadap sandaran sofa, memunggungi Mayang dan bersikap seolah tak terjadi pembicaraan apapun.

Mayang kembali tidur, menutupi dirinya dengan selimut dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. Dia menumpahkan air mata yang sejak tadi ia tahan. Perempuan itu menangis menumpahkan semua yang ia pendam tanpa suara. Hanya bulir-bulir air mata yang terus membanjiri pipinya. Rasanya sungguh menyakitkan menangis diam-diam seperti ini.

'Aku tahu aku bukan ibunya, tapi bisa ga sih ga perlu membahas hal itu lagi dan lagi?'

Di sisi lain Galang memejamkan matanya namun tidak bisa tertidur. Alisnya berkerut dalam menandakan beban pikiran yang berat. Jika menangis tanpa suara sudah sangat menyiksa maka menangis tanpa air mata jauh lebih menyayat jiwa.

Tidak bisa mengeluarkan emosi yang dirasakan membuat Galang teramat putus asa. Istri kecilnya ... apa yang harus dia lakukan. Dia tidak ingin menyakitinya dengan terus mempertahankannya. Namun dia belum bisa untuk melepaskan Mayang. Dia belum bisa dan mungkin tidak akan pernah bisa.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bisa Tidak Mencintaimu Saja
8.5
Akibat perselisihan yang membuat kekasih gelap Samuel Dirja keguguran dan mandul, sang protagonis diasingkan ke biara luar negeri. Namun, ia berhasil melarikan diri. Setahun berlalu, Samuel yang berniat menjemputnya justru mendapati wanita itu menggendong seorang anak dan bersiap menikahi pria lain. Mengira anak itu adalah alat untuk memprovokasi Shinta, Samuel meradang tanpa menyadari kebenaran bahwa bayi tersebut sama sekali bukan darah dagingnya.
Sampul Novel Bisikan Dari Hati yang Patah
9.6
Rachel salah mengira ketulusannya bisa mengubah perasaan Brian. Harapan itu sirna begitu cinta masa lalu Brian hadir kembali. Usai ditinggalkan di hari pernikahan dan harus menghadapi penyakit mematikan seorang diri, Rachel memilih menyerah. Penyesalan mendalam baru menghampiri Brian saat menyadari hidup Rachel di ujung tanduk. Meski pria itu memohonnya bertahan, Rachel menyambut ajal dengan senyuman. Baginya, kematian adalah gerbang kebebasan dari cinta yang menyiksa.
Sampul Novel Cinta Palsumu Menghancurkan Hidupku
9.4
Bagi Pratama, Dewi cuma persinggahan sementara sebelum ia kembali pada kekasih lamanya. Usai dicampakkan begitu saja, Dewi dibiarkan hancur menghadapi hinaan keluarga Pratama. Di tengah kepedihan mendalam akibat janji-janji palsu tersebut, takdir mempertemukan Dewi dengan Reza. Kehadiran pria ini membawa ketulusan nyata yang jauh berbeda dari pengkhianatan masa lalu. Kini, Dewi harus memilih: tetap menutup diri atau berani membuka hati kembali di bawah bayang-bayang trauma.
Sampul Novel DOKTER FORENSIK
7.9
Akibat penyakitnya, Randa, seorang dokter forensik, kesulitan membedakan kenyataan dan khayalan hingga merasa bisa bicara dengan mayat. Di tengah kondisi ini, ia bimbang memilih antara Evlyn dan Avita. Setelah menjatuhkan pilihan pada Evlyn, Randa tersadar bahwa wanita itu rupanya sudah meninggal tujuh bulan lalu. Kini, saat Avita berjuang menyadarkannya, Randa dihadapkan pada pilihan sulit: tetap terbuai dalam halusinasi atau bangkit menghadapi realitas yang menyakitkan.
Sampul Novel Gairah Pesta Birahi
9.5
Empat tahun dikhianati Taran membuat Yenka Linggarwarna muak dan nekat membalas dendam demi harga dirinya. Dibantu Ian, sahabat kecilnya, Yenka menyusup ke pesta topeng rahasia penuh gairah. Namun, pesonanya di sana justru memicu obsesi banyak pria dan mengubah sikap suaminya. Kini, Yenka terjebak dalam dilema besar: menyelamatkan rumah tangganya yang retak atau hanyut lebih dalam ke dalam permainan panas yang memikat.
Sampul Novel Kakak Beradik 
8.0
Kematian tragis sang protagonis terjadi tepat di hari ulang tahunnya bersama saudara kembarannya. Di tengah duka yang palsu, sang kembaran justru menangis dalam pelukan kekasih protagonis. Sementara itu, kemarahan keluarga memuncak; sang ibu terus menelepon tanpa henti, sang ayah mencaci maki dirinya sebagai anak tidak tahu berterima kasih, dan kembarannya mengirim pesan kejam yang menuduhnya egois. Namun, di balik semua tuduhan dan kebencian tersebut, rasa sakit di dada sang protagonis akhirnya benar-benar lenyap untuk selamanya.