APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahasia Gubuk Belakang Rumah Mertua

Rahasia Gubuk Belakang Rumah Mertua

Fira dan Ubay mengabaikan larangan lama dan nekat mendatangi rumah Bu Diyah. Alih-alih mendapatkan kehangatan keluarga, kunjungan mereka justru disambut rentetan teror mengerikan. Sang ibu mertua pun memberi peringatan keras agar mereka tidak sekali-kali mendekati gubuk misterius di halaman belakang. Misteri kelam apa yang sebenarnya disembunyikan Bu Diyah di dalam gubuk tersebut hingga ia begitu protektif dan mencurigakan?
Bab
Bagikan

Bab 2

“Nda … Arsya takut, Nda … hiks!”

Dia menatapku dengan linangan air mata. Aku segera mendekap dan menenangkannya.

“Udah, udah … nggak usah takut ya? Sudah ada Bunda ‘kan? Arsya nggak usah takut lagi ya?”

“Tapi Arsya masih takut, Nda ….”

Tangan kecilnya mendekapku erat.

“Arsya mimpi buruk ya?”

Aku menerka kejadian yang membuatnya menangis sesenggukan seperti ini.

Kepalanya mengangguk. Berarti benar apa yang kuduga.

“Udah ya, Arsya nggak usah nangis lagi ya? Mimpinya ‘kan udah selesai. Sekarang ada Bunda yang nemenin Arsya.”

Aku melepas pelukan dan mengusap air matanya.

“Arsya takut banget, Nda. Arsya mau dibawa pergi sama nenek-nenek wajahnya serem banget. Arsya takut pokoknya, Nda.”

Bocah lima tahunan itu menceritakan mimpi buruk yang baru saja dialami.

“Kalau Arsya nggak bangun kayaknya Arsya sudah nggak sama Bunda lagi. Arsya pasti udah mati dibawa sama nenek-nenek serem itu, Nda. Untung saja Arsya masih bisa bangun.”

Dia kembali berbicara dengan sisa air matanya.

“Lain kali, kalau Arsya mau tidur harus berdoa dulu ya? Pasti tadi Arsya lupa nggak berdoa ‘kan? Udah ya, jangan nangis lagi. Yang penting kalau mau tidur harus baca doa dulu biar nggak mimpi serem kayak tadi. Arsya paham ‘kan sama yang Bunda ucapkan?”

Aku menasihatinya dengan membelai lembut rambutnya yang hitam dan tebal.

“Iya Nda, Arsya lupa nggak baca doa. Besok Arsya harus selau berdoa kalau mau tidur ya, Nda? Arsya nggak mau lagi mimpi kayak tadi. Arsya takut banget, Nda.”

Aku tersenyum mendengar ucapan yang keluar dari bibir mungil jagoan kecilku.

“Pintarnya, anak shalehnya Bunda.”

Kepalaku tidak memikirkan hal aneh tentang mimpi yang baru saja dialami oleh Arsya. Ya, namanya tidur terkadang pasti mengalami mimpi buruk. Itu hal biasa. Aku hanya menasihatinya saja agar selalu berdoa sebelum tidur. Selebihnya tak kuanggap serius.

Mungkin bisa jadi karena Arsya tidur diwaktu senja seperti ini. Sudah hampir maghrib, mungkin saja mendapat teguran dari Sang Kuasa agar tidak tidur di sore hari. Namun, Arsya masih anak-anak, apa iya sudah mendapat peringatan semacam itu? Atau mungkin peringatan itu sengaja ditujakan untukku sebagai orang tuanya. Ah … entahlah. Pasti hanya bunga tidur saja.

*** 

“Nda, sudah siap semua? Jangan sampai ada yang tertinggal. Coba dicek lagi.”

Kami sedang bersiap untuk pergi ke rumah ibu. Hari ini tepat hari minggu, dimana rencana yang sengaja kami susun untuk menemui beliau. Kejadian waktu di meja makan sudah tak kubahas lagi. Memang pernah sekali kutanyakan lagi, tapi mas Ubay tetap mengatakan hal yang sama, dia tidak merasa melakukan percakapan itu. Tatapannya pun aneh memandangku. Seolah memang tak pernah melakukannya. Saat itu aku jadi merinding. Jadi, siapa yang kuajak berbicara waktu itu? Aku tak lagi membahasnya karena merasa aneh dan takut sendiri.

Sekarang masih sekitar pukul delapan pagi, kami berencana pergi ke sana pukul Sembilan nanti. Aku dan mas Ubay kembali mengecek barang-barang yang akan kami bawa ke sana.  Karena kami memakai mobil pribadi, barang yang kami bawa lumayan banyak.

Rencananya kami akan menginap di sana sekitar tiga mingguan. Ya, waktu yang cukup panjang untuk bersantai menikmati suasana pedesaan. Cukup untuk menenangkan pikiran dari aktivitas sehari-hari yang kami lakukan di kota yang bising dan penuh kepenatan.

“Sudah Yah. Tadi sudah kucek beberapa kali. Semua aman,” ucapku sambil tersenyum.

“Ya sudah, kita santai dulu, Nda. Pasti kamu capek ngurusin ini dan itu.”

“Iya, Yah. Bekal yang tadi aku masak juga sudah siap. Ibu pasti suka kalau kubuatin rendang sapi ‘kan, Yah? Nggak sabar pengin ketemu sama ibu. Arsya pasti senang mau main ke desa.”

Kami duduk di ruang tengah. Ada beberapa tas besar tergeletak di lantai yang sudah siap kami bawa ke rumah ibu.

“Pasti suka, Nda. Dulu ibu ‘kan paling suka sama masakan rendang sapimu, Nda.”

“Benar Yah, ibu pasti suka.”

Aku kembali tersenyum bahagia. Aku sangat menantikan hari ini. Sudah tak sabar rasanya ingin bertemu dengan beliau. Meski hanya seorang ibu mertua, beliau begitu baik dan memperlakukanku layaknya anak sendiri. Sudah pasti aku melakukan hal yang sama kepada beliau.

Namun, entah apa alasannya, beliau menyuruh kami untuk pindah ke kota saja sejak aku hamil empat bulan. Sampai sekarang beliau tidak mau dijenguk oleh kami. Memang aneh. Tapi begitulah keinginan beliau. Kami hanya menurut saja.

“Arsya dimana Nda? Kok dari tadi aku nggak dengar suaranya?”

“Hmm, iya ya. Mungkin lagi main sama temannya.”

“Nda … ke sini Nda ….”

Baru saja kami membahasnya, Arsya memanggilku dari luar. Mungkin benar, Arsya baru pulang dari rumah tetangga.

“Ada apa Sayang,” ucapku seraya menghampirinya.

“Nda itu Nda, lihat Nda.”

Jari kecilnya menunjuk ke rumput di sekitaran pagar.

“Apa sih, Sya?” tanyaku seraya mencari sesuatu yang dia maksud. “Astaghfirullah, kok ada ayam mati di situ. Pasti belum lama. Belum kecium bau bangkainya. Ayo Sayang, kita ke ayah dulu. Biar ayah yang menguburkannya. Mungkin tadi ketabrak motor atau mobil.”

“Tapi Nda, Arsya mau lihat di sini saja.”

“Iya Sayang. Nanti kita lihat lagi. Kasihan kalau nggak cepat-cepat dikubur. Ayamnya nangis minta dikubur gimana hayo?”

“Iya deh, Nda.”

Kita kembali ke dalam rumah bermaksud memanggil mas Ubay untuk mengubur ayam tadi yang sudah mati.

“Ayah … ayo kita kubur ayam mati dulu. Yuk ….”

Baru satu kaki melangkah ke dalam rumah, Arsya sudah tidak sabar mengatakannya.

“Masa ngomongnya di sini, Sya. Tunggu kalau sudah di depan ayah ya?”

Aku menasihatinya. Ya, karena tidak sopan jika mengatakannya begitu saja, apalagi jika sedang berbicara dengan orang yang lebih tua. Lebih baik menghampiri orangnya lebih dulu, baru mengatakan keperluan yang dimaksud.

“Iya Nda, maaf,” ucapnya seraya berlari menemui mas Ubay.

“Pelan-pelan, Sayang.”

Aku perlahan menghampiri mereka.

“Ada ayam mati? Dimana?” ucap mas Ubay setelah Arsya mengatakannya.

“Di sana Yah. Ayo, Arsya tunjukin. Arsya mau lihat ayam mati itu dikubur.”

“Iya nanti, Ayah ambil cangkul di belakang.”

Mas Ubay pergi mengambilnya. Arsya pun ikut membuntutinya. Ya, mungkin Arsya sangat tertarik untuk melihat prosesi menguburkan ayam mati itu. Anak laki-laki, mungkin wajar jika seperti itu.

Mereka sudah kembali terlihat di mataku. Aku dari tadi hanya menunggu mereka di ruang tengah.

“Ayo Nda, kita mulai mengubur ayam mati tadi,” ucap Arsya bersemangat.

Kami pergi ke tempat ayam mati yang tergeletak di rumput dekat pagar.

“Ayo, ayo, ayo ….”

Arsya terlihat begitu bersemangat.

“Ayam matinya ada dimana Sya?” tanya mas Ubay saat sudah berada di tempat itu.

“Lho Nda, kok nggak ada, Nda?” ujar jagoan kecilku.

Aku pun ikut melihatnya untuk memastikan. Ya, sudah tidak ada lagi ayam mati yang tadi kami lihat. Padahal kami tak lama pergi ke dalam rumah. Atau mungkin sudah ada orang yang menguburkannya?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Akupun Menandatangani Namanya
9.1
Setelah dikhianati oleh suaminya, Marvin Kurniawan, dan diracuni hingga tewas oleh putra kandungnya sendiri demi kekuasaan Irma Fasnitan, seorang wanita mendapatkan kesempatan kedua. Terbangun tepat di hari pernikahannya di masa lalu, ia bertekad mengubah nasib tragisnya. Alih-alih menandatangani dokumen pernikahan, ia menuliskan nama Irma, lalu melarikan diri bersama seluruh harta warisan peninggalan orang tuanya demi menyelamatkan diri dan membalas dendam secara elegan.
Sampul Novel Pengkhianatan Sang Pria, Kisah Cinta Tak Tergoyahkan Miliknya
8.5
Ulang tahun ke-22 menjadi petaka saat tabungan kuliahku di ITB dirampas dua kakak kandung demi operasi plastik adik angkat kami, Vanya. Aku diusir, dituduh egois, lalu ditinggal berlibur ke Bali. Di titik terendah, tawaran proyek medis rahasia selama 15 tahun hadir sebagai jalan keluar. Aku pun pergi dan memutus ikatan keluarga demi masa depan baru, tanpa lupa meninggalkan bukti kebohongan Vanya di meja.
Sampul Novel Hari Ketika Aku Mati dan Bangkit Kembali
9.8
Nindi hampir meregang nyawa akibat syok anafilaksis karena diabaikan oleh suaminya, Bram, yang lebih mementingkan Clara. Penderitaannya kian mendalam saat putra mereka, Leo, tewas tertabrak ketika berusaha mencari pertolongan. Ajaibnya, takdir membawa Nindi kembali ke masa lalu sebelum tragedi itu terjadi. Berbekal memori kelam tentang pengkhianatan suami dan kematian tragis anaknya, ia bertekad melindungi Leo sekaligus membalas dendam kepada semua pihak yang telah menghancurkan hidupnya.
Sampul Novel Ketika Cinta Mati, Dendam Dimulai
9.8
Kehidupan jurnalis investigasi Eva Anindita hancur setelah putranya tewas tragis. Bukannya membela, sang suami, Jaksa David Adiwijaya, malah menjebloskan Eva ke penjara demi melindungi pelaku tabrak lari bernama Karin. Tiga tahun berlalu, Eva bebas dengan duka mendalam karena kehilangan anak keduanya di sel. Saat mengetahui David kini bahagia bersama Karin, amarah Eva tak terbendung. Ia siap membalas dendam atas segala pengkhianatan keji mereka.
Sampul Novel Madu(Memilih Terluka Untuk Bahagia)
9.0
Kehidupan Ara hancur seketika setelah ditalak oleh Revan akibat fitnah keji. Dia dituduh mencoba membunuh Mayang yang sedang mengandung hingga pendarahan, meski Ara tak tahu dari mana obat di kamarnya berasal. Revan yang diselimuti murka memilih menceraikannya dan mengancam akan melapor ke polisi. Namun, di balik kebencian itu, ada misteri besar tentang dalang asli keguguran Mayang. Akankah kebenaran terungkap setelah pengorbanan Ara dibalas hinaan?
Sampul Novel Pernikahan Kontrak Sang Mafia
9.8
Kematian misterius sang ibu menghancurkan hidup Allea Maxwell. Yakin ayahnya menyembunyikan fakta, gadis berusia dua puluh tahun ini memberontak dan mencari pelarian di kelab malam. Konflik memanas saat sang ayah memaksa Allea menikah dengan Morgen William, pria pemarah yang sangat ia benci. Sembari menyelidiki konspirasi pembunuhan ibunya, Allea kini harus mencari cara membatalkan ikatan pernikahan kontrak dengan pria brengsek itu demi menyelamatkan masa depannya.