APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahasia Gubuk Belakang Rumah Mertua

Rahasia Gubuk Belakang Rumah Mertua

Fira dan Ubay mengabaikan larangan lama dan nekat mendatangi rumah Bu Diyah. Alih-alih mendapatkan kehangatan keluarga, kunjungan mereka justru disambut rentetan teror mengerikan. Sang ibu mertua pun memberi peringatan keras agar mereka tidak sekali-kali mendekati gubuk misterius di halaman belakang. Misteri kelam apa yang sebenarnya disembunyikan Bu Diyah di dalam gubuk tersebut hingga ia begitu protektif dan mencurigakan?
Bab
Bagikan

Bab 3

“Oh iya, kok jadi nggak ada. Padahal nggak lama manggil ayah. Apa mungkin sudah dikubur sama tetangga?”

Aku pun heran dengan kejadian yang baru saja terjadi.

“Yah … kok malah dikubur sama tetangga sih, Nda. Arsya ‘kan mau lihat ayah yang nguburin,” ketus Arsya. Dia benar-benar penasaran.

“Bagus dong kalau sudah ada yang nguburin,” sahut mas Ubay.

“Mbak Fira, Mas Ubay … lagi ngapain bawa cangkul segala?” tanya tetangga depan rumah.

“Hehe. Iya Bu. Tadi ada ayam mati yang tergeletak di rumput dekat pagar,” jawabku.

“Ayam mati? Kok bisa ada di situ?”

“Nggak tau juga, Bu. Mungkin habis ditabrak motor atau mobil.”

“Ck! Nggak ada apa-apa dari tadi lho, Mbak. Aku dari tadi bersihin rumput depan rumah. Nggak ada ribut-ribut orang nabrak ayam kok.”

Aku tercengang mendengarnya. Padahal mataku tidak mungkin salah melihat ayam yang sudah tergeletak di rumput dekat pagar tadi. Arsya saja melihatnya.

“Masa sih, Bu? Anakku saja melihat ayam matinya kok.”

Aku masih mencoba membela diri. Siapa tahu tetanggaku yang sok tahu.

“Iya Mbak, beneran. Dari jam tujuh sampai sekarang aku ada di depan rumah, cabutin rumput liar. Jalannya saja belum begitu ramai. Aku juga melihat Arsya baru pulang dari rumah tetangga sebelah. Lalu, dia berhenti tepat di depan pagar melihat sesuatu. Padahal dari sini aku nggak melihat apa-apa. Lalu, Mbak Fira datang. Dari sini aku lihat Mbak Fira terlihat kaget. Aku jadi bingung, apa yang kalian lihat. Mau kusapa keburu masuk,” jelas bu Sari—tetangga seberang jalan.

“Nda, kamu benar melihat ayam mati itu?” tanya mas Ubay.

“Lihat, Yah,” jawabku.

“Oh begitu ya, Bu. Mungkin Fira yang salah lihat,” sahut mas Ubay.

Aku bergeming kembali mengingat apa yang kulihat. Jelas-jelas tadi adalah ayam mati, tapi kenapa sekarang tak ada bekasnya sama sekali. Dan lagi, bu Sari katanya tidak melihat apa-apa. Beliau pun dari tadi di depan rumah yang katanya tidak ada keributan tentang ayam yang tertabrak. Jadi, aku melihat apa? Kenapa mataku sering melihat sesuatu hal yang ganjil belakangan ini. Tapi, kali ini Arsya pun melihatnya.

“Hehe. Iya mungkin mbak Fira kecapekan aja. Aku lanjut cabutin rumputnya.”

Bu Sari kembali fokus dengan kegiatannya mencabuti rumput yang hampir selesai.

“Nda, kamu salah lihat kali?”

Kami berjalan memasuki rumah.

“Nggak Yah, Bunda nggak salah lihat. Arsya yang melihatnya duluan kok. Aneh ya? Kenapa ayamnya bisa hilang sendiri ya, Nda. Padahal udah mati. Arsya sudah senang mau nguburin bareng Ayah malah udah nggak ada. Seharusnya Arsya nungguin ayam mati itu di depan, Nda. Bunda nggak percaya sih ….”

Arsya membelaku di depan mas Ubay, tapi dia pun protes karena gagal menguburkannya. Di kepalaku hanya ada tanda tanya yang besar. Kejadian tadi sangat aneh. Padahal Arsya melihatnya juga.

“Nda, kamu kecapekan?” tanya mas Ubay lagi.

“Nggak Yah, aku nggak capek.”

Ekspresiku datar. Ingin marah karena mas Ubay selalu saja menganggapku berhalusinasi, tapi nyatanya memang sesuatu yang aku lihat selalu terasa janggal. Aku bingung dengan kejadian yang akhir-akhir ini terjadi. Terkadang membuatku menjadi merinding.

“Ya sudah, nggak usah dibahas lagi. Kita siap-siap aja ke rumah ibu. Biar kita cepat dapat suasana baru. Mungkin kamu bisa lebih tenang saat sudah ada di sana, Nda.”

Aku tahu maksud dari pembicaraan ini. Mas Ubay pasti menganggapku benar-benar kelelahan dengan segala kegiatanku di rumah. Ya, mau tersinggung percuma saja. Aku hanya diam dan mengiyakannya saja.

*** 

“Nda, masih jauh ya?” tanya Arsya.

Kami sudah berada di dalam mobil, menyusuri jalan pergi ke rumah ibu.

“Masih lama nggak, Yah?”

Aku ikut bertanya kepada mas Ubay. Wajar jika aku tidak tahu jalannya, mungkin mas Ubay pun sama. Namun, dia tahu rumah ibu berada di daerah terpencil yang bernama desa Larangan. Entah nama desa itu memang sebuah larangan untuk ditinggali atau justru hanya sebuah nama saja.

Mas Ubay tahu nama itu karena mendapat informasi dari pamannya yang sering dititipi pesan oleh ibu. Paman Joko tinggal tak jauh dari desa tersebut. Desa Larangan berada di paling ujung dengan rumah yang sangat jarang. Katanya, desa itu masih banyak ditumbuhi oleh pepohonan yang sangat rindang. Beda dengan desa tempat tinggal paman yang sudah banyak orang.

Meski di desa Larangan sudah ada listrik, tapi kata paman desa itu selalu gelap gulita. Orang-orang yang tinggal di sana lebih suka memakai lilin atau bahkan obor yang mereka buat sendiri. Termasuk ibu pun melakukan hal yang sama.

Paman pun mengingatkan kami untuk kembali mempertimbangkan rencana pergi menemui ibu di desa tersebut. Namun, kami tetap gigih untuk pergi ke sana. Justru menurut kami, suasana yang asri semacam itu bisa menyegarkan pikiran kembali. Mas Ubay pun meminta kepada paman agar tidak mengatakan apa-apa tentang kepergian kami kepada ibu, agar beliau tidak melarang kami seperti yang sudah-sudah.

“Mungkin sebentar lagi. Kita akan mampir ke rumah paman Joko dulu. Sekalian memberikan oleh-oleh untuk paman.”

“Paman Joko itu siapa, Nda?” tanya Arsya.

Dia duduk di jok belakang. Saat bertanya, aku melihat dari spion, posisinya tiduran sesuka hati. Biarkan saja, asal dia tenang dan nyaman.

“Paman Joko itu adiknya nenek. Jadi, Arsya harus memanggilnya kakek. Yang boleh manggil paman hanya Bunda dan ayah,” jawabku menjelasakannya.

“Oh ….”

Jawaban Arsya sangat singkat. Aku tersnyum dan menggelengkan kepala mendengar kata tersebut keluar dari bibir mungilnya.

Beberapa saat, akhirnya sampai juga di rumah paman Joko. Benar saja, meski pedesaan tapi sudah banyak orang yang tinggal di sana. Pasar pun tak jauh dari tempat tinggal paman.

“Assalamu’alaikum!” sapa mas Ubay.

Aku dan Arsya membuntuti dari belakang. Tanganku membawa bingkisan oleh-oleh yang khusus kami bawa dari rumah.

“Wa’alaikumsalam,” jawab seorang laki-laki dari dalam rumah.

“Paman, sehat?”

Mas Ubay segera meraih tangan laki-laki tersebut yang ternyata paman Joko. Aku sedikit lupa dengan wajahnya. Aku memang jarang bertemu saat masih tinggal di rumah mertua yang dulu. Rumah ibu yang dulu sebelum tinggal di desa Larangan, mungkin beda arah dari sini. Sedangkan paman Joko setahuku sudah tinggal di desa ini sejak lama. Karena jauh, mungkin dulu paman jarang main ke rumah ibu yang dulu. Dan sekarang mereka sudah berdekatan, ya mungkin itu alasan ibu pindah ke desa Larangan sengaja ingin dekat dengan paman Joko.

“Iya Alhamdulillah, Bay. Kamu beneran mau ke rumah ibumu? Paman sudah mencoba untuk mengingatkanmu, Bay. Lebih baik putar arah saja. Pulang kembali ke rumah kalian.”

Padahal baru saja datang, paman Joko sudah berbicara seperti itu. Aku dan mas Ubay hanya saling memandang. Sepertinya apa yang diucapkan paman Joko terdengar sangat aneh. Aku kembali teringat tentang kejadian sore itu. Saat aku berbicara dengan mas Ubay yang seolah melarangku pergi ke rumah ibu dan ternyata mas Ubay tak mengakuinya. Seketika, bulu kudukku merinding saat mengingatnya lagi.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dokter Forensikku, Kakakku
8.3
Suzanne dibenci oleh kakaknya yang menganggapnya bertanggung jawab atas kematian tragis sang tunangan, Yani, lima tahun silam. Dendam itu menemui ujung mengerikan ketika jasad Suzanne yang hangus terbakar mendarat di meja autopsi kakaknya sendiri. Harapan sang kakak agar Suzanne mati akhirnya terwujud. Namun, begitu menyadari identitas mayat di hadapannya adalah sang adik, rasa bersalah dan kebenaran yang terlambat langsung menghancurkan kewarasan sang dokter forensik hingga ia menjadi gila.
Sampul Novel Hamil Anak Genderuwo
8.5
Kehidupan Esmeralda berubah drastis setelah suaminya kehilangan pekerjaan, memaksa mereka pindah ke desa asal sang suami. Di tempat baru ini, ia terus diteror oleh penampakan mengerikan sesosok Genderuwo. Di tengah ketakutan itu, penantian mereka akan keturunan akhirnya terwujud saat Esmeralda dinyatakan hamil. Namun, kegembiraan tersebut seketika sirna ketika ia mulai merasakan keanehan yang sangat janggal dan misterius pada bayi yang sedang dikandungnya.
Sampul Novel Malam Panjang di Bus Terakhir
9.2
Malam mencekam di dalam bus menjadi awal mimpi buruk bagi seorang wanita. Empat pria yang merupakan rekan kerja suaminya menyudutkan dan menyerangnya secara brutal di atas kursi kendaraan yang melaju. Di bawah ancaman kekerasan fisik yang keji, korban tidak berdaya menghadapi tindakan paksa dari para pelaku. Peristiwa traumatis ini memicu misteri kelam dan aksi bertahan hidup yang menegangkan, mengungkap sisi gelap dari orang-orang terdekat yang seharusnya bisa dipercaya.
Sampul Novel PESUGIHAN BERUJUNG PETAKA
8.6
Terjerat utang rentenir yang mengancam nyawa, Farah, seorang ibu muda, menghadapi jalan buntu finansial. Keputusasaan menuntunnya mengambil langkah kelam dengan melakukan ritual pesugihan terkutuk. Demi melunasi seluruh utangnya, ia tega menumbalkan putri kandungnya sendiri. Namun, keputusan keji tersebut tidak menyelesaikan masalah, melainkan menjadi awal dari malapetaka mengerikan yang siap menghancurkan hidupnya.
Sampul Novel SILUMAN HARIMAU
8.1
Zola terkejut saat mengetahui dirinya mewarisi darah siluman harimau yang mengerikan. Rahasia kelam ini berasal dari perjanjian mistis sang kakek di Kalimantan Barat pada masa lalu. Kutukan itu bangkit karena Zola melanggar pantangan dengan berhubungan intim bersama orang luar, padahal keturunannya wajib berpasangan dengan sesama sedarah. Kini, Zola dan kekasihnya, Arman, harus berjuang keras memutus ikatan gaib tersebut agar bisa kembali menjalani kehidupan yang normal.
Sampul Novel Singa Suamiku Memakan Anakku
7.8
Tragedi merenggut nyawa Jeffry, putra Bethany, akibat terkaman singa di kebun binatang milik suaminya yang merupakan pelatih hewan terkenal. Bukannya berduka, sang suami justru melindungi manajer barunya, Cathleen, dan mengabaikan laporan kerusakan kandang. Setelah melihat rekaman pengawas yang mengungkap pengkhianatan keji ini, Bethany yang hancur dipenuhi amarah. Ia melenyapkan singa kesayangan suaminya dan menghubungi jaringan bawah tanah untuk membalas dendam kepada semua pelaku.